NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibumu Ada Padaku

Bab 6 – Ibumu Ada Padaku

“Ibu Alya… berhasil diculik.”

Kalimat itu keluar dari mulut Riko bagaikan petir yang menyambar di tengah siang bolong.

Dunia seakan berhenti berputar di depan mata Alya. Seluruh warna menghilang, berganti menjadi abu-abu yang suram. Kakinya terasa lemas seolah tulang-tulangnya dicabut paksa, tubuhnya limbung ke belakang dan nyaris jatuh tersungkur ke lantai jika bukan karena tangan kuat Kael yang sigap menangkap pinggangnya dan menahannya agar tetap berdiri.

“Apa maksudmu diculik?!” teriak Alya histeris, air mata langsung membanjiri wajahnya tanpa bisa ditahan. “Bukankah tadi kau bilang dia aman?! Kau bilang tim kamu sudah sampai lebih dulu! Kenapa bisa begini?!”

Riko menunduk dalam, wajahnya pucat dan tegang. Ia tidak berani menatap mata Alya yang penuh amarah dan keputusasaan.

“Maafkan kami, Nona. Tim kami memang sudah mengamankan area rumah. Tapi musuh menggunakan taktik licik. Mereka datang menggunakan ambulans palsu dengan seragam medis yang sangat lengkap. Saat mereka membawa Ibu Anda keluar untuk ‘dievakuasi’, kami mengira itu adalah tim medis asli yang kami panggil. Kami terlambat menyadari itu jebakan.”

Alya menoleh perlahan menatap Kael. Matanya yang merah dan basah menatap tajam ke arah pria itu, penuh dengan tudingan kesalahan.

“Ini semua salahmu…” isaknya pelan namun penuh kebencian. “Kalau saja kamu tidak menyeretku ke dalam duniamu yang kotor ini, Ibu pasti masih aman di rumah!”

Kael menerima tatapan itu tanpa berkedip sedikit pun. Wajahnya datar, dingin, namun rahangnya terlihat mengeras menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dirinya.

“Ya.”

Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya. Jawaban singkat yang penuh penerimaan.

“Aku akan bawa ibumu kembali. Aku janji.”

“Aku tidak peduli dengan janji mafia gila sepertimu!” bentak Alya, emosinya meledak. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong dada bidang Kael sekuat tenaga, lalu memukul-mukul dadanya berkali-kali. Tangannya gemetar hebat, tinjunya terasa ringan bagi Kael, namun pria itu sama sekali tidak melawan. “Kalau sampai Ibu kenapa-napa… aku akan membencimu sampai mati! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!”

Kael berdiri diam seperti tembok batu. Ia membiarkan Alya melampiaskan semua kemarahan, ketakutan, dan kepedihannya lewat pukulan-pukulan kecil itu. Ia tidak melawan, tidak bergerak, bahkan tidak bersuara.

Hingga akhirnya tenaga Alya habis. Tangannya terkulai lemas, dan gadis itu kembali menangis tersedu-sedu, bahunya terguncang hebat.

Baru saat itu Kael bergerak. Ia menangkap kedua pergelangan tangan Alya perlahan, menghentikan gerakan itu.

“Lihat aku.”

Alya memalingkan wajah, tidak sanggup melihat mata dingin itu.

“Lihat aku, Alya.”

Nada suaranya rendah, tenang, namun memiliki kekuatan magis yang memaksa Alya untuk menurut. Gadis itu mendongak perlahan, napasnya tersengal-sengal karena menangis.

Mata Kael begitu gelap dan tajam, seolah bisa menelan siapa saja yang berani menatapnya.

“Aku bersumpah padamu… aku akan menghancurkan siapa saja yang berani menyentuh satu rambut pun di kepala ibumu. Mereka akan menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini.”

Ia melepaskan tangan Alya, lalu berbalik badan dengan aura mematikan yang luar biasa.

“Siapkan mobil. Sekarang.”

“Siap, Tuan!” Riko mengangguk cepat dan langsung berlari pergi melaksanakan perintah.

Alya buru-buru menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menunjukkan tekad yang kuat.

“Aku ikut.”

“Tidak.” Jawaban Kael singkat dan padat, tanpa perlu berpikir dua kali.

“Aku bilang aku ikut!” teriak Alya tak mau kalah. “Itu ibuku! Aku punya hak untuk ikut!”

Kael berbalik menatapnya tajam, matanya menyala.

“Ini bukan perjalanan wisata atau belanja ke mall, Alya. Di sana ada peluru, darah, dan kematian. Itu tempat yang sangat berbahaya.”

“Dan itu ibuku!” balas Alya tak gentar. “Aku tidak peduli bahaya atau tidak! Aku harus melihatnya!”

“Dan itu musuhku. Kau tidak mengerti seberapa berbahaya mereka.”

Alya melangkah maju satu langkah, mendekatkan wajahnya ke dada pria itu.

“Kalau kau berani tinggalkan aku di sini sendirian… aku bersumpah aku akan kabur lagi. Dan kali ini aku tidak akan nekat turun lewat pohon, aku akan cari jalan keluar lain meski aku harus memecahkan semua jendela di rumah ini!”

Kael menatap wajah gadis itu cukup lama. Tatapan mereka bertukar, sama-sama keras dan sama-sama mempertahankan pendirian.

Akhirnya, Kael menghela napas panjang, sebuah desahan kasar yang menunjukkan ia kalah dalam perdebatan ini.

“Bawakan rompi anti peluru ukuran kecil. Sekarang.”

Riko yang baru saja kembali terbelalak kaget.

“Untuk… untuk Nona Alya, Tuan?”

“Untuk siapa lagi kalau bukan dia?” sentak Kael.

Alya sendiri ikut terkejut.

“Aku tidak mau pakai itu! Itu pasti berat dan panas!” protesnya.

“Kau akan pakai itu atau kau tidak ikut. Pilih.”

“Aku tidak suka diatur!”

Kael mendekat lagi, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Alya. Aura dinginnya bercampur dengan sesuatu yang lain… sesuatu yang terasa seperti perhatian yang dipaksakan.

“Dan aku… tidak mau melihatmu mati.”

Jantung Alya berdegup kacau mendengar kalimat itu. Pria ini selalu berbicara seperti mengancam, tapi entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu terdengar seperti ungkapan kepedulian yang terdalam.

 

Sepuluh menit kemudian, mobil hitam mewah melaju kencang membelah jalanan.

Alya duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Kael. Di balik jaket tebal yang ia kenakan, terdapat rompi anti peluru tipis namun kokoh yang melindungi tubuhnya. Rasanya sangat tidak nyaman, sesak, dan membuat gerakannya terbatas.

“Ini sesak sekali,” keluh Alya sambil menarik-narik bajunya tak suka.

“Lebih baik sesak dan hidup daripada nyaman tapi kena peluru,” jawab Kael datar tanpa menoleh, matanya terus memperhatikan jalanan di luar jendela.

Mobil mereka melaju sangat cepat, diiringi oleh dua mobil lain yang berisi pasukan pengawal di depan dan di belakang, membentuk irisan pengaman yang kokoh.

Tangan Alya terasa dingin dan keringat dingin mulai keluar di telapak tangannya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari kehangatan.

“Kael…” panggilnya pelan.

“Hmm?”

“Apa mereka… apa mereka akan menyakiti ibuku?” tanyanya dengan suara bergetar, ketakutan akan jawaban yang akan diterima.

Kael menoleh sedikit, menatap wajah cemas gadis itu.

“Selama mereka masih punya akal sehat dan masih ingin hidup, mereka tidak akan berani.”

“Kamu selalu bicara soal mati dan membunuh.”

“Karena itu adalah bahasa yang dimengerti oleh musuh-musuhku. Mereka tidak paham kata tolong atau maaf, mereka hanya paham rasa sakit dan ketakutan.”

Alya terdiam, kembali memeluk dirinya sendiri. Suasana di dalam mobil terasa hening dan mencekam.

Tiba-tiba, Kael menggerakkan tangannya, membuka laci kecil di depan jok, dan mengambil sesuatu. Sebatang cokelat batang bermerek terkenal.

Ia menyodorkannya ke arah Alya.

“Buat apa?” tanya Alya bingung.

“Kau gemetar hebat.”

“Aku tidak lapar.”

“Bukan buat menghilangkan lapar. Tapi buat menenangkan saraf. Manis bisa membantu.”

Alya menatap benda cokelat itu, lalu menatap wajah Kael tak percaya.

“Mafia macam apa yang bawa stok cokelat di mobil?”

“Biasanya tidak ada.”

“Terus kenapa ada?”

Kael menatap lurus ke depan jalanan, suaranya terdengar rendah dan tenang.

“Sejak semalam aku perhatikan kau suka menambahkan gula banyak sekali di kopi yang kau minum. Aku tahu kau menyukai rasa manis. Jadi aku siapkan.”

Alya terdiam kaku.

Pria sekejam dan seberbahaya Kael Lorenzo… ternyata memperhatikan hal sekecil itu? Hal yang bahkan Alya sendiri tidak sadari diperhatikan orang lain.

Dengan ragu-ragu dan pipi yang sedikit memanas, Alya mengambil cokelat itu dari tangan Kael.

“Te-terima kasih…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Kael menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat sangat tipis.

“Itu terdengar sangat aneh mendengar ucapan terima kasih dari mulutmu.”

“Jangan kepedean! Aku cuma sopan santun!”

“Ya, ya.”

Tiba-tiba saja…

SCREEEEECH!!!

Mobil mengerem mendadak dengan sangat keras hingga ban mereka berdecit keras menyentuh aspal. Karena gaya inersia, tubuh Alya terlempar ke depan, tapi sebelum kepalanya membentur dasbor, tangan kuat Kael langsung menahan dadanya dan menariknya kembali ke belakang dengan sigap.

“Ada apa?!” seru Alya panik, jantungnya hampir copot.

“Truk menghalangi jalan, Tuan!” jawab sopir mereka dengan cepat.

Kael menatap lurus ke depan. Di tengah jalan yang sepi itu, sebuah truk kontainer besar melintang memblokir seluruh akses jalan. Tidak ada cara untuk melewatinya.

Tiba-tiba pintu belakang truk itu terbuka lebar.

Puluhan pria bertopeng hitam turun dengan gerakan cepat dan terlatih. Masing-masing dari mereka membawa senjata api lengkap yang siap ditembakkan.

Wajah Alya pucat pasi. Tubuhnya membeku ketakutan.

“Kael…” panggilnya lirih.

Kael tidak menjawab. Dengan gerakan perlahan namun penuh wibawa, ia membuka kancing jasnya, lalu menarik keluar sebuah pistol hitam mengkilap yang terselip di pinggang belakangnya.

Wajah tampannya kini berubah total. Tidak ada lagi sedikit pun emosi atau senyum. Hanya ada kekosongan yang dingin dan mematikan.

“Merunduk.”

“Hah?”

“Sekarang, Alya. Jangan tanya lagi.”

Secepat kilat, Kael menarik kepala Alya dan membaringkannya di atas pangkuannya, melindungi tubuh mungil itu sepenuhnya tepat pada saat yang sama suara tembakan menderu keras.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Hujan peluru menghujani mobil mereka. Kaca jendela pecah berkeping-keping, serpihannya berterbangan ke mana-mana.

Alya menjerit ketakutan, memejamkan matanya rapat-rapat dan menutup telinganya dengan tangan.

Dari balik perlindungan tubuh Kael, Alya bisa merasakan pria itu mulai menembak balik. Suara tembakan balasan terdengar jelas di samping telinganya.

DOR!

Salah satu penyerang roboh tersungkur.

“Buka jalan!” perintah Kael dingin ke arah sopir dan pengawal di mobil depan.

“Siap, Tuan!”

Mobil-mobil pengawal lainnya ikut melepaskan tembakan untuk melindungi mobil utama. Jalanan yang tadinya sepi kini berubah menjadi medan perang yang sungguhan. Suara tembakan, teriakan, dan pecahan kaca bersahut-sahutan.

Alya tetap membaringkan diri di pangkuan Kael, gemetar hebat. Tangan besar pria itu terus menekan kepalanya dengan lembut namun tegas, memastikan gadis itu tidak melihat kekejaman yang terjadi di luar dan tidak terluka sedikit pun.

“Jangan lihat. Tutup mata saja,” bisik Kael rendah tepat di atas kepalanya.

Suara itu, meski di tengah kekacauan, anehnya mampu membuat jantung Alya sedikit lebih tenang. Rasanya aman berada di sana.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam, bagaikan berada di neraka.

Namun tiba-tiba… segalanya menjadi hening.

Suara tembakan berhenti total. Hanya tersisa suara mesin mobil yang menyala dan desahan angin.

Kael menatap sekilas ke luar jendela yang sudah hancur.

“Beres.”

Alya perlahan mengangkat kepalanya dari pangkuan Kael. Napasnya tersengal-sengal, jantungnya masih berpacu cepat.

Matanya langsung tertuju pada wajah Kael.

Di pelipis kiri pria itu, terdapat goresan kecil yang mengeluarkan darah. Sedikit saja, tapi cukup jelas terlihat mengalir tipis di pipi tampannya.

“Kamu terluka!” seru Alya reflek, matanya membelalak.

Kael mengusap sedikit darah itu dengan punggung tangannya, lalu menatap Alya dengan wajah datar.

“Hanya lecet kecil. Tidak apa-apa.”

Tanpa sadar, tangan Alya terangkat sendiri. Ia menyentuh pelipis Kael dengan jari-jarinya yang halus, membersihkan sisa darah itu dengan sangat hati-hati seolah menyentuh benda berharga.

“Diam saja, nanti infeksi,” ucapnya pelan, fokus pada lukanya.

Kael membeku.

Pria itu terdiam kaku. Matanya menatap lekat-lekat wajah gadis di depannya yang sedang mengobati lukanya dengan begitu perhatian.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya… pria paling berbahaya dan ditakuti di kota ini terlihat bingung dan terdiam hanya karena sentuhan lembut seorang gadis.

Alya baru sadar apa yang ia lakukan. Wajahnya memerah padam, ia buru-buru menarik tangannya kembali.

“A-aku cuma… cuma nggak mau kamu mati sebelum selesaikan masalah ini!” belanya gugup.

Namun sebelum tangan Alya sempat menjauh sepenuhnya, Kael menangkap pergelangan tangannya. Ia menahan tangan itu di udara.

Tatapan Kael berubah gelap dan pekat, penuh dengan hasrat yang tak terbendung.

“Sentuh lagi.”

“Hah?”

“Kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang boleh menyentuhku seperti itu. Jadi… lakukan lagi.”

Jantung Alya rasanya ingin meledak keluar dari rongga dada.

Belum sempat ia menjawab atau bereaksi apa pun, ponsel di saku Kael berdering keras memecah momen itu.

Kael mengangkat telepon itu dengan cepat, namun tangannya masih belum melepaskan genggaman pada tangan Alya.

“Apa?”

Wajahnya yang tadi sedikit lunak kembali berubah menjadi sedingin es seketika.

“Lokasi ibunya ditemukan.”

Alya menahan napasnya, seluruh tubuhnya menegang menunggu jawaban.

“Di mana?” tanya Kael tajam.

Hening beberapa detik di ujung telepon.

Akhirnya Kael menatap lurus ke manik mata Alya, suaranya berat dan tegas.

“Mereka membawanya ke Pelabuhan Lama.”

 

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!