NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencitraan

Matahari pagi di kota metropolis ini tidak pernah benar-benar terasa hangat bagi penghuni kediaman Vance. Cahayanya yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit hanya berfungsi sebagai pengingat bahwa waktu terus berjalan, namun luka di dalam rumah ini tetap diam di tempatnya. Bagi Alana, setiap pagi adalah awal dari sebuah babak baru dalam sandiwara yang melelahkan. Baginya, bangun tidur berarti bersiap untuk menghadapi tatapan dingin yang mampu membekukan aliran darahnya.

Di meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati pilihan, suasana terasa sangat mencekik. Tidak ada suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen, tidak ada gumaman tentang rencana hari ini, dan tentu saja, tidak ada senyuman. Yang ada hanyalah keheningan yang begitu padat, hingga suara napas pun terasa seperti sebuah gangguan.

Brixton duduk di ujung meja, mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat. Ia tampak sibuk dengan tablet di tangannya, membaca laporan saham dan berita bisnis terbaru seolah-olah istrinya yang duduk di depannya hanyalah bagian dari furnitur ruangan. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi, namun ada garis-garis kelelahan di sekitar matanya yang menunjukkan bahwa tidurnya semalam tidaklah nyenyak.

Alana duduk diam, hanya mengaduk-aduk bubur gandumnya tanpa minat. Rambut merah jambunya yang biasanya indah kini tampak sedikit kusam, mencerminkan semangatnya yang mulai layu. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Brixton, berharap setidaknya ada satu kalimat—apa saja—yang keluar dari mulut pria itu untuk memecah keheningan yang menyakitkan ini. Namun, Brixton tetap membisu.

“Brixton,” panggil Alana pelan, hampir ragu.

Pria itu tidak mendongak. Jemarinya terus bergerak di atas layar tablet. “Hm.”

“Aku... aku akan pergi ke panti asuhan siang ini untuk memberikan sumbangan rutin keluarga. Apakah kau ingin aku menyampaikan sesuatu pada pengurus di sana?”

Gerakan tangan Brixton terhenti sesaat. Ia mendongak, namun tatapannya tidak mendarat pada wajah Alana, melainkan pada gelas kopi di sampingnya. “Lakukan saja apa yang biasa kau lakukan. Jangan bertanya padaku seolah aku peduli pada aktivitas pencitraanmu.”

Kalimat itu, meski diucapkan tanpa nada tinggi, terasa seperti tamparan bagi Alana. Ia menelan ludah, mencoba menekan rasa sesak di dadanya. “Ini bukan pencitraan. Aku benar-benar ingin membantu.”

“Membantu dengan uangku?” Brixton mendengus sinis, akhirnya menatap Alana dengan mata yang dingin. “Kau sangat pandai berbelas kasih dengan harta orang lain, Alana. Itu adalah bakat yang luar biasa bagi seseorang yang masuk ke rumah ini karena alasan finansial.”

Alana meletakkan sendoknya. Selera makannya hilang sepenuhnya. Ia ingin membalas, ingin meneriakkan bahwa ia tidak pernah meminta sepeser pun untuk kepentingan pribadinya, namun ia tahu itu hanya akan memicu badai yang lebih besar. Ia memilih untuk menunduk, menatap pantulan dirinya yang malang di atas permukaan air teh.

Satu jam kemudian, Brixton bersiap untuk pergi ke kantor. Sopir pribadinya sudah menunggu di depan, namun sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti di depan cermin besar di aula utama untuk membenarkan letak dasinya.

Alana muncul dari balik pilar, membawa tas kerja Brixton yang tertinggal di sofa. Ia mendekat dengan langkah ragu-ragu. “Tasmu, Brixton.”

Brixton menoleh, menyambar tas itu dari tangan Alana tanpa sepatah kata pun terima kasih. Saat ia hendak berbalik, matanya tidak sengaja menangkap pergelangan tangan Alana yang masih sedikit memerah—bekas goresan keramik piring yang pecah kemarin.

Untuk sepersekian detik, kilatan rasa bersalah muncul di mata Brixton. Sisi gentleman yang ia tekan dalam-dalam meronta, memintanya untuk meraih tangan itu dan bertanya apakah lukanya sakit. Namun, memori tentang Elena dan rasa benci yang ia bangun sebagai pertahanan diri segera memadamkan percikan empati itu. Ia menutup hatinya rapat-rapat, menggantinya dengan kemarahan yang dibuat-buat.

“Jangan menatapku seperti itu,” desis Brixton tiba-tiba.

Alana terkejut. “Menatap... bagaimana?”

“Menatap seolah kau adalah korban yang paling menderita di dunia ini. Berhenti menggunakan matamu yang hijau itu untuk memancing rasa kasihan. Itu menjijikkan.”

Brixton berbalik dan melangkah keluar menuju mobilnya, meninggalkan Alana yang berdiri mematung di ambang pintu. Suara mesin mobil yang menderu menjauh terdengar seperti suara kebebasan bagi Brixton, namun bagi Alana, itu adalah suara pintu penjara yang kembali tertutup rapat.

Kantor pusat Vance International adalah gedung pencakar langit yang dingin dan kaku, persis seperti pemiliknya. Brixton menghabiskan sepanjang pagi di sana, mengubur dirinya dalam tumpukan dokumen dan rapat-rapat yang tak berujung. Namun, konsentrasinya terganggu. Bayangan Alana yang berdiri diam di meja makan, bayangan piring kue yang hancur, dan buku harian merah jambu yang masih tergeletak di bawah meja kerjanya terus muncul di benaknya.

Siang harinya, ia memiliki janji makan siang bisnis dengan beberapa rekanan penting di sebuah restoran mewah. Suasananya seharusnya profesional, namun di dalam diri Brixton, ketegangan itu tetap ada.

Saat ia duduk di restoran itu, dikelilingi oleh percakapan tentang investasi dan ekspansi pasar, ia merasa asing. Rekan-rekannya membicarakan istri-istri mereka dengan nada bangga atau setidaknya penuh rasa hormat.

“Brixton, kudengar istrimu sangat aktif dalam kegiatan sosial belakangan ini,” ucap salah satu kolega seniornya sambil menyesap wine. “Dia benar-benar permata yang unik. Warna rambutnya itu... benar-benar ikonik. Dia membawa citra segar bagi keluarga Vance.”

Brixton memaksakan sebuah senyuman tipis, senyuman yang sering ia gunakan di depan publik. “Dia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri di posisinya.”

“Kau pria yang beruntung, Brixton,” timpal kolega lainnya. “Dia cantik, rendah hati, dan sepertinya sangat mencintaimu. Aku melihat bagaimana dia menatapmu di jamuan makan malam tempo hari. Tatapan seperti itu tidak bisa dipalsukan.”

Tangan Brixton yang memegang pisau steak menegang. Cinta? pikirnya pahit. Yang dia rasakan hanyalah obsesi untuk bertahan di rumahku.

Namun, saat ia mencoba memotong daging di piringnya, ia teringat kembali pada kejadian di kolam renang. Ia teringat bagaimana Alana tersenyum saat menawarkan kue itu, sebuah senyuman yang sangat kontras dengan wajah muram yang ia tunjukkan tadi pagi. Ada bagian kecil dalam dirinya yang mulai bertanya-tanya: Bagaimana jika selama ini aku salah? Bagaimana jika dia benar-benar menderita sepertiku?

Pikiran itu membuatnya merasa terancam. Ia segera meminum air putihnya dengan rakus, mencoba membasuh perasaan yang menurutnya adalah sebuah kelemahan.

Sore harinya, saat Brixton kembali ke rumah, suasana masih sama. Sepi, dingin, dan sunyi. Ia berjalan melewati ruang makan dan melihat Alana sedang duduk di sana sendirian, menatap ke arah taman melalui jendela besar. Tidak ada makanan di depannya, hanya segelas air putih yang sudah berembun.

Lampu ruangan sengaja dipadamkan, hanya menyisakan cahaya senja yang kemerahan, menyinari rambut merah jambunya hingga tampak seperti api yang meredup. Alana tampak begitu kecil, begitu kesepian di tengah kemegahan rumah itu.

Brixton berhenti di ambang pintu. Ia ingin masuk, ingin mengatakan sesuatu, bahkan jika itu adalah makian, hanya agar keheningan ini berakhir. Namun, ia merasa lidahnya kelu. Rasa benci yang selama ini menjadi kekuatannya mulai terasa seperti beban yang sangat berat.

Ia teringat buku harian itu lagi. Buku merah jambu yang ia tendang ke bawah meja.

Tanpa suara, Brixton berbalik dan menaiki tangga menuju ruang kerjanya. Ia menutup pintu dengan pelan dan langsung berjalan menuju meja tempat buku itu berada. Ia berlutut di lantai yang dingin, meraih ke bawah meja, dan jarinya menyentuh permukaan kulit buku harian Alana.

Ia menariknya keluar. Buku itu berdebu, persis seperti perasaannya pada wanita di bawah sana. Ia menimang-nimang buku itu di tangannya. Ia tahu, jika ia membukanya, segalanya mungkin akan berubah. Ia mungkin akan menemukan sisi Alana yang selama ini sengaja ia abaikan. Ia mungkin akan menemukan bahwa luka yang ia tanam di hati Alana jauh lebih dalam daripada luka yang ia rasakan sendiri.

Di luar, hujan mulai turun dengan rintik yang halus, mengetuk-ngetuk kaca jendela. Brixton duduk di kursi kerjanya, menatap sampul buku itu dalam remang cahaya lampu meja.

Kesedihan itu kembali datang, menyelimuti ruangan. Di lantai bawah, Alana masih duduk dalam kegelapan, meratapi pernikahan yang terasa seperti hukuman mati. Dan di lantai atas, Brixton duduk memegang kunci menuju hati istrinya, namun ia terlalu takut untuk membukanya karena ia takut ia akan menemukan dirinya sendiri sebagai iblis dalam cerita Alana.

Belum ada rasa bahagia. Belum ada cahaya. Hanya ada dua jiwa yang terjebak dalam sumpah yang dibuat di atas luka, saling menyakiti dalam diam, sementara dunia di luar sana menganggap mereka sempurna.

Brixton menghisap napas panjang, meletakkan buku itu di atas meja kerjanya, dan menutup matanya rapat-rapat. Ia tidak membukanya malam itu. Ketakutannya akan kebenaran masih lebih besar daripada rasa bersalahnya. Dan keheningan di kediaman Vance pun terus berlanjut, semakin dalam dan semakin mematikan.

1
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
Peachy: Sabar sengg, suaminya emang agak agak alana nih.🥹
total 1 replies
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
kalea rizuky
cerai aja selingkuh pasti nanti. gt lagi
kalea rizuky
selingkuh g ada obat ceraikan saja
kalea rizuky
km akan kehilangan berlian demi sampah
kalea rizuky
cerai aja lah suami dajjal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!