"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: NEGOSIASI DI ATAS MEJA MAKAN
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Bau amarah yang pekat menyebar di ruang tamu apartemen kami yang sempit, mengalahkan aroma teh melati yang baru saja diseduh Mama. Aku duduk di kursi meja makan, menatap lurus ke mata pria yang secara biologis adalah ayahku. Damian Xavier. Dalam kehidupan laluku, aku sudah menghadapi ribuan musuh di medan perang, dari kaisar yang haus darah hingga pengkhianat licik. Namun, harus kuakui, pria di depanku ini memiliki gravitasi otoritas yang cukup mengesankan untuk ukuran warga sipil di dunia ini.
Hanya saja, dia sedang berhadapan dengan orang yang salah.
"Kau menaruh pelacak di jas Savile Row-ku," suara Damian rendah, bergetar di frekuensi yang sanggup membuat nyali orang biasa menciut. "Dan sekarang kau duduk di sana seolah-olah kau baru saja memenangkan perang dunia, Bocah."
Aku menyesap susu cokelatku dengan tenang, gerakan yang sengaja kubuat lambat untuk merusak tempo intimidasi yang sedang ia bangun. Sebagai mantan Marsekal, aku tahu bahwa kunci memenangkan negosiasi adalah dengan menghancurkan ritme lawan sebelum mereka sempat melancarkan serangan verbal.
"Langkah kakimu berat di tumit saat masuk tadi, Papa," ucapku datar. "Analisis audiotori menunjukkan Papa sedang menekan sirkulasi adrenalin. Dan soal jas itu? Jas itu memiliki potongan bahu yang buruk untuk mobilitas tempur. Aku hanya meletakkan pelacak itu di sana karena Papa terlalu sibuk memamerkan aura dominasi hingga lupa memeriksa variabel keamanan dasar."
Damian tertegun. Aku melihat otot rahangnya mengeras. Di belakangnya, pria bernama Marco—yang aku asumsikan sebagai tangan kanannya—tampak pucat pasi. Mungkin dia tidak pernah membayangkan ada anak berusia delapan tahun yang berani mengkritik efisiensi logistik bos mafia.
"Leo, tolong..." suara Mama terdengar lirih dari sudut ruangan. Dia berdiri dengan tangan gemetar, matanya menatap Damian dengan ketakutan yang membuat jiwaku terasa panas.
Aku melirik Lea yang duduk di sampingku. Lea tidak bersuara, tapi jemarinya bergerak secara ritmis di atas kepala boneka kelincinya. Shadow Talk.
“Kak, denyut nadi Papa meningkat 15% saat menatap Mama. Dia tidak marah padanya, dia sedang frustrasi karena tidak tahu cara memulai permintaan maaf. Tapi egonya setinggi gedung pencakar langit,” lapor Lea lewat transmisi pikiran yang sudah kami latih.
Aku kembali menatap Damian. "Mari kita lompati bagian di mana Papa mencoba menakut-nakuti kami. Kita semua tahu Papa tidak akan menarik pelatuk di depan Mama. Jadi, mari bicara tentang efisiensi. Papa butuh pewaris, dan kami butuh sumber daya klan Vipera untuk memastikan Mama tidak pernah perlu lari lagi."
Damian mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya yang besar bertumpu di atas meja makan kayu yang tua itu. "Kau bicara seolah-olah kau punya posisi tawar, Leo. Aku bisa saja membawa kalian sekarang juga dengan paksa."
Aku menyeringai kecil. Seringai yang dulu sering kuberikan pada para jenderal musuh sebelum benteng mereka runtuh. "Papa bisa mencoba. Tapi di detik Papa menyentuh pintu itu secara paksa, seluruh data transaksi gelap klan Vipera di Dermaga Utara selama tiga bulan terakhir akan terunggah secara otomatis ke server Interpol dan tiga media massa internasional terbesar."
Hening. Sunyi yang mematikan menyelimuti ruangan.
Damian menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada ngeri, tapi ada juga binar kebanggaan yang mulai menyelinap di matanya. "Bagaimana mungkin... kau tahu tentang Dermaga Utara?"
"Sistem keamanan server Papa menggunakan protokol enkripsi tahun 2018 yang sudah kadaluwarsa. Aku memecahkannya saat Papa sedang sibuk memarkir mobil di bawah," jawabku santai. "Sangat tidak efisien, Papa. Jika aku adalah musuhmu, Vipera sudah hancur sebelum Papa sempat membuka pintu apartemen ini."
POV: DAMIAN XAVIER
Aku merasa seperti sedang berhadapan dengan monster. Bukan monster yang menakutkan karena taringnya, tapi monster yang menakutkan karena dia bisa membaca setiap jengkal strategiku bahkan sebelum aku sempat memikirkannya.
Anak ini... Leo. Dia berusia delapan tahun, tapi cara bicaranya, cara dia menatapku... itu bukan tatapan seorang anak. Itu adalah tatapan seorang penguasa yang sudah kenyang dengan asam garam kekuasaan. Dan di sampingnya, anak perempuanku, Lea, menatapku dengan pandangan yang seolah-olah sedang membedah setiap inci jiwaku.
Aku menoleh ke arah Qinanti. Dia tampak rapuh, namun ada ketangguhan yang luar biasa karena dia telah berhasil membesarkan dua makhluk genius ini sendirian.
"Kau tidak pernah memberitahuku bahwa mereka... seperti ini," ucapku, suaraku sedikit melunak saat menatapnya.
"Aku sendiri pun tidak tahu, Damian," bisik Qinanti. Air mata menggenang di matanya. "Mereka selalu berbeda sejak bayi. Mereka tidak pernah menangis tanpa alasan. Mereka belajar bicara dalam enam bulan. Aku hanya ingin mereka hidup normal..."
"Normal?" Aku tertawa getir. "Qinanti, tidak ada yang normal dari darah daging Xavier. Terutama jika mereka memiliki otak seperti ini."
Aku kembali menatap Leo. Amarahku tadi perlahan menguap, digantikan oleh rasa obsesif yang baru. Sebagai pemimpin Vipera, aku selalu mencari keunggulan strategis. Dan sekarang, keunggulan itu duduk di meja makan apartemen kumuh, sedang meminum susu cokelat.
"Jadi, apa maumu, Jenderal kecil?" tanyaku, kini sengaja menggunakan nada yang lebih formal, memberikan pengakuan pada posisinya sebagai lawan negosiasi.
Leo meletakkan gelas susunya. "Sederhana. Kami akan pindah ke mansion Papa. Tapi bukan sebagai tawanan. Kami ingin kendali penuh atas sistem keamanan internal. Aku akan melakukan audit total pada setiap pelayan dan penjaga di sana. Lea akan melakukan profil psikologis pada orang-orang kepercayaan Papa untuk memastikan tidak ada pengkhianat seperti kejadian sebelas tahun lalu."
Aku terperangah. Anak ini tahu tentang pengkhianatan sebelas tahun lalu? Kejadian yang membuatku kehilangan Qinanti dan hampir menghancurkan Vipera?
"Dan Mama," sambung Lea tiba-tiba, suaranya lembut namun tajam. "Mama akan mendapatkan posisi sebagai Kurator Utama untuk koleksi seni klan Xavier. Dia harus memiliki karier dan dunianya sendiri. Papa tidak boleh mengurungnya di kamar seolah-olah dia adalah pajangan. Jika Papa melanggar satu saja aturan ini..."
"Skakmat, Papa," potong Leo dengan nada dingin. "Vipera akan menjadi sejarah dalam waktu kurang dari enam puluh detik."
Aku menatap Marco yang berdiri di belakangku. Dia tampak seperti ingin pingsan. Aku sendiri merasakan adrenalin yang bergejolak. Selama ini, aku memerintah dengan rasa takut. Tapi di depan anak-anak ini, rasa takutku justru menjadi rasa hormat yang aneh.
"Bagaimana jika aku menolak?" ujarku memancing.
"Papa tidak akan menolak," sahut Lea dengan senyum imut yang membuat bulu kudukku berdiri. "Karena di balik jas mahal itu, jantung Papa berdetak lebih cepat karena merasa bangga memiliki anak seperti kami. Papa butuh kami untuk memperkuat kerajaan Papa yang mulai rapuh karena serangan faksi Baron, bukan?"
Aku terdiam. Lea benar. Sialan, dia benar-benar profiler yang handal. Dia membaca kebutuhan terdalamku hanya dari bahasa tubuhku.
"Baiklah," ucapku akhirnya, berdiri dari kursi. "Packing barang-barang kalian. Kita berangkat ke mansion sekarang."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku melihat Qinanti hampir terjatuh jika aku tidak segera memegang tangannya. Mama sangat ketakutan, tapi aku bisa merasakan variabel lain dalam emosinya: harapan. Di balik traumanya, ada bagian dari dirinya yang merindukan perlindungan Damian.
“Kak, dia setuju. Tapi dia akan mencoba melakukan 'counter-strategy' begitu kita sampai di mansion. Dia ingin melihat sejauh mana kemampuan teknis kita,” lapor kuku lewat gerakan kecil di bahu Leo.
“Biarkan saja. Dia butuh bukti fisik untuk benar-benar tunduk. Aku akan merombak seluruh servernya malam ini,” jawab Leo lewat tatapan mata yang hanya sedetik.
Aku beralih menatap Damian yang sedang memberikan instruksi pada Marco lewat telepon. Dia adalah subjek yang sangat menarik. Pria ini dibentuk oleh kekerasan, tapi dia memiliki kode etik yang sangat kuat. Dia posesif bukan karena ingin menyakiti, tapi karena dia tidak tahu cara lain untuk mencintai selain dengan cara mengurung apa yang dia sayangi.
Tugas pertamaku sebagai profiler di rumah baru nanti adalah melunakkan dinding pertahanan Damian agar Mama tidak merasa seperti di penjara.
"Papa," panggilku lembut.
Damian menoleh, ekspresinya masih kaku. "Ya?"
"Papa harus menggendong koper Mama," ucapku sambil menunjuk koper besar yang sudah disiapkan Mama. "Seorang jenderal tidak boleh membiarkan wanitanya membawa beban berat saat melakukan relokasi wilayah."
Damian tertegun. Dia melihat ke arah Qinanti yang tampak kikuk, lalu melihat ke koper itu. Dengan gerakan canggung yang sangat lucu untuk dilihat dari seorang bos mafia besar, dia berjalan mendekat dan mengangkat koper itu dengan satu tangan.
"Ayo pergi," ucapnya singkat, mencoba menyembunyikan rona merah tipis yang muncul di telinganya.
Aku tersenyum dalam hati. Sang Raja Mafia baru saja melakukan perintah pertamanya dari seorang anak perempuan berusia delapan tahun.
Perjalanan menuju mansion terasa seperti sebuah parade militer. Tiga mobil hitam mengawal sedan putih Mama yang kini disetir oleh anak buah Damian. Kami duduk di kursi belakang SUV mewah Damian. Mama duduk di pojok, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, sementara Damian duduk di sisi lain, sesekali melirik ke arah kami dengan rasa penasaran yang meluap.
Leo sudah kembali sibuk dengan tabletnya. Aku tahu dia sedang memetakan tata letak mansion Damian melalui satelit ilegal yang dia akses.
"Mansion Papa memiliki tiga celah keamanan di sektor barat," gumam Leo tanpa mengalihkan pandangan. "Dindingnya terlalu rendah, dan cakupan CCTV di sana memiliki titik buta selama empat detik setiap rotasi. Sangat amatir."
Aku melihat Damian menghela napas panjang. Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, memejamkan mata seolah-olah dia sedang menderita migrain hebat.
"Marco," panggil Damian pelan.
"Ya, Tuan?" jawab Marco dari kursi depan.
"Setelah ini, hubungi bagian HRD. Katakan pada tim keamanan lama bahwa mereka dipecat. Mulai besok, keamanan klan Vipera akan diawasi oleh... anak SD."
Aku tertawa kecil, suara tawa anak kecil yang murni, menutupi jiwa profiler yang sedang menyusun rencana besar di balik kepalaku. Sembilan tahun yang lalu, pria ini kehilangan keluarganya karena kebodohan dan egonya. Malam ini, dia mendapatkan kami kembali.
Tapi dia belum tahu, bahwa dia tidak mendapatkan kembali pion-pionnya yang hilang. Dia baru saja membawa masuk dua raja dan ratu baru yang akan mengubah seluruh aturan main di papan catur Vipera.
“Kak, apakah kau siap untuk mengaudit seluruh pasukan Vipera?” tanyaku lewat Shadow Talk.
Leo melirikku sejenak, matanya berkilat di bawah cahaya lampu jalanan Jakarta yang masuk ke dalam mobil. “Aku bukan hanya akan mengaudit mereka, Lea. Aku akan mendidik mereka menjadi pasukan paling mematikan yang pernah ada di dunia ini. Siapa pun yang berani menyentuh Mama lagi... mereka akan tahu arti dari neraka yang sebenarnya.”
Aku tersenyum, memeluk boneka kelinciku erat-erat. Ya, ini akan menjadi sangat menyenangkan.