"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang tenang di balik kemudi
Baskara membimbing Lara menuju area parkir VVIP yang lebih tenang. Ia membukakan pintu mobil dengan gerakan yang sangat perhatian, memastikan Lara duduk dengan nyaman sebelum ia memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Di dalam mobil, kebisingan festival di luar sana seketika meredup, digantikan oleh suara mesin mobil yang halus dan hembusan AC yang sejuk. Baskara tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia terdiam sejenak, menatap lurus ke depan, lalu perlahan menoleh ke arah Lara.
"Lara," panggilnya dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Lara menoleh, sedikit terkejut dengan nada bicara Baskara yang sangat personal. "Iya, Kak?"
"Apa yang Randy ceritakan tadi... soal saya?" tanya Baskara tepat sasaran. Rupanya insting sang Ketua Panitia ini tidak bisa dibohongi.
Lara menunduk, memainkan jemarinya. "Kak Randy bilang... Kakak sangat marah kemarin saat tahu aku di gudang. Dan Kakak lari mencari aku meskipun kaki Kakak sedang sakit."
Baskara menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit mobil. "Saya tidak suka melihat orang lain terluka karena kecerobohan tim saya. Terlebih jika orang itu adalah kamu, Lara."
Ia kemudian merogoh saku jas almamaternya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru biru tua. Ia meletakkannya di telapak tangan Lara.
"Apa ini, Kak?" tanya Lara ragu.
"Buka saja. Anggap saja ini tanda permintaan maaf saya karena tidak bisa menjagamu dengan lebih baik kemarin, sekaligus apresiasi karena kamu sudah sangat berani berdiri di samping saya di podium tadi," ucap Baskara.
Dengan tangan sedikit gemetar, Lara membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah bros perak berbentuk kelopak bunga lili yang sangat indah dan elegan.
"Ini cantik banget, Kak... tapi aku nggak bisa terima ini. Ini pasti mahal," protes Lara halus.
Baskara menggeleng kecil. "Jangan dilihat dari harganya. Bunga lili melambangkan kemurnian dan kekuatan. Persis seperti kamu yang tetap bisa tersenyum meski baru saja melewati kejadian buruk. Pakai itu besok, saya ingin melihatnya terpasang di almamatermu selama sisa acara PKKMB."
Lara menatap bros itu, lalu menatap Baskara yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara protektif, bangga, dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar senior kepada juniornya.
"Terima kasih banyak, Kak Baskara," bisik Lara dengan wajah yang memerah.
"Sama-sama. Sekarang, mari kita pulang. Orang tuamu pasti sudah menunggu kabar kalau kamu aman di rumah," tutup Baskara sambil mulai melajukan mobilnya membelah jalanan sore yang mulai jingga.
Baskara melirik layar ponsel Lara yang menyala, lalu kembali fokus ke jalanan yang mulai padat oleh kendaraan sore hari. Lara segera mengangkat telepon tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar, masih memegang kotak bros pemberian Baskara di pangkuannya.
"Halo, Pa? Iya, ini Lara sudah di jalan pulang bareng Kak Baskara," ucap Lara pelan.
Suara Papa Lara terdengar terburu-buru di seberang sana, diiringi kebisingan suasana bandara. "Lara, maaf ya, Sayang. Papa sama Mama ternyata harus berangkat sore ini juga. Jadwal penerbangannya dimajukan karena ada pertemuan darurat besok pagi. Supir juga sudah Papa kasih izin pulang kampung sore ini karena istrinya sakit."
Lara tertegun. "Jadi... di rumah nggak ada siapa-siapa, Pa?"
"Iya, Sayang. Maaf banget ya. Tapi Papa sudah titip pesan ke Baskara lewat telepon tadi sebelum kamu angkat. Papa minta tolong banget sama dia buat mastiin kamu aman selama seminggu ini. Kamu jangan takut ya, ada Baskara yang jaga. Kunci rumah ada di tempat biasa, kan? Makan malam nanti beli sama Baskara saja ya."
"I-iya, Pa. Hati-hati di jalan ya. Salam buat Mama," tutup Lara.
Setelah sambungan terputus, suasana di dalam mobil menjadi sangat sunyi. Lara menatap lurus ke depan dengan perasaan bimbang. Mengetahui ia akan sendirian di rumah besar itu selama seminggu membuatnya sedikit merasa was-was, apalagi setelah kejadian di gudang kemarin.
Baskara, yang rupanya sudah mendengar inti percakapan tersebut, menghela napas panjang. Ia memutar kemudinya memasuki area perumahan Lara.
"Kamu dengar apa kata Papa kamu, kan?" tanya Baskara tanpa menoleh. "Jangan berpikir untuk mengunci diri dan tidak makan. Selama seminggu ini, saya akan pastikan kebutuhanmu terpenuhi. Kalau kamu merasa takut sendirian di rumah, saya bisa menunggu di depan sampai kamu tertidur, atau..."
Baskara menggantung kalimatnya, lalu menepikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Lara yang terlihat sepi. Ia mematikan mesin dan menatap Lara dengan serius.
"Atau kamu bisa menginap di rumah Ibu saya. Di sana ada adik perempuan saya dan asisten rumah tangga yang bisa menemanimu. Saya tidak akan membiarkanmu sendirian dengan kondisi mental yang baru saja pulih seperti ini."
Lara terenyuh. Tawaran Baskara bukan sekadar basa-basi; itu adalah bentuk tanggung jawab dan kasih sayang yang nyata. Ia menatap rumahnya yang gelap, lalu kembali menatap Baskara.
"Apa nggak merepotkan, Kak?" tanya Lara ragu.
"Bagi saya, keselamatanmu adalah prioritas, bukan kerepotan," jawab Baskara tegas.