Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghadapi Kebencian Keluarga
“Kau datang," kata neneknya. Bukan sambutan hangat, lebih seperti pernyataan yang tidak menyenangkan.
"Aku diundang oleh daddy, Nek," jawab Cassia dengan sopan.
"Tentu. Anakku itu selalu keras kepala." Neneknya melangkah ke samping, memberi ruang meskipun dengan enggan. "Masuklah. Tapi ingat, jangan buat drama di sini. Tidak ada yang perlu dirayakan selain ulang tahun anakku."
Cassia tidak menjawab. Dia masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu yang masih sama megahnya dengan ingatannya. Semua terasa asing sekaligus familiar.
Dari ruang makan, terdengar suara tawa. Bobby Manon sedang duduk di ujung meja panjang, dikelilingi oleh istrinya, Jasmine dan dua anaknya yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Meja itu sudah ditata dengan hidangan lengkap dan mewah. Bobby menoleh ketika melihat Cassia masuk.
Wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah. Dia langsung berdiri, berjalan mendekati Cassia, dan memeluknya erat.
"Cia ... kau datang. Aku senang sekali." Suaranya bergetar. "Kaj semakin kurus, Nak. Apakah kau makan dengan teratur?"
Cassia membalas pelukan ayahnya. “Aku baik-baik saja, Dad. Selamat ulang tahun. Maaf tidak sempat membeli kado."
"Tidak perlu kado. Kehadiranmu sudah lebih dari cukup." Bobby melepaskan pelukan, lalu menatap wajah putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Kau semakin cantik, Cia."
Di sudut ruangan, Jasmine batuk kecil. Terlalu keras untuk disebut kebetulan. "Sudah terlalu lama kita menunggu. Makanannya akan dingin. Ayo duduk."
Bobby menghela napas, lalu memegang tangan Cassia menuju meja. "Ayo, Cia. Duduk di sampingku."
Cassia menurut. Dia duduk di kursi yang disediakan, tepat di samping ayahnya. Di seberang, Jasmine dan kedua saudara tirinya duduk dengan ekspresi yang datar tapi juga benci. Seperti kehadiran Cassia adalah gangguan kecil yang harus diterima dengan terpaksa.
"Kamu bekerja di Kingsford Corp, benar?" tanya Jasmine akhirnya setelah beberapa menit makan dalam keheningan yang canggung.
"Benar, Aunt," jawab Cassia.
"Sebagai sekretaris?" Jasmine tersenyum tipis. "Kenapa tak memanfaatkan itu? Kau pasti kenal dengan para pria kaya di kalangan Kingsford. Kau mungkin bisa … menggoda mereka. Seperti ibumu dulu.”
“Diam!” Bobby kesal dengan perkataan Jasmine.
“Kau tak perlu marah, Bobby. Itu kenyataannya. Gen tidak bisa dirubah. Ada darah ibunya mengalir di tubuh anakmu itu. Sangat mungkin dia menjadi seperti ibunya. Wanita penghibur para pria kaya,” ucap Imelda dengan pedas.
“Mom! Itu kejam sekali. Bisakah kalian diam agar ulang tahunku berjalan dengan damai?” Bobby memohon.
Cassia sudah kebal dengan cacian itu. Dia hanya diam. Tak menjawab apa pun karena akan menghabiskan energinya.
“Ayo kita makan,” lanjut Bobby. Dan kemudian semuanya pun makan.
Suasana hening, tapi tegang bagi Cassia. Banyak mata tajam menusuk ke arahnya.
Cassia terus menyuap makanan ke mulutnya, tidak terlalu menikmati. Di sampingnya, neneknya Imelda juga tidak banyak komentar lagi, tapi tatapannya cukup untuk membuat Cassia tidak nyaman.
*
*
Setelah makan selesai, Bobby mengajak Cassia ke ruang kerjanya di lantai dua. Bobby duduk di kursinya, menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk, Cia. Aku ingin bicara."
Cassia duduk. "Ada apa, Dad?"
"Aku tahu ... hubungan kita tidak mudah. Tapi aku menyayangimu. Aku selalu ingin yang terbaik untukmu." Bobby menghela napas. "Kau ... apakah kau bahagia di tempat kerjamu? Jika tidak … kau bisa bekerja di perusahaanku.”
“Aku bahagia, Dad. Dan aku menikmati pekerjaanku di sana,” jawab Cassia.
“Apakah kau ... punya seseorang?"
"Aku bahagia, Dad. Aku tidak butuh seseorang."
"Setiap orang butuh seseorang, Cia, seseorang yang membuatmu merasa tidak sendiri. Apakah kau bersedia jika aku menjodohkanmu dengan seorang pria? Aku akan mencarikan pria yang baik dan—“
“Dad, jangan,” potong Cassia. “Aku bahagia dengan hidupku. Jangan masuk terlalu dalam. Ini … urusan pribadiku. Aku sudah sangat mandiri dan bisa menghandle semuanya dengan baik.”
Bobby terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Kau tumbuh menjadi perempuan yang cerdas, Cia. Mungkin terlalu cerdas. Tapi … aku takut kau kesepian.”
Mereka terdiam beberapa saat.
"Dad," Cassia beranjak, "aku akan pergi sekarang. Besok aku masih kerja."
Bobby mengangguk lesu. "Aku antar."
"Tidak usah. Aku akan naik taksi.”
Cassia berdiri dan berjalan ke pintu. Namun sebelum keluar, dia berbalik. "Dad ... terima kasih sudah mengundangku. Aku senang bisa melihat Daddy."
Bobby tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu—hangat dan penuh cinta. "Kapan-kapan datang lagi, ya? Tidak perlu menunggu undangan. Pintu ini selalu terbuka untukmu, Cia."
Pintu ini selalu terbuka untukmu. Cassia ingin tertawa rasanya. Cassia mengangguk, meskipun di dalam hatinya dia tahu itu hanya kata-kata manis yang tidak akan benar-benar terwujud.
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭