NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesi Terapi Bersama

Vandini duduk di ujung sofa ruang konseling dengan kedua lengan terlipat rapat di dada. Pandangannya tertuju lurus ke lantai, enggan menatap siapa pun.

Suara Satura yang biasanya hangat kini justru terasa mengganggu. Setiap kata yang keluar terasa menggesek sarafnya yang sedang sangat sensitif.

"Aku udah berusaha lebih kenal sama diri sendiri," kata Satura, menatap Vandini lalu mengalihkan pandangan ke terapis. "Sekarang aku sadar, dulu aku terlalu terjebak masa lalu dan ngulangin kesalahan yang sama."

Vandini mengangguk pelan, memaksakan dirinya tetap tenang dan mendengarkan. Dadanya sudah terasa sesak sejak tadi.

"Aku... aku denger kok," sahutnya lembut.

Satura menarik napas panjang, menatap Vandini dengan wajah yang terlihat tulus sekaligus memohon.

"Waktu itu pikiranku lagi kacau banget. Aku nggak tau cara komunikasi yang bener, nggak tau cara hadapin masalah. Aku sibuk berantem sama diri sendiri dan masa laluku..."

Rasa kesal mulai muncul di hati Vandini, dan dia berusaha keras menahannya agar tidak meledak.

"Aku ngerti kamu punya masalah sendiri," jawabnya tegas. "Kita semua pasti punya masalah. Tapi itu nggak bisa jadi alesan buat apa yang kamu lakuin."

Wajah Satura tampak tersiksa, namun dia tetap mengangguk. Dia lalu mencondongkan tubuh dan menggenggam tangan Vandini.

"Aku tau, Van. Aku tau maaf aja nggak cukup, tapi..."

Vandini langsung menarik tangannya dengan kasar. Dia tidak bisa menerima sentuhan itu, seakan Satura berhak melakukannya setelah semua kesalahan yang diperbuat. Pengkhianatan dan kebohongan itu kembali terbayang jelas.

"Jangan," potongnya dingin. "Jangan bertingkah seakan kamu bisa selesain semua masalah cuma dengan gini. Kamu nggak bisa pegang tangan aku terus pura-pura semua baik-baik aja cuma dengan kata maaf."

Wajah Satura berubah kesakitan, tapi Vandini tak bergeming. Api kemarahan di dadanya terlalu besar untuk dipadamkan.

"Kamu udah hancurin segalanya, Satura. Kamu hancurin kita. Mungkin kamu pengen cepet lupa dan move on, tapi nyatanya aku yang harus ngumpetin kepingan hati ini sendirian."

Vandini menarik napas, suaranya mengecil namun penuh amarah dan luka.

"Nggak sekarang. Mungkin nggak akan pernah."

Satura mengangguk pelan lalu menunduk, meletakkan tangannya kembali di pangkuan. Vandini melihatnya diam, namun rasa sakit di hatinya justru makin menganga.

"Aku bener-bener tersesat waktu itu, Van," ucap Satura pelan, jari-jarinya saling memilin gugup. "Aku bahkan nggak kenal lagi siapa diri aku. Aku nggak mikirin akibatnya, aku nggak sadar seberapa sakit hati kamu."

Vandini tertawa sinis mendengar penjelasan itu.

"Ya jelaslah nggak. Soalnya selama ini yang paling penting cuma diri kamu sendiri, kan? Apa yang kamu butuhin, apa yang kamu rasain. Pernah nggak sih kamu mikirin aku? Mikirin anak-anak?"

Wajah Satura berkerut menahan perasaan. Melihat suasana itu, terapis akhirnya angkat bicara dengan nada lembut.

"Vandini, bagus sekali kamu meluapkan kemarahanmu. Di sini kamu bebas mengeluarkan apa yang kamu rasakan."

"Bagus dong," sahut Vandini ketus, lalu kembali menatap Satura tajam.

"Terus dengerin ya. Setiap kali kamu minta maaf atau ngasih alasan, itu malah bikin aku makin kesel. Kamu cuma mau aku kasihan sama kamu. Kamu pengen aku ngerti alasan kamu, tapi kamu sama sekali nggak tau apa yang aku rasain sejak hari aku tau semuanya."

Satura mendongak, rasa bersalah terlihat jelas di setiap garis wajahnya.

"Aku tau aku nggak bisa mengubah apa pun, Van. Aku nggak minta kamu langsung maafin aku sekarang juga. Aku cuma... pengen kesempatan buat buktiin kalau aku bisa berubah."

Vandini menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca tapi dia menahan air mata itu agar tak jatuh.

"Kamu nggak ngerti. Kamu nggak berhak tiba-tiba mau berubah sekarang, setelah kamu hancurin semua yang kita punya. Aku yang harus nanggung akibatnya, aku yang harus jawab semua pertanyaan ini. Aku nggak tau bisa percaya sama kamu lagi atau enggak, Satura. Aku bahkan ragu aku masih mau berusaha atau enggak."

Suara Satura terdengar parau, matanya juga mulai basah menahan tangis.

"Vandini, aku tau kamu nggak punya alasan buat percaya aku lagi, tapi aku bakal lakuin apa aja. Aku cuma... nggak sanggup kalau harus kehilangan kamu sepenuhnya."

"Mungkin kamu udah kehilangan aku," potong Vandini cepat, suaranya bergetar hebat.

Satura duduk terpaku, menatap tangannya sendiri. Ia berusaha mencari kata-kata yang tepat, tapi di hadapan kemarahan Vandini, semua terasa begitu sulit diucapkan.

"Vandini," ucapnya pelan, suaranya terdengar malu dan ragu. "Aku tahu ini kedengerannya aneh banget dan bukan buat ngeles, tapi dulu aku sempat yakin kalau… kalau ngelakuin hal itu bikin aku jadi suami yang lebih baik buat kamu."

Mata Vandini membelalak kaget, wajahnya berubah antara tidak percaya dan sangat marah. "Maksud kamu apa sih, Satura? Serius, kamu pikir tidur sama cewek lain itu bikin kamu jadi suami idaman?"

Satura mengernyit, sadar betapa bodohnya alasan itu kalau didengar orang lain. "Iya, aku tahu kedengerannya goblok banget. Dulu aku juga nggak ngerti sepenuhnya. Tapi aku mikirnya, kalau aku cari pelampiasan di luar, aku bisa buang stres dan emosi di sana. Jadi pas pulang ke rumah, aku bisa jadi lebih tenang dan nggak bawa masalah ke kamu sama anak-anak."

Vandini ternganga lalu menggeleng pelan. Tangannya mengepal kuat di samping tubuh. "Jadi apa? Kamu anggap selingkuh itu semacam terapi? Kamu kira aku nggak bakal sadar atau itu nggak ngaruh ke kita?"

Satura mengangguk, wajahnya penuh penyesalan. "Iya, itu konyol banget. Aku pikir dengan begitu masalahku nggak bakal nyampe ke kamu. Dan ini makin parah sih, tapi aku sering lihat Bapakku juga gitu. Dia bilang emang begini cara laki-laki, seakan itu hal yang wajar."

Mata Vandini menyala menahan emosi. "Itu alasan paling buruk yang pernah aku dengar, Satura. 'Emang begini laki-laki'? Kamu mau nyalahin pola pikir kuno yang toxic itu?"

Satura langsung mengangkat kedua tangan, panik. "Enggak, enggak gitu. Aku tahu itu salah banget, sekarang aku sadar. Tapi dulu aku nggak pernah mikir panjang. Aku biarin diri aku percaya itu normal karena lebih gampang daripada hadepin kenyataan."

"Kenyataan apa?" tanya Vandini ketus sambil menyilangkan tangan di dada, tatapannya tajam.

Satura menarik napas panjang, suaranya mengecil. "Aku takut. Takut buat jujur ke kamu, takut ngaku kalau ada bagian dari diri aku yang rusak. Aku nggak mau kamu lihat sisi jelek aku, jadi aku sembunyiin. Padahal itu salah besar."

Wajah Vandini berubah drastis. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tangis yang mau meledak. Bahunya bergetar hebat, keluar suara isakan yang sangat menyakitkan. Satura bisa melihat betapa hancurnya hati istrinya saat itu juga, dan ia sadar betul dialah penyebabnya.

1
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!