"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7.Bermalam di rumah gadis misterius.
Malam semakin larut. Suasana di dalam rumah kayu itu kini terasa jauh lebih hening dan mencekam dibandingkan biasanya. Angin malam yang berhembus pelan melalui celah-celah jendela seolah membawa bisikan-bisikan tak kasat mata.
Rian tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur tamu yang disediakan Salsa, selimut ditarik naik sampai ke dada, matanya terus waspada mengawasi setiap sudut ruangan yang gelap.
Bayangan kejadian tadi di villa terus berputar di kepalanya. Teriakan Noni, angin maut yang menyerang Pak Budi, dan yang paling membuat bulu kuduknya meremang... saat Salsa berbicara dan memarahi ruang kosong seolah ada orang lain di sana.
'Gila... cewek itu benar-benar bisa melihat mereka. Dia normal di depan mata, tapi dunianya beda sama aku,' batin Rian gelisah.
Sebagai polisi, ia terlatih menghadapi penjahat, senjata api, dan bahaya fisik. Tapi menghadapi dunia lain, hantu, dan hal yang tidak bisa dijelaskan logika? Itu di luar kemampuannya. Jantungnya berdegup kencang setiap kali mendengar suara atap rumah berdecit atau suara jangkrik yang tiba-tiba berhenti berbunyi.
"Aaaahhh... susah juga nih tidurnya," gerutunya pelan sambil mengacak rambutnya yang berantakan. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar sebentar mencari udara segar atau minum air, berharap rasa kantuk datang.
Di ruang tengah, ternyata lampu kecil masih menyala redup.
Salsa baru saja keluar dari dapur membawa segelas air putih. Ia terkejut melihat Rian yang tampak gelisah berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan.
"Lho? Paman Rian? Belum tidur?" tanya Salsa sambil meneguk airnya.
Rian tersentak, lalu buru-buru memasang wajah sesantai mungkin, meski matanya terlihat merah dan lelah.
"Eh... eh iya, Sal. Aku... aku lagi ngerasa kurang enak badan dikit. Terus juga... ya gitu deh, tidur di tempat asing tuh rasanya aneh. Kurang nyaman gitu," jawab Rian berbohong mulus. Ia malu mengakui kalau sebenarnya dia ketakutan setengah mati sendirian di kamar.
Salsa mengangguk-angguk mengerti. Ia lalu duduk di bangku panjang kayu jati yang ada di ruang tengah itu, menepuk-nepuk bagian kosong di sebelahnya.
"Ya sudah, sini duduk dulu aja. Daripada jalan terus nanti pusing," tawar Salsa ramah.
Rian menghela napas lalu duduk di ujung bangku, agak menjaga jarak.
Suasana hening untuk beberapa saat. Hanya terdengar suara desiran angin dan jangkrik di luar.
"Paman..." Salsa membuka suara pelan.
"Hmm?"
"Sebenarnya... aku boleh nanya nggak?"
"Tanya apa?"
"Tentang calon suamiku itu..." Salsa menatap lurus ke depan, wajahnya terlihat serius. "Kakek cuma bilang dia cucu keluarga Wijaya, dan dia seorang polisi. Itu aja. Aku bahkan nggak pernah lihat fotonya sama sekali."
Rian menelan ludah. 'Oh, jadi dia lagi bahas gue nih.'
"Terus kenapa?" tanya Rian pura-pura tidak tahu.
"Aku cuma penasaran aja. Dia orangnya gimana ya? Baik nggak? Galak nggak? Soalnya kan kita bakal hidup bareng selamanya," ucap Salsa jujur. Ia lalu menoleh menatap Rian dari samping, menatap seragam dan postur tubuhnya.
"Paman kan bawahan atau rekan kerja dia ya di kantor? Atau mungkin saudara jauhnya? Soalnya Paman juga polisi kan? Bisa ceritain dikit nggak gimana sifat asli dia?"
Pertanyaan itu membuat Rian terdiam. Ia menatap wajah polos Salsa yang penuh tanda tanya. Hati kecilnya bergumam.
'Bilang nggak ya kalo gue ini orangnya? Tapi... gimana caranya? Dia kan bisa lihat hantu. Apa aku nyaman hidup sama cewek yang tiap hari ngobrol sama tembok? Apa nanti aku malah sering ketakutan sendiri di rumah?'
Rian menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk menceritakan tentang dirinya, tapi tanpa mengungkapkan identitas aslinya sebagai sang calon suami. Ia ingin menguji perasaan Salsa dan juga dirinya sendiri.
"Baiklah... kalau begitu, aku cerita ya. Soal...cucu keluarga Wijaya itu," mulai Rian pelan.
Mata Salsa langsung berbinar, ia mendekatkan sedikit tubuhnya, siap mendengarkan dengan antusias.
"Dia itu... orangnya tegas, disiplin, dan bertanggung jawab banget. Karena dia pemimpin di kantor, jadi dia kelihatannya galak dan dingin. Tapi sebenernya... dia orang yang baik. Dia berani ngorbanin diri buat nglindungin orang lain," cerita Rian sambil menunjuk kepalanya sendiri yang masih ada bekas lukanya.
"Wah... Sepertinya dia pria hebat ya," komentar Salsa.
"Tapi..." Rian ragu sejenak, lalu melanjutkan, "Dia itu orangnya sangat logis. Dia nggak percaya sama hal-hal yang nggak bisa dilihat mata, apalagi yang berbau mistis, hantu-hantu gitu. Dia malah agak... sensitif dan takut kalau bahas itu."
Salsa terkekeh pelan. "Halah, sama kayak Paman dong! Tadi di villa juga gemeteran kan?"
Rian tersipu malu. "Eh, bukan! Aku itu waspada! Bukan takut!"
"Yeee... alasan aja. Udah deh, gak apa-apa kok. Semua orang juga punya rasa takut," Salsa tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. Senyum itu tulus dan hangat, membuat suasana tegang di sekitar mereka perlahan mencair.
Malam itu, mereka akhirnya larut dalam obrolan panjang. Rian menceritakan bagaimana kehidupannya sebagai perwira polisi, tekanan pekerjaannya, dan harapannya memiliki keluarga yang tenang. Salsa juga menceritakan bagaimana hidupnya bersama Kakek Tio, bagaimana ia belajar mandiri, dan bagaimana ia berdamai dengan kemampuan spesialnya itu.
Mereka saling bertukar cerita, tertawa kecil, dan berbagi keluh kesah. Jarak di antara mereka yang tadinya terasa jauh dan kaku, perlahan semakin dekat. Rian menyadari bahwa di balik kemampuan anehnya, Salsa adalah gadis yang baik, kuat, dan sangat menyenangkan untuk diajak bicara.
Tanpa mereka sadari, rasa kantuk akhirnya mulai menyerang.
Obrolan mereka perlahan meredup. Mata Salsa terasa berat. Kepalanya yang lelah perlahan miring ke samping, dan tanpa sadar bersandar di bahu kokoh Rian.
Rian tersentak sedikit, tapi ia tidak menggeser tubuhnya. Ia justru menahan napas, membiarkan gadis itu tidur nyenyak di bahunya. Menatap wajah damai Salsa yang begitu dekat, hati Rian terasa menghangat. Rasa takut dan ragu tadi perlahan berganti dengan rasa sayang yang aneh.
Perlahan, kepala Rian juga menunduk, menyandar di kepala Salsa. Di bawah cahaya lampu yang remang-remang, mereka berdua tertidur pulas dalam posisi duduk, menikmati kedamaian malam terakhir di rumah itu.
KUKURUYUUUUUUUU!!!
KUKURUYUUUUUUUU!!!
Suara kokok ayam jantan terdengar sangat nyaring dan bersemangat, menandakan matahari mulai menampakkan sinarnya di timur. Langit berubah warna menjadi jingga kebiruan.
Salsa perlahan membuka matanya. Ia merasa hangat dan nyaman. Baru sadar kalau kepalanya ada di bahu Rian, dan tangan pria itu bahkan melingkar pelan di pinggangnya seolah takut dia jatuh.
Wajahnya memerah. Ia berusaha bangun pelan-pelan, berhati-hati agar tidak membangunkan Rian yang masih terlelap dengan sangat pulas. Wajah tegas dan galak itu kini terlihat begitu polos dan lelah saat tidur.
"Makasih ya, Paman..." bisik Salsa pelan.
Ia berdiri, meregangkan tubuhnya. Pagi ini adalah hari terakhirnya di rumah ini. Hari di mana ia harus mengubur kenangan bersama Kakek Tio, dan melangkah pergi menuju kehidupan baru yang penuh misteri bersama keluarga Wijaya.
Salsa berjalan ke halaman depan, menghirup udara pagi yang segar dan dingin.
"Siap atau tidak, aku harus pergi. Ayo Salsa... tunjukkan kalau kamu bukan beban. Kamu bisa hidup bahagia," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Ia menatap surat wasiat dan cincin yang ditaruh di meja. Petualangan baru akan segera dimulai.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍