NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Li Zhen memejamkan kedua matanya, menghirup aroma rempah-rempah fana itu dalam-dalam dengan ekspresi wajah yang sangat menikmati setiap detik tarikan napasnya. Hidungnya kembang kempis menyerap bau gurih yang sudah sangat dia rindukan sejak dia terbangun terbatuk-batuk di dunia yang aneh ini.

"Ini baru yang namanya harta karun sejati yang pantas diagungkan, bukan rumput ajaib bercahaya yang rasanya seperti kardus basah," gumamnya dengan nada yang sangat puas. Dia meletakkan kotak bumbu tersebut dengan sangat hati-hati di atas meja kayunya yang kakinya patah dan pincang sebelah.

Kini tiba saatnya dia mempersiapkan bahan utama makanan yang masih tergeletak menyedihkan di sudut ruangan gelap tersebut. Li Zhen berjalan gontai mendekati kedua bangkai unggas raksasa itu, lalu menarik salah satu kaki ayam mendekat ke arah perapian batu yang masih kosong.

Dia mengeluarkan sebuah belati berkarat dari balik ikat pinggang jubahnya, sebuah senjata usang peninggalan yang dia temukan di bawah ranjang sore tadi. Wajahnya berkerut tajam penuh kekesalan saat dia mulai mencabuti bulu-bulu pelangi yang menempel sangat erat pada kulit tebal ayam spiritual tersebut.

Setiap kali tangannya menarik sekepal bulu warna-warni, dia akan mendecakkan lidahnya keras-keras dan menggelengkan kepala dengan gerakan dramatis. "Bulu-bulu bodoh ini terlalu tebal dan lengket, pantas saja ayam raksasa ini tidak bisa terbang membelah awan layaknya burung normal," keluhnya tanpa henti.

Tindakan mencabuti bulu ayam sebesar ukuran anak balita ternyata membutuhkan tenaga ekstra yang membuat napasnya menjadi sedikit terengah. Titik-titik keringat mulai bermunculan membasahi dahinya, menetes jatuh mengenai lantai tanah yang kotor berdebu di bawah kakinya.

Dia sengaja menumpuk bulu-bulu pelangi yang berkilauan itu di samping kanannya, sama sekali tidak peduli bahwa bulu mistis tersebut sebenarnya bisa dijual mahal untuk membuat jubah pertahanan. Fokus matanya saat ini seratus persen hanya tertuju pada daging putih kekuningan yang mulai terlihat menjanjikan di balik lapisan bulu-bulu tersebut.

Anjing raksasa penjaga yang berada di luar sisa pintu sesekali mengintip ke dalam ruangan dengan mata kuningnya yang bulat penasaran. Lidah kasarnya menjulur keluar tidak terkendali, meneteskan air liur kental yang jatuh mendesis mengenai tanah merah di halaman depan gubuk.

"Jangan menatap calon makananku dengan wajah memelas dan air liur menjijikkan seperti itu, kau membuat selera makanku turun drastis," bentak Li Zhen keras sambil mengacungkan belatinya. Hewan buas itu langsung menarik kepalanya mundur dengan cepat, menyembunyikan wajahnya kembali di balik kaki depannya dengan kepatuhan mutlak.

Setelah hampir setengah jam berjuang melawan rasa malasnya, unggas raksasa itu akhirnya bersih sepenuhnya dari seluruh bulu pelanginya. Li Zhen mengusap punggung tangannya ke dahi yang basah, menghela napas panjang melihat hasil kerja memotongnya yang terbilang lumayan rapi.

Dia membelah perut unggas tersebut secara memanjang dengan belati karatannya, membersihkan organ dalamnya dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar tidak memecahkan empedu. Wajahnya berkerut rapat menahan bau amis darah yang menyeruak tajam, namun tekadnya untuk pesta makan malam sukses mengalahkan segalanya.

Li Zhen mengambil segenggam besar garam laut murni dari dalam kotak kayunya, lalu mulai melumuri seluruh permukaan kulit ayam yang berlemak tersebut. Tangannya bergerak memijat daging ayam itu dengan tenaga kuat, memastikan setiap butiran garam putih meresap sempurna ke dalam serat otot spiritualnya.

Dia kemudian menaburkan bubuk lada hitam pedas dan bawang putih dalam jumlah yang sangat banyak dan sama sekali tidak masuk akal. Bau pedas yang menyengat langsung membuat rongga hidungnya gatal tak tertahankan, memaksanya untuk bersin dengan sangat kencang ke arah samping ruangan.

"Ini baru yang dinamakan proses marinasi tingkat tinggi oleh ahli masak, bukan sekadar memakan daging direbus air tawar tanpa rasa," pujinya dengan sombong pada diri sendiri. Dia terus memijat bumbu itu dengan tenaga penuh, seolah melampiaskan seluruh kekesalannya pada dunia kultivasi melalui pijatan di atas daging tersebut.

Setelah proses persiapan bumbu yang melelahkan itu selesai, sebuah masalah baru muncul di depan mata pemuda yang mulai kelelahan ini. Gubuknya tidak memiliki persediaan kayu bakar yang cukup, dan dia sama sekali tidak tahu cara menyalakan api tanpa menggunakan pemantik modern.

Li Zhen mengedarkan pandangan mencari akal ke seluruh sudut ruangan sempit itu, matanya mencari sesuatu yang bisa dibakar untuk dijadikan bahan bakar utama. Dia melihat sisa daun pintu kayunya yang hancur berantakan, lalu mengangguk pelan dengan senyuman licik yang penuh dengan akal bulus.

Dia berjalan mendekat ke arah kayu pintu yang sudah terlepas dari engselnya itu, lalu menendangnya keras beberapa kali hingga kayu lapuk itu patah menjadi beberapa bagian kecil. Suara patahan kayu kering itu bergema keras di tengah malam, membuat anjing penjaga di luar gubuk berjengit kaget karena terkejut mendadak.

Li Zhen memungut potongan-potongan kayu busuk itu dari tanah, lalu menyusunnya di dalam lubang perapian batunya dengan cara yang sangat sembarangan. Susunan kayu buatannya sangat berantakan dan asal-asalan, sama sekali tidak mematuhi hukum sirkulasi udara yang baik untuk menciptakan api unggun yang stabil.

Dia menepuk kedua telapak tangannya dengan keras untuk membersihkan sisa debu kayu, lalu menoleh ke arah halaman depan tempat anjing raksasanya berada. Matanya menyipit memancarkan kelicikan tajam, sebuah ide brilian untuk menghemat tenaga baru saja melintas di dalam otaknya yang cemerlang.

"Hei, kompor berbulu hitam, masuklah ke mari sebentar menemuiku," panggil Li Zhen dengan nada yang sengaja dilembutkan sedikit agar terdengar tidak terlalu kasar. Suaranya terdengar persis seperti seorang majikan yang sedang memanggil anjing peliharaannya untuk diberikan hadiah berupa tulang sisa.

Anjing Petir Ekor Tiga itu merangkak masuk dengan sangat hati-hati, perut besarnya menyapu lantai tanah karena ia sama sekali tidak berani berdiri tegak di hadapan Li Zhen. Ia menghentikan langkahnya tepat di samping susunan perapian, menatap majikan barunya dengan tatapan penuh tanda tanya yang terlihat polos.

Li Zhen menunjuk tegas ke arah tumpukan kayu busuk di dalam perapian menggunakan ujung jari telunjuk kanannya yang masih berbau bumbu lada. "Semburkan sedikit api biru milikmu ke kayu-kayu jelek ini, tapi ingat, jangan sampai kau bodoh dan membakar habis gubukku," perintahnya dengan raut wajah sangat mengancam.

Hewan buas tingkat lima penyerap petir itu mengangguk paham seketika, ia perlahan mendekatkan hidung besarnya yang basah ke arah tumpukan kayu di depannya. Ia menarik napas dalam-dalam hingga dadanya membusung, lalu bersin dengan sangat pelan sambil mengeluarkan sedikit percikan api berwarna biru terang dari hidungnya.

Percikan api mistis yang sangat panas itu langsung menyambar kayu lapuk, menciptakan kobaran api biru yang berkobar ganas dalam hitungan detik. Suhu udara di dalam ruangan yang tadinya membekukan tulang kini melonjak tajam, langsung mengusir hawa dingin malam hingga ke sudut-sudut gubuk terjauh.

Li Zhen tersenyum sangat lebar memamerkan giginya, sepasang matanya memantulkan cahaya api biru yang menari-nari dengan ganas di dalam perapian batu. Dia menepuk ubun-ubun anjing buas itu dengan kasar namun terukur, sebuah pujian diam-diam atas kerja kerasnya sebagai pengganti pemantik api.

"Kerja bagus malam ini, sekarang kau boleh kembali merangkak berjaga di luar sebelum bulumu ikut terbakar dan membuat ruangan ini berbau hangus," usir Li Zhen tanpa perasaan bersalah. Anjing itu langsung merangkak mundur ketakutan keluar gubuk, sama sekali tidak berani memprotes perlakuan kasar yang merendahkan martabat monster legendarisnya tersebut.

Li Zhen menusuk bangkai ayam yang sudah dibumbui tebal itu dengan sebatang dahan pinus biru yang ditemukannya cukup tebal dan kuat menahan beban. Dia mengangkat ayam gemuk itu dengan kedua tangan kurusnya, lalu memosisikannya tepat di atas kobaran api petir yang menyala biru terang.

Suara desisan nyaring dan panjang langsung terdengar merdu saat kulit ayam yang berlapis lemak itu menyentuh hawa panas ekstrem dari api mistis. Tetesan lemak cair mulai berjatuhan ke dalam nyala api, menciptakan bunyi gemericik yang terdengar bagaikan alunan musik surgawi di telinga Li Zhen.

Aroma daging panggang yang luar biasa gurih perlahan mulai mengudara menembus ruangan, bercampur pekat dengan bau pedas dari lada hitam fana. Aroma masakan yang menyengat tersebut sangat asing bagi Benua Awan Surgawi, karena kultivator tingkat tinggi di sini biasanya memasak daging hanya menggunakan air tawar murni.

Li Zhen memutar perlahan dahan pinus sebagai panggangan itu, wajahnya terlihat sangat fokus dan serius layaknya seorang alkemis agung yang sedang meracik pil tingkat dewa. Matanya tidak berkedip sedikit pun mengawasi dagingnya, dia ingin memastikan setiap bagian dari ayam tersebut mendapatkan paparan panas yang merata dan sempurna.

"Hidangan ini akan menjadi mahakarya kuliner pertamaku di dunia yang dipenuhi oleh orang-orang berpenyakit jiwa yang tidak tahu cara menikmati hidup," gumamnya pelan sambil diam-diam meneteskan air liur. Perutnya bergemuruh semakin kencang tanpa henti, dia sudah tidak sabar untuk segera merobek daging ayam panggang yang perlahan mulai berubah warna menjadi kecokelatan menggiurkan itu.

Tanpa dia sadari akibat terlalu fokus pada daging, kepulan asap tebal mulai terbentuk dari hasil pembakaran bumbu fana dan tetesan lemak spiritual yang bereaksi ekstrem dengan api petir. Asap putih keabu-abuan itu dengan cepat membumbung tinggi, mulai memenuhi bagian atas gubuk reyotnya bagaikan awan badai kecil yang terperangkap.

Bau pedas lada yang luar biasa menyengat perlahan menyusup keluar menembus ruangan melalui lubang-lubang dinding kayu yang lapuk dan celah atap rumbia. Angin gunung malam yang bertiup sangat kencang langsung menyambar asap misterius tersebut, membawanya terbang melintasi lembah langsung menuju ke area paviliun pusat Sekte Teratai Angin.

Malam yang seharusnya sunyi dan damai bagi para kultivator ini dipastikan tidak akan bertahan lama lagi. Li Zhen terus memutar panggangan ayamnya dengan senyum lebar yang bahagia, sama sekali tidak peduli bahwa hidangan makan malamnya ini akan segera menciptakan kekacauan masal terbesar dalam sejarah panjang sekte tersebut.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!