Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Kemenyan di Ruang Kepala Sekolah
Setelah insiden memalukan di lapangan—di mana Satria hampir saja melakukan "debus" dadakan karena telinganya dikelitik oleh hantu Belanda—ia berharap sisa harinya akan berjalan normal. Namun, "normal" adalah kata terlarang dalam kamus hidup Satria. Baru saja ia hendak meletakkan pantatnya di kursi kelas 10-A yang keras, speaker sekolah berderit nyaring, mengeluarkan suara statis yang terdengar seperti rintihan nenek-nenek keseleo.
“Panggilan untuk siswa baru bernama Satria Pratama. Harap segera menuju ruang Kepala Sekolah. Sekarang!”
Satria memejamkan mata rapat-rapat. Seluruh teman sekelasnya menoleh. Hantu siswa berkepala terbalik di pojok belakang bahkan ikut berhenti membalik halaman bukunya dan menatap Satria dengan mata yang posisinya ada di bawah dagu.
"Baru sepuluh menit sekolah, sudah dipanggil Kepala Sekolah. Rekor baru, Bro," celetuk seorang siswa berambut jabrik di barisan tengah sambil tertawa.
Satria hanya bisa mendesah pasrah. Ia bangkit, membetulkan letak tasnya, dan berjalan keluar. Di koridor, ia kembali bertemu dengan hawa dingin yang familiar. Bedanya, kali ini ada aroma lain yang mengikutinya. Bukan bau tanah kuburan Meneer Belanda, melainkan bau kemenyan yang sangat tajam, seolah-olah ada seseorang yang sedang membakar satu kontainer penuh zat mistis tersebut.
"Waduh, ini sekolah atau padepokan?" gumam Satria sambil menutup hidungnya dengan ujung seragam.
Langkah Satria membawanya ke depan sebuah pintu kayu jati besar yang ukirannya tampak sangat rumit. Di atas pintu itu tertulis: RUANG KEPALA SEKOLAH. Namun, yang membuat Satria ragu untuk mengetuk bukan hanya jabatan orang di dalamnya, tapi karena di depan pintu itu ada seekor kucing hitam legam yang sedang menatapnya dengan mata berwarna emas yang terlalu "cerdas" untuk ukuran hewan.
“Jangan masuk kalau tidak bawa upeti,” sebuah suara berat tiba-tiba terdengar.
Satria menoleh ke kiri dan kanan. Lorong itu sepi. Ia menunduk menatap si kucing. "Lo... ngomong?"
Kucing itu mendengus—ya, benar-benar mendengus seperti manusia yang meremehkan orang bodoh—lalu berjalan menembus pintu kayu jati tersebut.
"Oke, kucing tembus pandang. Hebat," Satria mengusap wajahnya yang lelah. Ia mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sebuah suara berat dari dalam menyahut.
Satria memutar kenop pintu. Begitu pintu terbuka, gumpalan asap putih tipis langsung menyergap wajahnya. Bau kemenyan di sini sepuluh kali lebih kuat. Di balik meja kerja besar yang penuh dengan tumpukan berkas dan... anehnya... beberapa keris yang diletakkan di atas nampan beludru, duduklah seorang pria paruh baya dengan kacamata bulat dan kumis tebal yang ujungnya melintir ke atas. Beliau adalah Pak Broto, Kepala Sekolah SMA Wijaya Kusuma.
"Selamat pagi, Pak," ujar Satria sopan, sambil mencoba tidak bersin karena asap.
Pak Broto tidak langsung menjawab. Beliau sedang sibuk memutar-mutar sebuah cincin batu akik berukuran sebesar telur puyuh di jari manisnya. Matanya menatap Satria dari balik lensa kacamata yang tebal.
"Satria Pratama... anak dari Bapak Baskoro, ya?" tanya Pak Broto.
"I-iya, Pak."
"Saya lihat di rapor SMP kamu... nilai kamu bagus. Tapi ada catatan dari guru BK kamu dulu. Katanya kamu sering 'berdiskusi' dengan udara kosong dan sering berteriak-teriak di tengah ujian?" Pak Broto mencondongkan tubuhnya ke depan.
Satria berkeringat dingin. "Itu... itu cuma latihan vokal, Pak. Saya ikut klub drama."
Tiba-tiba, dari balik lemari buku di belakang Pak Broto, muncul sesosok makhluk kecil berkepala gundul dengan perut buncit—Tuyul. Tapi tuyul ini berbeda. Ia memakai kacamata hitam kecil dan sedang asyik memainkan kalkulator di meja Pak Broto.
Satria mencoba sekuat tenaga untuk tidak melihat ke arah tuyul itu. Namun, si tuyul sepertinya tahu Satria bisa melihatnya. Ia mulai menari-nari di atas tumpukan dokumen, lalu sengaja menjatuhkan pulpen Pak Broto.
"Aduh, jatuh lagi," gumam Pak Broto sambil membungkuk mengambil pulpen.
Saat Pak Broto membungkuk, si tuyul menjulurkan lidahnya ke arah Satria dan melakukan gerakan "menantang". Satria mengepalkan tangannya di bawah meja. Sabar, Sat. Jangan sampai lo mukul udara di depan Kepala Sekolah.
"Begini, Satria," Pak Broto kembali duduk tegak. "Saya memanggilmu bukan karena masalah nilai. Tapi karena sekolah ini... spesial. Kamu pasti sudah merasakannya sejak di gerbang, kan?"
Satria terdiam. Apakah Pak Broto juga seorang indigo? Atau beliau hanya ingin menakut-nakutinya?
"Maksud Bapak?"
Pak Broto mengembuskan napas panjang, yang entah bagaimana, aromanya juga seperti kemenyan. "Sekolah ini berdiri di atas tanah keramat. Banyak 'penghuni lama' yang kadang tidak suka dengan kedatangan orang baru. Tadi saya dengar dari ketua OSIS, Arini, kamu bertingkah aneh di lapangan. Teriak-teriak soal lalat Belanda?"
Mendengar nama Arini, jantung Satria berdesir. Tapi kemudian ia sadar, Arini pasti melaporkannya karena menganggapnya gila. Sial, kesan pertama yang hancur total.
"Saya hanya ingin memperingatkanmu," lanjut Pak Broto. "Di sini, kalau kamu melihat sesuatu yang tidak masuk akal, simpan untuk dirimu sendiri. Jangan buat kegaduhan. Paham?"
Saat Pak Broto bicara, si tuyul berkacamata hitam itu mulai naik ke pundak Pak Broto dan mencoba menarik-narik kumis tebal sang Kepala Sekolah. Pak Broto hanya mengusap kumisnya dengan santai, seolah-olah itu hanya gatal biasa.
Satria tidak tahan lagi. Komedi absurd ini sudah melampaui batas toleransinya. "Pak, maaf... tapi sepertinya Bapak harus tahu kalau ada... sesuatu di pundak Bapak."
Pak Broto berhenti bicara. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Kucing hitam yang tadi masuk menembus pintu tiba-tiba meloncat ke atas meja dan mengeong keras.
"Sesuatu?" Pak Broto menatap pundaknya sendiri, lalu menatap Satria dengan senyum tipis yang misterius. "Maksud kamu, si Ucok?"
Satria melongo. "Ucok?"
"Iya, ini Ucok," Pak Broto menepuk pundaknya. Si tuyul berkacamata hitam itu terkikik kegirangan. "Dia asisten pribadi saya. Dia pintar menghitung anggaran sekolah. Tanpa dia, dana BOS kita sering selisih."
Satria nyaris terjungkal dari kursinya. Ternyata Kepala Sekolahnya bukan cuma tahu soal hal gaib, tapi malah menjadikannya staf administrasi!
"Jadi... Bapak juga bisa lihat?" tanya Satria dengan nada penuh harapan sekaligus ngeri.
"Bisa melihat itu biasa, Satria. Yang luar biasa adalah menjadikannya produktif," jawab Pak Broto sambil menyalakan sebuah batang kayu kecil yang aromanya... ya, kemenyan lagi. "Kamu punya bakat yang kuat. Lebih kuat dari saya. Tapi kamu masih 'semprul'. Kamu tidak bisa mengontrol emosimu saat melihat mereka. Itu berbahaya."
Tiba-tiba, pintu ruang kepala sekolah terbuka tanpa diketuk. Arini masuk membawa map biru. "Pak, ini laporan kegiatan—"
Arini terhenti saat melihat Satria masih ada di sana. Pandangannya beralih ke asap tebal di ruangan itu, lalu ke arah Satria yang wajahnya tampak sangat tegang.
"Loh, Satria? Kamu masih di sini?" tanya Arini. Ia berjalan mendekat ke meja Pak Broto.
Dan seperti yang sudah diduga, si Meneer tanpa kepala melayang masuk menembus tembok tepat di belakang Arini. Begitu masuk ke ruangan itu, si Meneer tampak terkejut melihat Pak Broto. Ia segera merapikan seragam Belandanya dan memberikan hormat militer yang kaku ke arah sang Kepala Sekolah.
Pak Broto mengangguk kecil ke arah udara kosong di belakang Arini. "Terima kasih, Meneer Van De Berg. Tetaplah berjaga."
Arini mengernyitkan dahi. "Bapak bicara sama siapa?"
"Oh, ini... Bapak lagi baca teks pidato buat upacara besok, Arin," kilat Pak Broto cepat. Beliau lalu menatap Satria dengan tatapan penuh arti.
Satria merasa otaknya mendidih. Di hadapannya ada Arini yang cantik namun tidak peka, seorang Kepala Sekolah yang mempekerjakan tuyul, seekor kucing gaib, dan seorang perwira Belanda tanpa kepala yang sedang hormat gerak.
"Arini, kamu bisa tolong antarkan Satria ke perpustakaan tua di lantai tiga?" pinta Pak Broto. "Ada beberapa buku sejarah sekolah yang perlu dia bantu rapihkan sebagai 'hukuman' karena sudah berisik di lapangan tadi."
"Oh, tentu Pak," Arini tersenyum. "Ayo, Satria."
Satria berdiri dengan kaki lemas. Ia melirik ke arah Pak Broto yang memberinya kedipan mata satu kali—yang anehnya terasa seperti peringatan rahasia.
Saat mereka keluar dari ruangan, Satria bisa merasakan si Meneer tanpa kepala mengikutinya dari belakang dengan langkah yang berat (walaupun melayang). Aroma kemenyan dari ruangan Pak Broto masih menempel di seragam Satria, bercampur dengan bau parfum melati yang mendadak muncul dari sudut koridor.
"Kamu jangan terlalu tegang gitu dong, Sat," ujar Arini memecah keheningan saat mereka menaiki tangga kayu yang berderit. "Pak Broto memang agak nyentrik. Dia suka hal-hal berbau mistik, makanya ruangannya selalu bau kemenyan. Tapi dia orang baik, kok."
"Nyentrik itu pernyataan yang terlalu sopan, Rin," sahut Satria sambil melirik si Meneer yang sedang mencoba memukul punggung Satria dengan gagang pedangnya—tapi selalu tembus. "Dia itu... luar biasa."
"Tapi benar ya, kamu tadi bilang ada lalat Belanda?" Arini terkekeh, membuat pipinya yang merah merona tampak semakin manis.
Satria berhenti di tengah tangga. Ia menatap Arini dengan dalam. Ada emosi yang tertahan di sana. Ia ingin sekali bilang: Rin, aku ini Satria yang dulu. Yang kamu selamatkan dari hantu perosotan. Dan sekarang, aku sedang mencoba menyelamatkan kamu dari pengawal tanpa kepala yang ada di belakangmu itu!
Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Lalatnya... punya kumis, Rin. Makanya aku kaget."
Arini tertawa terbahak-bahak. "Kamu aneh banget, Sat! Tapi jujur, kehadiran kamu di sini bikin sekolah ini jadi nggak seseram biasanya. Aku merasa... kayak ada teman lama yang pulang."
Kata-kata Arini membuat dada Satria terasa hangat. Mungkinkah Arini mulai mengingatnya? Ataukah itu hanya perasaan nostalgia yang tidak sengaja terketuk?
Namun, momen manis itu tidak bertahan lama. Begitu mereka sampai di depan perpustakaan tua di lantai tiga, pintu perpustakaan itu terbuka sendiri dengan suara krieeeet yang sangat panjang dan dramatis. Dari dalamnya, terdengar suara tawa melengking yang sangat familiar bagi Satria.
"Hihihihi... ada tamu baru... ganteng tapi semprul..."
Satria memejamkan mata. Ya Tuhan, hamba baru mau pdkt, kenapa kuntilanaknya sudah standby di jam kerja begini?
Ia menoleh ke arah Arini yang tampak tenang-tenang saja sambil membuka pintu lebih lebar. "Ayo masuk, Sat. Di sini bukunya memang agak berdebu."
Satria melangkah masuk, sementara di belakangnya, si Meneer tanpa kepala bersedekap (meski tidak ada kepala untuk menatap) seolah sedang menunggu Satria melakukan kesalahan fatal. Dan di pojok perpustakaan, di atas rak buku ensiklopedia, seorang wanita berbaju putih sedang duduk sambil mengayunkan kakinya, menatap Satria dengan tatapan lapar.
"Pindah sekolah, pindah masalah?" bisik Satria pada dirinya sendiri. "Nggak. Pindah sekolah, nambah masalah!"
Bau kemenyan dari ruang Pak Broto kini berganti dengan bau bunga kamboja yang menusuk. Satria tahu, babak baru dalam perjuangan cintanya yang penuh hantu baru saja dimulai.