Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8# Satu pelukan dari papa
Alya memilih pergi dari ruang tamu, dia meninggalkan ke dua orang tuanya yang masih di sana bersama sang kakak. Setelah Aiden dan ke dua orang tua Rega berangkat ke rumah sakit, suasana ruang tamu keluarga Darmawan menjadi sepi dan hening.
Alya tidak mau ikut campur dengan masalah Karin, bukan dia tidak berempati dengan kondisi sang kakak. Terlebih setelah dia mendengar kejadian yang sebenarnya, meskipun Alya tidak suka dengan cara Karin yang membuat Rhea terluka. Tetap saja Karin adalah kakak kandungnya, Alya menyadari semua yang terjadi berasal dari mamanya. Dua kakaknya harus menjadi korban atas keegoisan mama Nirma yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Alya duluan ke kamar ma, pa.” Pamit Alya diangguki papa Andi, Alya berjalan masuk ke dalam ruang keluarga.
Papa Andi berdiri dari tempat duduknya, dia berhenti saat berada tepat di samping Karin yang masih duduk di sofa.
“Papa tunggu di ruang kerja! Kita harus bicara serius, Karin.” Papa Andi bersama dengan mama Nirma meninggalkan Karin yang masih duduk sambil menunduk di ruang tamu, sesekali masih terdengar isak tangis kecil.
Karin hanya mengangguk, dia bahkan tidak berani menatap papa Andi. Karin tahu papa dan mamanya pasti kecewa, tapi dia tidak bisa mengulang waktu. Andai saja bisa, hal pertama yang ingin dia lakukan adalah memeluk sang kakak. Dalam hari kecil Karin, dia merindukan Rhea.
Karin pergi ke kamar mandi lebih dulu sebelum menemui papa dan mamanya, dia ingin mencuci muka agar lebih segar. Setelah itu dia menuju dapur dan mengambil air minum dingin, setidaknya dia harus membasahi tenggorokannya sebelum menghadapi papa dan mamanya.
Drrtt…drrtt
Karin mengambil ponselnya, satu notifikasi pesan masuk tanpa nama muncul pada layar ponselnya.
+62815xxx
“Aku tahu hari ini berat untukmu. Ingatlah kalau mulai hari ini ada aku yang akan berdiri di sisimu, maaf karena baru menemukanmu hari ini. Terimakasih karena kamu mempertahankan anak kita,”
Dia tidak membalas pesan yang Aiden kirim, namun entah kenapa hatinya menghangat setelah membaca pesan yang di kirim Aiden. Dia mengusap sudut matanya yang berair, lantas mengusap perut datarnya.
“Mari kita hadapi dunia ini bersama-sama, nak! Tapi kita harus lebih dulu menghadapi kakek dan nenekmu, kita harus kuat. Kamu tidak pernah salah, nak. Mama dan papa yang membuat kesalahan itu,” monolog Karin, kemudian dia menuju ruang kerja untuk menemui papa dan mamanya.
Alya tersenyum tipis, tanpa Karin tahu sang adik kembali turun ke bawah untuk mengambil minum. Melihat Karin sedang minum dan duduk di kursi yang ada di meja makan, Alya urung untuk ke dapur. Dia tidak ingin ada suasana canggung antara dirinya dan sang kakak.
***
Karin masuk ke dalam ruang kerja papa Andi setelah lebih dulu dia mengetuk pintu, awalnya dia ragu karena sempat mendengar perdebatan papa dan mamanya. Sudah biasa untuknya mendengar papa dan mamanya berdebat tentang masalah yang sama, namun kali ini sepertinya dia harus abai. Karin lelah, lelah dengan semua keegoisan mamanya. Kesempatan ini akan dia gunakan untuk lepas dari pengaruh mama Nirma padanya.
“Pa!” panggilannya sambil berjalan masuk, dia menunduk. Karin tidak sanggup melihat sorot mata kecewa dan sedih dari mata sang papa.
“Duduk!” titah papa Andi dingin.
Karin duduk di hadapan papa dan mamanya, Karin kembali menunduk.
“Kenapa menunduk? Bukankah tadi kamu dengan sangat percaya diri mengatakan suka pada Rega, Karin?” papa Andi tidak lagi meninggikan suaranya seperti saat tadi di ruang tamu.
Namun justru itu yang membuat Karin makin takut, suara papa Andi yang lembut namun menusuk dan penuh ketegasan.
“Karin minta maaf, pa.”
“Angkat wajahmu dan lihat papa, Karin!”
Karin mendongak dan menatap papanya, netranya yang tadi mengembun kembali melelehkan air matanya. Karin kembali melihat kekecewaan dari sorot mata sang papa, sementara mama Nirma hanya bisa terisak dan memalingkan wajahnya ke samping.
“Karin minta maaf ma, pa. Ini semua salah Karin,” ucapnya sedikit terbata.
“Kurang apa mama sama kamu, Rin? Mama menyesal mengijinkanmu liburan kalau jadinya seperti ini,” mama Nirma keceplosan, karena dialah yang memberi Karin ijin untuk liburan ke luar negeri tanpa memberitahu papa Andi lebih dulu.
Saat itu papa Andi sedang ada di luar kota selama dua minggu, dan saat Karin berangkat maupun pulang liburan papa Andi belum pulang dari luar kota.
“Jadi mama yang mengijinkan Karin? Kalau begitu mamalah yang patut di salahkan,” ucap papa Andi membuat mama Nirma tersentak. “Kenapa papa selalu menyalahkan mama? Aku memang tidak pernah ada benarnya di mata kamu, pa. Kamu selalu saja lebih membela Rhea,” mama Nirma tidak terima.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Rhea, ma! Sebenarnya kamu ini paham atau tidak?” suara papa Andi sedikit meninggi. “Ini tentang kamu, tentang Karin. Bukan Rhea ataupun Alya, jangan selalu mengaitkan apapun yang terjadi denganmu atau keluarga kita dengan Rhea. Kamu yang memberi ijin Karin untuk liburan, lalu di mana letak hubungan kamu memberi ijin dengan Rhea? Katakan Nirma!” lanjut papa Andi yang ingin membuat istrinya sadar atas kesalahannya selama ini.
Papa Andi merasa sangat bersalah pada Rhea dan juga Karin, semua masalah yang terjadi pada ke dua putrinya tersebut bermula dari dirinya dan sang istri. Papa Andi menyadari saat tadi istrinya berdebat dengan mama Indah, kurangnya komunikasi anatar dirinya dengan sang istri membuat mereka terus saja mempermasalahkan hal-hal kecil.
Mama Nirma diam seribu Bahasa, dia tidak lagi mendebat suaminya. Karena apa yang papa Andi katakan memang benar, tidak ada hubungannya ijin yang dia berikan dengan Rhea.
Papa Andi kemudian kembali fokus pada masalah Karin, dia menatap putrinya dengan sendu.
“Kemarilah dan duduk di samping papa!” titah papa Andi pada Karin.
Karin berdiri dan pindah duduk tepat di sisi papanya, papa Andi merubah posisi duduknya serong menghadap Karin. Pria paruh baya tersebut merentangkan ke dua tangannya pada putri tercintanya tersebut, melihat itu Karin langsung menghambur ke dalam pelukan sang papa.
Karin tergugu. “Ma-maafin Karin, pa. Karin salah, ha-harusnya Karin nurut sama papa. Karin salah pa,” ucap Karin berulang kali.
Papa Andi mengusap-usap lembut kepala putrinya, dia meng3cup puncak kepala Karin. “Kita semua salah, nak! Papa, mama dan kamu. Terutama papa dan mama, karena semua ini berawal dari kami.” Papa Andi mengurai pelukannya pada Karin, dia menangkup wajah putrinya tersebut.
“Kami yang membuatmu tertekan, karena keegoisan papa dan mama kamu membenci kakakmu Rhea. Padahal dia tidak tahu apapun,”
Karin mengangguk. “Mungkin ini hukuman untuk Karin, pa. Karin sudah menyakiti mbak Rhea,”
“Datangi kakakmu dan minta maaf padanya, nak! Jangan biarkan apa yang sudah terjalin diantara kalian hancur begitu saja,” ucap papa Andi. “Tapi jangan senang dulu, Karin. Minta Aiden datang kemari setelah kondisi Rega membaik,” imbuhnya.
Malam itu satu pelukan dari papa Andi membuat Karin lega karena papa Andi dengan tangan terbuka meraihnya, meskipun mama Nirma masih belum menerima sepenuhnya kehamilan Karin.