Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Genta Dan Zahra Menemui Dokter
Hujan turun deras malam ini, menghantam atap rumah orang tua Zahra, dengan suara ritmis yang panjang, seolah langit ikut membersihkan debu kebohongan yang selama ini dibiarkan menumpuk, lapis demi lapis, hingga nyaris menyesakkan semua yang terlibat.
Zahra duduk di kamar lamanya, kamar yang penuh kenangan masa remaja, jendela di depannya basah oleh air hujan, lampu jalan di luar terlihat buram seperti lukisan yang luntur. Ia memeluk lututnya, bersandar di kepala ranjang, membiarkan pikirannya mengalir tanpa ia paksa berhenti.
Hatinya tidak lagi sekacau hari-hari sebelumnya.
Ada luka, ya luka yang nyata, dalam, dan belum sembuh..
Namun luka itu kini tidak lagi membutakannya, justru sebaliknya, luka itu membuatnya lebih waspada dan berpikir jernih
Zahra akhirnya mengerti satu hal:
bukan hanya pengkhianatan yang menyakitkan, tetapi kebohongan yang terus dipelihara atas nama kebaikan.
Ponsel ku tiba-tiba bergetar di atas meja kecil di samping ranjang.
Nama itu muncul di layar.
**Mas Genta.**
Aku menatapnya beberapa detik, tidak ada lagi getaran panik di dada ku seperti dulu.
Tidak ada keinginan untuk menghindar, aku mengangkat panggilan itu dengan tenang.
("Halo.”)
("Zahra, besok kita ke dokter”) suara Mas Genta terdengar berat, serak, dan jauh dari nada perintah yang biasa ia gunakan.
Aku menatap hujan di luar jendela. (“Dengan Rena?”)
("Iya, untuk memastikan.”) jawab Mas Genta lirih
Aku memejamkan mata sejenak, inilah momen yang aku tunggu, bukan untuk membalas, bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk berhenti dipermainkan oleh cerita yang dibangun di atas kebohongan.
"Baik, aku ikut.” ucap ku akhirnya
Telepon terputus, aku meletakkan ponsel perlahan, lalu menarik napas panjang, dada ku naik turun teratur..
Aku tidak merasa menang, aku juga tidak merasa kalah, aku hanya merasa… siap.
Keesokan paginya, udara terasa dingin meski matahari sudah muncul sejak pagi, Zahra tiba di sebuah klinik kandungan swasta dengan langkah mantap..
Bangunannya bersih, modern, dan tenang, berbanding terbalik dengan gejolak yang ia bawa di dadanya.
Genta sudah menunggu di lobi, wajahnya tampak kusut, matanya merah, dan bahunya turun seolah beban di punggungnya terlalu berat untuk disangga..
Tak lama kemudian, Rena datang, ia terlambat..
Pakaiannya longgar, wajahnya pucat, pucat yang terasa dibuat-buat...
Saat matanya bertemu dengan ku, sorot tak suka itu muncul sekilas sebelum ia cepat-cepat berpaling.
"Kenapa harus serumit ini? Aku sudah bilang aku hamil” gumam Rena dengan nada kesal sambil duduk di samping mas Genta
Aku menatapnya tenang, tanpa emosi yang meledak.
“Kalau memang benar, tidak ada yang perlu ditakuti.”
Rena mendengus, memalingkan wajahnya, sedangkan Genta langsung berdiri di antara dua perempuan itu istrinya dan perempuan yang hampir ia jadikan alasan untuk pertama kalinya, ia tidak terlihat sebagai lelaki yang yakin pada pilihannya...
Ia tampak seperti seseorang yang baru sadar bahwa setiap keputusan yang ia ambil menyeretnya semakin dekat ke jurang.
Nama Rena dipanggil.
Pemeriksaan berlangsung cukup lama.
Aku duduk di ruang tunggu, tangan ku menggenggam tas dengan kuat...
Aku tidak menutup mata untuk berdoa agar Rena terbukti berbohong, aku tidak memohon agar perempuan itu dipermalukan.
Aku hanya berdoa agar kebenaran berdiri, apa pun bentuknya, dan apa pun risikonya bagi hati ku sendiri.
Tak lama kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka, seorang dokter perempuan keluar dengan wajah profesional dan tenang.
"Silakan masuk, istri anda juga boleh ikut" katanya kepada Genta dan Zahra
Rena menegang.
“Untuk apa dia ikut?”
Dokter menatapnya singkat.
“Karena ini menyangkut keputusan besar, semua pihak sebaiknya tahu.”
Di dalam ruangan, udara terasa berat, mesin USG berdiri diam di sudut, seolah menjadi saksi bisu dari semua kebohongan yang sebentar lagi tak punya tempat bersembunyi.
Dokter membuka berkas hasil pemeriksaan, lalu menatap Rena dengan serius.
"Berdasarkan hasil tes darah dan USG, tidak ditemukan tanda kehamilan.” ucapnya pelan namun tegas
Hening.
Kata-kata itu menggantung di udara seperti palu besar yang menghantam tanpa ampun.
"Apa… apa maksud dokter?” suara Rena bergetar.
"Artinya, anda tidak sedang hamil.” lanjut dokter
Genta terpaku, wajahnya pucat pasi, tangannya mengepal, lalu terkulai lemas di samping tubuhnya..
Aku menunduk, aku menarik napas panjang, dada ku sesak, bukan karena lega sepenuhnya, melainkan karena satu kenyataan pahit muncul jelas di hadapan ku!
Kebohongan ini bukan kesalahpahaman.
Ini disengaja.
“Itu tidak mungkin! Saya telat! Saya mual!” Rena berdiri panik
“Banyak faktor lain! Stres, ketidakseimbangan hormon, atau obat-obatan tertentu.” jawab dokter tetap tenang
Rena menatap Genta dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu percaya aku, kan?”
Genta menatapnya lama bahkan terlalu lama, keheningan itu sudah menjadi jawabannya.
"Zahra… Aku...” suara Genta serak.
Aku mengangkat tangan pelan.
“Mas, aku tidak butuh penjelasan sekarang.”
Mereka keluar dari klinik dalam diam, hujan sudah berhenti, menyisakan aspal basah dan udara yang dingin menusuk.
Di parkiran, Rena tiba-tiba menangis keras, tangis yang bukan lagi kepura-puraan, melainkan luapan ketakutan.
“Kalian menjebak ku! Kamu Zahra! Kamu sengaja mempermalukanku!” teriak nya
Aku menatapnya lurus, tanpa amarah.
“Aku tidak menjebak siapa pun, kebohongan selalu mempermalukan dirinya sendiri.”
Genta menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa kamu lakukan ini, Ren?”
Rena terdiam sejenak, lalu ia tertawa, tawa histeris yang rapuh.
"Karena aku capek jadi yang kedua! Karena ibumu menjanjikan aku posisi! Karena kamu selalu bilang tunggu’!” teriaknya lagi
Kalimat itu menghantam Mas Genta tanpa ampun..
Aku mendengar kan dengan jelas.
Jadi benar, semua sudah disiapkan, semua bukan kebetulan..!
"Aku pulang, bukan ke rumah mu Mas, tapi ke hidupku.” ucap ku tenang
"Zahra tunggu!" Mas Genta mengejar ku
" Aku mengaku salah, maafkan aku" ucap Mas Genta
Aku berhenti melangkah, aku menoleh perlahan, wajah ku tenang, tapi mata ku tegas.
“Mas, pengakuan setelah terbongkar bukan keberanian, itu keterpaksaan.” ucap ku pelan
Mas Genta menelan ludah.
“Apa kamu masih mau… memperbaiki?”
Aku menatapnya lama, di sana masih ada sisa cinta, jejak masa lalu yang tidak bisa dihapus begitu saja, tapi di sana juga berdiri harga diri yang akhirnya bangkit..
"Aku akan memperbaiki diriku, soal kita… aku butuh waktu dan kejujuran, bukan tekanan.” jawab ku
Aku melangkah pergi, meninggalkan Mas Genta dan Rena dalam kehancuran pilihan mereka sendiri.
***
Malam hari nya, Zahra kembali bersujud, air matanya jatuh pelan, bukan karena kalah, melainkan karena akhirnya ia berdiri di atas kebenaran..
“Bismillah... Jika ini jalanku untuk bangkit, aku akan melangkah tanpa menoleh.” bisik nya mantap