"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."
Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.
Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Malam di penthouse Dewangga seharusnya menjadi malam yang tenang setelah Arvin menyelamatkan Zoya dari ruang Dekanat.
Namun, ketenangan itu hanyalah permukaan air yang tenang sebelum badai besar kembali menggulung. Arvin duduk di ruang kerjanya yang luas, menatap pemandangan kota dari balik kaca besar, sementara sebuah pesan anonim masuk ke ponsel pribadinya.
Sebuah file audio.
Arvin menekannya. Suara statis terdengar sejenak sebelum suara yang sangat ia kenali, suara lembut Zoya terdengar sedang bercakap-cakap dengan seorang pria yang suaranya tak asing lagi - Liam.
"...Liam, aku butuh bantuanmu untuk ujian besok. Apa kau bisa mendapatkan 'kertas' itu ?" suara Zoya terdengar ragu namun memohon.
"Tentu, Zoya. Apa pun untukmu. Aku akan menyisipkannya di antara berkasmu agar tidak ada yang curiga," jawab suara Liam.
Arvin mematikan audio itu dengan tangan gemetar. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia tidak tahu bahwa audio itu adalah hasil suntingan canggih milik Nadia yang menggabungkan potongan-potongan kata dari diskusi kelompok Zoya di perpustakaan minggu lalu.
Bagi Arvin, pengkhianatan adalah luka lama yang belum sembuh. Masa lalu di mana ia dikhianati oleh orang-orang kepercayaannya membuat logika Arvin seketika tertutup oleh kabut kecurigaan.
Ia merasa menjadi pria bodoh yang baru saja membela mati-matian seorang wanita yang ternyata memang berbuat curang di belakangnya.
Zoya masuk ke ruang kerja Arvin membawa secangkir teh kamomil hangat. Ia ingin berterima kasih secara resmi atas bantuan Arvin tadi siang.
"Tuan... ini teh untukmu," ucap Zoya lembut, meletakkan cangkir itu di meja.
Arvin tidak menyentuh teh itu. Ia berbalik, menatap Zoya dengan mata yang kembali menjadi dingin, bahkan lebih tajam dari biasanya. Dingin yang membuat bulu kuduk Zoya berdiri.
"Apa kau bangga dengan apa yang kau lakukan, Zoya?" tanya Arvin, suaranya sangat rendah dan penuh ancaman.
Zoya tertegun. "Maksudmu apa, Tuan?"
Arvin melemparkan ponselnya ke atas meja. "Dengarkan itu. Dengarkan bagaimana suaramu memohon pada pria itu untuk mencoreng nama baik Dewangga Group."
Zoya mengambil ponsel itu, mendengarkan rekaman suara tersebut dengan jantung yang berdegup kencang. Matanya membelalak. "Tuan... ini bukan aku! Ini suaraku, tapi aku tidak pernah mengatakan hal ini. Ini pasti editan!"
"Editan?" Arvin tertawa sinis, sebuah tawa yang menyayat hati Zoya. "Kau pikir aku anak kecil yang mudah dibohongi? Suara itu jelas suaramu. Kau menggunakan Liam untuk mendapatkan apa yang kau mau, dan tadi siang aku datang ke sana seperti orang bodoh untuk membelamu di depan Dekan!"
"Tuan, aku bersumpah demi Allah aku tidak melakukannya!" Zoya bersimpuh di samping kursi Arvin, air matanya mulai tumpah lagi. "Bagaimana mungkin kau lebih memercayai rekaman anonim ini daripada istrimu sendiri?"
Arvin berdiri, menghindari sentuhan Zoya. Ia berjalan menuju jendela, membelakangi istrinya.
"Dewangga Group adalah institusi yang menjunjung tinggi integritas. Aku telah mendonasikan miliaran rupiah ke kampusmu untuk membangun reputasi. Dan hari ini, kau bukan hanya tertangkap tangan dengan bukti fisik, tapi sekarang ada bukti suara bahwa kau merencanakan ini dengan pria lain."
"Jadi... Kau tetap menganggap aku curang?" tanya Zoya dengan suara serak.
Arvin berbalik, menatap Zoya dengan pandangan yang sama sekali tidak menunjukkan empati.
"Dengar baik-baik, Zoya. Aku menikahimu untuk menjagamu, bukan untuk menutupi kebusukanmu. Jika bukti ini benar, jangan pernah harap aku akan menggunakan kekuasaanku atau pengacaraku untuk menyelamatkanmu lagi."
Zoya terpaku di lantai. "Kau lebih peduli pada nama baik perusahaanmu daripada kebenaran tentang aku?"
"Nama baik adalah segalanya bagi pria sepertiku," sahut Arvin dingin. "Jika kau memang curang, kau harus menanggung risikonya sendiri. Aku tidak akan membiarkan tanganku kotor untuk wanita yang tidak punya integritas."
Zoya merasa dunianya benar-benar runtuh. Bukan karena ancaman drop out dari kampus, melainkan karena keraguan suaminya. Arvin yang tadi siang memeluknya dan melindunginya, kini berdiri sebagai hakim yang paling kejam.
Zoya berdiri perlahan, menghapus air matanya dengan ujung khimarnya. Ia menatap Arvin yang masih berdiri kaku.
"Ternyata benar..." bisik Zoya pilu. "Bagimu, aku hanyalah sebuah proyek. Selama proyek itu terlihat bagus di depan publik, kau akan menjaganya. Tapi begitu ada goresan kecil, kau tidak segan untuk membuangnya agar tidak merusak reputasimu."
"Zoya, jangan coba memutarbalikkan fakta..."
"Aku tidak memutarbalikkan apa pun, Tuan," potong Zoya dengan keberanian yang muncul dari rasa sakit yang paling dalam. "Malam ini aku menyadari, bahwa di rumah semewah ini, aku tetaplah orang asing. Kau tidak pernah benar-benar memercayaiku. Kau hanya memercayai egomu sendiri."
Zoya melangkah keluar dari ruang kerja itu tanpa menunggu jawaban Arvin. Ia masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan menangis dalam keheningan yang menyesakkan.
Di ruang kerja, Arvin menatap teh yang mulai mendingin. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.
Ada bagian kecil dalam hatinya yang berbisik bahwa Zoya tidak berbohong, namun trauma pengkhianatan masa lalu dan rasa bangganya terhadap nama Dewangga membuatnya memilih untuk membentengi diri dengan kedinginan.
Keesokan harinya, suasana di meja makan sangat mencekam. Arvin makan tanpa suara, sementara Zoya bahkan tidak menyentuh sarapannya.
"Supir akan tetap mengantarmu ke kampus untuk sidang kode etik terakhir hari ini," ujar Arvin tanpa menatap Zoya. "Tapi jangan harap ada pengacara di belakangmu. Jika kau tidak bisa membuktikan kebenaranmu sendiri, maka bersiaplah untuk keluar dari rumah ini dengan membawa namamu yang sudah rusak."
Zoya hanya menunduk. Ia tidak lagi memohon. Ia menyadari bahwa di titik ini, ia harus berjuang sendiri.
"Baik, Tuan," jawab Zoya singkat.
Arvin berdiri, merapikan jasnya, dan melangkah pergi tanpa pamit.
Zoya menatap punggung suaminya dengan tatapan yang penuh luka. Ia tahu, hari ini bukan hanya masa depan akademiknya yang dipertaruhkan, tapi juga sisa-sisa harapannya terhadap pernikahan ini.
Di balik cadarnya, Zoya menggigit bibir, berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membuktikan kebenarannya, bukan untuk menyelamatkan studinya, tapi untuk menunjukkan pada Arvin betapa salahnya ia telah meragukan wanita yang telah menyerahkan seluruh doanya untuknya.
Sementara itu, di sebuah kafe tidak jauh dari kantor Arvin, Nadia tersenyum puas sambil mendengarkan laporan bahwa Arvin dan Zoya sedang terlibat perang dingin yang hebat.
"Satu dorongan lagi," gumam Nadia licik, "dan Zoya akan benar-benar lenyap dari hidup Arvin selamanya."
...----------------...
**To Be Continue** ....
hari ini jadi orang tolol