NovelToon NovelToon
Bayi Kesayangan Caelan

Bayi Kesayangan Caelan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Single Mom
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: Ann Soe

Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 1

Amelia memperbaiki posisi bayi di dalam gendongannya, mengayun pelan si bayi yang bernama Emi itu. Amelia mengayun Emi dengan lembut hingga jeritan bayi itu berubah menjadi gumaman teratur. Emi memang jadi lebih rewel sejak memasuki gedung yang merupakan kantor arsitek tersebut. Sebenarnya, tidak hanya Emi, Amelia pun merasa gugup berada di sana.

Walaupun ruang tunggu di lantai satu bangunan didesain untuk memberikan kenyamanan pada tamu, tapi Amelia sama sekali tidak merasa nyaman. Wanita berambut hitam diikat ekor kuda itu sangat gugup. Siapa yang tidak gugup ketika ingin mengajukan gugatan paternitas pada salah satu arsitek senior di kantor arsitek bernama Best Idea Design tersebut.

Amelia datang membawa Emi untuk menemui Caelan Harrison, meminta pertanggungjawaban pria tersebut sebagai ayah biologis Emi. Amelia akan membuang rasa malu dan takutnya demi membela hak Emi. Meskipun tahu tidak akan mudah membuat seorang Caelan Harrison menerima bahwa Emi adalah anak dari hasil hubungan asmara singkat pria itu, tapi Amelia akan melakukan segala cara agar Caelan mengakui Emi. Tidak masalah jika Caelan tidak mau merawat Emi, paling tidak pria itu harus membayar biaya hidup Emi hingga Emi cukup umur atau sudah bisa mandiri.

Amelia menghela napas sambil memandangi Emi yang berada di pangkuannya. Andai saja, keadaan finansialnya bagus, Amelia tidak akan melakukan tindakan ini. Namun, dirinya saat ini hampir tidak bisa menghidupi diri sendiri. Jadi, mau tidak mau harus meminta bantuan ayah biologis Emi untuk berbagi tanggung jawab.

Amelia masih sibuk dengan pikirannya sendiri ketika seorang pria keluar dari lift dan melangkah ke arahnya. Ia baru menyadari kehadiran pria itu ketika sudah benar-benar berada di depannya.

Amelia mendongak dan bertemu pandang dengan mata sebiru langit cerah di siang hari. Untuk beberapa detik, Amelia tidak bisa mengalihkan pandangan dari mata biru milik pria itu. Namun, rengekan pelan Emi menyadarkan Amelia. Ia buru-buru berdiri agar bisa berbicara dengan pria itu.

“Mr. Harrison?”

“Ya, itu aku.”

Amelia merasakan pandangan Caelan Harrison tengah menilai dirinya. Pria itu menatap dari atas ke bawah, lalu kembali menatap mata Amelia. “Apa aku mengenalmu?” tanya pria itu kemudian.

“Tidak, kau tidak mengenalku,” jawab Amelia dengan suara pelan, tapi cukup untuk didengar pria yang lebih tinggi satu kepala darinya itu. Sebelah alis Caelan terangkat menanggapi jawaban tersebut, membuat Amelia segera melanjutkan, “Tapi kau mengenal adikku, Olivia Cameron. Beberapa minggu lalu dia datang menemuimu bersama bayi ini.” Amelia mengangkat Emi sedikit agar menarik perhatian Caelan.

“Ah, aku mengingatnya. Beberapa minggu lalu adalah pertemuan pertama kami. Aku belum pernah bertemu dengannya seumur hidupku sebelum pertemuan itu,” jawab Caelan. Pria itu dengan sengaja mengabaikan Emi dan mundur selangkah.

“Dan aku tidak percaya,” sahut Amelia dengan nada menuduh. “Aku punya bukti bahwa kau mengenal adikku, Olivia.”

“Benar-benar mengherankan.” Ucapan Caelan membuat Amelia bingung.

“Maaf?”

“Apa ini modus baru?”

Amelia dibuat semakin bingung oleh pertanyaan Caelan.

“Beberapa minggu lalu, adikmu yang datang bersama bayi ini, dan sekarang kau. Kuyakin tujuannya masih sama. Kau ingin aku bertanggung jawab atas bayi ini, bukan?”

Amelia mendengus marah. “Bayi ini punya nama, Emi, dan iya, aku ingin kau bertanggung jawab atas kesejahteraan Emi.”

Tepat setelah Amelia menyelesaikan kalimatnya, Emi menjerit nyaring. Membuat Caelan mundur sambil menutup telinga. “Bisakah kau hentikan tangisannya?”

Tanpa menjawab, Amelia menyodorkan Emi yang baru berusia empat bulan pada Caelan. Pria itu terlihat bingung. “Gendong dia, aku harus membuatkan susu formula untuknya.”

Meskipun terlihat enggan, akhirnya Caelan menggendong Emi dan berusaha menghentikan tangisan bayi mungil itu. Sementara Amelia mengambil botol susu dari dalam tas biru berukuran sedang yang berisi perlengkapan bayi. Kemudian ia berderap ke dispenser yang berada di dekat meja resepsionis. Setelah meminta izin meminta air panas, Amelia menyeduh susu formula untuk Emi.

Saat Amelia menghampiri Caelan dengan botol susu, pria itu merengkuh Emi lebih erat dan mundur selangkah, lalu bertanya, “Kau akan memberinya makan dengan itu?”

“Emi masih enam bulan, hanya boleh minum susu,” sahut Amelia santai.

“Tapi, kau-“

“Apa?” Amelia gemas karena kalimat Caelan mengambang.

“Kau mengambil airnya dari galon begitu saja, apa itu aman?” Caelan masih menjauhkan Emi dari Amelia, sementara si bayi terus menangis nyaring.

“Air galonmu itu tidak beracun, kan?”

Caelan menggangguk menjawab pertanyaan Amelia.

“Kalau begitu tidak masalah, suhunya juga tepat.”

Amelia duduk di sofa, lalu memberikan Caelan perintah, “Berikan dia padaku.” Caelan menurutinya, meletakkan Emi dengan hati-hati ke pangkuan Amelia.

“Maaf, kau harus menunggu lama, Sayang.” Amelia membuat Emi dalam pelukan, memosisikan bayi mungil itu lalu memberikan apa yang Emi inginkan. Sementara Caelan masih berdiri di depannya sambil memerhatikan Emi minum susu dengan penuh semangat.

“Bisa berikan aku bantal kecil itu,” pinta Amelia dan Caelan dengan cepat mengambil bantal, lalu menyodorkannya pada Amelia. “Tolong taruh di sini.” Amelia mengangkat lengannya yang menyangga kepala Emi, lalu Caelan menyelipkan bantan di bawah tangan Amelia. “Terima kasih.”

Caelan hanya mengangguk sambil terus memerhatikan Emi yang minum dengan cepat.

“Maaf, pembicaraan kita harus diinterupsi,” ujar Amelia.

“Tidak masalah. Kita bisa bicara setelah dia selesai makan,” sahut Caelan.

“Kau bisa duduk sembari menunggu,” kata Amelia karena Caelan masih berdiri memandangi Emi. Awalnya, pria itu seperti terganggu dengan kehadiran Emi, tapi sekarang sepertinya sudah lebih melunak. Atau mungkin hanya kaget dan panik harus menghadapi tangisan bayi untuk pertama kalinya.

“Dia minum dengan cepat,” ujar Caelan sambil duduk di sofa di hadapan Amelia dipisahkan sebuah meja kaca.

Keadaan lobi kantor saat itu sepi, hanya ada mereka bertiga dan seorang wanita di meja resepsionis yang terlihat penasaran. Namun, bersikap bijak untuk tidak banyak bertanya.

“Biasanya dia tidak serewel ini,” ucap Amelia. “Mungkin karena perjalanan jauh dan tempat baru.” Ia memandangi Emi dengan penuh kasih. “Mungkin juga dia merasakan kegugupanku.”

“Aku juga melihatnya,” sahut Caelan. “Jadi, saranku kau hentikan saja. Karena apa yang kau coba lakukan ini tidak akan berhasil.”

Seperti menyadari ketegangan Amelia, Emi bergerak-gerak gelisah dalam pangkuannya.

“Sebaiknya, kita bicara di ruanganku, tapi tunggu dia tidur dulu.”

Amelia hanya bisa mengangguk. Ia takut mengeluarkan suara yang penuh amarah dan membuat Emi gelisah.

Lima belas menit kemudian, Amelia sudah berada di ruang kerja Caelan. Emi direbahkan di atas sofa empuk. Caelan menyusun bantal mengelilingi tubuh Emi untuk memastikan keamanan bayi mungil itu.

“Baiklah, karena bayinya sudah tidur, kita bereskan masalah ini,” kata Caelan tegas. Sepertinya, pria itu bertekad mengendalikan situasi dan ingin segera mengusir Amelia pergi.

“Seperti yang kukatakan tadi, aku tidak mengenal adikmu. Aku mengatakan hal yang sama padanya saat dia datang beberapa minggu lalu. Jadi, aku tidak mengerti kenapa sekarang dia mengutusmu datang dengan metode yang sama dengan yang dilakukannya saat itu. Tapi, siapapun yang datang tidak dapat mengubah pendirianku. Aku tidak mengenal adikmu, jadi bayi ini bukan anakku.”

Mata abu-abu Amelia menatap Caelan tajam, sarat tuduhan yang tidak terucap. “Kau tidak bisa cuci tangan begitu saja dengan mengatakan tidak mengenal Olivia. Karena bukti keterlibatanmu dengan adikku ada di sini.” Amelia mengacu pada Emi yang tengah tidur nyenyak di sofa ruang kerja Caelan.

“Tapi, Nona Cameron, aku tidak pernah terlibat dengan adikmu yang bernama Olivia itu. Aku hanya pernah bertemu dengannya sekali.” Caelan masih teguh dengan perkataannya.

“Dan kau tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Karena tiga hari setelah menemuimu, adikku meninggal akibat overdosis. Kuanggap kau ikut bertanggung jawab atas hal itu, dan atas Emi. Karena Emi adalah anakmu.”

Amelia melihat wajah Caelan memucat. Namun, pria itu tetap berkeras tidak mengenal Olivia dan berkata Emi bukan darah dagingnya.

“Bayi itu bukan anakku, dan tidak akan pernah menjadi anakku. Aku juga tidak bertanggung jawab atas kematian tragis ibu bayi itu, meskipun aku ikut berduka atas kematian adikmu. Namun, aku tidak akan mengakui bayi itu sebagai anakku.”

“Bayi itu punya nama, Emi,” sahut Amelia dengan kemarahan tertahan.

Setelah menatap Amelia sesaat, Caelan berkata dengan lembut, “Jika aku bisa membantumu, akan kubantu, tapi masalah ini benar-benar tidak ada hubungannya denganku.”

“Kau terlihat sangat meyakinkan, tapi aku tidak akan percaya,” Amelia menyahut datar. “Aku punya bukti, foto-foto kebersamaan kalian.”

Caelan terenyak. “Foto?”

“Ya, fotomu bersama adikku yang terlihat cukup intim.”

“Di era AI saat ini, foto-foto bisa dipalsukan.”

“Aku tahu kau akan mengatakan hal itu. Jadi, mari lakukan tes DNA untuk membuktikan semua ini.”

“Silakan saja, aku yakin DNA-ku tidak akan cocok dengan DNA bayi itu.”

Amelia menarik napas dalam, lalu mengatakan ancaman terakhirnya. “Baiklah, aku beri waktu seminggu. Jika kau tidak datang menemuiku, maka foto-foto itu akan sampai ke tabloid dan aku akan membawa ini ke ranah hukum.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!