(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayembara Darah
Tambang Batu Hitam di sisi barat Gunung Pilar Langit adalah lubang neraka bagi para Murid Luar. Tempat ini dipenuhi oleh debu tajam yang menyesakkan napas dan hawa Yin yang merusak paru-paru fana. Setiap hari, ribuan murid dipaksa menggali jauh ke dalam perut bumi untuk memenuhi tuntutan seratus bongkah Bijih Besi Hitam.
Di kedalaman terowongan nomor tujuh, suara dentingan beliung menghantam dinding batu bergema tanpa henti.
Shen Yuan berdiri di sudut tergelap terowongan. Di tangannya, sebuah beliung yang gagangnya sudah retak diayunkan dengan irama yang lambat dan terukur. Berbeda dengan murid lain yang bajunya basah oleh keringat dan tangannya berdarah-darah, Shen Yuan bahkan tidak bernapas lebih cepat dari biasanya.
Setiap kali ujung beliungnya menghantam dinding batu, sebuah kejadian gaib rahasia terjadi.
Sutra Penelan Surga berputar sangat pelan di ujung jari-jarinya. Hawa murni iblis merayap melalui gagang kayu, masuk ke dalam mata beliung besi, dan langsung menembus ke dalam urat bijih di dalam dinding batu.
Sari pati logam dan energi bumi purba di dalam Bijih Besi Hitam disedot tanpa ampun!
Kraaak... kraaak...
Bongkahan batu seukuran kepala manusia runtuh ke tanah. Dari luar, batu-batu itu terlihat seperti Bijih Besi Hitam berkualitas tinggi. Namun, bagian dalamnya telah keropos total, berubah menjadi abu yang telah kehilangan seluruh esensinya.
"Energi unsur logam di tambang ini cukup untuk memoles ketajaman hawa murniku," batin Shen Yuan. "Meskipun tidak sebanding dengan Batu Roh, menyerap puluhan ribu bijih ini setiap hari membuat fondasi Penempaan Raga fana palsuku semakin terlihat alami."
Shen Yuan memungut beberapa bongkah bijih yang belum ia serap esensinya untuk memenuhi tuntutan harian, lalu memasukkannya ke dalam keranjang punggung.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang sombong dan berat terdengar mendekati terowongan nomor tujuh.
"Semuanya berhenti! Kumpulkan hasil galian kalian sekarang juga! Kakak Senior Gao Lei datang untuk mengambil jatah!" teriakan arogan dari seorang murid senior memecah suara dentingan beliung.
Para Murid Luar di terowongan itu segera menjatuhkan alat mereka. Wajah mereka pucat pasi. Mereka berbaris dengan gemetar, masing-masing mengeluarkan sepuluh bongkah Bijih Besi Hitam dari keranjang mereka sebagai "pajak perlindungan".
Seorang pemuda jangkung berjubah abu-abu bersih melangkah masuk. Wajahnya bersudut tajam bak elang, dan ia memancarkan hawa murni yang luar biasa kental. Ia adalah Gao Lei, penguasa Kawasan Barat Murid Luar, seorang pendekar yang telah mencapai Setengah Langkah menuju Ranah Pembukaan Nadi!
Di belakang Gao Lei, dua murid senior menyeret sebuah tubuh yang dibalut perban berdarah dan membuangnya ke tanah. Itu adalah Ma Teng, pemuda berkepala plontos yang lengan dan kakinya diremukkan oleh Shen Yuan sebulan yang lalu.
"Dengar, sampah-sampah Kawasan Barat!" Gao Lei mendengus, suaranya membawa tekanan yang membuat dada para murid Lapisan Keenam sesak. "Ma Teng adalah anjing peliharaanku. Mengingat dia lumpuh, aku harus turun tangan sendiri untuk mengurus hama di wilayahku."
Tatapan Gao Lei yang tajam menyapu barisan murid, hingga akhirnya berhenti pada satu-satunya pemuda yang berdiri di sudut dengan perawakan agak bungkuk dan jubah kusam.
"Kau yang bernama Mo Yuan?" Gao Lei melangkah mendekati Shen Yuan. Tekanan hawa murninya sengaja diarahkan sepenuhnya ke bahu pemuda itu.
Shen Yuan sedikit menundukkan kepalanya, menyembunyikan kilatan mata iblisnya. Ia mengendalikan otot-ototnya agar terlihat sedikit gemetar menahan tekanan tersebut, layaknya seorang pendekar Lapisan Ketujuh yang ketakutan.
"Benar, Kakak Senior," jawab Shen Yuan dengan nada pelan.
"Kudengar kau meremukkan tulang anjingku ini hanya dengan tenaga fisik murni," Gao Lei mendecakkan lidahnya, menatap Shen Yuan dari atas ke bawah. "Mungkin kau menelan ramuan aneh di alam liar sebelum masuk ke sekte ini. Tubuh yang keras memang berguna, tapi tanpa hawa murni yang kuat, kau hanyalah batu bodoh!"
Gao Lei tiba-tiba menjulurkan tangannya, mencengkeram kerah jubah Shen Yuan.
Di saat itu, naluri membunuh Shen Yuan berteriak. Hanya dengan satu jentikan jari, ia bisa menembus jantung Gao Lei dan menjadikannya kerangka layu. Namun, kesadaran spiritual Shen Yuan yang luas merasakan dua riak hawa murni Lautan Qi yang sedang memantau area tambang dari kejauhan. Para Penatua sedang mengawasi.
Shen Yuan menahan niat membunuhnya. Ia membiarkan kerahnya dicengkeram.
"Di Sayembara Darah lusa, jangan harap kau bisa bersembunyi," desis Gao Lei di depan wajah Shen Yuan. "Karena kau telah mematahkan kaki anjingku, aku akan memastikan kau diundi melawanku di babak pertama. Aku akan mematahkan setiap tulang di tubuhmu di atas arena, di depan para Penatua Sekte Dalam!"
Gao Lei melepaskan cengkeramannya dengan kasar, mendorong Shen Yuan hingga punggungnya membentur dinding batu.
"Kumpulkan pajaknya dan ayo pergi! Berada di dekat sampah-sampah ini membuatku mual," perintah Gao Lei kepada antek-anteknya.
Rombongan itu pergi membawa ratusan bongkah bijih hasil perasan. Ma Teng yang cacat diseret kembali seperti karung beras.
Setelah mereka menghilang dari pandangan, suasana di terowongan kembali sunyi. Beberapa murid menatap Shen Yuan dengan tatapan kasihan.
"Habislah kau, Mo Yuan," bisik seorang murid di sebelahnya. "Kakak Senior Gao Lei berada di peringkat tiga teratas Murid Luar. Dia memiliki sepupu di Sekte Dalam yang sering memberinya pil tingkat tinggi. Bahkan Penatua pun menutup mata atas kelakuannya."
Shen Yuan membersihkan debu dari kerahnya perlahan. Ia tidak menjawab. Matanya menatap bayangan Gao Lei yang menjauh di ujung terowongan.
"Peringkat tiga teratas..." batin Shen Yuan, seulas senyum tipis dan mematikan terukir di wajahnya. "Bagus. Aku butuh batu pijakan yang cukup tinggi agar para Penatua Sekte Dalam menyadari keberadaanku. Jangan mengecewakanku, Gao Lei."
...
Waktu satu bulan pengasingan paksa di Tambang Batu Hitam akhirnya berakhir.
Pagi itu, langit di atas Gunung Pilar Langit cerah tanpa awan. Namun, di Pelataran Darah Murid Luar, udara terasa sangat berat dan dipenuhi oleh ketegangan yang mendidih. Puluhan ribu Murid Luar berkumpul membentuk lautan manusia berjubah abu-abu.
Di tengah pelataran, sembilan buah arena pertarungan yang terbuat dari batu giok merah telah didirikan. Di atas arena, melayang sebuah tribun kehormatan berlapis sutra emas. Belasan Penatua Sekte Dalam dan Sekte Luar duduk berjejer, memancarkan aura Lautan Qi yang menekan seluruh pelataran.
Bahkan Tuan Muda Bai Chen pun hadir kembali, duduk bersandar dengan malas di kursi kebesarannya, ditemani oleh Penatua Wu.
"Perhatian, para semut yang bermimpi menjadi naga!" Suara Penatua Wu menggelegar ke seluruh penjuru pelataran. "Sayembara Darah Murid Luar ini adalah jalan pintas satu-satunya bagi kalian untuk masuk ke Sekte Dalam! Aturannya sederhana: Jangan keluar dari arena, dan jangan menyerah. Senjata diperbolehkan. Kematian di atas arena... adalah risiko kalian sendiri!"
Sorak-sorai yang dipenuhi niat membunuh meledak dari puluhan ribu murid.
Bagi mereka, membunuh sesama rekan seperguruan di atas arena adalah hal yang dihalalkan demi memperebutkan sumber daya.
"Aturan pengundian akan menggunakan Plakat Kayu Identitas kalian! Masuk ke arena yang nomornya memanggil kalian!"
Shen Yuan berdiri di barisan belakang. Ia telah menanggalkan beliung tambangnya. Ia tidak membawa Pecahan Gigi Naga, karena pedang pusaka itu akan langsung menarik perhatian para Penatua Lautan Qi. Sebagai gantinya, ia hanya membawa sebilah pedang baja standar yang ia curi dari gudang senjata Murid Luar.
Plakat kayunya mendadak bergetar dan bersinar merah, memunculkan angka 'Empat'.
Shen Yuan berjalan tenang menuju Arena Nomor Empat. Saat ia melangkah naik ke atas panggung giok merah tersebut, riuh rendah penonton di sekitar arena itu mendadak hening, digantikan oleh bisik-bisik yang dipenuhi ejekan.
Di seberang arena, lawannya telah berdiri menunggu.
Pemuda jangkung dengan jubah yang disulam benang perak di bagian lengan. Ia memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan hawa murni tajam. Itu adalah Gao Lei!
"Hahaha! Surga benar-benar mengabulkan doaku!" tawa Gao Lei meledak, wajahnya dipenuhi kebrutalan. Ia menodongkan ujung pedangnya ke arah Shen Yuan. "Mo Yuan! Di tambang, aku menahan diri karena aturan sekte. Tapi di sini, aku bebas mencincangmu!"
Di bawah arena, para antek Gao Lei bersorak liar. "Kakak Senior Gao Lei! Potong kedua kakinya dulu! Balaskan dendam Ma Teng!"
Di atas tribun kehormatan, beberapa Penatua melirik ke arah Arena Nomor Empat.
"Oh? Bukankah itu Gao Lei? Adik dari Gao Feng di Sekte Dalam?" ucap seorang Penatua berjanggut putih. "Dia sudah menyentuh batas Pembukaan Nadi. Sepertinya lawannya hanya murid Lapisan Ketujuh biasa. Pertarungan yang tidak imbang."
"Hanya hiburan pembuka," sahut Penatua lainnya dengan bosan.
Di atas arena, wasit menjatuhkan tangannya. "Mulai!"
Gao Lei tidak membuang waktu. Ia ingin menunjukkan keunggulannya secara mutlak. Hawa murni yang luar biasa kental meledak dari tubuhnya, melapisi bilah pedangnya hingga memancarkan cahaya putih kebiruan.
"Jurus Pedang Membelah Angin: Tebasan Elang Jatuh!"
Gao Lei melesat maju dengan kecepatan yang mengagumkan untuk seorang Murid Luar. Pedangnya menebas dari atas, membidik lurus ke bahu Shen Yuan. Angin yang dihasilkan oleh tebasan itu bahkan membuat lantai giok merah berderit pelan.
Shen Yuan berdiri diam di tempat. Sikap tubuhnya masih terlihat sedikit bungkuk, layaknya orang fana yang ketakutan. Ia tidak memancarkan hawa murni iblisnya. Ia tidak mengaktifkan Zirah Hawa Murni.
Ia hanya menggenggam gagang pedang baja standar di pinggangnya.
Saat pedang Gao Lei berjarak kurang dari sejengkal dari bahunya...
Sring!
Shen Yuan mencabut pedang bajanya dari bawah ke atas. Gerakannya tidak mengandung jurus apa pun, murni mengandalkan kecepatan otot dari Puncak Kesempurnaan Fana yang sengaja ia tekan hingga batas terendah yang bisa terlihat masuk akal.
Traanggg!
Dua bilah pedang berbenturan keras di tengah arena.
Senyum buas di wajah Gao Lei mendadak membeku. Mata pedangnya yang dilapisi hawa murni setengah langkah Pembukaan Nadi... dihentikan secara mutlak oleh pedang baja rendahan yang diayunkan dengan tangan kosong!
"I-Ini tidak mungkin... kekuatan fisikmu...!" Gao Lei terkesiap. Ia merasa seperti sedang memukul dinding gunung besi. Pantulan kekuatan dari benturan itu membuat telapak tangannya mati rasa.
Shen Yuan mengangkat wajahnya perlahan. Di balik rambutnya yang berantakan, sepasang mata hitam pekatnya menatap lurus ke dalam jiwa Gao Lei.
"Kau bilang aku hanya batu bodoh tanpa hawa murni?" bisik Shen Yuan sedingin es. "Kalau begitu, biarkan batu ini meremukkan tulangmu."
Shen Yuan memutar pergelangan tangannya. Dengan satu sentakan keras, ia menangkis pedang Gao Lei ke samping, membuat dada pemuda itu terbuka lebar.
Tanpa ragu, Shen Yuan mengayunkan kaki kanannya, mendaratkan tendangan lurus yang menghantam perut Gao Lei!
Bummmmm!
Gao Lei memuntahkan seteguk darah. Matanya nyaris melompat keluar dari rongganya. Tubuhnya terhempas ke udara, terbang melintasi arena giok, dan jatuh terguling-guling hingga menabrak pembatas arena energi.
Keheningan seketika menyapu area di sekitar Arena Nomor Empat. Ejekan dari para antek Gao Lei terputus di tenggorokan.
Bahkan beberapa Penatua di tribun kehormatan langsung menegakkan posisi duduk mereka, memandang ke bawah dengan kening berkerut.
"Kekuatan fisik murni menembus pertahanan hawa murni?" Penatua Wu menyipitkan matanya. "Pemuda itu... fondasi dagingnya berada di tingkat yang sangat tinggi!"
Di atas arena, Shen Yuan menurunkan pedangnya perlahan. Ia tidak membunuh Gao Lei dalam satu serangan. Ini adalah panggung sandiwaranya. Ia harus terlihat sebagai seorang jenius penempaan tubuh yang kejam, namun tetap berstatus fana.
Ia berjalan mendekati Gao Lei yang sedang merangkak berusaha berdiri, darah menetes dari mulutnya.
"Bangun," perintah Shen Yuan dengan suara datar yang menggema ke seluruh arena. "Bukankah kau ingin mematahkan setiap tulang di tubuhku di depan para Penatua?"