NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:243.8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

"Ke mana sih, anak itu!?"

Seorang wanita berusia 46 tahunan mondar-mandir di ruang keluarga sejak matahari tenggelam. Rambutnya yang selalu tersisir rapi kini beberapa kali ia acak dengan jemari sendiri. Jam dinding berdetak pelan, seolah sengaja mengejek kegelisahannya.

“Masih belum pulang juga,” gumamnya, menatap layar ponsel yang sejak semalam tak menunjukkan satu pun notifikasi.

Ia mencoba menelepon lagi. Nada sambung, lalu mati. Tidak aktif.

"Apa-apaan ini?!"

Ia mencoba menelpon lagi. Namun, respon masih sama.

"Apa dia sengaja mengabaikan mamanya?"

Wanita itu menghela napas panjang, duduk di ujung sofa, lalu bangkit lagi. Seperti tak sanggup diam.

"Benar-benar nih, anak!"

Dari arah dapur, seorang pria berwajah lebih tua satu tahun darinya, keluar sambil membawa secangkir kopi. Wajahnya tenang, kontras dengan kegelisahan istrinya.

“Kamu kenapa si, Mah? Kayak depcolector aja,” katanya lembut. “Sejak tadi muter terus.”

“Gimana mau duduk, Mas Den?” Wanita itu menoleh cepat. “Anak kita enggak pulang, Mas. Yuda enggak pernah kayak gini.”

“Enggak pernah gimana? Kamu lupa dulu pernah sampai dipanggil guru BP gara-gara anak itu enggak datang ke sekolah, padahal sama kita ngakunya kemah,” jawab suaminya, Deni, sambil terkekeh mengenang. “Sekarang dia sudah dewasa, Mamah Anggun Sayang. Bukan bocah SMP lagi.”

“Masalahnya, dia enggak kasih kabar, Mas Den. Ini si Bastian juga enggak bisa dihubungi.” Suara wanita itu mulai meninggi, nyaris bergetar. “Aku cuma enggak mau tiba-tiba dibikin jantungan lagi.”

Deni malah tertawa geli. “Ya udah. Tunggu aja, papa mau tidur, besok mau main golf ma Pak Purnama.”

Anggun melirik sinis, "Jangan kegatelan sama lady. Awas saja nanti."

"Mama ikut ajalah..."

Anggun mendekus.

"Jadi lady... Hahahaha."

Anggun menimpuk suaminya dengan bantal sofa.

"Aduh! Bercanda, Sayang!"

keesokan paginya,

"Bocah ini beneran enggak pulang ternyata!"

Anggun menggebrak meja, kesabaran itu tak bertahan lama.

"Mentang-mentang week end. Kalau liburan, harusnya dia kasih kabar juga. Bukannya bikin mamanya cemas begini!"

"Sayang, tenangkan dirimu," ucap Deni sambil membalikkan majalah bisnis. Anggun hanya melirik.

"Astaga, dingin banget." Deni bergidik ngeri. "Apa ac-nya terlalu kenceng ya?" bergumam pada diri sendiri.

"Mas! Kamu mau main golf pagi ini?" tanya Anggun.

"Ini adalah pertanyaan jebakan. Tidak boleh asal menjawab," batin Deni melirik wajah istrinya yang tam bersahabat itu. "Mmm, sepertinya, Mas mau nyari Yuda saja."

"Bagus!"

"Huuff!" Deni bernapas lega. "Nanti pas nyari aku bakal nyari waktu belok ke Hiyat golf." Tentu saja, ini hanya dalam pikiran Deni saja.

"Oke! Panggil orang kemari!" perintah Anggun.

Seorang kepala pelayan di rumah itu langsung mengangguk patuh.

Anggun duduk kaku di ruang tamu. Wajahnya masih gelap. Tiga orang berbadan besar muncul dengan langkah tergopoh-gopoh. Lalu menunduk memberi hormat.

"Aku mau kalian semua cari Yuda! Anak itu... Harus diseret ke mari!"

"Siap laksanakan, Nyonya!"

*****

Rumah kecil Yuda diselimuti lampu kuning temaram. Ning masuk ke kamar yang Yuda tunjuk sebagai kamarnya.

"Ah, kamar ini lebih luas dari kamarku," bisiknya pada diri sendiri. Ada rasa haru yang tiba-tiba datang. Ia tersenyum kecil, berjalan masuk dan menyandarkan Kruk di dekat lemari.

"Lemarinya bagus," bisiknya lagi seraya mengusap pintu lemari. Lemari itu ada dua pintu dari kayu jati. Walau terlihat tua, tapi kokoh. Yang jelas, lebih bagus dari lemari miliknya yang hampir roboh itu.

"Hihihi..."

Tanpa sadar, dia tertawa kecil, ketika tangannya menggoyangkan lemari itu bergeming.

Ia membuka satu pintu lemari, di dalamnya kosong.

Dengan hati yang... Ah, Ning tak bisa jabarkan... Ia memilih mengeluarkan satu per satu pakaian, melipatnya dengan rapi.

“Mas, Ning bisa sendiri,” ucapnya pelan saat Yuda tiba-tiba mendekat dan ikut mengambil baju dari tas.

"Kamu duduk aja saja sana."

"Enggak. Ini barang Ning. Biar Ning yang tata sendiri," tolak Ning merebut baju dari tangan Yuda.

"Biar cepet." Yuda tak menghiraukan. Ia tetap saja berjongkok mengambil helaian baju milik Ning di tas.

"Mas! Jangan, Mas. Jangan, Mas Yuda!" Ning masih ingin merebut. Tapi, sekali senggol saja, tubuhnya sudah limbung. Yuda menahan punggung.

"Kesenggol dikit aja udah limbung, sok-sokan mau simpan sendiri bajumu."

Wajah Yuda terlalu dekat, jantung tiba-tiba berdebar lebih cepat.

"Kaki Ning... Pincang..." Lirih suara Ning, nyaris berbisik.

"Makanya, duduk aja di sana."

Ning menggeleng... "Ada barang pribadi Ning di sini..."

Yuda tersenyum, melihat pipi merah istrinya.

"Yang pribadi, nanti kamu pindahin sendiri. Kamu duduk aja. Mas yang masukin ke lemari," katanya seraya membantu Ning duduk lesehan di samping tas depan lemari. Sementara dia sendiri berdiri sambil memasukkan operan baju Ning.

Ning menyerahkan lipatan baju ke tangan Yuda. Lelaki itu menerima, lalu berhenti sejenak.

Kain-kain itu tipis. Warnanya pudar. Beberapa bahkan tampak sudah ada yang robek.

Yuda memasukkannya ke lemari satu per satu, dadanya terasa mengeras. Ia tak berkata apa-apa, tapi pandangannya jatuh lagi ke tumpukan kecil di dalam tas

“Ini semua bajumu?” tanyanya akhirnya.

Ning mengangguk. “Iya.”

“Yang itu?” Yuda menunjuk kemeja sederhana berwarna biru kusam.

“Ini... Baju bekas Mbak Dewi,” jawab Ning ringan. “Kalau punya saudara, bisa begitu, Mas. Adik pakai baju Embak yang sudah enggak muat lagi.”

Yuda terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Ning tersenyum kecil, tulus. Seolah tak ada luka di balik kata-katanya.

"Oohh, begitu ya?"

"Mas Yuda... Enggak punya saudara, ya? Mas Bastian itu... Dia saudara Mas Yuda, bukan?" tanya Ning ringan.

"Bukan..." Yuda memalingkan wajah. Ada sesuatu yang mengendap di dadanya—panas, menyesakkan—antara marah dan iba yang tak tahu harus dilampiaskan ke mana. "Mas juga punya saudara..."

"Di mana dia sekarang? Kalau Ayah sama ibunya Mas Yuda?"

yuda memaksakan senyum. "Ada. Tapi... Jauh..."

"Oohh, pantas Mas tinggal sendiri. Hidup Mas Yuda... Pasti berat dan sepi..." bisik Ning pada dirinya sendiri. Namun, Yuda masih bisa mendengar.

"Ummm... Sisanya, biar Ning yanh bereskan."

"Kenapa? Skalian saja semua," ucap Yuda mengulurkan tangan. "Mana?"

Ning terdiam, menunduk melihat ke arah isi tas yang hanya sisa celana dalam dan bh.

"Habis, Mas."

"Habis apa? Itu kan masih. Sini skalian!"

Ning mendongak, malu. Tangannya memeluk tas rapat.

"I-ini... Tinggal pakaian dalam Ning..."

Yuda tercenung. Lalu jadi canggung. "Eheemm, ya udah. Mas tidur dulu," katanya sambil berjalan dengan langkah berantakan.

Ning hanya tersenyum kecil. Lalu ia mulai menata pakai dalamnya di lemari. Setelah semua rapi, Ning berbalik setelah memakai kruknya. Yuda sudah duduk bersandar di ranjang.

"Udah?"

Ning mengangguk.

"Ayo tidur."

Ning ragu, "Ning... Tidur di mana?"

Yuda menepuk sisi ranjang. “Di sini. Di mana lagi?”

Ning berdiri kikuk. “Di… situ?”

“Iya, di mana lagi?” Yuda tersenyum tipis. "Mau tidur di lantai? Dingin loh." Yuda menepuk sisi ranjang dia duduk. "Sini!"

Ning mengangguk, lalu naik perlahan. Ia tidur di ujung, di ujung sekali, sampai menciptakan jarak diantara mereka.

Yuda melirik, lalu terkekeh kecil. “Takut amat.”

Ning memejamkan mata, jantungnya berdegup. “Ning belum biasa.”

“Biasain,” jawab Yuda santai, lalu mematikan lampu.

Dalam gelap, Yuda menatap langit-langit. Dalam hati, sebuah tekad tumbuh perlahan, ia akan belikan Ning baju baru. Dan ponsel. Ia tak mau istrinya hidup dengan sisa-sisa belas kasihan orang lain lagi.

Pagi menyambut dengan cahaya pucat.

Yuda mengajak Ning ke pasar. Ning sempat ragu, tapi Yuda sudah menarik tangannya lembut.

Pasar ramai, riuh oleh suara tawar-menawar. Yuda terlihat kaku, tapi berusaha santai. Ning justru tersenyum kecil melihatnya.

Mereka membeli sayur, telur, ikan. Pulang, masak bersama di dapur kecil. Ning memotong bawang, Yuda menggoreng dengan hati-hati. Dia juga tak bisa masak sebenarnya.

“Mas bisa masak?” tanya Ning heran.

“Bisa dong,” jawab Yuda. “Mas hidup sendiri. Jadi, harus bisa masak biar enggak kelaparan.”

Ning mengangguk pelan. Yuda melirik, "Ummm.. Nanti, selesai sarapan, temani Mas, ya."

Alis Ning berkerut, "Ke mana, Mas?"

*_*

Hay readers, bantu dukung cerita author ya. Kalau suka, jangan lupa like, komen, dan vote cerita ini.

Terima kasih. Kamsahamnida🙏🥰

1
Sri rahayu
kenapa kalau Ning istri Yuda Ranu ? bukankah dulu kamu yg nyuruh Yuda mencari Ning dan melindunginya .kan Ning bukan kekasihmu .seharusnya kamu bersukur Ning sudah membantumu bangkit dan mulai sembuh ?
sutiasih kasih
sdh tau kn skrg....
jdi harap sadar diri y ranu.... klo ning adalah istri dri adikmu...
klo km msih mksa buat jdi pmbinor.... smoga Azab brkali lipat mnimpamu lg🙄🙄🙄
sunaryati jarum
Kalau sudah tahu terima kenyataan ,kau yang lalai menabrak Ning.Ikhlaskan itu juga cara penebusan kesalahan kamu.Jangan egois, semua menyayangimu Ranu.
N Wage
pokoke bagus👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Ranu jangan egois .Jika hubungan Yuda dan Ning membaik,emak lanjut mengikuti kisahnya
delis armelia
ya allah akhirnya ketahuan... nunggu besok berasa lama
Yensi Juniarti
bagus saya suka..
biar Ranu sadar dimana posisinya...
berharap sama bini orang...
jangan ya bang ya... JANGAN...
bibuk Hannan & Afnan
akhirnya Ranu tahu dgn sendirinya status Ning dan Yudha
bibuk Hannan & Afnan
Yanh=yang
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ya dsn yg pinter ranu dia nyari tau smuanya dgn sat set. yg lain bodoh aplg mamanya em knp kl jujur toh haruse yg ngamuk marah tuh ning krn ditabrak ranu, gak masuk akal banget
nunik rahyuni
ya...harap sadar diri.
jgn minta dikasihani terus. jgn jd org lemah terus bergantung sm ning...memanfaat kn ning...
sadar. .oe..sadar...kmu yg nabrsk bukanya mengaku dan minta maaf..malah memanfaatkan...pikirkan perasaan ning..
kelg g tau diri sih menurut q
nunik rahyuni: iya..mundur jauh jauh🪠🪠🪠
total 2 replies
Nana Geulise
woi..woi sadar Ranu ning itu istrinya yuda...jangan nanti jadi korban keegoisan kalian(ranu.yuda n mm a ggun) kasihan ning🥺🥺🥺
Arin
Bagus gitu kan..... Biarpun Ranu tau sendiri tentang Ning dan Yuda. Dan semoga semua jadi lebih baik. Ranu tidak terlalu berharap lagi kepada Ning
Dinar Keke
Ayo mama Anggun segera kasih tau kebenarannya. Ranu harus tau diri,dia harus sadar diri kalau masih menyimpan perasaan dengan Ning akan merusak hubungan antara dia dan Yuda
Dinar Keke
Ceritanya dirapel nih komentarku Maaf ya dari awal aku suka ceritanya adem ayem Ada konflik sedikit, sekedar tidak bosan membaca. Begitu Ning sembuh bisa behjalan, dab akhirbya kembali kerumah besar timbul masalah besar.
Ning gak salah dia membantu, tapi karena dia menghargai posisi suami dia memilih mundur.. Karena keadaanlah yang memaksa dia terus bertahan untuk membantu Ranu, harusnya yang bertanggung jawab kedua orttunya Ranu.
Udah mending balik kerumah kontrakan, hidup kalian lebih damai disana.
Jumi Saddah
seharus dari awal di beritahu klo ning adlh istri yuda,,dan juga ju2r klo kecelakaan yg ning alami tu karna ranu,,,jdi nda ada salah faham begini kan,,
Sri Rahayu
Ajak Ning pindah kerumah kalian lg Yuda...bukan kewajiban Ning utk menyembuhkan Ranu...hrs nya ortu mu bersyukur berkat adanya Ning Ranu bisa sadar lg...kasihan Ning tersiksa batin nya gimana kl dia tau Ranu lah yg menabrak nya...lanjut Thorr😘😘😘
Eka Burjo
ok
Eka Burjo
aneh sih menurutku, istri tetap istri Yuda kamu ga harus ngalah sama kakak mu🙄
Samsiah Yuliana
udah ah Ning, bner kata kamu, berhenti aja jdi terapis nya, ganti sama yg ahli aja kah, jadi kasihan kan semuanya😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🙏🙏🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!