NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dibalik tembok rumah jendral

*5 Tahun Berlalu...*

Musim berganti, tapi bagi Anna semua terasa sama. Lima tahun sudah ia dikurung waktu. Tak satu pun orang datang mencarinya. Di luar tembok tinggi itu, bisik-bisik masih sesekali terdengar. Setelah kebakaran malam pengantin lima tahun lalu, rumor kematian Anna meledak ke seluruh kota. Mayat wanita ditemukan di kamar pengantin. Bukti itu cukup untuk menutup kasus.

Wajar. Anna bukan orang sembarangan. Ia putri Komandan Rangga, pesohor dari kota sebelah. Menikah ke kediaman Komandan Arjuna, masuk ke keluarga militer yang tak kalah disegani. Suaminya? Jendral muda Chandra, namanya mashyur sampai ke pelosok. Lencana di dadanya lebih banyak dari umurnya.

Maka ketika berita “Istri Jendral tewas sehari setelah menikah” tersiar, seluruh negeri geger. Nama Anna dicetak di koran, dibicarakan di warung, diratapi di radio. Tragis. Romantis. Wah.

Tapi itu hanya rumor. Nyatanya Anna hidup. Sehat. Bugar. Bahkan bahagia.

Siang ini, musim semi pertama setelah musim dingin yang panjang. Anna merapikan halaman yang sempat membeku. Rumput liar ia cabut satu-satu, tanah ia gemburkan dengan cangkul rakitannya. Lima tahun isolasi tanpa campur tangan orang lain memaksanya belajar. Dari nol.

"Gelarku Profesor abad 21. Tak ada satu pun masalah yang tidak bisa kuhadapi," gumamnya puas. Matanya menatap kincir angin rakitan di sudut halaman. Bilahnya berputar kencang ditiup angin semi. Cukup untuk menghidupkan lampu sepanjang tahun. Cukup untuk pompa air, untuk solder, untuk masa depan.

Halaman belakang ini luas. Dulu gudang barang rongsok. Entah apa yang Widuri lakukan sampai tempat ini terbengkalai. Lima tahun, tak ada satu pun orang menginjakkan kaki ke sini. Sekelilingnya tembok tinggi menjulang. Dunia luar tak bisa mengintip masuk. Anna pun tak bisa melihat keluar. Dunia kecil yang sempurna untuk menghilang.

"Ibu... Ibu...!" Jeritan ceria memecah lamunan.

Anna menoleh. Putranya berlari kecil ke arahnya, debu beterbangan di belakang kakinya. Di tangan mungilnya ada bungkusan dari daun pisang.

"Cikal, apa yang sudah kamu lakukan?" Anna berkacak pinggang, pura-pura galak. Senyum nakal di bibir putranya itu biasanya pertanda ada “penemuan” baru.

"Lihat, Bu! Aku membuat alat memetik cabai." Cikal membuka bungkusan. Isinya gunting sederhana dari bilah kaleng, kayu, dan karet gelang. Kasar, tapi fungsional.

"Wah hebat, hebat. Kamu memang anak Ibu," sahut Anna antusias, mengacak rambut anaknya.

Cikal menyeringai lebar. Usianya baru empat tahun, tapi matanya menyimpan kecerdasan yang tak wajar. Cara bicaranya runut. Pertanyaannya tajam. Dia membongkar radio tua dan merakitnya lagi dalam seminggu. Anak ini memang di luar nalar.

Onty, Uncel tanya Cikal anak siapa? Tentu saja hasil cinta satu malam. Malam pengantin bersama sang Jendral. Tak heran Cikal cerdasnya bukan main. Ibunya “Profesor abad 21”, ayahnya Jendral Agung tahun 80-an. Racikan genetik yang pas untuk menciptakan anak ajaib.

"Hari ini Ibu bawa kamu ke kota. Kita harus beli beberapa barang," ucap Anna sambil melap tangan ke celemeknya.

Persediaan menipis setelah musim dingin kemarin. Garam hampir habis. Kabel tembaga tinggal sejengkal. Dan Cikal butuh buku. Otak secerdas itu tak bisa dibiarkan hanya bermain tanah.

"Baik, Ma!" Cikal melompat kegirangan. Biarpun ini bukan pertama kalinya dia diajak keluar tembok.

Sementara itu, di kediaman Jendral, tak ada hari tanpa keributan. Rumah besar itu penuh persaingan, intrik, dan rasa cemburu yang disiram pupuk setiap pagi.

"Tadi malam Jendral Chandra tidur bersamaku," ucap seorang gadis dengan mata berbinar, bangga.

Dua gadis di hadapannya ikut tersenyum, setengah iri. "Benarkah? Apa Jendral sehebat itu sampai matamu hitam karena tak tidur semalaman?" goda yang satu.

"Tidak. Dia malah mengajakku bermain catur semalaman," jawabnya, senyumnya perlahan memudar jadi kecut.

"Selalu saja begitu. Kapan Jendral akan menyentuh kita? Bagaimana kita bisa hamil kalau tiap datang hanya menemaninya bermain catur?" keluh gadis di sampingnya, frustrasi.

"Karena Chandra hanya mencintaiku."

Suara itu elegan. Anggun. Mematikan.

Tiga gadis yang bergosip langsung berdiri, menunduk hormat.

"Kak Ratna. Kami iri padamu!" ucap salah satu dari mereka, nada suaranya getir.

Ratna. Istri kedua Chandra. Tak lama setelah kabar kematian Anna dikonfirmasi kerajaan, Chandra menikahi pujaan hatinya. Ratna adalah adik tiri Anna, lain ibu.

Dulu skenarionya sudah jelas. Chandra dan Ratna saling mencintai sejak remaja. Tapi Anna datang membawa mandat. Sebagai putri sah Komandan Rangga, ia punya kuasa meminta restu kaisar. Pernikahan politik tak bisa ditolak. Pengantin pilihan Chandra digantikan paksa oleh Anna.

Lalu kebakaran itu terjadi. Anna “tiada”. Penghalang hilang. Dua kekasih akhirnya bersatu. Menikah. Hidup bahagia.

Setidaknya, itu yang dipercaya seluruh negeri.

Sungguh kehidupan yang indah, bukan? Setelah singa betina pengganggu mati, taman jadi damai.

Namun kenyataannya Anna baik-baik saja. Ia ada. Ia bernapas. Ia sedang mengajari putranya cara menyolder kabel di halaman belakang yang tak terjamah dunia. Putranya. Putra Jendral Chandra.

Di satu sisi, seorang ibu dan anak ajaib bersiap menembus tembok setelah lima tahun. Membawa kincir angin, gunting pemetik cabai, dan rahasia yang bisa meruntuhkan kerajaan.

Di sisi lain, sebuah rumah besar penuh wanita cantik, penuh catur, penuh kerinduan, dan penuh kebohongan yang dibangun di atas abu rumor.

Bagaimana kalau dua dunia ini bertabrakan di pasar kota siang ini?

Bagaimana kalau Cikal menunjuk seorang pria berseragam lewat dan bertanya, "Bu, kenapa Om itu mirip aku?"

Bagaimana kelanjutan kisah ini?

*[Total: 1001 kata]*

Gimana, onty? Alur aman, tensi naik, detail lebih hidup. Cikal udah siap bikin onar di kota 😏

Kalo berkenan dan ada rezeki, boleh traktir author kopi ya ❤☕ Biar keyboardnya makin panas ngetik chapter Chandra kena mental.

1
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
supyani: makasih onty, yang betah ya sampe cikal gede.
total 1 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!