Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang dan Sandiwara Panas
Pagi itu, atmosfer di lantai 50 terasa sangat mencekam, bahkan lebih dingin dari biasanya. Sebuah mobil mewah yang bukan milik keluarga Dirgantara terparkir di depan lobi, dan seorang wanita dengan langkah angkuh keluar dari sana. Ia adalah Nabila, wanita dari masa lalu Arsel yang telah menggoreskan luka terdalam di hati sang CEO.
Gisella, yang sedang fokus merapikan berkas di meja sekretarisnya, mendongak saat mencium aroma parfum menyengat yang sangat kuat. Nabila melangkah melewati Gisel tanpa permisi, langsung menuju pintu ruangan Arsel.
"Eh, maaf Mbak! Harus buat janji dulu kalau mau ketemu Pak Arsel!" seru Gisel sambil berdiri.
"Minggir. Kamu nggak tahu siapa saya? Saya jauh lebih penting dari sekadar janji temu," sahut Nabila sinis, lalu membanting pintu ruangan Arsel.
Gisel tertegun. Rasa ceriwisnya mulai berontak. Ia mendekat ke arah pintu, mencoba mendengarkan apa yang terjadi di dalam melalui celah kecil yang tidak tertutup rapat.
"Mau apa lagi kamu ke sini, Nabila?" suara Arsel terdengar berat dan sangat dingin.
"Santai, Arsel. Aku cuma mau kasih ini," terdengar suara kertas diletakkan di meja. "Minggu depan aku menikah dengan Dani. Aku harap kamu datang, ya? Supaya kamu bisa lihat kalau aku sudah sangat bahagia, nggak kayak kamu yang masih terjebak di masa lalu, gila kerja, dan... kudengar kamu belum punya siapa-siapa?"
Nabila tertawa kecil yang terdengar sangat merendahkan. "Move on, Arsel. Jangan jadi pria menyedihkan yang habiskan hidup sendirian cuma karena belum bisa lupakan aku. Apa nggak ada wanita yang mau sama kamu? Atau gosip itu benar, kalau kamu memang nggak normal?"
Di luar, tangan Gisel mengepal kuat. Dadanya sesak mendengar bosnya dihina sedemikian rupa oleh wanita yang sudah menyelingkuhinya. Tanpa pikir panjang, sisi agresif Gisel yang dipicu oleh rasa tidak terima langsung mengambil alih.
*Brak!*
Gisel mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ia melangkah masuk dengan gaya anggun namun tegas, wajahnya dihiasi senyum penuh kemenangan.
"Aduh, maaf mengganggu obrolannya, Sayang," ucap Gisel sambil berjalan santai menuju Arsel.
Arsel dan Nabila menoleh serentak. Arsel mengerutkan kening, sementara Nabila menatap Gisel dengan pandangan meremehkan. "Siapa kamu? Sekretaris?"
Gisel mengabaikan pertanyaan Nabila. Ia berdiri di samping Arsel, meletakkan tangannya di bahu pria itu dengan mesra. " Mas Arsel pasti datang ke pernikahanmu, Mbak. Dan tentu saja, dia datang dengan saya sebagai kekasihnya," ucap Gisel dengan penekanan tajam pada kata kekasih.
Nabila tertawa terpingkal-pingkal. "Kekasih? Jangan bercanda. Arsel nggak akan pernah pilih gadis sembarangan kayak kamu jadi pacarnya. Paling kamu cuma disewa buat akting, kan?"
"Nggak percaya?" tantang Gisel. Matanya berkilat nakal. "Mbak butuh bukti kalau kami beneran sepasang kekasih?"
Sebelum Arsel sempat memprotes atau Nabila sempat menjawab, Gisel bergerak cepat. Ia meraih lengan Arsel dan mendorong tubuh pria besar itu hingga duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan.
Arsel yang terkejut hanya bisa mengikuti tarikan Gisel. Belum sempat ia bicara, Gisel langsung naik dan duduk di pangkuan Arsel, melingkarkan lengannya di leher sang bos.
*Cup!*
Gisel langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Arsel.
Arsel membelalak, tubuhnya membeku. Namun, hanya dalam hitungan detik, instingnya sebagai pria normal mengambil alih. Aroma vanila dari tubuh Gisel dan kelembutan bibir gadis itu meruntuhkan pertahanannya. Arsel yang tadinya kaku, tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang ramping Gisel, menarik tubuh "gitar Spanyol" itu agar lebih rapat ke dadanya.
Arsel mulai membalas ciuman itu dengan intensitas yang mengejutkan, seolah meluapkan segala emosi dan rasa haus yang selama ini ia kunci rapat.
Nabila yang menyaksikan pemandangan panas itu di depan matanya langsung memucat. Rasa bangganya hancur seketika. Ia merasa kalah telak. Tanpa sepatah kata pun, Nabila menyambar tasnya dan keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu dengan penuh amarah.
Gisel, yang melirik dari sudut matanya dan menyadari Nabila sudah pergi, langsung melepaskan ciumannya. Ia berdiri dengan napas yang sedikit memburu dan wajah semerah tomat.
Arsel terpaku di sofa. Napasnya tidak beraturan. Ia segera pura-pura sibuk merapikan kemejanya yang sedikit berantakan dan membetulkan letak dasinya untuk menutupi rasa gugup dan "gejolak" yang masih tersisa di tubuhnya.
"Maaf, Pak Arsel... saya... saya tadi cuma refleks karena nggak tahan lihat Bapak dihina sama wanita itu," ucap Gisel sambil menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang gila.
Arsel hanya diam, masih berusaha menetralisir suasana hatinya yang kacau. Ia tidak marah, namun ia juga tidak tahu harus berkata apa.
Melihat Arsel yang diam membatu dengan wajah kaku namun telinga yang memerah, sifat jahil Gisel kembali muncul. Ia menyeka bibirnya dengan ibu jari, lalu menatap Arsel dengan tatapan mengejek.
"Wah, ternyata... Pak Arsel jago juga ya dalam hal ciuman," goda Gisel sambil terkikik pelan. "Saya kira Bapak beneran robot yang nggak punya perasaan, ternyata Bapak... cukup berpengalaman."
Arsel mendongak, menatap Gisel dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. "Keluar dari ruangan saya, Gisella. Sekarang."
"Siap, Bos!" Gisel memberikan hormat dengan ceria, lalu melangkah keluar dengan gaya kemenangan.
Di dalam ruangan, Arsel menyandarkan punggungnya ke sofa, menutup matanya rapat-rapat. Sentuhan bibir Gisel masih terasa nyata. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arsel merasa hidup dan sekaligus sangat terancam oleh kehadiran satu gadis bernama Gisella.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏