NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Di salah satu sudut desa, Prana melebur dalam bayang-bayang pepohonan. Tatapan tajamnya menyisir setiap helai daun dan jengkal jalan setapak. Isyarat dari Arya Jaya tadi bukanlah perintah biasa, melainkan sebuah tugas mendesak: memastikan sumber keresahan penduduk desa, sebuah ancaman yang jauh lebih kelam daripada sekadar hama perusak atau musim kemarau panjang.

Sejak kembali dari perjalanan panjangnya, Prana langsung terjun menyelidiki fenomena ganjil yang membayangi desa ini. Laporan dari tiga orang tadi bisa jadi adalah petunjuk paling berharga, sebuah celah untuk menyingkap tabir gelap yang selama ini mengurung penyelidikannya.

Tubuh Prana tidaklah setinggi atau sekekar para penebang kayu, namun justru itulah yang memudahkannya bergerak tanpa suara. Setiap ototnya adalah definisi efisiensi yang mematikan. Wajah yang biasanya datar kini sepenuhnya waspada. Ia mungkin bukan pendekar abadi, bukan pula warga desa, melainkan seseorang yang telah membuang masa lalunya demi menjalani peran yang ia pilih sendiri.

Langkah pertama, membawanya ke ladang jagung milik Karta di tepi hutan. Pemandangan yang tersaji di hadapannya segera meneguhkan firasat buruk yang sejak tadi menggelayuti benaknya. Kerusakan itu jelas bukan sekadar ulah binatang lapar. Pagar kayu hancur, ladang luluh lantak, seakan diinjak-injak oleh kekuatan liar yang diliputi amarah.

Prana berjongkok, meneliti jejak babi hutan yang tercetak dalam di tanah. Namun instingnya yang terasah bertahun-tahun sebagai pelindung desa memberi peringatan lain… ada sesuatu yang tidak beres. Amukan ini terlalu kacau, terlalu sarat kebencian.

“Ini bukan sekadar binatang buas yang lapar…”

Bisiknya pelan, matanya menyipit dengan sorot yang dingin.

“Ini kegilaan!”

Tatapannya menyapu liar ke sekeliling, hingga sesuatu menarik perhatiannya di sisi terdekat; jejak cakaran dan gigitan di batang pohon, terlalu tinggi, jauh melampaui jangkauan babi hutan biasa.

Jejak-jejak aneh itu bagai serpihan roti yang ditinggalkan monster, menggiringnya semakin jauh ke jantung Hutan Jura yang muram. Di bawah kanopi pohon yang rapat, udara kian dingin dan pengap. Aroma tanah basah dan lumut busuk merayap, disusul bau anyir darah dan kematian yang kini tak lagi samar.

Langkahnya terhenti saat kakinya menyingkap lapisan tebal daun kering. Dan di sana, di atas tanah yang lembap, ia menemukannya: sebuah jejak sepatu kayu manusia yang nyaris pudar.

Namun bukan jejak itu yang membuatnya waspada, melainkan rumput di sekelilingnya. Rumput itu tampak layu dan menghitam, seolah vitalitasnya telah direnggut paksa hingga ke akarnya.

Prana berjongkok, mendekatkan wajahnya ke tanah. Ia menarik napas tajam melalui hidung, membiarkan inderanya yang terlatih menganalisis. Tidak salah lagi. Bau busuk yang khas ini bukan berasal dari bangkai binatang.

Ini adalah hawa iblis!

Keningnya berkerut. Ada sesuatu yang lebih ganjil merayap di balik aroma busuk itu. Hawa Iblis di sini terasa segar, baru saja muncul, penuh amarah yang masih menyala. Namun, di kedalamannya, Prana merasakan gema samar, seperti resonansi lain yang serupa… tapi jauh lebih tua. Dalam, dan anehnya… pasrah. Gema itu seakan-akan merambat, tertarik ke arah jantung desa.

Prana menggeleng pelan, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah pantulan dari sumber energi kuat di hutan. Tapi keganjilan itu tetap mengendap di benaknya, seperti duri yang tak terlihat.

Detak jantungnya berdentam, bukan oleh rasa takut, melainkan kewaspadaan murni. Dan kewaspadaan ini hanya berarti satu hal: seorang Pendekar Iblis tengah berkeliaran begitu dekat dengan desa.

Seketika, potongan-potongan teka-teki itu menyatu di benaknya. Amukan babi hutan yang dipenuhi kebencian buta hingga merusak ladang Karta. Kematian ikan-ikan aneh di pengkaran Darmin. Buah-buahan yang menimbulkan liur ganjil setelah dimakan di kebun Budi. Semua itu bukan kebetulan.

Ini jelas ulah para kultivator jalan sesat. Dengan metode terlarang, mereka menyerap energi kehidupan, mengacaukan keseimbangan, dan merusak pikiran binatang hingga menjelma menjadi monster buas pemangsa segalanya. Dan merekalah sumber fitnah yang kini menghancurkan hidup Jihan.

Dengan semua indra yang kini dipertajam hingga ke batasnya, Prana melanjutkan perjalanannya dengan lebih hati-hati. Namun, baru beberapa langkah, ia membeku. Instingnya yang terlatih menjerit bahaya. Keheningan hutan yang tadinya alami kini terasa palsu, berat, dan menindas.

Ia tidak lagi sendirian. Puluhan pasang mata tak terlihat sedang mengawasinya dari kegelapan di antara pepohonan.

Keheningan yang menindas itu akhirnya pecah, bukan oleh suara ranting patah, melainkan oleh geraman rendah yang datang dari segala arah.

Kemudian, dari kegelapan pekat di antara semak belukar, sepasang mata merah menyala muncul. Lalu sepasang lagi. Dan lagi. Hingga lima pasang mata yang berkilat penuh kebencian itu membentuk setengah lingkaran di hadapannya, menjebaknya.

Satu per satu, makhluk-makhluk itu melangkah keluar dari bayang-bayang. Lima ekor Serigala Hutan raksasa, tubuh mereka jauh lebih besar dan berotot daripada serigala normal mana pun. Bulu mereka kusam dan kusut, liur kental menetes dari rahang mereka yang menganga, dan mata mereka tidak memancarkan kecerdasan predator, melainkan kegilaan buta yang mengerikan.

Dan di dahi mereka masing-masing, Prana melihatnya dengan jelas: sebuah simbol aneh yang berdenyut samar dengan cahaya hitam yang jahat.

"Seperti yang kuduga,"

Bisik Prana pada dirinya sendiri, tatapannya dingin dan tak bergeming. Tangannya perlahan bergerak ke punggungnya, mencabut dua bilah belati pendek dari sarung kulit yang tersembunyi di balik rompinya. Belati itu kusam, tanpa hiasan, dibuat murni untuk membunuh.

Aura eenergi iblis yang pekat menguar dari kelima serigala itu, membuat udara di sekitar mereka terasa berat dan menyesakkan. Ini bukan lagi binatang buas, melainkan monster yang digerakkan oleh niat jahat. Mereka tidak lagi memiliki rasa takut, hanya rasa lapar yang tak terpuaskan akan darah dan daging.

Tanpa aba-aba, serigala di sisi kanan Prana menerjang. Gerakannya luar biasa cepat, cakarnya yang panjang dan hitam terentang, siap merobek lehernya. Namun, Prana seolah telah mengantisipasinya. Ia tidak mundur, melainkan melangkah maju ke arah serangan itu, memutar tubuhnya dengan poros yang sempurna. Cakar serigala itu hanya menyambar udara kosong, tepat di tempat Prana berdiri sepersekian detik yang lalu.

Dalam gerakan memutar yang sama, Prana mengayunkan belati di tangan kanannya ke belakang. Ujung bilah yang tajam mengiris urat di kaki belakang serigala itu dengan presisi tanpa ampun. Terdengar lolongan kesakitan yang melengking saat serigala itu jatuh tersungkur, kakinya tak lagi mampu menopang bobot tubuhnya yang besar.

Satu jatuh, empat tersisa. Serangan pertama yang gagal justru menyulut amarah keempat serigala lainnya. Mereka tidak lagi menyerang satu per satu, melainkan bergerak serempak. Geraman mereka menyatu menjadi simfoni kebencian saat mereka menerjang Prana dari empat arah yang berbeda, menutup semua jalur untuk melarikan diri.

Prana tersenyum tipis. Bagi manusia fana, ini adalah situasi tanpa harapan. Namun baginya, ini adalah sebuah tarian yang ia kenal baik. Dalam sekejap, matanya telah memindai seluruh medan pertempuran.

"Teknik Beladiri Tingkat Dasar, Sayatan Seribu Belati,"

Detik berikutnya, Prana melesat secepat kilat. Ia mengayunkan belatinya ke arah empat serigala itu dalam satu gerakan kabur. Bahkan sebelum para monster itu sempat menyadari apa yang terjadi, tubuh mereka telah terpotong menjadi beberapa bagian. Sabetan belatinya begitu dahsyat hingga turut menebas beberapa pohon di sekitarnya hingga tumbang.

Hutan kembali hening, lebih hening dari sebelumnya. Darah hitam pekat menyiprat ke tanah dan dedaunan, mengeluarkan desis pelan dan asap berbau busuk saat bersentuhan dengan tanah, seolah meracuni kehidupan itu sendiri. Prana berdiri di tengah pembantaian itu, napasnya teratur, belatinya yang kini meneteskan cairan hitam ia pegang dengan mantap.

Ia mendekati salah satu bangkai serigala yang paling utuh. Simbol hitam di dahinya perlahan memudar. Saat simbol itu lenyap sepenuhnya, bangkai monster itu tidak membusuk secara alami. Sebaliknya, daging dan bulunya mulai hancur menjadi debu hitam legam, yang kemudian tertiup angin dan lenyap tak bersisa, hanya menyisakan kerangka yang menghitam.

“Simbol Pengendali Jiwa…,” desis Prana, matanya menyipit.

“Tingkatannya tidak rendah. Ini bukan pekerjaan Pendekar Iblis biasa.”

Kenyataan ini membuat situasi menjadi jauh lebih serius. Pendekar Iblis yang mampu menggunakan teknik serumit ini untuk mengendalikan banyak binatang buas sekaligus pastilah memiliki tingkat kultivasi yang tinggi. Mereka bukan sekadar perampok atau pembunuh bayaran yang tersesat, melainkan seorang praktisi jalan sesat yang punya tujuan tertentu di tempat terpencil ini.

Prana membersihkan belatinya di sehelai daun lebar sebelum menyarungkannya kembali. Ia menantap tajam kedalaman hutan.

“Angin hutan tak lagi membawa ketenangan... sepertinya badai telah memijakkan langkahnya.”

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!