"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Perjamuan Para Dewa Keuangan
Udara dingin Pegunungan Alpen menusuk hingga ke tulang, namun di dalam limosin antipeluru yang membawa Andra, suhu tetap terjaga sempurna di angka 22 derajat Celsius. Di luar jendela, pemandangan salju abadi yang menyelimuti tebing-tebing curam Swiss tampak seperti lukisan kuno yang mahal. Namun bagi Andra, keindahan itu hanyalah sekadar latar belakang dari medan pertempuran baru yang jauh lebih dingin dan mematikan daripada suhu di luar sana.
Limosin hitam mengkilap itu berhenti tepat di depan gerbang besi raksasa sebuah kastil abad pertengahan yang telah dipugar menjadi benteng teknologi tinggi. Kastil Schloss von Gold, markas rahasia dari The Sovereign Club. Tempat di mana nasib bangsa-bangsa ditentukan di atas meja makan malam oleh segelintir orang yang menganggap diri mereka adalah tuhan-tuhan ekonomi dunia.
"Kita sampai, Tuan," ucap Sang Jagal dengan suara rendah yang penuh kewaspadaan. Ia memeriksa senjata otomatis yang tersembunyi di balik jasnya untuk terakhir kali melalui sensor di pergelangan tangannya. "Sistem pertahanan mereka sangat ketat. Pemindai biometrik ada di setiap sudut. Saya sarankan Anda tetap berada dalam jangkauan pandangan saya."
Andra melangkah keluar. Sepatu kulit bespoke miliknya beradu dengan lantai batu kuno yang telah dipoles. Ia mengenakan setelan tuksedo beludru hitam dengan aksen benang emas yang ditenun secara manual oleh penjahit rahasia di Italia—pakaian yang harganya setara dengan sebuah apartemen mewah di Jakarta. Di pergelangan tangannya, jam tangan Patek Philippe Grandmaster Chime yang sangat langka berdetak dengan presisi sempurna, simbol bahwa waktu Andra kini jauh lebih mahal daripada emas.
[Ding! Area Eksklusif Terdeteksi: The Sovereign Club - Markas Pusat] [Status: Inang berada dalam jangkauan radar 12 orang terkaya di planet bumi] [Misi Utama Aktif: Dominasi Psikologis Global. Jangan biarkan mereka merasa lebih tinggi darimu!] [Efek Pasif: Aura Penguasa ditingkatkan 300% - Tekanan Mental pada Lawan Diaktifkan]
Dua pelayan raksasa berseragam militer kuno membukakan pintu kayu ek raksasa setinggi lima meter. Begitu masuk, Andra disambut oleh aula besar yang diterangi ribuan lilin kristal asli. Di tengah aula, sebuah meja panjang dari marmer putih Italia telah dikelilingi oleh tokoh-tokoh yang wajahnya tidak akan pernah Anda temukan di majalah ekonomi mana pun, namun nama belakang mereka tercatat di buku sejarah perbankan, energi, dan persenjataan dunia selama berabad-abad.
Sir Alistair, pria yang sebelumnya mengancam Andra lewat hologram di pesawat, berdiri dan memberikan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Tuan Andra dari Indonesia. Akhirnya, sang fenomena baru yang mengguncang pasar modal Asia telah tiba. Silakan, kursi Anda telah disiapkan di tempat yang seharusnya."
Andra berjalan dengan tenang. Setiap langkahnya memancarkan kepercayaan diri yang membuat beberapa orang di meja itu sedikit mengernyit tidak nyaman. Ia duduk di kursi kosong yang berada tepat di hadapan seorang pria tua dengan rambut putih bersih dan mata biru yang sedalam samudra—Baron von Rothschild, pemimpin de facto dari pertemuan rahasia ini.
"Anda sangat muda, Tuan Andra," Baron berbicara dengan suara serak namun berwibawa, setiap katanya terasa seperti vonis hukum. "Uang adalah alat yang sangat berbahaya di tangan anak muda yang penuh gairah. Blackwood jatuh karena mereka meremehkan jumlah likuiditas Anda. Namun di sini, di kastil ini, kami tidak menghitung berapa banyak uang yang Anda miliki dalam bentuk angka digital, melainkan seberapa besar sejarah dan pengaruh politik yang Anda kuasai."
Andra menyandarkan tubuhnya, menatap Baron tanpa rasa takut sedikit pun. Ia justru memutar gelas kristal berisi air mineral yang harganya mungkin jutaan rupiah per botol. "Sejarah adalah masa lalu, Baron. Dan masa lalu seringkali menjadi beban bagi mereka yang tidak bisa beradaptasi. Saya tidak tertarik pada sejarah. Saya lebih suka menjadi penulis tunggal untuk masa depan. Dan seperti yang Anda tahu, masa depan memiliki harga yang sangat spesifik."
Seorang wanita cantik di sebelah kiri Baron, seorang pewaris tunggal raksasa minyak dari Timur Tengah bernama Princess Amira, tertawa kecil. Tawanya terdengar merdu namun penuh duri. "Masa depan tidak bisa dibeli hanya dengan saldo bank, anak muda. Kami memiliki kendali atas aliran energi dunia, paten teknologi kunci, dan kebijakan pemerintah yang bisa kami ubah dalam satu malam. Apa yang Anda miliki selain angka-angka di layar ponsel?"
"Begitukah, Princess?" Andra mengeluarkan ponsel titaniumnya dan meletakkannya di atas meja marmer dengan bunyi 'klak' yang tegas. "Satu jam yang lalu, sebelum jet pribadi saya mendarat di Zurich, saya telah menginstruksikan sistem saya untuk membeli 35% saham dari konsorsium satelit yang mengontrol jaringan komunikasi pribadi kalian semua di ruangan ini. Dan lima menit yang lalu, saya baru saja menandatangani akuisisi atas tiga ladang minyak baru di lepas pantai Afrika yang selama ini menjadi sengketa berdarah antara keluarga Anda dan pesaing Anda."
Suasana di meja itu mendadak hening total. Hanya suara api dari perapian besar yang terdengar berderak. Princess Amira terperangah, jemarinya yang lentik segera memeriksa tablet rahasia di bawah mejanya. Wajahnya yang semula penuh percaya diri mendadak pucat pasi, bibirnya bergetar melihat notifikasi yang masuk.
[Saldo Berjalan: Rp 45.900.000.000.000...] [Laju Pendapatan: Rp 500.000 per detik (Statistik Global)] [Analisis Psikologis: Target mulai merasa terancam. Persentase Dominasi Inang: 78%]
"Anda gila," desis Sir Alistair dengan wajah merah padam. "Anda melakukan manuver agresif di tengah perjamuan damai kami? Ini adalah pelanggaran protokol Sovereign Club! Ini adalah penghinaan bagi kami semua!"
"Ini bukan penghinaan, Alistair. Ini adalah proses kalibrasi posisi," balas Andra dengan nada yang sangat dingin hingga membuat suhu di ruangan itu seolah turun beberapa derajat. "Kalian mengundang saya ke sini untuk mengintimidasi saya, untuk menunjukkan betapa besarnya 'klub' eksklusif kalian. Tapi saya datang ke sini untuk memberi tahu kalian satu kenyataan pahit: saya tidak butuh kursi di meja ini. Saya sanggup membeli seluruh meja ini beserta kastilnya, menyuap tentara di perbatasan, dan mengusir kalian semua jika saya merasa mood saya sedang buruk."
Baron von Rothschild terdiam lama, menatap Andra dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kemarahan yang tertahan dan kekaguman yang terpaksa. Tiba-tiba, ia tertawa. Sebuah tawa pendek yang kering namun mengguncang keheningan. "Luar biasa. Dalam seratus tahun terakhir, belum pernah ada orang di bawah usia lima puluh tahun yang berani bicara seperti itu di depan saya. Anda punya nyali yang luar biasa, Tuan Andra. Tapi apakah Anda punya daya tahan untuk menghadapi badai yang akan kami kirimkan?"
"Mari kita buktikan," jawab Andra singkat. "Sambil kita bicara, saya baru saja menaikkan tawaran saya untuk membeli surat hutang negara dari tiga negara Eropa yang sedang mengalami krisis fiskal. Jika kalian ingin saya berhenti menekan tombol 'beli', maka berikan saya apa yang saya inginkan: Akses penuh ke Proyek 'God Eye'."
Mendengar nama 'God Eye', seluruh orang di ruangan itu tersentak, bahkan ada yang menjatuhkan garpu peraknya. Itu adalah proyek rahasia pengawasan global menggunakan jaringan satelit militer dan AI yang selama ini hanya menjadi mitos urban di kalangan intelijen elit. Sebuah sistem yang bisa melacak siapa saja, di mana saja, hingga ke dalam bunker terdalam sekalipun, secara real-time.
"Bagaimana... bagaimana Anda tahu tentang proyek itu?!" tanya Baron dengan suara yang kini tidak lagi stabil. "Itu adalah rahasia tertinggi yang bahkan tidak diketahui oleh presiden negara-negara adidaya!"
"Uang saya tidak hanya menghasilkan saldo di rekening, Baron. Uang saya membeli telinga dan mata di setiap sudut gelap dunia ini," ucap Andra sambil tersenyum misterius. Sebenarnya, sistem di kepalanya lah yang menyediakan data itu dalam hitungan mikrodetik. "Berikan saya akses, atau besok pagi, saat pasar saham London dan New York dibuka, saya pastikan bank-bank yang kalian kelola akan mengalami serangan likuiditas yang paling mengerikan dalam sejarah modern."
Andra menatap satu per satu wajah mereka, lalu ia teringat sejenak pada sosok Siska dan Erwin. Ia hampir tertawa memikirkan betapa kecilnya masalah yang dulu ia hadapi. Dulu ia menangis karena diputuskan dan dihina sebagai kurir miskin di bawah hujan, kini ia sedang menodongkan senjata finansial ke dahi para pemilik dunia. Penyesalan Siska yang ia lihat di gang sempit tempo hari terasa seperti mimpi buruk dari kehidupan orang lain yang sudah lama mati.
"Waktu kalian sepuluh menit untuk memutuskan," kata Andra sambil melihat jam tangannya. "Setelah itu, setiap detiknya akan memakan biaya satu miliar dolar dari nilai pasar perusahaan kalian."
Andra tahu, babak baru dalam hidupnya sebagai penguasa bayangan dunia baru saja dimulai. Ia bukan lagi sekadar memburu istri dan sahabat pengkhianat; ia sedang memburu takhta dunia yang selama ini disembunyikan dari mata publik. Dan dengan sistem yang terus berdenting di kepalanya, kemenangan bukanlah sebuah kemungkinan, melainkan sebuah kepastian matematis.