NovelToon NovelToon
Candy Cane

Candy Cane

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Beda Usia
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Lunea Bubble

Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.

Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.

Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.

"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo

"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sah

Ranti tidak hanya kesal—dia nyaris tersedak amarah mendengar pengakuan Rania. Bisa-bisanya putrinya itu menyukai pria tua. Padahal dengan susah payah, Ranti telah meyakinkan suaminya untuk mengganti perjodohan itu dengan Candy. Sekarang, Rania justru berteriak ingin semuanya dibatalkan.

Agar tidak terus diganggu, Ranti menekan tombol mode pesawat, lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas tangan dengan wajah masam.

Rania tak kehabisan akal. Ia mengirim pesan teks kepada ibunya.

[Revo itu Bara. Pria yang sangat aku cintai.]

Namun pesan itu tak pernah terkirim.

"Shit!" teriak Rania frustrasi.

Ia mengganti pakaian dengan gerakan kasar, meraih kunci mobil, lalu melangkah cepat menuju pintu. Baru saja tangannya menyentuh gagang, tubuhnya membeku.

Ia berada di London.

Terpisah oleh pulau, negara, bahkan samudra.

"Argh!" teriaknya sambil membanting pintu.

Tubuh Rania merosot ke lantai. Tangisnya pecah, merutuki kebodohan dan keterlambatannya sendiri.

Di belahan dunia lain, prosesi ijab kabul akan segera dimulai.

Ranti yang baru tiba di lokasi mendadak membelalakkan mata. Jantungnya berdegup tak karuan. Calon pengantin pria bukanlah pria tua yang ia bayangkan, melainkan seorang pria muda—tinggi, tegap, dan tampan—yang berdiri mengapit pria tua tersebut.

Baru saat itu Ranti menyadari perbedaan warna busana mereka.

Dadanya terasa sesak. Kepalanya mulai berdenyut.

Sementara itu, Candy melangkah keluar dari kamar menuju ballroom. Setiap langkah terasa berat. Entah kenapa, perasaannya sejak tadi tak menentu.

"Mbok," ucap Candy tiba-tiba, "nanti aku harus manggil suamiku apa?"

"Mas," jawab Mbok Sarah mantap.

Candy meringis. "Tapi kan dia tua, Mbok. Nggak cocok."

Mbok Sarah tampak berpikir sejenak, lalu berkata santai, "Masa Non mau manggil papa atau eyang?"

"Idih! Mbok malah ngeledek," protes Candy.

"Biar Non nggak tegang," sahut Mbok Sarah sambil tersenyum. "Nanti juga kepikiran sendiri."

Candy akhirnya mengangguk, meski kegelisahan belum sepenuhnya hilang.

Tak lama, mereka tiba di depan pintu ballroom. Adrian sudah menunggu. Senyum bangga terukir di wajahnya saat melihat putri sulungnya.

Mbok Sarah menyerahkan Candy ke tangan tuannya.

Candy berjalan anggun menuju pelaminan, seiring alunan musik yang mengiringi setiap langkahnya.

Revo mendongak.

Pandangan mereka bertemu.

Ada sesuatu yang berdesir di dada Revo—perasaan asing yang tak ia pahami. Padahal ini kali kedua ia melihat Candy, namun entah mengapa kali ini terasa berbeda.

Sementara Candy tersenyum kecil dalam hati. Setidaknya, ia tak perlu memanggil suaminya dengan sebutan papa atau eyang.

Candy duduk di samping Revo.

Ijab kabul pun dimulai.

Tak sampai hitungan menit, status mereka resmi berubah—suami dan istri.

Sorak sorai memenuhi keluarga besar Revo. Tawa, swafoto, dan ucapan selamat bersahutan. Kebahagiaan terpancar jelas.

Berbeda dengan keluarga Candy. Hanya Adrian, Mbok Sarah, dan keluarga dari mendiang ibunya yang tampak benar-benar bahagia.

Bagaimana dengan Ranti?

Wanita itu langsung kembali ke kamar hotel yang telah disiapkan. Ia mengunci pintu rapat-rapat.

"Kurang ajar," gerutunya sambil mondar-mandir. "Bagaimana bisa calon suaminya setampan itu? Bukannya usia mereka terpaut jauh?"

Langkahnya terhenti.

"Rania…" gumamnya pelan.

Ranti meraih ponselnya dan mematikan mode pesawat. Notifikasi pesan masuk bertubi-tubi. Hingga satu pesan terakhir membuat wajahnya berubah pucat.

[Aku pulang, Ma.]

Ranti segera menelepon, namun kini giliran Rania yang tak bisa dihubungi.

"Benar-benar anak itu," desisnya kesal.

Namun perlahan, senyum licik terbit di sudut bibir Ranti. Ia membaca ulang pesan Rania.

Jika itu benar…

Berarti ia harus membantu putrinya mendapatkan Revo.

Ranti tak rela Candy memiliki suami tampan dan kehidupan mewah. Seharusnya Rania yang berdiri di posisi itu—bukan Candy.

Apa pun caranya, pernikahan Revo dan Candy harus berakhir.

 

Setelah prosesi akad nikah selesai, pesta pernikahan pun digelar. Kemeriahannya terasa jelas. Tawa, musik, dan ucapan selamat memenuhi ruangan.

Kali ini Candy mengenakan gaun panjang berwarna ivory, senada dengan setelan jas Revo. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan bahagia yang sedang dimabuk cinta—tersenyum ramah, berdiri berdampingan, dan sesekali saling melirik.

Padahal, senyum itu hanyalah senyum formal untuk para tamu.

Resepsi berlangsung hampir lima jam penuh. Selama itu pula Candy harus bertahan dengan high heels yang bahkan belum pernah ia pakai seumur hidupnya.

Biasanya ia hanya mengenakan flat shoes, sandal, atau paling banter sepatu kets. Hari itu menjadi pengalaman pertamanya memakai high heels—dan juga sumpah pertamanya untuk tidak akan pernah memakainya lagi.

Begitu resepsi berakhir, Candy langsung bergegas kembali ke kamar. Begitu pintu tertutup, ia melepas heels-nya dan berjalan tanpa alas kaki, menghela napas lega.

Revo yang mengikuti dari belakang hanya bisa terdiam, tak habis pikir melihat kelakuan istrinya.

Sesampainya di depan pintu kamar, Candy mengetuk pelan.

Tak lama, Mbok Sarah membukakan pintu.

"Non," sapa Mbok Sarah.

Candy langsung menerobos masuk, namun langkahnya tertahan.

"Eh, mau ke mana, Non?" tanya Mbok Sarah sambil menghadang.

"Ya masuk, Mbok," jawab Candy, mencoba menerobos lagi.

"Eits! Nggak ada," sahut Mbok Sarah cepat.

"Lho? Kan ini kamar aku sama Mbok," Candy mengernyit bingung.

"Itu tadi pagi, Non," jawab Mbok Sarah santai. "Sebelum Non resmi jadi istri orang."

Candy mendengus. "Udah deh, Mbok. Candy capek. Mau tidur."

"Non capek?" tanya Mbok Sarah.

Candy mengangguk.

"Mau tidur?"

Candy mengangguk lagi.

"Oke. Tunggu sebentar," ujar Mbok Sarah sambil menutup pintu.

"Eh, Mbok! Kok malah ditutup?" Candy mulai panik.

Mbok Sarah justru menarik tangan Candy dan membawanya menjauh dari kamar. Di ujung koridor, Revo baru saja keluar dari lift.

"Kebetulan," gumam Mbok Sarah senang.

"Selamat malam, Tuan Muda," sapa Mbok Sarah ramah.

Revo melirik sekilas. Alisnya terangkat saat melihat Candy—istri yang tadi pergi begitu saja, meninggalkannya sendirian menghadapi sisa tamu hingga diejek habis-habisan oleh Danny.

"Ini, Tuan Muda," ujar Mbok Sarah sumringah. "Istrinya nyasar. Katanya capek dan ngantuk."

"Mbok!" protes Candy.

Revo melirik sekali lagi, lalu berbalik pergi begitu saja.

"Eh? Kok malah ditinggal?" Mbok Sarah terkejut.

Dengan gerakan cepat, Mbok Sarah meloncat kecil dan menarik kerah belakang kemeja Revo.

Hampir saja Revo terjungkal ke belakang.

"Eh, Mbok!" pekik Candy.

"Tuan Muda ini gimana sih? Main tinggal aja," omel Mbok Sarah sambil tetap mencengkeram.

"Aduh, Mbok! Tolong lepas!" seru Revo, suaranya hampir tercekik.

Candy berusaha membantu, tapi sia-sia. Tenaga Mbok Sarah jauh lebih kuat dari yang terlihat.

"Nanti pergi lagi," ancam Mbok Sarah.

"Nggak, Mbok! Lepasin dulu!" pekik Revo.

"Janji?"

"Iya, Mbok!" jawab Revo cepat.

Mbok Sarah akhirnya melepasnya. Revo mengusap lehernya yang nyeri. Seumur hidup, baru kali ini ada orang asing yang berani menarik dan memarahinya—anehnya, ia sama sekali tidak merasa kesal.

"Ini," ujar Mbok Sarah sambil mendorong Candy ke depan.

Revo refleks memeluk Candy yang hampir terjatuh.

"Nah, pengantin baru harus gitu dong!" seru Mbok Sarah puas.

"Sekarang Mbok mau istirahat dulu. Bye!"

Ia berlalu begitu saja, meninggalkan mereka berdua.

Revo dan Candy saling menatap, sama-sama tidak sadar bahwa Mbok Sarah sudah pergi jauh.

Merasa canggung, Revo refleks melepas pelukannya.

Bruk.

Bokong Candy mendarat mulus di lantai—beruntung masih dilapisi karpet tebal.

"Aww! Kok dilepas sih, Om!" ketus Candy kesal.

"Sakit tahu," lanjutnya sambil mengusap bokongnya.

Revo langsung berjongkok, menyamakan tinggi tubuh mereka.

"Aku nggak ingat punya keponakan sebesar ini," ucap Revo santai, lalu mengetuk kening Candy pelan.

"Aww, sakit, Om!" keluh Candy. Tangannya refleks beralih mengusap kening.

Tatapan Revo mendadak menajam.

Candy sontak menutup mulutnya.

"Sorry," ucapnya tertahan.

Revo berdiri tegak lalu berbalik.

"Ikut," perintahnya singkat.

"Kemana?" tanya Candy bingung.

"Kalau mau tidur di sini, terserah," jawab Revo tanpa menoleh sedikit pun.

Candy melihat ke sekeliling. Koridor itu panjang dan sepi. Lampu temaram memantulkan bayangan di lantai marmer. Entah sejak kapan suasananya terasa sedikit menyeramkan—barangkali karena sebagian besar tamu sudah kembali ke kamar masing-masing.

Bulu kuduk Candy meremang.

Tanpa pikir panjang, ia bergegas bangkit.

"Tunggu!" serunya sambil berlari kecil menyusul suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!