Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alamat Mbah Jari
Bayangan itu tidak menyerang Agus, melainkan langsung menuju Endang, dan tepat saat ia menyentuh pergelangan tangan Endang, di kulit yang tadi terasa dingin dalam mimpi, muncul—sebuah bercak merah berbentuk seperti cap jempol, yang perlahan mulai mengeluarkan cairan kental berwarna hitam pekat.
Cairan hitam itu mengeluarkan bau amis yang memuakkan, seperti lumpur purba yang diangkat dari dasar neraka.
Endang menjerit, bukan karena rasa sakit fisik, tetapi karena kengerian spiritual yang menusuk hingga ke tulang. Bercak merah yang kini menghitam di pergelangan tangannya terasa panas membakar, seolah-olah entitas dari alam lain telah membubuhkan segel kepemilikan.
Agus melepaskan Endang, mundur dua langkah. Rasa panik yang ia rasakan di mobil kini kembali, jauh lebih pekat. Ia telah menyaksikan pengkhianatan spiritual Endang terhadap perjanjian pesugihan itu.
“Kau lihat apa yang kau lakukan?” raung Agus, menunjuk ke pergelangan tangan Endang. “Kau merusak semua jaminan spiritual kita! Dia sudah menandaimu!”
Endang tersungkur di lantai, pecahan kaca cermin di sekitarnya berkilauan seperti salju hitam. Air matanya bercampur dengan keringat ketakutan.
“Bagus,” kata Endang, suaranya parau. “Biar dia menandai aku. Biar dia tahu aku tidak ikhlas. Aku lebih baik mati daripada hidup dalam kebohongan yang kau ciptakan!”
Suara tawa dingin yang sebelumnya terdengar saat cermin pecah kini meredup, tetapi getaran di udara tetap ada, meninggalkan rasa dingin yang mematikan.
Agus tahu ia tidak bisa lagi berdebat. Entitas itu sudah murka, dan Endang sudah memutuskan ikatannya. Endang yang asli kini menjadi sasaran utama Titi Kusumo, dan Endang yang palsu (Sari) harus segera dipersiapkan.
“Kau tetap di sini,” perintah Agus, suaranya mengeras, tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. “Jangan bergerak. Jangan berdoa. Jangan melakukan apa pun yang bisa menarik perhatiannya lagi. Aku harus kembali ke Kuskandar. Sekarang!”
Ia bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Endang yang terisak di tengah pecahan kaca. Agus tidak lagi melihat Endang sebagai istrinya; ia melihatnya sebagai aset yang rusak, tetapi masih harus dijaga agar tidak sepenuhnya hancur sebelum ia berhasil menipu sang Raden.
Agus mengambil kunci mobilnya yang retak, dan dengan sisa uang receh yang ia miliki, ia mengisi bensin secukupnya. Ia kembali mengemudi ke warung kopi 24 jam.
Ketika ia tiba, Kuskandar sedang berbicara dengan seseorang di telepon, nadanya terdengar tegang. Kuskandar menutup teleponnya saat melihat Agus masuk, wajahnya menunjukkan iritasi.
“Kau kembali. Kukira kau sudah mendapatkan seratus juta itu,” sindir Kuskandar.
Agus tidak membalas. Ia ambruk di kursi, napasnya berat.
“Titi Kusumo menyerang Endang,” kata Agus, tanpa basa-basi. “Dia datang dalam mimpi, dan dia datang secara fisik saat Endang memecahkan cermin. Dia meninggalkan tanda hitam di pergelangan tangannya. Dia tahu semuanya, Kuskandar. Dia tahu Endang menolak. Kita tidak punya waktu. Aku harus mendapatkan seratus juta itu, dan kau harus segera memastikan Mbah Jari siap melakukan Topeng Sukma Ganda!”
Kuskandar menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan lelah.
“Aku tahu, Agus. Aku tahu,” Kuskandar mengangguk. “Mbah Jari baru saja menelepon. Dia merasakan energi Titi Kusumo bergejolak. Dia bilang, jika penipuan ini gagal, Titi Kusumo tidak hanya akan membunuh kita, dia akan menghancurkan seluruh ilmu hitam di Jawa Timur.”
“Jadi?” desak Agus.
“Jadi, Mbah Jari menaikkan harganya lagi,” Kuskandar berujar dingin. “Dia butuh jaminan ekstra untuk nyawanya. Seratus lima puluh juta. Dan kau harus membayarnya tunai sebelum dia menyentuh Sari.”
Agus merasa dunianya runtuh. Seratus juta saja sudah hampir mustahil. Sekarang seratus lima puluh juta?
“Kau gila, Kuskandar! Itu pemerasan! Aku sudah tidak punya apa-apa lagi! Bapak Tirta hanya menjanjikan seratus juta!”
“Itu bukan pemerasan, itu adalah asuransi kematian,” balas Kuskandar, mencondongkan tubuhnya ke meja. “Mbah Jari tidak takut pada uangmu, dia takut pada kutukan Titi Kusumo. Jika kau tidak bisa membayar, lupakan Topeng Sukma Ganda dan lupakan Sari. Kembali ke rumah, ambil darah Endang, dan berharap Titi Kusumo puas dengan pengorbanan yang tidak ikhlas.”
Agus menggelengkan kepalanya keras-keras. Itu bukan pilihan. Jika ia mengambil darah Endang paksa, kegagalan spiritual itu akan lebih cepat membunuhnya.
“Aku akan mencari seratus lima puluh juta,” janji Agus, suaranya serak. “Aku akan menjual apa pun yang tersisa. Aku akan berutang pada rentenir lagi, bahkan jika itu berarti aku harus kehilangan ginjalku. Tapi aku butuh alamat Mbah Jari, dan instruksi pastinya. Sekarang. Aku tidak punya waktu untuk kembali padamu lagi.”
Kuskandar menatap mata Agus lama, mencari sisa-sisa keseriusan di tengah keputusasaan. Akhirnya, Kuskandar mengangguk perlahan. Uang, pada akhirnya, selalu menang.
“Baik. Aku akan memberikan alamat Mbah Jari,” kata Kuskandar. “Ini adalah satu-satunya kesempatanmu, Agus. Jangan sampai Sari melarikan diri, atau kau akan menghadapi murka dua entitas sekaligus.”
Kuskandar mengambil pena dan menuliskan alamat itu di atas kertas. Alamat itu hanya terdiri dari tiga kata: Pondok Kali Mati.
“Pondok Kali Mati. Di mana itu?” tanya Agus, mengambil kertas itu.
“Itu di luar kota, di lereng selatan yang sepi, di belakang hutan jati yang terbakar. Tempat itu terisolasi total, tidak ada sinyal ponsel. Itu tempat Mbah Jari melakukan ritual yang paling kotor dan berbahaya,” jelas Kuskandar.
Kuskandar lalu menarik kertas itu sedikit. “Dengar baik-baik soal Sari. Topeng Sukma Ganda adalah ilmu penyamaran astral yang paling kuat. Itu akan membuat Sari benar-benar terlihat seperti Endang, bahkan jika Titi Kusumo menggunakan Mata Jati. Tapi ada harga yang harus dibayar.”
“Apa harganya?”
“Energi. Energi Sari akan dikuras habis-habisan. Dia akan seperti boneka tanpa jiwa selama ritual berlangsung. Dia harus diikat, Agus,” Kuskandar menekankan. “Bukan sekadar diancam. Dia harus diikat kuat-kuat di gudangmu itu, dan diisolasi dari dunia luar. Tidak boleh ada satu pun jejak spiritual dunia nyata yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri atau melawan.”
Agus memandang kertas yang kini berisi alamat nerakanya. Pondok Kali Mati. Seratus lima puluh juta. Mengikat Sari.
“Bagaimana dengan penarikan Sari dari Pondok Mbah Jari yang sekarang?” tanya Agus.
“Mbah Jari akan memberinya sedatif yang kuat. Kau hanya perlu menjemputnya. Tapi kau harus cepat. Mbah Jari tidak akan menahannya lebih dari dua jam setelah kau transfer uangnya,” kata Kuskandar.
Agus bangkit, hatinya dipenuhi campuran rasa jijik dan tekad yang dingin. Ia harus mendapatkan seratus lima puluh juta itu.
Ia meninggalkan Kuskandar, bergegas kembali ke mobilnya. Ia mengemudi menuju pusat kota, menuju kantor Bapak Tirta.
Seratus lima puluh juta. Ia harus memutar otak. Mungkin ia bisa menjual perhiasan palsu Endang yang tersisa, atau bahkan mencoba menipu Bapak Tirta agar memberikan uang muka lebih besar.
Saat ia mencapai persimpangan jalan menuju kantor Bapak Tirta, ia melihat bayangan gelap melintas di spion. Ia mengabaikannya.
Ia mengeluarkan ponselnya yang ia curigai telah diretas oleh Titi Kusumo. Ia tidak bisa menggunakan ponsel itu untuk menghubungi Bapak Tirta. Ia harus melakukannya secara langsung.
Agus memarkir mobilnya di basement kantor Tirta, jantungnya berdebar kencang. Ia mengambil napas dalam-dalam.
Ia naik lift menuju lantai eksekutif. Ketika pintu lift terbuka, ia melihat Bapak Tirta berdiri di lobi, wajahnya tegang.
“Kau terlambat, Agus. Aku tidak suka menunggu,” kata Bapak Tirta, suaranya dingin.
“Maaf, Pak. Ada masalah di jalan. Tapi saya jamin, informasi yang saya bawa jauh lebih berharga daripada waktu yang Bapak buang,” balas Agus, berusaha terlihat percaya diri.
Bapak Tirta menunjuk ke ruang rapat. “Masuk. Dan jangan berani-beraninya kau membuang waktuku dengan cerita hantu.”
Agus masuk ke ruang rapat yang mewah. Di atas meja mahoni, di samping dua gelas air mineral kristal, sudah tergeletak setumpuk uang tunai yang diikat rapi.
“Seratus juta. Tunai,” kata Bapak Tirta, menyilangkan tangannya. “Jika ceritamu sepadan, itu milikmu. Sekarang, apa rahasia Lanang Sewu itu?”
Agus mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya tertuju pada tumpukan uang itu. Ia harus mendapatkan lima puluh juta lagi.
“Bukan hanya rahasia, Pak,” bisik Agus. “Ini adalah kunci untuk mendapatkan kekayaan abadi. Tapi, Pak, situasinya sudah berubah. Saya butuh seratus lima puluh juta. Sekarang juga.”
Wajah Bapak Tirta berubah merah padam. “Kau pikir aku ini bank? Aku sudah bilang seratus juta! Ambil atau pergi!”
Agus panik. Ia tidak bisa mundur.
“Dengar, Pak. Saya tahu semua tentang Lanang Sewu. Saya tahu Raden Titi Kusumo, entitas yang bertanggung jawab atas pesugihan itu, adalah Pangeran yang dikutuk. Saya tahu kelemahan fatalnya. Saya akan menjual rahasia itu, tapi saya butuh seratus lima puluh juta, karena saya harus membayar dukun yang akan mengaktifkan perjanjian itu untuk Bapak!”
Bapak Tirta tertawa kering. “Kelemahan fatal? Kau tidak bisa menjual rahasia yang tidak ada, Agus. Kau sudah gila!”
Agus menunjuk ke tumpukan uang. “Saya punya buktinya, Pak. Saya punya kontak Ki Joladrang. Saya punya ritualnya. Saya hanya butuh tambahan lima puluh juta, Pak. Demi kekayaan yang tak akan pernah habis!”
Bapak Tirta menatap Agus dengan tatapan menghina.
“Kau benar-benar putus asa. Lima puluh juta? Itu seperti harga nyawamu, Agus. Baik,” kata Bapak Tirta, mengeluarkan cek kosong dari sakunya. “Aku akan memberimu cek ini. Tapi kau harus memberikan buktinya sekarang. Di mana petanya? Di mana kontaknya?”
Agus meraih cek itu dengan cepat. Ia tidak peduli jika cek itu bisa dicairkan atau tidak; ia hanya butuh janji tertulis.
“Ki Joladrang, Pak, dia di Gunung Gumrebek. Saya akan berikan nomornya, tapi Bapak harus janji, seratus lima puluh juta itu segera masuk ke rekening dukun saya,” kata Agus, mengambil pena dan menuliskan nomor Kuskandar di kertas.
Tepat saat Agus menyerahkan kertas itu kepada Bapak Tirta, kaca jendela ruang rapat yang tebal tiba-tiba mengeluarkan suara retakan yang tajam.
Retakan itu menyebar, dan di tengahnya, bayangan wajah Titi Kusumo muncul lagi, kali ini lebih jelas, dengan kemarahan yang membara.
Bapak Tirta menjerit, menjatuhkan cek dan kertas itu.
“Apa itu?!” teriak Bapak Tirta, panik.
Agus berbalik, menatap bayangan di kaca itu. Mata Titi Kusumo yang sedingin es kini menatap Agus, bukan dengan ancaman, tetapi dengan keinginan penyiksaan yang lebih mengerikan.