"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Dasar gila!" gumam Lily berdecih sinis menatap Axton.
Ia berbalik mendorong trolinya dan ingin segera pergi dari sana.
"Mau ke mana? Lupa dengan isi kontrakmu hm?" ucap Axton membuat langkah Lily terhenti.
Wanita itu berbalik menatap tajam ke arah Axton, wajahnya memerah, tangannya mengepal, mencengkram erat ujung bajunya.
"Ibu dan anakmu yang akan dipenjara," lanjut Axton, membuat Lily tidak mampu menahan diri lagi.
"Kau gila Axton! Kau gila! Aku membencimu!" teriaknya memaki.
Axton menyinggung senyumnya, sembari mengusap pinggang Aline yang diam memperhatikan mereka.
"Sayang kamu keluarlah dulu," tutur Axton lembut.
Aline mengangkat sebelah alisnya sembari menatap Axton, lalu mengangguk pelan sebagai tanda patuhnya.
"Baiklah. Kalau butuh sesuatu panggil aku saja," ucap Aline memberikan kecupan manis di pipi Axton kemudian bangkit dari pangkuannya.
Aline berjalan sembari menatap Lily. "Dia sangat berani, dan sepertinya Pak Axton punya dendam. Kali ini habis riwayatmu!" batinnya menyinggung senyumnya saat Lily meliriknya, seolah menertawai nasibnya.
Lily pun hanya diam di tempatnya, tanpa menurunkan tatapan tajamnya.
"Aku tidak mau melayanimu. Minta saja wanita-wanitamu melayani Axton?" ucap Lily penuh penekanan.
Axton bangkit dari duduknya, berjalan pelan sembari menyentuh meja dengan jari-jarinya. "Kenapa hm? Kontrak sudah jelas, dan kau tidak bisa melanggarnya."
Lily menghembuskan nafas berat berulang kali. Jelas sampai saat ini ia menyesal dengan penandatanganan kontrak itu. Ia terpaksa pun demi gaji yang ditawarkan.
"Kau sudah punya banyak wanita yang bisa melayanimu, Axton. Kau bisa meminta puluhan wanita di tempat ini untuk melakukannya. Tapi, tidak denganku!" ucapnya dengan tegas.
"Kenapa?" sahut Axton santai, membuat Lily menggeram kesal.
"Kau terlalu kotor Axton! Kau terlalu menjijikkan! Aku membencimu! Melihatmu adalah penderitaan bagiku!" Maki Lily dengan suara menggelegar memenuhi ruangan.
Lily mengacak rambutnya frustasi. Air matanya mengalir tanpa mampu dikendalikan.
Sementara Axton tetap tenang memperhatikan. "Kenapa jijik? Apa karena aku punya banyak wanita hm? Kau cemburu?"
Lily kembali mengambil dan membuang nafas kasar berulang kali, sembari memejamkan mata, untuk menenangkan diri.
Sementara Axton dengan santai kembali menyahut. "Jika cemburu katakan saja. Aku akan meladenimu. Seperti dulu, kamu boleh memukul dan memarahi wanita-wanita yang mengejar ku, dan aku akan melindungimu," ucapnya seketika membuat Lily menatapnya.
Axton mengulum senyum manis, tatapannya lembut membuat Lily melihat Axton kekasihnya dulu. Yang selalu peduli dan membelanya.
Namun, hatinya sudah terlalu membeku kedinginan, hingga apa yang dilakukan Axton saat ini tidak cukup mencairkan sedikitpun hatinya.
Lily menyinggung senyumnya. Ia menyisir rambutnya ke belakang, dan sedikit merapikan rambutnya yang berantakan.
"Sepertinya, kamu belum melupakanku. Kamu masih mencintaiku Axton," ucap Lily beralih menyentuh pipi Axton, dan memberinya usapan lembut.
Axton tersenyum tipis, matanya semakin sayu dan lembut menatap Lily. "Ya itu benar," batinnya.
Bibir Axton terbuka ingin menyahuti apa yang dibenaknya. Namun, terhenti saat Lily kembali berucap. "Tapi, maaf. Cemburu itu ada karena cinta. Sedangkan, aku ...."
Lily tersenyum lebar menatap bola mata Axton yang perlahan berubah. Lalu melanjutkan. "Atas dasar apa aku masih mencintaimu?"
Senyum Axton menghilang, bola matanya berubah tajam, wajah putih itu berubah menjadi merah, dan rahangnya mengeras.
Melihat perubahan itu justru membuat Lily semakin tersenyum senang. Ia melanjutkan ucapannya. "Tidak ada lagi alasan mencintaimu Axton. Tidak ada," ucapnya.
"Kenapa?" ucap Axton menggeram.
"Kenapa apanya?" jawab Lily bersedekap dada dengan santai.
Axton mengepalkan tangannya. Hingga urat hijau nampak di sana. Dengan dingin ia berucap. "Kamu tidak bisa bersikap seperti ini Lily."
"Kenapa?" sahut Lily tersenyum mengejek.
Axton yang kehilangan kesabarannya. Langsung menarik Lily ke sofa dan melempar tubuhnya.
"Akh!" pekik Lily mulai panik.
Saat ia akan bangkit, Axton menahan bahunya. Tanpa peduli bagaimana Lily memberontak dan berteriak. Axton tetap mampu menahan tubuh Lily.
"Axton lepaskan!" teriak Lily dengan kaki yang berusaha menendang.
Axton naik ke sofa. Menjepit kedua kaki Lily dengan pahanya. Ia lalu menangkap kedua tangan Lily yang terus memukul. Ia menarik dasinya, lalu mengikat kedua tangan Lily.
"Axton lepaskan!" teriak Lily semakin panik karena pergerakannya semakin terkunci.
Axton mendekatkan wajahnya, ingin mencium bibir Lily. Namun, Lily menggeleng, terus melakukan perlawanan. Membuat Axton menyepit kedua pipinya, hingga Lily tak mampu lagi bergerak.
"Emm!" pekik Lily saat bibir Axton berhasil menyentuh bibirnya.
Axton memasukkan lidahnya ke dalam mulut Lily, seolah mengabsen isi mulut wanita itu.
Lily tidak membalas, ia terus berusaha melawan, air matanya pun sudah berlinang.
"Emm!" Lily yang tak mampu menahan rasa kesalnya, akhirnya mengigit lidah Axton, membuat Axton seketika melepaskan ciumannya.
"Sstt ah!" Ringis pelan pria itu.
"Dasar bodoh! Kau gila, kau gila!" teriak Lily mendorong Axton dengan tangannya terikat.
Namun, gigitan itu seolah tidak mampu meruntuhkan Axton. Pria itu kembali menahan tangan Lily, sementara tangan satunya meraba tubuh.
Kali ini Axton mencium ceruk leher Lily, dan memberikan tanda di sana, memberikan beberapa ciuman liar di area telinga yang membuat Lily melenguh.
"Emmh, jangan Axton. Jangan aku mohon," pinta Lily berusaha menjauhkan telinga dari ciuman Axton.
"Tidak bisa," ucap Axton tersenyum menyeringai.
Axton, kembali mencium beberapa titik sensitif Lily. Dengan tangannya yang juga membuka satu persatu kancing baju seragam Lily.
"Axton, aku mohon jangan," keluh Lily merasa tubuhnya mulai memanas karena rangsangan yang semakin tajam.
Namun ucapannya bagaimana angin lalu. Lidah Axton bergerak semakin turun ke area dadanya, membuat Lily menggeliat.
"Axton, aku mohon. Aku benar-benar datang bulan," pinta Lily melemas.
Rasa panas dan perih mengalir di area privasi, yang membuatnya semakin bergairah. Namun, hatinya yang penuh tekad, terus melakukan perlawanan.
Lagi, Axton tak peduli. Tanktop yang dikenakan, ditarik turun, membuat dada yang ditutupi terpampang jelas.
Jantung Axton berdegup kencang, jakunnya naik turun, terpanah melihat dada yang tak pernah ia lupakan itu, kini disentuhnya kembali secara nyata.
Detik kemudiannya. Axton mencium ujung dada Lily, dan memainkan dengan lidah sementara tangannya ikut memainkan area satunya, membuat tubuh Lily semakin menegang.
"Axton, tidak. Axton, cukup," pinta Lily dengan nafasnya semakin berat.
Lily mencoba mendorong Axton dengan tangannya yang terikat. Namun, sentuhan dan hisapan Axton, seolah ikut menghisap seluruh tenaganya.
"Aw, ahh ..." Desah Lily tak mampu menahan diri. Ia tanpa sadar mengalungkan tangannya di kepala Axton dan menekannya, berharap sesuatu yang lebih.
Gerakan itu membuat Axton tersenyum menyeringai. Ia menghentikan gerakannya, lalu mendongak menatap Lily.
"Kenapa? Sudah mau? Iya? Mintalah," ucapnya menatap dengan penuh hasrat.
Mata Lily satu menatap Axton. Namun, ia menjawab, "Tidak Axton, cukup. Aku mohon," pintanya sembari menggelengkan kepala.
Axton menyinggung senyumnya. "Tidak? Baiklah. Bagaimana kalau yang ini," ucap Axton kemudian memasukkan tangannya ke dalam rok selutut Lily yang menjadi bagian seragam cleaning service.
"Tidak, tidak Axton. Aku sedang datang bulan," ucap Lily semakin panik.
Axton mengeluarkan tangannya, membuat Lily sedikit lega. Namun, itu hanya bagian dari permainan.
Axton melingkarkan tangannya ke belakang, melepaskan pengait roknya, yang membuat Lily menatapnya tajam.
"Axton, cukup!" Teriaknya.
"Tidak sebelum aku puas."
"Bajingan!" yang saat itu juga Axton berhasil melepaskan roknya.