NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Sebelum Sah

“Raka Anugrah Pratama, aku nikahkan engkau—”

Aku melempar bantal guling ke arah Kania sebelum ucapannya selesai. Ia sigap menghindar, lalu terkekeh sambil menatap ekspresiku. Beberapa detik kemudian, ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.

“Kalau mau jadi manten, nggak boleh galak, Bang,” ucapnya sambil menyandarkan kepala di dadaku.

“Apa-apaan sih kamu, Dek,” jawabku jengkel.

Di mataku, Kania tetap adik kecilku. Tak disangka, tahun ini ia sudah menjadi seorang mahasiswi.

“Bang, nanya nih. Gimana rasanya mau jadi suami orang?”

Wajahnya datar, benar-benar seperti anak polos. Tapi aku tahu, otaknya tak sedangkal yang terlihat.

“Kamu nanya atau ngejek Abang, Nia?”

Ia menyipitkan mata, lalu menoleh ke arahku, melengkungkan bibir tipisnya.

“Bang, kira-kira apa ya yang abang pikirkan sekarang? Kak Ningsih atau Laras?”

Ucapan Kania nyaris membuat konsentrasiku terhenti. Ningsih? Bahkan aku sengaja memblokir nomornya, agar ia tak terus mengusik pikiranku. Tapi apakah ini adil buatnya? Sikapnya keterlaluan karena ia sangat mencintaiku.

Ini rasa bersalah atau hanya kasihan?

“Ningsih, maafkan aku. Aku memilih wanita pilihan mamaku.”

Kania bersajak seperti seorang penyair yang sedang tampil di gedung teater.

Aku tahu itu sebuah kesengajaan. Ia sengaja mengejekku.

“Masih ada keperluan di sini?” balasku cukup tajam.

Kania membulatkan matanya, menelan air ludah dengan kasar.

Tapi detik berikutnya ia membuat gebrakan besar. Aku benar-benar nggak bisa berbuat banyak dengan tingkah konyolnya.

Ia meletakkan kupingnya di dadaku, seperti seorang dokter yang sedang memeriksa detak jantung pasien. Ia memang sedang kuliah di jurusan keperawatan.

“Bang, dari bunyi denyut jantungnya, bisa diprediksi kalau Abang sedang mengidap kelainan cinta?”

Kemudian ia terkekeh. Aku hanya melirik sekilas, malas meladeni tingkahnya yang tak masuk akal.

“Kalau dalam ilmu medis, ini harus segera diobati. Kalau tidak, bisa menyebabkan kegalauan,” lanjutnya.

Aku yang berusaha diam tak tahan, ternyata terkekeh juga. Kukusal rambutnya hingga berantakan.

“Raka, Kania!” ucap mama lembut.

Kami yang sedang bercanda terhenti mendadak.

Kania berlari ke arah Mama dengan wajah cemberut, minta perlindungan.

“Nanti siang ajak Kania untuk menemani kamu ke rumah Laras.”

Aku melongo menatap Mama. Apalagi ini pikirku. Kenapa harus ribet kalau hanya sekadar ingin menikah?

“Kenapa nggak langsung ijab aja, Ma? Selesai, aku bisa balik ke Jakarta,” balasku, melempar pandangan ke arah jendela kamar.

“Ye, maunya langsung kawin aja. Sabar, Bro. Lewati dulu prosesnya,” ejek Kania yang sedang memeluk Mama.

“Ada apa sih, Ma? Aku ke sana?” sungutku berat.

“Raka, acara wedding-nya besok di rumah Laras. Kamu ke tempat Laras sekalian lihat persiapan akad,”

Mama menyelaku. Mukanya mulai kesal.

“Nggak perlu pesta-pesta segala. Setelah akad ya sudah.”

“Nggak sabaran amat sih, Bang. Sudah akad, resepsi dulu, habis resepsi menjalang mamak lagi. Ini adat, bukan kehidupan metropolitan,” timpal Kania uring-uringan. Ia sepertinya senang melihat aku makin terpojok.

“Untung aja Mama nggak ada pesta di rumah. Kalau nggak, huft…”

Kania memegang kepalanya sambil mengernyitkan dahi menolehku. Mama meliriknya tajam. Ia tersenyum pelan, menurunkan ekspresi wajahnya.

“Sudah, sekarang kalian beres-beres. Lebih baik berangkat sebelum kesorean.”

Setelah ucapan itu, Mama meninggalkan aku sendirian di kamar.

Aku beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh, berharap setelah mengguyurkan air dingin ke tubuhku, pikiranku bisa agak rileks.

Seperempat jam aku berendam di bathtub. Namun rasa bersalah seakan terus mengejarku. Kuraih ponsel yang terletak di meja kamar. Kuhidupkan layar ponsel yang sejak tadi malam mati.

Baru saja ponsel itu aktif, notifikasi pesan masuk tak berhenti. Sebuah panggilan dari Dimas membuatku tergerak untuk mengangkatnya.

“Maaf mengganggu, Pak,” ucap Dimas agak berat.

“Ada apa, Dimas?” balasku datar.

“Ningsih terus saja ke kantor beberapa hari ini, Pak.”

Suara Dimas terdengar cemas.

“Apa yang ia lakukan di kantor?” Aku memijat keningku. Sosok Ningsih kembali muncul di ingatanku.

“Minta alamat Bapak yang di Pariaman.”

“Apa? Gila!” balasku keceplosan.

“Iya, Pak. Sepertinya dia nekat. Bahkan kemarin ia bikin rumor di kantor kalau Bapak sudah menidurinya.”

“Bullshit!” lontarku cukup keras. Aku meninju meja di depanku. Kali ini perbuatan Ningsih benar-benar sudah di luar batas.

“Maaf, Pak.”

Kudengar suara Dimas ketakutan. Tak lagi konsentrasi, aku mematikan sambungan itu, melemparkan ponsel acak ke kasur.

Aku mondar-mandir tak tenang. Jika aku menelepon Ningsih sekarang, pasti ia akan merasa menang. Rengekannya hanya akan membuatku semakin pusing.

“Bang, sudah selesai?” terdengar suara Kania dari depan pintu.

Aku bergegas mengenakan pakaian, lalu buru-buru membukakan pintu.

“Hmm, aroma parfumnya bikin Kak Laras klepek-klepek,” seloroh Kania, hidungnya mengendus-endus bajuku.

“Sudah, nggak usah banyak ulah,” balasku, mendorong tubuhnya agar menjauh.

“Is, awas ya. Nanti Kania bongkar rahasia Abang sama Kak Laras,” ucapnya mengancam.

“Rahasia apaan?” balasku menyela.

“Ye elah, rahasia tentang Ningsih, sang pujaan hati Raka a—”

Aku menyumpal mulutnya dengan tanganku. Mulut Kania benar-benar tak bisa diam. Saat ia menyebut nama Ningsih, entah kenapa tiba-tiba saja ada amarah yang tak terjelaskan.

“Is, kenapa sih, Bang. Suka-suka akulah ngomongnya,” repetnya sewot.

“Mau ikut, nggak?” balasku mengancam.

Ia bersungut-sungut, mulutnya bergumam tapi tak bersuara.

“Dah, berangkat. Dengan satu syarat. Nona Kania yang terhormat berhenti membicarakan Ningsih dan stop ceramahi Abang. Oke?”

Aku mendorong keningnya dengan telunjukku, tapi ia malah membalas memukul lenganku.

“Kamu apa Abang yang nyetir?”

Kania tak segera menjawab. Ia diam seribu bahasa.

“Kenapa diam, Dek?” tegurku lembut.

“Nanti Kania merepet, Abang tersinggung?” balasnya enteng. Kalau sudah begini, lebih baik dia diam saja.

Aku memacu kendaraan dengan kecepatan lumayan tinggi. Sepanjang perjalanan hanya musik MP3 yang menemani kami. Kania benar-benar tak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Hmz, ternyata nggak mendengarkan ocehan Kania membuat Abang sepi,” godaku, meliriknya sekilas.

Namun ia tetap tak bergeming.

“Kira-kira habis Abang menikah, Kania yang menyusul?” pancingku agar ia membuka suara.

Ia menatapku. Matanya melotot tajam—bukan seram, tapi lebih ke lucu dengan ekspresinya.

“Baru kuliah satu semester, nikah apaan. Pacar juga nggak punya. Bedalah sama pengusaha muda. Pacar ada, eh calon istri juga ada,” balasnya.

Aku hanya menarik napas, tak ingin berdebat. Tetap saja aku kalah. Ya sudah, kali ini Kania menang.

Setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan. Beberapa kali aku dan Kania salah jalan karena kompas penunjuk arah agak eror. Ya Kania, siapa lagi.

Hanya dia dan Mama yang beberapa kali ke rumah Laras. Aku baru kali ini ke rumahnya.

“Akhirnya sampai juga. Sopir nggak tahu alamat ya kayak ginilah,” oceh Kania, mendelik ke arahku.

“Eh, bocil. Kamu yang jadi petunjuk jalan dari tadi. Siapa yang ngajak mutar-mutar?” rutukku melihat ekspresinya.

Dia terkekeh.

Kami berhenti di sebuah rumah mewah bertingkat dua dengan arsitektur cukup apik. Dan boleh dibilang, sangat ramai siang ini. Beberapa tenda juga sudah tampak terpasang.

Jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Tubuhku memanas ketika seorang perempuan paruh baya menyambut hangat kedatangan kami.

“Eh, Kania?” sapanya langsung memeluk adikku.

Aku terasa diabaikan, padahal ini acaraku.

“Raka, ayo masuk. Laras ada di dalam,” ucapnya lembut.

Akhirnya aku dilihat juga, batinku.

Tampaknya ibu-ibu sangat sibuk sekali. Hanya menikah, tapi kenapa harus dibikin sulit? Itu logikaku. Menikah yang penting sah dan sakralnya.

Kami diantar masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu kulihat Laras sudah berdiri menunggu kami. Aku curiga Kania pasti sudah chat-an sama calon kakak iparnya.

Laras menatapku—hanya sekian detik, tak lama—karena ia juga tampak malu-malu. Pipinya memerah saat mata kami sama-sama beradu pandang.

“Duduk, Bang Raka, Kania,” ucapnya lembut.

Ingatanku kepada Ningsih kembali terusik. Entahlah, aku juga bimbang dengan diriku sendiri. Aku yang mati-matian menolak perjodohan ini. Tapi jujur, saat dekat Laras, ada sesuatu yang seakan menarikku untuk mendekat.

“Ada yang nggak sabaran pengen cepat ketemu kakak tadi?” ucap Kania seenaknya.

Membuat aku malu ke ubun-ubun. Aku tak berani membuka mulut, hanya menggigit bibir yang terasa membeku.

Laras tersenyum makin canggung. Tangannya saling bertaut di depan perut, jemarinya bergerak-gerak kecil seperti mencari pegangan.

“Kania…” tegurnya lirih, tapi senyumnya justru mengkhianati rasa malunya.

“Loh, salah ya?” Kania mengedikkan bahu polos. “Dari tadi Abang Raka napasnya nggak beraturan. Kania kan anak keperawatan, peka.”

Aku berdeham pelan, pura-pura sibuk meluruskan lengan baju. “Kamu kebanyakan nonton drakor, Dek.”

“Enggak kok,” sahutnya santai. “Ini observasi ilmiah.”

Laras menutup mulutnya, menahan tawa.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak semua keribetan ini dimulai, dadaku terasa sedikit… lebih ringan.

Aku menyumpal mulutnya dengan tangan. Mulutnya benar-benar tak bisa diam.

Saat Kania menyebut nama Ningsih entah kenapa, tiba-tiba saja ada emosi yang bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!