Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ya, aku mencintainya : 33
Tanpa mengucapkan salam, Siron dan Danang mendekati semua orang di ruang tengah. Tadi, Lanira menghubunginya, mengatakan kalau para orang tua akan datang membahas tentang apa yang telah terjadi.
Netra wanita berkaos lengan panjang longgar itu menatap sang adik yang berdiri dengan badan lemas.
“Apa maksud ucapanmu, Nak?” bu Nirma bertanya pelan. Dia sama bingungnya dengan yang lain, mencoba mencerna pernyataan mengejutkan Siron barusan.
“Tanyakan saja kepada mantan calon menantu ibu Nirma, siapa tahu dia mau jujur,” ujar Siron.
“Kakak.” Lanira memeluk saudari kandungnya, dibalas dekapan hangat.
Sebelum ditanya, Intan sudah mulai mengakuinya. Duduk bersimpuh di tengah-tengah ruangan, kedua tangan berada diatas pahanya. “Benar adanya kalau aku memendam cinta teruntuk bang Danang. Maaf ….”
Hampir semua orang terkejut, terkecuali keluarga Intan Rasyid, dan Kamal serta pasangan pengantin Siron, Danang.
Ayah tua duduk tegak, kedua tangan bertumpu diatas lutut.
Orang tua Intan menghela napas panjang, sorot mata mereka penuh rasa ikhlas. Mendukung pengakuan Intan, mungkin ini terbaik bagi semua orang.
“Sejak kapan? Kau tak lagi bercanda kan, Intan?” tanya bu Wahyuni.
“Sudah lama, jauh sebelum kak Siron menikah dengan bang Danang,” pada akhirnya dia memilih jujur, tidak berniat membela diri.
“Astaghfirullah, kisah cinta apa ini namanya. Mengapa bisa serumit ini?” giliran ayah tua mengurut pelipisnya.
“Apa kini kau masih memendam rasa cinta itu ke suamiku, Intan?” Siron memusatkan perhatian ke adik sepupunya.
Anggukan kepala putrinya Ikram Rasyid, membuat hampir semua orang terhenyak.
“Dengar bukan? Intan pun salah, jelas tidak tahu diri. Sampai hati memiliki rasa yang semestinya haram teruntuknya,” ujarnya sedikit lantang.
“Kak, kau tak buta kan? Atau sengaja menutup mata batin demi membela adikmu Lanira? Kakakku memang salah, tapi dia tidak pernah berusaha merecoki rumah tanggamu bersama bang Danang,” sanggah Sabiya.
“Siapa yang tahu. Bisa jadi dalam diamnya, dia melantunkan doa agar keluarga kecilku penuh liku. Atau memohon berjodoh dengan suamiku, apa kau bisa menjamin kalau kakakmu benar-benar mencintai tanpa berkeinginan memiliki?” serang Siron.
Danang menyentuh pundak istrinya, tidak setuju oleh tuduhan tidak berdasar itu.
“Picik sekali kau, Kak. Dirimu bukan sehari dua hari mengenal kak Intan, bahkan kalian, dan juga kita tumbuh besar bersama, sampai hati menghakimi _”
“Sabiya, cukup!” Intan memotong kalimat adiknya, lalu menatap lembut wajah Siron.
“Kak, dari lubuk hati terdalam – aku memohon maaf sebesar-besarnya karena telah lancang jatuh cinta ke pria tak seharusnya yaitu suamimu. Aku mengaku salah, dan bersedia menerima konsekuensinya.” Intan menangkupkan kedua tangan, tidak berusaha berkelit, mencari simpati.
“Intan, sebetulnya aku tidak ingin membuka aib ini, tapi rasanya tak adil kalau cuma Lanira dihakimi dan kau dipuji. Aku tahu jika adikku pun salah, tapi kenapa dia sangat dipojokan. Kalau memang para orang tua bersikap netral, seharusnya tidak berat sebelah,” Siron mengungkapkan kekecewaannya.
“Iya. Kau benar, Kak. Mungkin dibandingkan dengan Lanira, aku jauh lebih berdosa, tak tahu malu, berani mencintai pria telah beristri, terlebih dia suami sepupuku sendiri. Tidak apa-apa, aku ikhlas menerima kebencian siapapun itu,” senyumnya benar-benar sampai pada netra berkaca-kaca.
Ibu Meutia meremas kemeja yang dikenakannya. Tidak sanggup melihat sang putri seperti seorang terdakwa telah melakukan kejahatan, padahal dia hanya jatuh cinta kepada pria tak seharusnya.
Ayah Ikram beranjak, lalu membungkuk. Kedua tangannya memegang bahu Intan, menariknya untuk berdiri.
“Saya saksi hidup cinta Intan teruntuk Danang. Kalau mau menyalakan, kalian yang tidak terima dengan hal ini – limpahkan saja semuanya ke saya. Sebab diri ini yang paling bertanggung jawab terhadap putri kandungnya.”
“Ayah.” Intan mendongak, menatap wajah pria cinta pertamanya. “Jangan lakukan ini. Biar Intan yang menanggungnya.”
Namun ayah Ikram tidak mengindahkan, sembari merangkul pundak sang putri, dia memandang pemuda menatap sungkan ke arahnya.
“Danang, maafkan anak saya ya. Maaf dia hanya jatuh cinta kepadamu. Maaf juga apabila sebagai seorang ayah, saya tidak berhasil menyadarkannya.”
“Siron, ayah Ikram juga mau meminta maaf kepadamu. Maaf, membiarkan Intan mencintai dalam diam selama bertahun-tahun lamanya. Dan terima kasih, kau memberikan dia kesempatan untuk terus mencintai suamimu sendiri.”
Tubuh Siron tersentak pelan, dia dapat menangkap kalimat sarkas pamannya.
Ayah Ikram lalu melepaskan rangkulannya, lalu menangkupkan kedua tangan seraya menatap satu persatu para orang tua. “Saya ingin meminta maaf kepada semuanya. Disini, bukan cuma Intan yang salah sebab menaruh hati kepada insan telah berpunya. Saya jauh lebih bersalah, dikarenakan tak mampu mencegah rasa itu.”
“Saya akan terus mengusahakan, kalau Intan hanya sebatas mencintai tanpa berniat mengganggu apalagi merebut kebahagiaan yang bukan ditakdirkan untuknya. Maaf.” Dia sedikit membungkuk.
Ibu Meutia juga menangkupkan kedua tangan, berbesar hati meminta maaf. “Kak Yuni, aku juga bersalah karena menutupi serapat mungkin perasaan putriku tertuju ke menantumu. Disini, diriku tidak akan memaksa minta dimaafkan, dimaklumi – kakak berhak menyalahkan, bahkan membenciku.”
Ibu Wahyuni menggeleng, memeluk erat adiknya. “Meutia, jangan cakap macam itu. Tak ada yang salah dengan cinta, sebab hadirnya tanpa diduga. Mana mungkin aku bisa membencimu apalagi Intan yang sudah banyak memeluk lara akibat cintanya tak berbalas.”
Sabiya dan Intan saling berpelukan, menangis lirih. Kemudian sang kakak melerai pelukan, dia melangkah mantap.
“Kak Siron, boleh aku tahu sejak kapan kau dan bang Danang menyadari perasaan haram ku ini?”
Ada sorot bersalah pada netra Siron, suaranya pun bergetar kala membeberkan. “Sebelum aku menikah dengan bang Danang.”
Intan tersenyum, sudut bibirnya berkedut. Dia gigit kuat-kuat pipi bagian dalam. “Terima kasih atas pengakuannya, Kak. Terima kasih telah membiarkan aku tetap tak tahu diri, tak tahu malu menyukai suamimu. Terima kasih.”
“Bang Danang ….” Intan beralih memandang pria berdiri di samping si wanita. Kali ini ada yang berbeda dari sorot matanya. “Aku pernah mengagumimu bukan karena paras, dan apa yang kau miliki, tapi lebih ke sifat terpuji, sikap berwibawa, perhatian tulus, jiwa penyayang. Namun, sedikitpun diriku tak menyangka kalau kau tetap bungkam, bukannya memperingati diriku, atau memarahi sebab sudah lancang menaruh rasa kepadamu.”
“Tak mengapa, benar-benar tidak apa-apa. Sungguh.” Intan menggelengkan kepalanya. “Setidaknya aku tahu kemana harus kubuang rasa yang dianggap haram. Bang Danang, maaf ya … sudah tidak tahu malu mencintaimu selama sepuluh tahun lamanya. Mulai detik ini, aku janji! Cinta itu kupaksa mati. Bila tak berhasil, hingga akhir hayat, aku takkan muncul dihadapan kalian!”
“Maksud kalian apa coba? Mengapa seolah mempermainkan perasaan kakakku? Pantaskah berbuat tak terpuji macam ini?!”
.
.
Bersambung.
si anggora ini udah termasuk pria idaman lah yah nunggu intan kelamaan biar tak karungin aku aja laa🤣🤣🤣