Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Balik Dinding Keputren
Kepergian Arya yang begitu saja meninggalkan ruangan membuat suasana di Keputren seolah membeku. Ibu Suri berdiri mematung, jemarinya yang mengenakan cincin zamrud bergetar halus karena amarah yang memuncak. Baginya, jawaban Arya bukan sekedar penundaan, melainkan sebuah pembangkangan terang-terangan terhadap garis keturunan yang telah ia jaga selama puluhan tahun.
“Dia sudah berubah,” desis Ibu Suri, suaranya rendah namun mengandung getaran yang mengerikan. “Anakku yang dulu patuh, kini berani bicara tentang ‘keadilan rakyat’ di depanku. Ini pasti karena pengaruh luar yang meracuni pikirannya.”
Ibu Suri berbalik menatap Nastiti, yang masih berdiri diam dengan bunga melati yang hancur di genggamannya. Di mata Ibu Suri, Nastiti bukan lagi sekedar calon menantu, melainkan satu-satunya alat untuk menarik Arya kembali ke dalam kendalinya.
Nastiti tidak menangis. Jika dihatinya karena penolakan Arya kini telah mengeras menjadi ambisi yang membara. Ia merasakan kehinaan yang luar biasa; seorang putri Adipati penguasa pesisir harus mengemis perhatian dari seorang pria yang pikirannya melayang pada “sesuatu” di luar benteng.
“Gusti Kanjeng Ibu,” Nastiti melangkah mendekat, suaranya kini terdengar tajam dan dingin. “Saya tidak akan membiarkan martabat keluarga saya dan martabat keraton ini diinjak-injak. Jika Gusti Arya meminta waktu hingga hari jadi kerajaan, maka kita harus memastikan bahwa pada hari itu, tidak ada pilihan lain baginya selain menyebut nama saya sebagai Permaisuri.”
Nastiti menatap Ibu Suri dengan tatapan yang penuh permufakatan. “Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dibalik meja makan. Jika ada akar liar yang merambat ke dalam keraton, maka akar itu harus dicabut sampai ke inti tanahnya.”
Malam itu, Nastiti tidak tidur. Di kamarnya yang mewah, ia memanggil kepala telik sandi pribadinya kembali. Ia tidak ingin lagi mendengar laporan tentang “Raja yang meninjau rakyat”. Ia menginginkan bukti nyata tentang siapa wanita yang telah mencuri perhatian Arya.
“Cari tahu siapa gadis itu,” perintah Nastiti dengan nada tak terbantahkan. “Bawa aku ke tempatnya. Aku ingin melihat dengan mataku sendiri, keajaiban apa yang dimiliki seorang jelata hingga mampu membuat seorang Raja Amarta melupakan tugas sucinya.”
Nastiti mulai menyusun strategi. Ia akan tetap bersikap manis dan mendukung di depan Arya, berperan sebagai calon permaisuri yang pengertian. Namun, di balik itu, ia mulai menggerakkan pengaruh keluarganya di wilayah pesisir untuk memberikan tekanan ekonomi pada pasar-pasar di sekitar Baluwarti. Ia ingin menciptakan kekacauan kecil yang akan membuat Arya sibuk, sementara ia dan Ibu Suri bergerak untuk “membereskan” gadis itu.
Di sisi lain, Ibu Suri mulai memanggil para sesepuh dewan adat yang paling konservatif. Ia membisikkan narasi tentang bahayanya seorang Raja yang terlalu dekat dengan rakyat jelata, menyebutnya sebagai tanda-tanda runtuhnya wibawa kerajaan.
“Takhta ini adalah batu karang,” ujar Ibu Suri kepada para sesepuh. “Jika ia menjadi lunak seperti tanah liat, maka Amarta akan hancur.”
Ambisi Nastiti dan amarah Ibu Suri kini telah menyatu menjadi kekuatan gelap yang siap menerjang. Nastiti menatap mahkota Permaisuri yang dipajang diruang pameran keraton dengan mata yang haus kekuasaan. Bagi Nastiti, menjadi Permaisuri bukan lagi soal cinta, melainkan soal pembuktian bahwa dirinya adalah pemenang mutlak.
“Arya,” gumam Nastiti sambil menatap bulan purnama dari jendela. “Kamu boleh memberikan jawaban nanti, tapi aku yang akan menuliskan kata-kata yang keluar dari mulutmu. Dan siapa pun “dia”… dia akan menyadari bahwa harumnya tidak akan pernah sanggup melawan tajamnya keris keraton.”
**********