Lilis adalah seorang gadis desa yang tingal bersama kedua orangtuanya dengan kehidupan yang sederhana.
Tekatnya sangat kuat untuk berhasil menghargai cita-cita menjadi seorang dokter gigi.
Banyak perjuangan yang dilakukan dan perlu kesabaran ekstra ketika di sekolah selalu dibully sama temannya.
Akhirnya dengan
Kedua orangtuanyalah yang selalu menghiburnya.
Lilis mencoba melupakan kejadian-kejadian yang membuat lilis trauma, seperti teman-teman sekelasnya sering membully lilis pada saat di sekolah dan lainnya. Dengan terus semangat belajar.
Akhirnya dengan kegigihannya Lilis berhasil masuk di sekolah sma Negeri ternama.
Tapi cobaan lagi-lagi menghampirinya.
Lilis sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
Lilis hampir putus asa. Tapi hidup terus berjalan. Lilis harus tetap melangkah. Dia berangkat ke kota menuju tempat sekolahnya.
Berbekal tabungan yang dia kumpulkan ketika berjualan dan kerja paruh waktu selama sekolah SMP.
Lilis didesa tidak punya kendaraan di rumah dan rumahnya jauh dari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilis Suryaningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LILIS MASUK KE KELAS SETELAH MENDENGAR BEL SEKOLAH
"Bel masuk berbunyi. Semua siswa berlarian masuk kelas masing-masing. Lina masuk ke kelas dengan langkah cepat di susul dengan taufik di belakangnya.
Meski terlihat sedih, tapi Lina seperti berusaha fokus pada pelajaran. Sekali Lilis melihatnya. Lina jadi pendiam.
Tanpa terasa, empat jam pelajaran sudah berlalu. Waktunya istirahat. Waktu yang paling di tunggu semua siswa setelah mengerjakan dengan tugas-tugas di kelas.
Seperti biasa, waktu istirahat pertama Lilis lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan. Terkadang ada Lelyta yang menemani,Terkadang dia sendiri. Seperti sekarang, Lelyta lebih memilih makan di kantin karena lapar.
Lilis paling suka buku tentang kesehatan
Biologi. Dia sangat menyukai tentang kesehatan yang ada di tubuh manusia atau hewan. Dia juga suka buku tentang bahasa Indonesia dan juga bahasa Arab. Dia sangat menyukai jenis karya sastra Indonesia dan Arab baik itu cerpen, novel, puisi dan sebagainya. Bahkan dia bercita-cita ingin menjadi Dokter,Penulis buku dan penerjemah baik itu bahasa Arab,english dan juga bahasa Indonesia. Ibu wiji adalah guru biologi idolanya. Apapun yang dijelaskan oleh beliau, selalu menarik perhatian nya. Bahkan dia sering bertanya tentang kuliah kedokteran di mata pelajaran biologi. Ibu wiji yang ramah pun menjelaskan dengan teliti.
Lilis membaca buku dengan serius sehingga tidak memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
Sementara di depan pintu masuk, Aldi berjalan dengan pelan dia mendekati Lilis.
Aldi manggil Lilis dengan suara Pelan.
Mengingat ini di perpustakaan dia tidak ingin7
menganggu siswa lain yang sedang membaca.
Lilis langsung menoleh. Dan bilang Ya
"Kata Lilis"
"Boleh aku duduk" Aldi melihat bangku kosong di sebelah Lilis.
Lilis mengangguk. Tiba-tiba ada yang Aneh di dalamnya hatinya. Tidak pernah dia merasa seperti ini ketika di dekat laki-laki.
Aldi pun tidak kalah cepat. Dia mencoba meneliti hatinya. Baru kali ini dia begini. Sempat berhenti beberapa saat ketika Aldi sudah menempati bangkunya.
"Ehm ... Ada yang mau aku bicarakan. Tapi kayaknya di sini kurang nyaman. Gimana kalau kita ke kantin saja. Nanti aku traktir deh" Aldi membuka percakapan setelah detakan di jantungnya mulai normal. Dia tersenyum membuat Lilis tidak kuat melihatnya. Dia pun mengalihkan pandangannya pada bukunya.
"Apa tidak ada yang marah? Kata Lilis"
"Idih siapa yang marah" Kata Aldi sambil ketawa, ayo mari kita ke kantin.
Lilis berjalan mengikuti Aldi. Di luar perpustakaan, Aldi berhenti. Lilis yang tidak fokus hampir saja menabraknya.
" kok berhenti" Lilis kaget. "Kata Lilis"
Aldi tertawa pelan. "Untung saja tidak nabrak aku, bisa mati berdiri aku " Kata Aldi"
Lilis diam aja.
"Kenapa kamu jalan di belakang, sini jalan di samping aku. Lucu kali. Kayak aku bos dan kamu itu anak buah. " Kata Aldi"
Membuat Lilis jadi malu.
Lalu mereka berdua Jalan bersebelahan.
Ada sepasang mata yang Melihat mereka dengan kesal. Eni begitu marah melihat pemandangan yang ada di depannya.
Sampai detik ini dia tidak juga bisa jalan bareng sama Aldi. Dia selalu menolaknya. Tapi Lilis kenapa dengan mudahnya bisa jalan dengan Aldi. Eni tidak terima. Dia pun merencanakan sesuatu.
Sampai di kantin, Aldi memesan dua buah nasi goreng beserta dua gelas jus jambu. Hari yang lumayan panas, minuman dingin sangat membuat dingin di tenggorokan.
"Aduh, sejak kapan laki ini makan bareng perempuan di kantin. Biasanya, sama kita kita Atau paling tidak dia sendiri" kata Bagas dan teman-temannya.
" Sudah saatnya aku dekat dengan perempuan biar kalian tidak meledekku, cowok tidak laku. " kalian jangan ganggu kata Aldi sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Bagas yang mengerti pun mengajak teman-temannya menjauh dengan ketawa.
" jangan diambil hati ya, mereka memang begitu" kata Aldi. Aldi melihat wajah yang merah, membuat Aldi semakin terPesona. Meski dia tidak berdandan, tapi wajah kecantikan terpancar jelas di wajahnya.
"Hei, kamu melihat aku kok begitu, katanya mau bicara " Kata Lilis.
Eh iya.. I -ya" Kata Aldi.
Bicaranya sambil makan tidak apa apa kan entar ke buru habis waktu istirahatnya "
Lilis menangguk dan bilang "iya kak".
" Jadi tante aku nyari orang yang bisa ngajar privat anaknya yang baru kelas satu SD. Dia kesulitan pelajaran Agama. Tanteku dan suaminya itu orang sibuk. Jadi mereka tidak ada waktu untuk mengajari Arinda keponakanku. Sehari-hari dia hanya tinggal dengan pengasuhnya di rumah. Nah kira-kira kamu mau tidak. Kamu kan cerdas di bidang pendidikan Agama Islam. "
Mata Lilis berbinar. "Beneran ada yang nyari guru privat? "Kata Lilis"
Mengangguk, Iya Lis. "Kata Aldi"
"Wah, aku senang sekali" Lilis senang sampai tersedak makan nasi goreng yang baru di siapnya. Lalu Aldi memberikan minuman jus jambu yang sudah di pesan tadi.
"Pelan-pelan ya bicaranya.
Rumahnya jauh tidak, kata Lilis.
" Kalau kamu naik sepeda sekitar tiga puluh menitan dari sekolah ini. Soalnya rumahnya ada di tengah kota. "Kata Aldi"
Lilis mulai berpikir, berarti kalau balik ke rumahnya sekitar hampir satu jam tiga puluh.
" aku bilang ke Ibuku dulu ya. Besok aku beritahu lagi."kata Lilis "
"Aldi mengangguk, Iya Lis aku tunggu kabar selanjutnya dari kamu, " Kata Aldi "
Mereka pun menghabiskan makanan dan minumannya sambil tertawa.
Sementara di sudut kantin, ada seseorang yang Melihat Lilis.
Lilis mengendarai sepeda motor nya dengan pelan. Sinar matahari begitu menyengat kulit. Untung jalanan sudah bagus beraspal sehingga dia tidak perlu tenaga ekstra untuk mengendarai sepedanya.
Dorrr
Lilis kaget, banyak kempes sementara jalan yang dilewatinya daerah persawahan masih jauh dengan desa tempat tinggal.
" ya, harus mendorong jalan kaki katanya. Lilis mengambil nafas pelan.
Baru saja beberapa meter Dia berjalan, sebuah sepeda motor berhenti di dekatnya.
"Bannya kempes, katanya seseorang yang bertanya.
Lilis mulai melihat ke samping. Ternyata Aldi dengan sepeda motor besarnya.
" Iya Kak. Kok Kakak ada di sini, rumah kita kan beda arah. "Kata Lilis"
"Emmm..... aku lagi ada keperluan" Aldi tersenyum "kata Aldi"
Oh iya kak, kata Lilis .
"Sini aku bantu dorong. Kamu naik saja di sepedahmu, Aldi sambil menunjuk ke sepeda Lilis. " Kata Aldi"
"Tidak usah kak. Nanti kakak pulang terlambat. Aku bisa sendiri kak. " Kata Lilis "
Sudah tidak apa-apa. Kamu mau jalan sendirian? Nanti kalau kamu hilang gimana?
"Kata Aldi"
Lilis mau, Aldi pun membantu mendorong sepeda Lilis dengan satu kaki sambil naik motornya. Tidak lama di depan sana terlihat tempat tambal ban di pinggir jalan. Mereka menepi. Seorang bapak tua tersenyum senang karena dia akan mendapat rezeki untuk hari ini. Sudah lewat tengah hari baru kali ini ada yang menambal ban padanya