Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - MHB
Langit Jakarta seolah tumpah sore itu. Hujan turun dengan intensitas yang tidak masuk akal, mengubah jalanan menjadi sungai macet yang menyesakkan. Maya terjebak di tengah kemacetan selama tiga jam, dengan pendingin kabin mobil yang terasa seperti es menusuk tulang. Saat akhirnya ia sampai di lobi apartemen, payung kecilnya tak cukup kuat melawan angin kencang. Ia sampai di depan pintu unitnya dengan keadaan basah kuyup, menggigil, dan kepala yang berdenyut hebat.
"Sial," umpatnya lirih, tangannya gemetar saat menekan kode akses pintu.
Begitu pintu terbuka, hangatnya suhu ruangan menyambutnya, namun itu justru membuat tubuh Maya bereaksi lebih ekstrem. Ia merasa dunia berputar. Ia melepaskan blazer basahnya, melangkah lunglai menuju sofa ruang tamu. Ia ingin mencapai kamarnya, ingin mandi air hangat, tapi kakinya terasa seperti jeli.
Maya jatuh terduduk di sofa. Pandangannya mengabur. Ia memejamkan mata, berharap rasa pusing ini hanya sementara. Namun, suhu tubuhnya meningkat drastis dalam hitungan menit. Rasa dingin yang tadi menyerang berganti dengan sensasi terbakar yang luar biasa di balik kulitnya.
"Kak? Baru pulang?"
Suara Arka terdengar dari arah dapur. Tak lama, langkah kaki mendekat. Maya ingin menjawab, ingin berkata "Jangan mendekat, aku basah," tapi lidahnya terasa kelu.
"Astaga, Kak! Kamu basah kuyup!" Arka segera menghampiri, wajahnya yang tadi ceria langsung berubah tegang. Ia menyentuh dahi Maya dan refleks menarik tangannya kembali. "Panas banget! Kak, kamu demam tinggi!"
Maya mencoba membuka mata, menatap Arka dengan sayu. "Aku... aku oke. Cuma butuh... istirahat sebentar..."
"Oke apanya? Tubuhmu seperti oven!" Arka tanpa ragu menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Maya, mengangkatnya dalam satu gerakan tegas.
"Arka... turunkan... aturan nomor enam..." gumam Maya lemah, mencoba mengingatkan tentang larangan bersentuhan fisik.
"Persetan dengan aturan nomor enam, Maya. Kamu mau pingsan," balas Arka pendek. Suaranya tidak lagi bernada main-main. Ada otoritas yang asing di sana, sesuatu yang membuat Maya terdiam dan membiarkan dirinya dibawa masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Selama beberapa jam berikutnya, Maya berada dalam fase antara sadar dan tidak. Ia merasakan Arka dengan cekatan mengganti pakaiannya yang basah dengan kaus oblong besar yang kering (Arka melakukannya dengan mata terpejam dan penuh hormat, hanya memastikan Maya tidak kedinginan). Ia merasakan handuk hangat menyapu wajah dan lehernya, serta kain kompres yang diletakkan dengan lembut di dahinya.
Arka tidak berhenti bergerak. Maya mendengar suara samar Arka menelepon dokter pribadi keluarganya, suara kurir obat yang datang di tengah malam, dan bunyi denting sendok yang mengaduk bubur.
Setiap kali Maya mengerang karena menggigil, Arka ada di sana. Pemuda itu duduk di kursi di samping tempat tidur, menggenggam tangan Maya yang panas, membisikkan kata-kata penenang yang entah kenapa terdengar sangat meyakinkan.
"Minum dulu, Kak. Sedikit saja," bisik Arka sambil membantu Maya duduk bersandar.
Maya meminum obat dan beberapa sendok bubur encer yang disuapkan Arka dengan sangat telaten. Dalam remang lampu tidur, Maya menatap wajah suaminya. Tidak ada gawai di tangan Arka. Tidak ada tawa nakal. Yang ada hanyalah raut wajah yang sangat fokus dan penuh kekhawatiran. Garis wajah Arka tampak lebih tegas, lebih dewasa.
Untuk pertama kalinya, Maya tidak melihat "adik tingkat" yang sering ia hukum. Ia melihat seorang pria yang sedang menjaga dunianya dengan penuh tanggung jawab.
Sudut Pandang Arka: Dialog Batin dan Bisikan Malam
Arka mengganti air kompres di baskom kecil. Ia menatap Maya yang mulai tertidur pulas setelah obatnya bekerja. Ia duduk kembali, menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang mulai terasa keras, namun ia tak berniat pindah ke sofa, apalagi ke kamarnya.
"Kamu tuh ya, Kak..." bisik Arka pelan, menatap wajah istrinya yang masih kemerahan karena demam. "Sok kuatnya nggak pernah hilang. Sudah tahu hujan badai, kenapa masih nekat? Memangnya kantor itu nggak bisa ditinggal sehari saja?"
Arka menghela napas, merapikan anak rambut yang menempel di dahi Maya.
"Dulu di kampus, kamu teriak-teriak menghukumku karena aku telat masuk barisan. Kamu bilang 'Disiplin itu soal nyawa, Arka!'. Sekarang lihat dirimu sendiri. Kamu nggak disiplin menjaga nyawamu sendiri."
Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang getir namun penuh kasih.
"Kamu selalu bilang aku 'bocah'. Kamu bilang aku belum mapan, belum tahu cara jaga rumah tangga. Tapi malam ini, aku yang menjagamu, kan? Aku yang memastikan napasmu tetap teratur. Aku yang memastikan kamu nggak sendirian di kegelapan yang paling kamu takuti."
Arka membenarkan selimut Maya hingga sebatas dada.
"Aku tahu kamu benci perjodohan ini. Aku tahu kamu merasa terhina punya suami sepertiku. Tapi jujur, Kak... melihatmu rapuh begini, aku malah makin sadar kalau aku nggak akan pernah bisa membiarkanmu sendirian. Aku bukan cuma mau jadi suamimu di atas kertas. Aku mau jadi orang pertama yang kamu cari saat duniamu terasa mau runtuh."
Ia menggenggam tangan Maya, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Cepat sembuh, Senior-ku yang galak. Besok pagi, kalau kamu sudah bangun dan marah-marah lagi karena aku melanggar 'aturan kamar', aku nggak akan keberatan. Asalkan kamu sudah sehat."
Pagi harinya, cahaya matahari mulai menyeruak masuk melalui celah gorden. Maya membuka matanya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Kepalanya tak lagi berdenyut, dan suhu tubuhnya sudah normal.
Hal pertama yang ia lihat adalah Arka.
Pemuda itu tertidur dengan posisi duduk di kursi samping tempat tidurnya. Kepalanya terkulai ke samping, dan tangannya masih memegang ujung handuk kompres. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, tanda bahwa ia benar-benar terjaga sepanjang malam.
Maya terdiam, memperhatikan wajah tidur Arka. Tak ada lagi kesan menyebalkan. Yang ada hanya ketulusan yang membekas di setiap sudut ruangan ini. Ia teringat kembali semua perlakuan lembut Arka semalam—bagaimana pemuda itu menyuapinya, mengompresnya, dan menjaganya tanpa mengeluh sedikit pun.
Tembok es di hati Maya retak sedikit lagi. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk menilai Arka dari angka usia, sampai ia lupa bahwa kedewasaan bukan soal siapa yang lebih dulu lahir, melainkan siapa yang paling bisa diandalkan saat badai datang.
Maya mengulurkan tangannya, ragu-sejenak, lalu dengan lembut mengusap rambut Arka.
"Terima kasih... Arka," bisiknya tulus.
Arka sedikit mengerang dalam tidurnya, namun tidak bangun. Ia justru secara refleks menggenggam tangan Maya yang ada di rambutnya, lalu mengeratkan pegangannya seolah tak ingin melepaskan. Maya tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkannya, membiarkan kehangatan itu mengalir, menyadari bahwa "bocah" yang selama ini ia remehkan, ternyata adalah pria yang paling mampu membuatnya merasa aman.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡