NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 - Empat Kawan Lama

Langit pagi di pusat Sekte Pedang Langit dipenuhi oleh kilatan cahaya dari pedang-pedang terbang yang melintas dari berbagai arah, masing-masing membawa para murid terbaik dari divisi mereka, menciptakan pemandangan yang megah sekaligus menegangkan. Satu per satu para peserta berdatangan, turun dari udara dengan aura yang berbeda-beda, ada yang tenang, ada yang tajam, dan ada pula yang memancarkan tekanan kuat bahkan sebelum menginjakkan kaki di tanah.

Di pelataran luas yang berada di jantung sekte, bangunan-bangunan megah berdiri mengelilingi area tersebut, pilar-pilar tinggi menjulang, dan bendera-bendera divisi berkibar tertiup angin pagi, menandakan identitas serta kebanggaan masing-masing kelompok yang hadir.

Di tengah pelataran itu, empat arena besar berdiri kokoh, dibangun dari batu khusus yang dipenuhi formasi pelindung, permukaannya luas dan rata, cukup untuk menampung pertarungan sengit tanpa merusak struktur di sekitarnya. Garis-garis formasi samar terlihat berdenyut di permukaannya, menandakan bahwa arena tersebut bukan tempat biasa, melainkan panggung bagi para kultivator muda untuk membuktikan diri.

Suasana di sekitar mulai dipenuhi suara langkah, percakapan, dan aura yang saling bertabrakan secara halus, menciptakan tekanan yang perlahan meningkat seiring bertambahnya peserta.

WHOOSH! Empat sosok mendarat dengan mulus di pelataran luas, kaki mereka menyentuh tanah dengan ringan meskipun baru saja melesat dari langit, aura mereka langsung menyatu dengan tekanan besar yang sudah memenuhi area tersebut.

Meng Wu berdiri paling depan dengan sikap tenang dan wibawa, diikuti oleh Mo Fan dan Shi Hao yang tampak santai namun tetap waspada, sementara Long Chen berdiri di belakang mereka, matanya langsung bergerak ke segala arah, menyerap setiap detail yang ada di sekitarnya.

Matanya berbinar.

“Wah… jadi ini para anggota yang akan ikut turnamen dari berbagai divisi…” ucapnya pelan, jelas terkesima dengan pemandangan di hadapannya.

Di sekeliling mereka, para peserta dari berbagai divisi berdiri dengan aura yang berbeda-beda, ada yang memancarkan tekanan panas seperti api, ada yang dingin seperti es, dan ada pula yang gelap dan menekan, menciptakan suasana yang jauh lebih berat dibandingkan tempat latihan biasa.

Mo Fan tersenyum tipis melihat reaksinya. “Tentu saja, junior,” katanya ringan. “Di sinilah kau akan benar-benar mendapatkan pengalaman.”

Shi Hao mengangkat tangannya lalu menunjuk ke arah depan, ke pusat pelataran. “Lihat itu,” ucapnya.

Long Chen mengikuti arah yang ditunjuk, dan matanya langsung tertuju pada empat arena besar yang berdiri kokoh di tengah, aura formasi pelindungnya terasa bahkan dari jarak ini.

“Empat arena itu… adalah tempat para peserta bertarung nanti,” lanjut Shi Hao.

Meng Wu melangkah maju dengan tenang, aura di sekelilingnya tetap stabil meskipun berada di tengah keramaian para kultivator kuat, lalu ia berhenti sejenak sebelum berbicara. “Aku akan ke aula besar terlebih dahulu,” ucapnya dengan nada datar namun tegas. “Aku harus berkumpul dengan Ketua Sekte dan para pemimpin divisi lainnya.”

Ia kemudian menoleh ke arah ketiga muridnya, tatapannya singkat namun penuh makna. “Kalian bisa berbicara dengan peserta lain untuk sementara waktu, sampai semua berkumpul dan turnamen segera dimulai.”

Long Chen, Mo Fan, dan Shi Hao langsung mengangguk bersamaan. “Baik, Guru,” jawab mereka dengan hormat.

Tanpa menambahkan kata lain, Meng Wu berbalik dan mulai berjalan menjauh, langkahnya tidak tergesa-gesa namun penuh wibawa, seolah kehadirannya sendiri sudah cukup membuat orang lain memberi jalan. Para peserta di sekitarnya secara alami menyingkir sedikit saat ia lewat, merasakan aura seorang pemimpin divisi yang tidak perlu menunjukkan kekuatan untuk diakui.

Long Chen masih sibuk memperhatikan sekeliling, matanya terus bergerak dari satu peserta ke peserta lain, mencoba memahami suasana dan tekanan yang memenuhi pelataran itu, hingga tiba-tiba sebuah tepukan ringan terasa di bahunya.

Tap!

Ia langsung berbalik dengan refleks.

“Yo! Long Chen… apakah itu benar-benar kau?” suara itu terdengar santai namun penuh keakraban.

Seorang pemuda berdiri di belakangnya dengan senyum lebar, tatapannya tajam namun tidak menyembunyikan rasa senang. “Ternyata wajahmu masih sama seperti dulu,” lanjutnya sambil sedikit menyipitkan mata. “Cuma… bedanya sekarang kau jadi lebih tinggi.”

Mata Long Chen langsung melebar saat mengenali sosok itu.

“…Ye Fan? Itu kau?!” ucapnya terkejut.

Ye Fan tertawa ringan, jelas menikmati reaksi tersebut. “Ya, ini aku!” jawabnya tanpa ragu. “Jangan bilang kau sudah lupa wajah teman masa kecilmu sendiri.”

Long Chen langsung tersenyum lebar, suasana di wajahnya berubah dari tegang menjadi hangat dalam sekejap. “Mana mungkin aku lupa sama teman masa kecilku,” balasnya dengan nada santai.

Di tengah suasana yang mulai ramai oleh pertemuan para peserta, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kejauhan, memanggil dengan cukup lantang, “Mo Fan! Ke sini!”

Seorang pria bernama Wu Ming terlihat melambaikan tangan dari antara kerumunan, wajahnya tampak santai seolah sudah lama menunggu.

Mo Fan menghela napas kecil, lalu menoleh ke arah Long Chen dan Ye Fan. “Aku ke sana dulu, ya,” ucapnya ringan. “Mau ngobrol sebentar dengan temanku dari Divisi Pedang Ruang.”

Tanpa menunggu lama, ia pun berjalan menjauh, langkahnya tenang namun cepat, segera menghilang di antara para peserta lain.

Di samping mereka, Shi Hao meregangkan badan, terlihat tidak terlalu tertarik untuk diam di satu tempat. “Kalian lanjut ngobrol saja,” katanya santai. “Aku juga mau jalan-jalan dulu, sekalian lihat peserta lain.”

Ia melirik sekilas ke arah arena, lalu tersenyum tipis sebelum berbalik dan pergi, meninggalkan Long Chen dan Ye Fan berdua di tengah pelataran yang luas.

Kini hanya tersisa Long Chen dan Ye Fan di tengah pelataran yang luas, sementara keramaian peserta lain tetap berlangsung di sekitar mereka. Long Chen memanfaatkan momen itu untuk bertanya, nada suaranya santai namun penuh rasa ingin tahu. “Ye Fan, Divisi Pedang Matahari kirim berapa perwakilan untuk turnamen ini?”

Ye Fan menjawab tanpa banyak berpikir, sikapnya tetap rileks seperti biasa. “Lima orang,” katanya singkat, lalu menambahkan sambil tersenyum tipis, “lumayan banyak juga.”

Ia kemudian mengangkat alis sedikit dan balik bertanya, “Kalau Divisi Pedang Petir sendiri kirim berapa?”

Long Chen mengangkat bahu ringan, tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan jumlah itu. “Kami cuma kirim tiga saja,” jawabnya santai.

Ye Fan mengangguk pelan, matanya menyapu ke arah arena sejenak sebelum kembali ke Long Chen. “Oh begitu…” ucapnya, seolah mulai menghitung sesuatu dalam pikirannya.

Tiba-tiba, tanpa peringatan, seseorang langsung memeluk Long Chen dari belakang dengan erat, membuatnya sedikit terhuyung karena kaget. “Tidak salah lagi!” seru suara itu penuh semangat. “Dari baunya saja sudah ketahuan! Itu kau, sahabatku, Long Chen!”

Long Chen terkejut, matanya melebar sebelum akhirnya ia langsung mengenali suara itu. “…Han Li?! Itu kau? Lama tidak ketemu!” balasnya dengan nada tak kalah terkejut namun juga senang.

Pemuda di belakangnya itu adalah Han Li, yang kini tertawa lepas sambil menepuk bahu Long Chen, jelas tidak menyembunyikan kebahagiaannya setelah sekian lama.

Di samping mereka, Ye Fan ikut tertawa melihat pemandangan itu. “Wah! Kau ikut juga, gendut!” godanya dengan senyum lebar.

Han Li langsung menoleh ke arahnya, sedikit menyipitkan mata sebelum wajahnya berubah terkejut. “Ye Fan?!”

Ye Fan langsung menjawab cepat tanpa memberi jeda. “Iya, bodoh! Ini aku!”

Sejenak, suasana di antara mereka pecah oleh tawa—tawa yang lepas dan jujur.

Tak lama kemudian, langkah kaki lain terdengar mendekat di antara keramaian pelataran, ritmenya tenang namun pasti, seolah tidak tergesa-gesa namun tetap penuh kepercayaan diri. “Lama tidak bertemu… sudah delapan tahun kita tidak berkumpul seperti ini lagi,” ucap suara itu dengan nada datar namun jelas.

Ketiganya menoleh bersamaan.

Dan di hadapan mereka, berdiri Xiao Yan dengan sikap tenang seperti biasa, pedangnya tergantung di pinggang, tatapannya tajam namun tidak menyembunyikan sedikit kehangatan.

Long Chen langsung tersenyum lebar, langkahnya sedikit maju tanpa sadar. “Xiao Yan… akhirnya kita berkumpul lagi seperti waktu kecil dulu,” ucapnya dengan nada penuh rasa rindu.

Di sampingnya, Han Li mengangguk sambil menyilangkan tangan, menatap Xiao Yan dari atas ke bawah. “Kau tidak berubah sama sekali,” katanya santai.

Xiao Yan hanya tersenyum tipis, lalu membalas dengan nada ringan, “Kau juga… masih sama, gendut.”

Han Li langsung mendengus, namun tidak bisa menahan senyum.

Sementara itu, Ye Fan tertawa kecil, jelas menikmati momen itu. “Gila… kita benar-benar berkumpul lagi seperti dulu,” katanya, suaranya penuh kelegaan.

Di tengah keramaian para peserta, empat sahabat itu akhirnya berdiri bersama lagi, menyatu dalam momen yang telah lama mereka nantikan.

End Chapter 31

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!