Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
"Naura maafin kami ya nak, apapun yang terjadi, kami sangat menyayangi mu," ucap ibu Naura dengan wajah yang sangat sedih.
Dengan ayah yang berdiri di sebelah ibunya. Ke dua orang tua Naura berada di cahaya itu. Semakin lama cahaya mulai mengecil memperlihat kan orang tua nya juga mulai menghilang dari balik cahaya.
"Ayah .... Ibu .... Hiks hiks hiks jangan tinggalin Naura. Kalian mau kemana?" ujar Naura di sela sela tangis nya.
Lalu naura membuka matanya. Dia heran sejak kapan dia sudah berada di dalam kamar.
Naura mencoba untuk duduk walaupun kepala nya masih pusing dan juga berputar putar.
"Sudah bangun?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari ranjangnya. Suaranya terdengar begitu dingin dan juga menyeramkan.
"I - iya sudah mah," jawab Naura menunduk dengan wajah takut.
Liliana pun mendekat ke arah menantunya.
Naura yang merasa leher nya nyeri. Akhirnya dia teringat peristiwa tadi, saat Liam menggigit lehernya itu.
"Jadi tadi bukan mimpi,"batin Naura. Dia malah merasa takut karena harus berada di tengah tengah tengah keluarga yang aneh.
Saat Liliana mendekat ke tubuhnya. Reflek Naura pun memundurkan tubuhnya. Dia sangat lah takut. Kalau Sampai mati karena kehabisan darah. Jika kali ini Liliana juga menghisap darahnya juga seperti Liam.
Sungguh sekarang ini tiba tiba Naura merasa ketakutan sendiri.
Liliana yang gemas dengan tingkah menantunya langsung menarik tangan menantunya itu.
"Mau kemana? kenapa terus mundur?" tanya Liliana dengan suara datar, tanpa berbasa-basi. Ia langsung memeluk menantunya yang terlihat begitu ketakutan dengan sangat erat.
"Akkhhhhh," teriak Naura dengan suara takut, ia begitu ketakutan jika ibu mertua nya itu akan ikut menghisap darahnya.
Brakk, suara pintu yang dibuka dengan sangat keras.
Liam membuka pintu dengan kasar karena mendengar istri nya itu menjerit.
"Apa yang mamah lakukan ke padanya?" tanya Liam dengan mata mulai memerah. Wajahnya terlihat mulai marah.
"Hmmm ... Mamah cuman peluk istri kamu. Dan cuman mau mengucap kan kata terimakasih karena berkat dia kamu bisa kembali ke dunia ini dan bisa mengendalikan amarah mu yang kadang sudah seperti iblis itu," jawab Liliana dengan santai sembari tersenyum, walaupun Liliana tersenyum tidak akan mengurangi keangkuhan yang sudah mendarah daging di wajahnya.
Lalu Liliana melepas kan pelukannya dari tubuh Naura. Terlihat tubuh Naura masih bergetar hebat karena ketakutan.
Pandangan Naura masih kosong dengan tubuh yang bergetar dia meringkuk. Karena mimpinya dia jadi teringat akan ke dua orang tuanya.
Selain ketakutan karena faktanya dia hidup di tengah tengah vampir, tiba tiba ia merasa, jika hal buruk telah menimpa ke dua orang tuanya.
"Dimana sebenarnya mereka?" gumam Naura dalam hatinya.
Tiba tiba Naura yang kebelet buang air kecil pun berjalan menuju kamar mandi dulu yang ada di garasi. Iya Naura meninggal kan Liam dan ber jalan menuju garasi seorang diri.
Saat Liam melangkah menuju pintu rumah nya. Untuk keluar menuju garasi yang ada tepat di sebelah rumah nya. Dia di kaget kan dengan kedatangan Cherly dan juga keluarga nya.
"Hay Liam" sapa Cherly ramah.
Ibu Cherly hanya bisa mengeluarkan air mata haru melihat Liam masih hidup dan Ter lihat sehat.
Tak kalah heran adalah Adam Aisley melihat calon mantu nya kembali hidup dan Ter lihat sangat sehat membuat Adam sedikit menyesal. Karena telah memutus kan pertunangan anak nya kala itu. Tapi Adam yakin. Kartu as yang dia punya bisa menarik kembali Liam untuk menjadi menantu nya.
Liam hanya melengos tidak menjawab apa yang Cherly ucap kan. Padahal Cherly hanya sekedar menyapa nya.
Liam melewati cherly tanpa melihat ke arah nya.
Tapi orang yang mempunyai sopan santun yang tinggi seperti Liam. Dia tetap Ter senyum ke arah Adam mau pun Vivi Aisley
"Liam tunggu" panggil Cherly sendu hampir menangis, karena di acuh kan liam sangat lah membuat hatinya sakit. dan memilih masih menatap punggung Liam.
Ibu nya Cherly pun Hanya bisa mengusap punggung putri nya. Sekedar untuk menenangkan putri nya. Tapi Cherly dengan kasar menepis tangan ibu Cherly. Menyebab kan Vivi Ter jatuh ke lantai.
Sedang suami nya Adam Aisley sedang sibuk ber bincang serius dengan liliana dan juga Stev.
Cherly tanpa belas kasih membiarkan mommy nya yang Ter duduk di lantai dan memilih untuk menyusul Daddy nya. Liam yang melihat dari jauh pun memilih untuk membantu bibi ber diri dulu.
Liam sekarang baru tahu watak asli mantan pacar sekaligus mantan tunangan nya itu. Sungguh sangat kasar dan arogan. Padahal itu ibu kandung nya sendiri. Tapi pada Akhir nya membuat Liam lega dan merasa beruntung bahwa dia tidak harus melanjut kan pertunangan nya dengan perempuan seperti Cherly.
"Ma - makasih ya Liam, kamu selalu jadi anak laki laki Ter baik yang pernah saya kenal" ucap Vivi tulus dengan tangan masih di pegang Liam. Setelah memastikan Vivi sudah benar benar berdiri pun. Liam melepas kan tangan nya dari tangan Vivi.
"Sama sama Tante, Liam berangkat sekolah dulu." Ucap Liam sopan sembari mencium punggung tangan Vivi. bagaimana pun Liam tetap menghormati orang tua.
Cherly yang sudah duduk pun melihat Liam yang dengan sopan membantu ibunya, untuk bangun, lalu ia pun tersenyum dan mulai menyadari jika memang lah Liam yang Ter baik jika di banding kan dengan Aron.
"Tunggu Liam" ucap Vivi memanggil nama Liam, yang akan pergi ke sekolah.
Liam pun menoleh. Dan ber jalan kembali untuk menghampiri Vivi yang yang berusaha ber jalan menuju ke arah nya.
"Maaf in tante ya Liam, atas kesalahan yang di lakukan oleh Cherly selama ini ke pada mu ... " ucap Vivi tulus sembari menunduk kan wajah nya
"Iya gak pa pa tante, Liam sudah memafkan semua nya" ucap Liam dengan senyuman tulus. Liam juga merasa jika ada seseorang yang membekap mulut Naura. saat ingin melihat dari jauh siapa orang yang membekap mulut Naura dan ingin membawa Naura ke mobil pun.
Langkah Liam Ter henti saat Cherly menarik tangannya.
"Liam" panggil Cherly dengan nada manja.
Liam masih diam, sembari terus menelisik dimana istri nya itu ber ada.
"Liam kenapa ku berubah cuek begini ma aku , hiks hiks hiks. Padahal aku kangen banget Lo ma kamu" ucap Cherly lebay dengan tangis buaya nya. Tapi Liam tahu jika memang Cherly sedang ber sandiwara dan berusaha mencari simpati nya.
"Berisik" ucap Liam dingin. Tapi dalam hati Liam mulai bingung. Karena di pandangan nya sama sekali tidak ada Naura di sana. Dimana kah Naura berada.
Tiba tiba Cherly memeluk Liam dari belakang.