NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sedari tadi Rara melihat Asya yang tengah memasukkan semua pakaian dan barang pentingnya ke dalam koper. Rencananya besok setelah wisuda, Asya akan langsung pulang ke Bandung. Dan setelah itu akan berangkat ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya.

Kedua orang tua Asya sangat terkejut saat Asya mengatakan bahwa ia memutuskan untuk kuliah di Kairo. Karena mereka sangat tahu bahwa Asya sudah mendaftarkan diri di salah satu kampus di daerah Bandung. Raffa yang membantu Asya mengurus semuanya. Termasuk meminta izin kepada orang tuanya.

"Kamu beneran mau ninggalin aku, Sya?," ucap Rara lirih

"Aku kan pergi untuk melanjutkan pendidikan Ra. 2 hari lagi aku harus berangkat ke Kairo," jawab Asya sambil menata isi kopernya

"Kenapa harus secepat itu sih? Kairo itu jauh loh Sya," rengek Rara

Asya tersenyum tipis. Setelah selesai, ia meletakkan kopernya di samping ranjangnya. Lalu menghampiri Rara yang sedang duduk di ranjang.

"Ya memang jauh Ra. Siapa yang bilang kalo Kairo itu deket?," ucap Asya terkekeh

"Bukannya kamu nggak bisa ya jauh dari keluarga? Tapi kenapa harus kuliah sejauh itu? Kenapa juga kamu harus pergi dari Indonesia?," tanya Rara

"Hanya dua alasan yang membuat seseorang memutuskan pergi sejauh mungkin. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang amat dalam," jawab Asya membuat Rara terdiam

"Jangan pergi dong, Sya. Aku emang nggak merasakan apa yang terjadi sama kamu. Tapi aku akan selalu ada untuk kamu. Aku akan menjadi sandaran kamu. Lampiaskan saja rasa sakit itu ke aku. Tapi tolong jangan pergi," ucap Rara memohon

"Makasih karena kamu selalu ada untuk aku. Tapi semuanya sudah diurus sama abang aku Ra," ucap Asya sambil tersenyum

"Apa sih sebenarnya alasan kamu ngotot ingin pergi secepatnya? Seolah-olah enggan untuk menginjakkan kaki di sini?," tanya Rara

"Aku tidak tau akan setegar apa jika masih bertahan di sini. Aku sedang belajar untuk mengikhlaskan semuanya Ra. Satu-satunya cara untuk aku bisa mengikhlaskan semua adalah pergi dari kehidupan mereka. Aku tidak sanggup melihat mereka bersama. Aku belum siap menyaksikannya," jawab Asya sambil tersenyum

"Jangan pergi Sya," ucap Rara lirih

"Aku sudah cukup bisa menerima kenyataan ini. Termasuk dengan pergi menjauh dari kehidupan mereka. Aku harus pergi Ra," ucap Asya tak kalah lirih

Rara memeluk Asya erat. Berusaha menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya yang sedang rapuh saat ini.

"Aku sudah berusaha menahan mu. Tapi emang dasarnya kamu keras kepala," ucap Rara seolah kesal

"Biarin," ucap Asya terkekeh sambil melepaskan pelukannya

"Aku pasti bakalan kangen sama kamu deh Sya," ucap Rara sambil memeluk Asya erat

"Aku juga Ra," ucap Asya membalas pelukan Rara

"Jangan lupakan aku ya," ucap Rara

"Iya tenang saja. Udah yuk tidur. Besok kita wisuda," ucap

Skip

"Lulusan terbaik dengan nilai tertinggi jatuh kepada Narasya Al-Fauzi. Selamat untuk Asya dan dipersilahkan naik ke atas panggung," ucap pembawa acara

Suara riuh dan tepuk tangan terdengar saat Asya menaiki panggung. Gus Kafka selaku kepala madrasah mengalungkan trophy penghargaan dan memberikan piala serta piagam kepada Asya.

"Semoga ilmunya bermanfaat dan selamat karena membuat orang tua bangga," ucap gus Kafka setelah memberi penghargaan

"Aamiin, terima kasih Gus," jawab Asya

Asya memegang microphone dan memberikan beberapa kata. Terlihat kedua orang tua dan abangnya tersenyum bangga.

"Putri kita hebat, Umi," ucap Abi Fahmi sambil tersenyum bangga melihat Asya di atas panggung

"Pastinya dong, Abi," jawab Umi Fatimah sambil tersenyum

"Adiknya Raffa memang the best pokoknya," sahut Raffa membuat kedua orang tuanya mengangguk menyetujuinya

Anisa tidak bisa menghadiri wisuda Asya karena ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Asya memakluminya.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Asya

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semuanya

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kyai Ahmad dan Umi Syakira yang telah menerima saya di sini. Tak lupa kepada ustadz dan ustadzah yang telah mengajarkan ilmunya kepada saya. Abi dan Umi serta Abang dan kakak perempuan kesayangan saya yang telah mendukung saya hingga mampu mencapai sekarang ini. Tanpa kalian mungkin saya tidak akan berarti apa-apa. Sekian dari saya. Sekali lagi terima kasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Asya

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semuanya

Lalu Asya menuruni panggung dan langsung menghampiri keluarganya. Asya memeluk kedua orang tuanya bergantian. Abi Fahmi dan Umi Fatimah tersenyum bangga dengan putrinya. Begitu pun dengan Raffa yang bersyukur karena apa yang diraih adiknya. Anisa tidak bisa datang karena ada hal penting yang harus diselesaikannya dan tidak bisa diwakilkan.

"Jangan merasa puas dengan apa yang telah kamu raih. Ingat, setelah ini perjuangan yang sesungguhnya akan segera dimulai," ucap Abi Fahmi menasehati

"Iya Abi. Asya akan selalu mengingat nasehat yang Abi berikan," ucap Asya sambil tersenyum

"Umi bangga sama kamu, Nak," ucap Umi Fatimah sambil tersenyum

"Makasih Umi," ucap Asya

Asya mengerutkan keningnya sambil menatap abangnya yang dari tadi belum mengucapkan apapun kepadanya. Raffa yang ditatap menaikkan salah satu alisnya seolah bertanya. Asya menatap malas abangnya itu.

"Sepet amat deh tuh muka," ledek Raffa menatap raut wajah adiknya

"Abang nggak mau ngomong sesuatu gitu," ucap Asya kesal

"Ngomong apa? Kan udah terwakilkan oleh Abi dan Umi," ucap Raffa santai yang membuat Asya semakin kesal

"Abi.." rengek Asya pada abi nya

"Abang," peringat Abi Fahmi kepada putranya

Raffa terkekeh melihat adiknya yang merajuk. Ia sangat suka melihat adiknya kesal karena menurutnya itu sangat menggemaskan.

"Sini dong, peluk Abang," ucap Raffa sambil merentangkan kedua tangannya

Asya mendekat ke arah Raffa. Abangnya yang sangat disayanginya. Lelaki kedua yang dicintainya setelah Abi Fahmi. Asya memeluk abangnya dengan erat.

"Selamat ya adiknya Abang. Semoga ilmu kamu bermanfaat bagi sesama," ucap Raffa sambil sesekali mencium puncak kepala Asya

"Makasih ya Abang. Asya sayang sama bang Raffa plus-plus," ucap Asya tulus

"Abang juga sayang banget sama Asya," jawab Raffa lalu melepaskan pelukannya

"Ya sudah, kita ke ndalem sekarang ya. Sekalian pamit," ajak Abi Fahmi yang membuat semuanya mengangguk. Mereka pun pergi ke ndalem.

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!