NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

janji eskreamdanLukisan Bersama

Sore itu, udara terasa sedikit lebih sejuk dari biasanya. Awan-awan putih berarak lambat di langit biru, seolah ikut menikmati kedamaian yang mulai menyelimuti rumah kecil kami. Sejak pertemuan dengan Nisa beberapa hari lalu, Balqis tampak jauh lebih ceria. Tawa renyahnya kembali mengisi sudut-sudut ruangan yang dulu sering kali hanya diisi oleh keheningan.

"Ayah, nanti sore aku main ke rumah Nisa boleh tidak?" tanya Balqis sambil membereskan buku gambarnya. Matanya berbinar penuh harap, menatapku dengan pandangan yang sulit kutolak.

Aku terdiam sejenak. Membayangkan Balqis pergi ke rumah orang lain masih membuat dadaku sedikit berdebar. Tapi aku juga tahu, aku tidak bisa terus-menerus mengurungnya di rumah. Dia butuh teman, butuh dunia luar, butuh kebahagiaan masa kecil yang utuh.

"Boleh," jawabku akhirnya dengan senyum tipis. "Tapi jangan terlalu sore, ya. Nanti Ayah jemput."

"Yeay! Terima kasih, Yah!" Balqis melompat gembira, lalu berlari mengambil sepatu kecilnya. "Aku janji pulang sebelum Maghrib!"

Melihat kebahagiaannya, hatiku pun ikut hangat. Ternyata, melepaskan mereka terbang sebentar justru membuat mereka kembali dengan sayap yang lebih kuat.

Sepeninggal Balqis, rumah kembali sunyi. Tapi kali ini, kesunyian itu tidak lagi menyiksa. Aku duduk di teras, membuka laptopku. Layar kosong menatapku, menunggu untuk diisi. Ide-ide untuk bab baru novel "Ayah Balqis" sebenarnya sudah menumpuk di kepala, tapi kadang jari ini masih ragu untuk mengetik.

Namun hari ini, berbeda.

Aku teringat janji es krim tadi pagi.

"Dekat ke hari di mana Ayah bisa belikan Balqis sepatu baru, dan kita bisa traktir Nisa makan es krim."

Kalimat itu menjadi bahan bakarku.

Jari-jariku mulai menari. Aku mengetik tentang seorang ayah yang belajar melepaskan anaknya bermain dengan teman, tentang ketakutan yang berubah menjadi kepercayaan, dan tentang bagaimana cinta seorang ayah tidak selalu berarti melindungi dengan mengekang, tapi juga memberi ruang untuk tumbuh.

Sore semakin larut. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang indah. Tepat saat azan Ashar berkumandang, terdengar suara langkah kaki kecil berlari di halaman.

"Ayah! Aku pulang!"

Balqis muncul di ambang pintu, wajahnya bersinar. Di tangannya, ia memegang sebuah gambar yang dilipat rapi.

"Gimana mainnya? Seru?" tanyaku sambil menyambutnya dengan handuk kecil untuk mengelap keringatnya.

"Seru banget, Yah!" cerita Balqis antusias sambil duduk di pangkuanku. "Rumah Nisa besar, Yah. Tapi nggak sebesar rumah kita yang punya banyak kenangan. Ibu Nisa baik sekali, dia kasih aku jus jeruk. Terus kami gambar bareng lagi!"

Balqis unfolded kertas yang dibawanya. Itu adalah gambar tiga sosok: Balqis, Nisa, dan... seorang pria tinggi besar yang sedang tersenyum.

"Itu siapa, Nak?" tanyaku menunjuk figur pria tersebut.

"Itu Ayah!" jawab Balqis polos. "Kami gambar keluarga kami. Ada aku, ada Nisa, ada Ayah. Kata Nisa, kalau gambarnya lengkap, nanti kita jadi keluarga yang hebat."

Dadaku sesak. Bukan karena sedih, tapi karena haru yang luar biasa.

Di mata Balqis, aku sudah cukup. Aku sudah menjadi keluarga yang utuh baginya. Tidak ada ibu yang hilang, tidak ada kesedihan yang tersisa. Hanya ada aku, ayahnya, yang dicintainya sepenuh hati.

Aku memeluk Balqis erat-erat. "Iya, Nak. Kita keluarga yang hebat. Ayah janji, suatu hari nanti, kita akan benar-benar traktir Nisa makan es krim. Bareng-bareng."

"Janji ya, Yah?"

"Janji."

Pelukan itu terasa seperti energi yang mengisi ulang seluruh kelelahanku. Aku sadar, novel yang aku tulis ini bukan sekadar cerita untuk dibaca orang lain. Ini adalah catatan perjalanan kami. Ini adalah bukti bahwa meski hidup pernah menghantam keras, kami tetap berdiri.

Malam itu, setelah Balqis tertidur dengan gambar barunya di bawah bantal, aku kembali membuka laptop. Bab baru itu hampir selesai. Tinggal beberapa paragraf terakhir tentang harapan yang tumbuh di tengah keterbatasan.

Aku mengetik dengan perasaan yang berbeda. Tidak ada lagi beban berat di pundak. Yang ada hanyalah rasa syukur dan tekad baja.

Bahwa selama Balqis ada di sisiku, dan selama aku masih mampu menulis, maka rezeki dan kebahagiaan pasti akan menemukan jalannya sendiri.

Langit malam telah gelap, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Aku menutup laptopku, menatap layar yang menampilkan kata "Simpan". Bab #28 siap untuk dikirim.

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Besok, ketika bab ini tayang, mungkin hanya segelintir orang yang membacanya. Mungkin hanya beberapa yang memberikan like. Tapi itu tidak masalah.

Yang penting, aku sudah melakukannya.

Aku sudah berjuang hari ini.

Aku sudah menjadi ayah yang terbaik untuk Balqis, dan penulis yang terbaik untuk diriku sendiri.

Terima kasih, Nisa, telah menjadi inspirasi.

Terima kasih, Balqis, telah menjadi alasan Ayah bangkit.

Dan terima kasih, Tuhan, atas setiap detik kehidupan yang masih Kau izinkan aku nikmati.

Aku mematikan lampu teras, lalu masuk ke dalam rumah.

Di kamar sebelah, Balqis tidur dengan senyum terkembang.

Dan di hati saya, ada keyakinan baru yang tumbuh subur:

Masa depan kami memang belum pasti, tapi harapan kami sudah nyata.

Dan itu sudah cukup untuk melangkah esok hari.

Selamat malam, dunia.

Besok, kami akan berjuang lagi.

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!