NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Janji di Bawah Bintang & Awal Petualangan Baru Kami

Malam itu, setelah memastikan Balqis tidur nyenyak dengan selimut tipis menutupi tubuh mungilnya, aku duduk sendirian di teras rumah. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Di langit, bintang-bintang bersinar redup, seolah ikut menyaksikan perjalanan panjang kami selama dua puluh hari terakhir.

Aku membuka laptop, menatap layar kosong sejenak. Lalu, mulai mengetik.

*“Untuk Balqis, anakku…*

*Dua puluh bab lalu, Ayah menulis tentangmu bukan karena ingin jadi penulis terkenal. Tapi karena Ayah takut lupa. Takut lupa bagaimana caramu tertawa saat pertama kali bilang ‘Aku sayang Ayah’. Takut lupa bagaimana matamu berbinar saat minta ‘Tatem’ dan ‘Onat’. Takut lupa bagaimana kau tidur pulas di atas motor, percaya sepenuhnya bahwa Ayah akan membawamu pulang dengan aman.*

*Setiap bab adalah kenangan. Setiap kata adalah doa. Dan setiap halaman adalah janji: bahwa Ayah akan selalu ada, bahkan ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.”*

Aku berhenti mengetik, menatap ke arah kamar Balqis. Pintunya tertutup rapat, tapi aku tahu dia sedang bermimpi. Mungkin mimpi tentang es krim cokelat, atau tentang naik motor lagi besok pagi.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kecil dari dalam rumah. Pintu kamar terbuka perlahan, dan Balqis muncul dengan rambut acak-acakan, mata setengah terbuka, memeluk boneka kelincinya erat-erat.

“Ayah…” gumamnya serak, masih mengantuk.

Aku segera berdiri, menghampirinya, lalu mengangkatnya ke pangkuan. “Kenapa bangun, Dek? Masih malam.”

Balqis menyandarkan kepala di bahuku, tangannya melingkar di leherku. “Ngantuk… tapi mau lihat Ayah.”

Aku tersenyum, mengusap punggungnya pelan. “Ayah di sini. Nggak pergi-pergi.”

“Besok…” bisiknya, suaranya semakin pelan, “kita main apa, Yah?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi bagiku, itu adalah pertanyaan paling penting di dunia.

“Apa saja yang Balqis mau,” jawabku lembut. “Ke taman? Naik motor? Atau cuma duduk di sini sambil hitung bintang?”

Balqis mengangguk pelan, matanya sudah hampir tertutup lagi. “Hitung bintang… sama Ayah.”

Aku memeluknya erat, merasakan hangatnya tubuh mungilnya yang mulai rileks. “Oke. Besok kita hitung bintang bersama. Satu, dua, tiga… sampai seribu.”

Balqis tertawa kecil, lalu akhirnya tertidur lagi di pelukanku. Napasnya teratur, wajahnya damai. Aku membawanya kembali ke kamar, meletakkannya di kasur, dan menyelimutinya sekali lagi.

Sebelum keluar, aku berbisik pelan, “Terima kasih sudah jadi alasan Ayah terus menulis, Nak. Terima kasih sudah membuat hidup Ayah penuh warna.”

***

Kembali ke teras, aku menutup laptop. Tidak perlu menulis lebih banyak lagi. Karena kisah kami tidak berakhir di bab dua puluh. Ini bukan akhir. Ini hanya awal.

Awal dari banyak petualangan baru.

Awal dari banyak tawa, air mata, dan pelukan.

Awal dari banyak “Tatem”, “Onat”, dan “Itut!” yang akan terus mengisi hari-hari kami.

Dan aku tahu—pembaca juga merasakannya. Mereka tidak hanya membaca cerita. Mereka merasakan kehidupan. Mereka mengenang masa kecil anak mereka sendiri. Mereka rindu momen-momen sederhana yang ternyata paling berharga.

Jadi, jika suatu hari nanti Balqis bertanya, “Ayah, kenapa tulis cerita tentang kita?”

Aku akan menjawab, “Karena Ayah ingin kamu tahu, betapa dicintainya kamu. Bahkan sebelum kamu bisa bicara, bahkan sebelum kamu bisa berjalan, Ayah sudah mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini.”

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika Balqis sudah besar, dia akan membaca cerita ini. Dan dia akan tersenyum, mengingat masa kecilnya yang penuh cinta, keamanan, dan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.

Ini bukan akhir.

Ini adalah janji.

Janji bahwa petualangan kami baru saja dimulai.

Dan aku tidak sabar untuk menjalaninya bersamamu, Balqis.

Selamanya.

— Ayah

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!