Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Diculik Mafia Tampan
Bab 1 – Aku Diculik Mafia Tampan
Hujan turun deras sekali malam itu.
Alya memeluk erat kardus berisi bunga pesanan terakhirnya, berlari kecil menembus trotoar yang licin karena air. Nafasnya memburu. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh.
Kalau pesanan ini telat lagi, dipastikan gajinya bakal dipotong sama bos.
“Kenapa sih hidupku selalu begini, dikejar-kejar waktu terus…” gerutunya dalam hati.
Dengan sepatu yang sudah basah kuyup dan mulai licin, ia menyeberang jalan tanpa sempat memperhatikan lampu lalu lintas. Pikirannya saat itu cuma satu: antar bunga, dapat uang, lalu pulang cepat.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah melaju kencang dari arah tikungan.
BRAKK!
Tubuh kecil Alya terpental ke samping. Kardus di tangannya terlempar, mawar-mawar putih berserakan di aspal yang basah dan kotor.
“Aduh…”
Ia meringis kesakitan sambil memegangi lututnya. Tidak sampai patah, tapi cukup buat lututnya memar dan gemetar.
Pintu mobil terbuka perlahan.
Dua pria berbadan kekar turun lebih dulu. Berjas hitam, wajah datar tanpa ekspresi, dan tatapan mereka mengerikan sekali. Alya langsung menelan ludah, jantungnya berdegup kencang.
“Maaf! Maaf banget! Aku nggak sengaja!” serunya panik sambil berusaha bangkit.
Namun kedua pria itu malah membukakan pintu belakang dengan sikap sangat hormat.
Seorang pria turun dari dalam.
Tinggi, tegap, dengan rahang yang tegas dan wajah yang terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa. Jas mahal melilit tubuhnya yang atletis. Tapi, sorot matanya sedingin es, membuat siapa saja yang melihatnya bakal merasa ciut.
Alya terpaku, tak bisa bergerak.
Pria itu melangkah mendekat tanpa suara. Sepatu kulit mahalnya berhenti tepat di atas bunga-bunga yang sudah hancur terinjak itu.
“Namamu,” suaranya rendah, berat, dan berwibawa.
Alya berkedip bingung. “Hah?”
“siapa namamu.”
“A-Alya.”
Pria itu menatap wajahnya lama, lalu turun ke tangan Alya yang gemetar ketakutan. Alya merasa seolah-olah dirinya sedang diperiksa, dinilai seperti barang dagangan.
“Alya,” ulangnya pelan.
Cara dia mengucapkan namanya membuat bulu kuduk Alya berdiri.
“Aku benar-benar minta maaf, Tuan. Aku akan ganti rugi… eh, bunganya hancur, atau mobilnya lecet? Saya bayar kok pelan-pelan—” Alya mulai ngelantur karena panik.
Salah satu pria berbadan besar itu membungkuk ke arah bosnya.
“Bos, kita harus segera pergi. Polisi bisa lewat kapan saja.”
Bos?
Alya melirik lagi ke pria di depannya. Jadi dia pemimpin mereka?
Pria itu tidak menoleh ke bawahannya. Matanya masih terkunci pada Alya, seolah sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
“Bawa dia.”
Dunia Alya seakan berhenti berputar sejenak.
“Apa?!”
Belum sempat ia bereaksi, kedua pria kekar itu langsung mencengkeram lengannya kuat-kuat.
“Hei! Lepaskan! Aku cuma nyerempet dikit doang! Ini negara hukum, tahu!”
Alya menendang-nendang, berteriak sekuat tenaga. Beberapa orang yang lewat menoleh, tapi semua mundur dan tak berani mendekat begitu melihat jenis mobil dan aura mengerikan dari orang-orang itu.
“LEPASKAN AKU!”
Pria tampan itu membuka pintu mobil belakang, wajahnya tetap datar tanpa perasaan.
“Masukkan.”
“Aku bukan pencuri! Aku cuma orang miskin!” teriak Alya histeris saat tubuhnya didorong paksa ke dalam kabin mobil yang dingin. Salah satu pengawal duduk di sampingnya, pintu ditutup dengan bunyi klik yang keras.
Mobil langsung melaju kencang.
Alya memukul-mukul kaca.
“Tolong! Tolooong!”
Tapi suaranya tertahan oleh ketebalan kaca dan deru hujan. Ia berbalik badan dengan nafas memburu. Pria itu duduk tenang di hadapannya, menyilangkan kaki sambil fokus melihat layar tablet di tangannya.
Seolah-olah tindakan menculik perempuan adalah hal yang biasa dilakukan setiap hari.
“Kau gila ya?!” bentak Alya memberanikan diri. “Turunkan aku sekarang juga!”
Pria itu menoleh perlahan. Tatapan tajamnya membuat suara Alya mendadak tercekat dan mengecil.
“Aku tidak suka suara berisik.”
“Terus aku juga tidak suka diculik!”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir pria itu terangkat tipis. Bukan senyum ramah, tapi lebih seperti senyum mengejek atau merasa lucu.
“Berani juga ya kau.”
“Aku akan lapor polisi!”
“Silakan.”
Jawabannya santai sekali, malah bikin Alya kesal bukan main.
“Siapa sih kau sebenarnya?”
Pria itu terdiam sejenak, lalu menjawab singkat,
“Kael Lorenzo.”
Nama itu terdengar asing di telinga Alya… tapi melihat cara para bawahannya menunduk hormat seketika, jelas nama itu punya kekuatan besar.
Alya menatap curiga. “Aku harus kenal?”
Kael menatapnya lama.
“Tidak. Dan lebih baik memang begitu.”
Jantung Alya berdegup tidak karuan.
Tak lama kemudian, mobil memasuki gerbang besi besar yang terbuka otomatis. Sebuah rumah besar bergaya Eropa berdiri megah di tengah halaman luas, dan Alya bisa melihat penjaga bersenjata berdiri di sudut-sudut halaman.
Wajah Alya langsung pucat pasi.
“Aku dibawa ke mana ini?”
Kael turun lebih dulu.
“Rumahku.”
“Aku mau pulang!”
“Tidak malam ini.”
Dua pengawal langsung menarik tubuh Alya keluar. Ia terus meronta-ronta sampai hampir jatuh.
“Lepaskan! Aku punya ibu yang menunggu di rumah! Dia sakit!”
Langkah Kael berhenti.
Ia menoleh sedikit ke belakang.
“Ibumu akan dikirani uang.”
“Aku nggak butuh uang sialanmu!”
Kael kini berbalik menghadapnya penuh.
Untuk pertama kalinya, ada percikan aneh di mata dingin itu. Ia terlihat… tertarik.
“Aneh,” gumamnya pelan.
“Apa yang aneh?”
“Biasanya semua orang di luar sana rela melakukan apa saja demi uangku.”
Alya mendengus kesal.
“Kalau begitu cari saja orang lain yang mau! Kenapa harus nyulik aku sih?!”
Kael mendekat perlahan.
Jarak mereka kini sangat dekat, sampai-sampai Alya bisa mencium aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau hujan dari tubuh pria itu. Tangannya terangkat perlahan, lalu jari-jarinya menyentuh dagu Alya dengan lembut.
Tubuh Alya menegang kaku.
“Kau menabrak mobilku,” bisiknya rendah, tepat di depan wajah Alya.
“Dan sekarang… aku jadi penasaran sama kamu.”
PLAK!
Alya menepis tangannya kasar.
“Aku nggak penasaran sama kamu!”
Mata Kael menyipit. Tapi anehnya, dia tidak marah. Ekspresinya justru terlihat makin terhibur melihat perlawanan gadis di depannya.
“Masukkan dia ke kamar timur.”
“Apa?!” pekik Alya.
“Jaga ketat. Jangan biarkan dia keluar dari sana.”
Kael berbalik badan hendak pergi.
Alya semakin panik.
“Hei! Kael! Kael Lorenzo! Dasar orang gila! Psikopat!”
Langkah pria itu terhenti sesaat.
Tanpa menoleh ke belakang, suaranya terdengar lagi,
“Selamat datang di rumahku, Alya.”
Lalu dia pergi, meninggalkan Alya yang masih terus meronta di bawah jagaan para pengawal.
Gadis itu ditarik masuk ke dalam rumah mewah yang dingin dan sunyi. Rasanya bukan seperti rumah, tapi lebih seperti penjara emas yang megah.
Dan di saat itulah Alya sadar…
Hidupnya yang biasa-biasa saja, baru saja berakhir malam ini. Semuanya hancur hanya karena menabrak mobil seorang mafia tampan bernama Kael Lorenzo.