NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Ibu muda yang tangguh

Ibu muda yang tangguh itu kini harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa masa lalu yang ia takuti telah menemukan jalan untuk kembali menghampirinya. Anindira berdiri tegak di ambang pintu kedai dengan jemari yang terkepal hingga memutih di sisi tubuhnya. Ia menatap tajam ke arah pria utusan perusahaan tersebut sambil mengatur deru napasnya agar tetap terlihat tenang dan tidak terkalahkan.

Arkan yang mengintip dari balik celah pintu kamar merasakan ketegangan yang merambat di udara kedai yang biasanya hangat. Ia melihat ibunya nampak seperti seorang pejuang yang sedang melindungi benteng pertahanan terakhir mereka dari serangan musuh. Pria berjas itu justru tersenyum tipis sambil merapikan tumpukan berkas yang ia pegang dengan gerakan yang sangat angkuh.

"Tolong sampaikan pada pimpinan Anda bahwa tempat ini tidak akan pernah dijual meski mereka menawarkan gunung emas sekali pun," ucap Anindira dengan suara yang jernih dan penuh penekanan.

"Kesombongan tidak akan menolong Anda saat alat-alat berat mulai meratakan kawasan kumuh ini minggu depan, Nona," sahut pria itu dengan nada bicara yang sangat merendahkan.

Anindira merasakan gejolak amarah yang mendidih di dalam dadanya namun ia tetap berusaha menjaga martabatnya sebagai seorang ibu. Ia tahu bahwa konfrontasi fisik tidak akan menyelesaikan masalah besar yang sedang mengancam masa depan Arkan di kota ini. Tanpa memberikan kesempatan bagi pria itu untuk berbicara lebih jauh, Anindira menunjuk ke arah pintu keluar dengan isyarat yang sangat tegas.

Setelah pria asing itu pergi dengan mobil mewahnya, Anindira segera mengunci pintu depan dan bersandar lemas pada kayu pintu yang mulai rapuh. Keringat dingin membasahi dahinya saat ia menyadari bahwa jaringan kekuasaan ayahnya kini sudah mulai menyentuh pelosok pelabuhan ini. Ia tidak boleh membiarkan rasa takut melumpuhkan akal sehatnya seperti kejadian mengerikan lima tahun yang lalu.

"Ibu, apakah orang jahat itu akan menghancurkan rumah kita yang mungil ini?" tanya Arkan sambil mendekat dan memeluk kaki ibunya dengan sangat erat.

"Selama Ibu masih bernapas, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyentuhmu atau tempat tinggal kita, Arkan," janji Anindira sambil berlutut dan mencium kening putranya.

Anindira menyadari bahwa bersembunyi di balik bayang-bayang saja tidak akan cukup untuk memberikan perlindungan permanen bagi anaknya. Ia mulai membongkar kembali kotak kayu tua peninggalan ibunya untuk mencari dokumen penting yang selama ini ia hindari karena rasa trauma. Di sana, ia menemukan sebuah kartu nama lusuh milik seorang pengacara tua yang dulu pernah menjadi orang kepercayaan mendiang ibunya.

Ia harus kembali ke pusat kota untuk menemui orang itu dan meminta bantuan hukum sebelum Grup Adiguna benar-benar melancarkan aksi penggusuran. Namun, kembali ke kota berarti ia harus siap berpapasan dengan orang-orang yang pernah mengusirnya seperti sampah jalanan. Tekadnya sudah bulat karena keselamatan Arkan adalah segalanya di atas harga diri dan kenyamanan pribadinya sendiri.

"Besok kita akan pergi ke kota besar untuk menemui teman lama mendiang Nenek, jadi bersiaplah mengenakan pakaian terbaikmu," ujar Anindira sambil merapikan tas punggung Arkan.

"Apakah di sana aku bisa melihat gedung-gedung tinggi yang ada di dalam buku cerita itu, Ibu?" tanya Arkan dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

Anindira mengangguk sambil menahan rasa sesak yang kembali memenuhi rongga dadanya saat memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Ia mulai mengemas beberapa lembar pakaian dan uang tabungan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit selama lima tahun bekerja keras di kedai. Malam itu, ia tidak bisa memejamkan mata sama sekali karena bayangan wajah ayahnya dan Rendy terus menari-nari di dalam benaknya.

Keesokan paginya, dengan langkah yang penuh dengan kewaspadaan, mereka berdua menaiki bus antar kota menuju pusat kota metropolitan. Arkan nampak sangat kagum melihat pemandangan kota yang sangat asing baginya, sementara Anindira justru merasa mual setiap kali bus mendekati kawasan elit. Kenangan malam terkukut di kamar nomor seratus satu seolah kembali berputar seperti film tua yang sangat menyakitkan untuk ditonton.

Saat sampai di terminal utama, Anindira segera mencari taksi untuk menuju alamat kantor hukum yang tertera di kartu nama tua tersebut. Ia menggenggam tangan Arkan dengan sangat erat seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, maka putranya akan lenyap ditelan keramaian kota. Kota ini masih terasa sama seperti dulu, penuh dengan kesombongan dan ketidakadilan bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan harta.

"Alamat ini sudah tidak aktif lagi, Nona, kantor hukum ini sudah pindah sejak dua tahun yang lalu ke gedung pencakar langit di sana," jelas sopir taksi sambil menunjuk ke sebuah bangunan megah.

"Apakah Anda tahu nama gedung itu?" tanya Anindira dengan perasaan yang mulai tidak enak karena melihat logo besar di puncak bangunan tersebut.

"Itu adalah gedung pusat Grup Adiguna, sepertinya pengacara yang Anda cari sekarang bekerja langsung di bawah perintah mereka," sahut sopir taksi itu dengan santai.

Anindira merasakan dunianya seolah berhenti berputar saat menyadari bahwa satu-satunya harapan bantuannya kini justru berada di kandang macan. Ia berdiri mematung di pinggir trotoar yang sangat padat sambil menatap puncak gedung yang seolah ingin menelan dirinya hidup-hidup. Tanpa ia sadari, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di samping mereka dan kaca jendelanya perlahan-lahan mulai terbuka.

Seorang pria dengan tatapan mata yang sangat dingin dan berwibawa menatap ke arah mereka berdua dari dalam mobil dengan penuh tanda tanya. Pria itu nampak sangat terkejut saat melihat wajah Arkan yang sangat mirip dengan pantulan dirinya sendiri di cermin setiap pagi. Panggilan wawancara di grup Adiguna yang terpampang di papan pengumuman digital gedung itu seolah menjadi satu-satunya jalan masuk baginya untuk merebut kembali keadilan.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!