NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu belaiannya

Pagi tadi Adam tidak membangunkanku untuk sholat subuh bersama seperti yang kami lakukan di rumah papa. Dan saat aku turun kebawah, rumah sudah sepi. Mobil Adam tidak ada lagi di depan. Tapi di bawah tudung saji sudah tersedia sarapan, pancake coklat cip kesukaanku.

Dari mana dia tau?

Aku makan tiga potong, sebelum naik ke atas untuk mandi. Kemudian melanjutkan membaca novel semalam di rumah tamu.

Jam 3 sore, Adam baru pulang. Dia lansung masuk sambil menenteng peperbag, tanpa menyapaku.

Jujur, aku kecil hati dengan responnya itu.

Pesta ulang tahun Ana, mulai pukul 8 malam. Adam telah rapi ketika aku akan mandi.

Ketika kami berselisih di tengah-tengah tangga barulah dia menegurku. "Malam ini kamu pergi ke tempat Juliana juga kan? Mau berangkat sama-sama?"

Aku mengerutkan kening sebelum menjawab. "Sekarang aku ingat aturan dasar nomor 3. Gak boleh naik mobil bareng ke mana pun yang melibatkan acara kampus atau punke acara ulang tahun." Baru aku hendak beranjak, Adam lebih dulu menahan tanganku dan mengecup dahiku.

"Baiklah, kalau begitu saya berangkat dulu. Hati-hati nyetir." Bersamaan dengan itu di pun beranjak pergi.

Lebih kurang jam 9, aku baru tiba di rumah Juliana. Juliana termasuk anak orang kaya. Jadi gak heran party ini diadakan di rumahnya karna bisa menumpung semua tamu yang datang. Suasana di tempat party juga meriah dengan lampu kelap-kelap.

"Win! Win! Lo Winda, kan?"

Aku menoleh ke arah suara yang menegurku dan coba mengingat wajah perempuan itu.

Ah, iya aku baru ingat!

"Erin, kan?" Kusunggingkan senyum lebar membalas sapaannya. Tapi aku juga heran, kenapa dia bisa berada di sini? Apa Ana juga mengundangnya?

"Lo ngapain disini? Diundang juga?"

Pertanyaan yang ingin kulakukan malah di tanyakan Erin terlebih dulu.

"Ya iyalah, masa gak di undang berani datang. Ana teman kampus gue. Lo sendiri? Kenal juga sama Ana?" Aku kembalikan pertanyaannya, lalu mengedarkan pandangan mencari kelibat Adam yang belum terlihat. Kemana dia? Bukannya dia sudah duluan berangkat?

"Oh.... Kalau gue malah gak kenal siapa yang bikin party ini. Cuma ikut aja waktu John ngajak mau ke party-"

"Hai, Win!"

John tiba-tiba muncul dan memeluk pinggang Erin. Terlihat mesra. Eh, tapi bukannya kemarin John memberi tahu kalau udah putus dengan Erin.

"Hai, John. Gak ngangkat ya dunia kecil banget, malah ketemu Lo dan Erin di sini." Seperti kebiasaan, aku dan John beradu pipi.

"Kebetulan banget gue ketemu Lo disini, Win. Kemarin Lo nanya Adam kan? Nah, kebetulan tadi gue lihat dia disini sama yang bikin party ini. Tapi gue sendiri gak tau hubungan mereka. Yang gue lihat mereka mesra banget  Beeh! Lo gak bakal percaya si gayboy alim itu udah berubah jadi playboy kelas kakap. Dia gak segan unjuk kemesraan di depan umum.."

Cerita yang di sampaikan John barusan seketika membuat darahku panas.

Mereka berpelukan?

"Kalau gitu, habis ini gue mau coba juga lah dekatin dia. Kemarin-kemarin gue telpon dan kirim pesan, tapi satu pun gak di jawab. Tapi kalau sekarang dia udah berubah seperti yang di katakan John, mungkin gue juga punya harapan bisa dekat dengan dia. Ya gak, Win?" Erin ikutan bersuara membuat hatiku bertambah panas.

"Sorry ya, Win. Hari itu gue benar-benar lupa minta nomor si gayboy pada Erin. Tapi berhubung orangnya ada di sini, Lo aja sana, minta sendiri. Sekalian tugur, masih ingat gak dia sama orang yang udah berhasil menundukkan nafsunya," ucap John dan tertawa sendiri.

Membulat mataku mendengar penuturannya yang dengan santai membuka rahasiaku dan Adam di depan Erin. Meski rahasia itu versi yang aku ceritakan pada Adri, Rehan dan John.

"Santai aja, Win. Gue udah tau kok ceritanya. Paling gak keberhasilan Lo, memberi gue harapan buat deketin dia," ucap Erin sekan tau apa yang aku pikirkan.

"Kalian kenal Ana juga?" tanyaku mengalihkan topik.

Sesaat John dan Erin saling berpandangan

"Oh... A-Ana? Oh...iya, Ana itu adik teman satu kampus gue. Lu masuk lah, lihat sana aksi si gayboy," jawab John, lalu menggandeng Erin dan pergi.

Aku sedikit heran dengan gelagat mereka yang menurutku aneh, tapi otakku lebih giat memikirkan tentang Adam dan Ana. Benarkah mereka bermesraan seperti yang di sebutkan John?

Perlahan kulangkahkan kaki masuk. Seorang lelaki tersenyum padaku, kucekin aja. Saat ini aku punya misi yang lebih penting, mencari Ana dan Adam. Aku ingin membuktikan sendiri apa yang di katakan John.

Setibanya di pintu dapur, mataku menangkap wajah Adam. Dia membuka mulut dan ada satu tangan yang menyuapkan kek kemulutnya. Aku bisa menerka tangan yang memegang kek itu adalah tangan perempuan karna lebih kecil.

Dan ternyata tebakanku benar, itu tangan Ana.

Mereka sedang bersandar di dinding bersebelahan dengan lemari pendingin. Ada beberapa pasangan lagi yang sibuk bermesraan di sekitar mereka, namun mataku hanya terfokus pada Adam dan Ana.

Jujur hatiku remuk, ketika melihat Ana menyuap lagi kek di tangannya ke mulut Adam dan yang membuatku semakin sakit, tidak ada penolakan dari Adam sama sekali.

"Eh, Winda!" teriak Ana yang menyadari keberadaanku.

Adam di sebelahnya berhenti mengunyah. Ana mengambil tangan Adam dan memberikan sisa kek ketangan-nya sebelum berjalan mendekatiku.

"Seneng banget deh, akhirnya kamu datang juga!" Ana menarikku kedalam pelukan.

"Aku kan sudah janji akan datang," jawabku pelan, menahan kecewa. Ana menoleh kebelakang dan melambai ke arah Adam, dan Adam membalas lambaian itu, lalu Ana menarikku ke depan.

"Kamu lihat sendiri kan, waktu aku menyuapkan cupcake ke dia. Untung kemarin sempat aku buat red Velvet cupcake, karna dia bilang itu kek favoritnya. Oh My Good! Kamu gak akan percaya betapa bahagianya hatiku malam ini!" Ana begitu semangat bercerita.

"Dan... Dan....kamu tau? Waktu dia datang tadi, karna begitu semangat sampai kupeluk dia! Hehehe....tapi responnya sih dingin, mungkin kaget. Jadinya aku pura-pura bilang gak sengaja. Uh, tau gak, gimana badan dia. Gila! Enak banget di peluk, Win. Sumpah. Aku merasa meleleh waktu meluk dia tadi dan kalau bisa gak akan aku lepas." Ana semakin histeris bercerita.

"Ohya, dia juga belikan aku hadiah, tau! Tapi aku belum buka sih. Hadiah dari dia aku simpan dulu di kamar, takut ada yang iri " Kali ini suara Ana labih pelan.

"Oke lah, Win. Nikmati dulu party ini ya? Aku mau cek calon pacarku dulu, takut hilang di embat yang lain," ucap Ana sambil menoleh lagi kebelakang.

"Eh, aku juga undang cowok-cowok hot khusus buat kamu. Jadi pilih aja yang mana yang kamu suka." Ana menepuk lenganku, lalu berlari kearah dapur. Pasti mencari Adam.

Oh....Hati. Gini banget nasibmu.

Kulepaskan keluhan halus, coba mengabaikan semuanya.

Berhubung perut mulai keroncongan karna belum makan malam. Jadi aku pergi ketempat hidangan yang tersedia. .

"Hai!"

Seseorang menyapaku dan aku lansung menoleh kearahnya. Dia lelaki yang senyum tadi.

"Di luar ada yang bikin barbeque. Mau coba?" katanya.

"Oh ya? Gak tau juga. Ayolah kesana. Aku udah laper banget nih," balasku mesra.

Peduli amat dengan perjanjian yang kubuat. Adam yang lebih dulu menlanggarnya. Jadi aku pun berhak melanggarnya.

Tiba di luar, lelaki yang memperkenalkan diri dengan nama Rio itu mengajakku duduk di bangku sudut ujung. Kemudian dia pergi mengambil beberapa potong barbeque untuk kami berdua. Sedang aku menunggunya, Ana keluar di ikuti Adam di belakangnya. Tangan mereka berpaut. Hatiku panas menyaksikan itu.

Tidak lama Rio kembali bersama beberapa potong daging. Ana dan Adam belum menyadari  kehadiranku di sini. Sedang Rio asyik meniupkan daging yang panas untkku.

Tiba-tiba, Ana melambaikan. Tangan ke arahku, lalu menarik Adam mendekati kami.

"Boleh gabung gak?"

"Tentu saja boleh. Lo kan tuan rumah." Rio yang menjawab dan menarik kursi mempersilahkan Ana dan Adam duduk bersama kamu. Dalam keadaan itu Rio terpaksa duduk lebih dekat denganku.

"Oke, baby. Yang ini udah dingin."

Tiba-tiba Rio mengulurkan daging yang di tiupnya tadi ke mulutku.

Aku pandang Ana dan Adam. Ana tampak suka dengan kemesraan kami, sedang Adam sebaliknya. Wajahnya berubah ketat.

"Alah, Win. Gak usah lah malu-malu di depanku. Udah, enjoy aja, Adam juga oke kok," ucap Ana, lalu bersandar di bahu Adam.

Adam memang sedikit kaget, tapi dugaanku juga tidak salah, sedikitpun tidak ada penolakan darinya.

Karna sakit hati melihat itu, aku kulum jari Rio di depan Adam. Seakan suka Rio membiarkan saja, hingga aku sendiri yang melepaskan jarinya.

"Enak ya, beb?"  bisik Rio di telingaku.

Aku tidak tahu apa reaksi Adam melihat aksiku barusan, tapi aku bisa rasakan pandangannya tajam padaku.

"Aku juga mau suapkan Adam lah. Tunggu sebentar ya?" Ana pun bangkit dan pergi ketempat pemanggangan daging.

Rio mengulurkan tangan dan menyiapkanku lagu sepotong daging. Kali ini aku kulum jarinya sambil melihat reaksi wajah Adam.

"Saya mau kedalam dulu," ucap Adam, lalu berdiri.

Seketika jari Rio aku lepaskan. Rio tidak lah menyadari bagai mana pandangan Adam tadi yang begitu tajam padanya.

Dan tidak berselang lama Ana kembali.

"Lah, Adam mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan kesekeliling.

"Tadi dia bilang mau masuk kedalam," jawabku sambil menolak suapan Rio. Dia coba lagi, tapi aku tetap menggeleng. Selera makanku hilang dengan perasaan tak menentu seperti ini.

"Gara-gara kamu, sih Win. Dia pasti horny melihat kemesraan kamu dan Rio. Ya udahlah, aku cari dia dulu. Nah, ambil ini," gerutu Ana dan meletakkan barbeque yang diambilnya sebentar tadi diatas meja.

Aku ambil dan makan sendiri daging yang di letakkan Ana agar Rio berhenti menyuapkanku. Kemudian aku berdiri, tak sanggup lagi berada di sini.

"Aku mau ke toilet dulu."

Tanpa menunggu respon dari Rio, segera kulangkahkan kaki masuk kedalam. Di dalam, aku mencari kelibat Adam dan Ana yang tidak terlihat.

Kemana mereka?

Aku cari kedapur, tidak ada. Aku cari di halaman belakang juga tidak Adam. Gak mungkin mereka berada di lantai dua, karna di sana kawasan terlarang buat tamu undangan. Tapi Ana kan tuan rumah? Bisa saja dia membawa Adam keatas.

Baru kaki hendak mendaki tangga, terdengar sorakan di halaman depan. Kupercepat langkah kesana dan ternyata mereka ada di depan.

Acara pemotongan kue akan di lansungkan. Tamu undangan sudah berkerumun, menyanyikan lagu ulang tahun.

Selesai menyanyikan lagu, Juliana memejamkan mata sebelum meniup lilin diatas kue.

Hatiku tambah remuk melihat Ana memeluk Adam erat dan lama. Yang lebih menyakitkan, Adam turut meletakkan tangannya di belakang Ana dan menepuk pelan sambil membisikkan sesuatu di telinganya.

Bibir yang sama saat berbisik di telingaku.

"Dari tadi aku mencarimu, ternyata malah disini."

Rio tiba muncul saat Adam menolah padaku. Walaupun jarak kami jauh, namun aku dapat lihat riak kesal di wajahnya. Matanya tajam menikam matamu.

"Ayo, menari denganku," bisikku di telinga Rio, lalu kutarik tangannya. Biar Adam marah. Emang dia sendiri yang berhak marah, akupun berhak marah dengan kepasrahannya itu.

Seharusnya dia tahu,bukan dia saja yang bisa bermain. Akupun bisa.

***

Sudah hampir setengah jam aku terisak sendiri. Hatiku hancur, ketika menari dengan Rio tadi, Ana yang meliha menarik Adam agar menari bersamanya.

Musik di berganti melo, tarian berubah jadi dansa, Adam di peluk Ana tanpa canggung.

Sebenarnya Adam bisa saja menolak. Tapi kenapa dia membiarkan saja. Dia seperti bukan Adam yang kukenal. Adam yang kukenal tidak mau menyentuh perempuan lain, tidak juga membiarkan perempuan menyentuhnya.

Apakah dia memiliki perasaan pada Ana?

Ketika tubuhku semakin gelisah di peluk Rio diiring lagu cinta yang mendayu-dayu, saat itu lah mataku semakin sakit melihat Ana menyandarkan kepalanya didada Adam.  Aku melepaskan diri dari pelukan Rio dengan alasan ingin kekamar mandi lagi.

Seperti sebelumnya, aku tidak kekamar mandi, tapi saat itu aku kedapur mencari minuman dingin untuk melegakkan hati yang panas. Lama aku berdiam diri di dapur dan ketika kembali ketempat tadi, disana Rio sudah mendapatkan pengganti dan sedang bercumbu mesra dengan pasangannya. Bagus. Aku lansung angkat kaki pulang kerumah tanpa memberi tahukan Ana.

Sesampainya di rumah aku berlari kekamar tamu dan mengunci diri di sana. Marah yang aku pendam sejak di pesta tadi semakin membuat dalam tangis

Kenapa Adam melakukan ini padaku.

"Winda!"

Suara Adam jelas terdengar di susul bunyi pintu yang di hempas. Dia berteriak memanggil namaku dan perlahan suaranya samakin hilang. Mungkin dia mencariku ke lantai dua.

Tidak lama, suara itu muncul lagi. Namaku kembali di seru berkali-kali. Aku masih mendiamkan diri. Tangisku pun sudah terhenti sejak kedatangan dia. Tapi sekarang marah itu tadang lagi, saat terbayang apa yang dia lakukan di pesta bersama Ana.

"Winda!"

Suara Adam kini berada tepat di luar pintu kamar ini dan aku tetap diam diatas ranjang.

Bunyi gagang pintu di putar semakin nyaring. Mungkin dia sedang coba membukanya, tapi tudak berhasil karna sebelumnya sudah aku kunci.

"Winda, buka pintunya! Saya tahu kamu ada di dalam!" teriak Adam sambil menggedor pintu cukup keras. Kalau benar dugaanku, saat ini dia juga sedang marah.

"Pergi! Gue gak mau lihat muka Lo!" teriakku dari dalam kamar. Gagang pintu masih di putar-putarnya, tapi sampai kiamat pun pintu itu tidak akan terbuka karna sudah aku kunci.

"Winda, kamu tahu kan saya ada kunci serap dan saya bisa buka  pintu ini kalau saya mau. Tapi saya mau kamu sendiri yang membuka pintu ini. Winda! Cepat! Buka pintunya!" ancamnya.

"Gue gak mau ketemu Lo! Gue gak mau melihat Lo lagi. Pergi Lo sana jauh-jauh!" teriakku lagi. Beberapa saat suasana di luar kamar hening, tapi tidak lama terdengar bunyi anak kunci bersama gagang pintu di putar lagi.

Apa dia coba membuka pintu kamar ini?

Aku tersentak dan memandang kearah pintu, sebelum pintu terbuka aku segera berlari ke arah pintu samping yang terhubung keluar. Namun, baru saja akan membuka pintu Adam lebih dulu memelukku dari beralakang, bersama kedua tangan yang terperangkap dalam pelukannya. Aku coba meronta tapi tidak berhasil.

"Lepas! Lepasin gue! Gue gak mau melihat muka Lo!" teriakku sambil meronta.

"Winda, stop it!" Suara Adam lebih tegas dan tangannya semakin erat memelukku. Semakin aku meronta, semakin kuat pelukannya dan tubuhku semakin sakit.

"Lepas! Gue benci Lo! Gue benci Lo, Adam!"

Adam masih tidak memperdulikan makianku. Lengannya masih tegap memelukku. Aku coba meronta lagi, namun aku tak berdaya. Akhirnya aku mengalah, air mata semakin deras mengalir.

"Kenapa kamu buat saya seperti ini?" Adam mulai bersuara. Perlahan pelukan di badanku juga di longgarkan.

Baru ingin mencoba membebaskan diri, Adam lebih dulu menarikku dan memalingkan tubuhku menghadapnya. Air mataku masih deras mengalir, namun wajahku ketat, menahan amarah.

"Kenapa kamu lakukan itu dengan Rio di depan saya, Winda? Kalau kamu inginkan perhatian saya bilang, jangan meminta perhatian pada lelaki lain," tambahnya.

Aku menyeringai memandang matanya penuh kebencian. "Lo yang duluan mulai! Lo bermesraan dengan Ana di depan gue. Lo lupa? Atau Lo udah pikun! Bersuap-suap depan gue, menari dan pelukan! Lo yang duluan melanggar aturan kita!" jeritku meluapkan semua. Tidak ada lagi panggilan aku kamu kalau sedang emosi ini.

Pokoknya aku benci dia!

"Winda, ceritanya lain. Saya dan Ana, dia yang mengingkan, bukan saya. Saya tidak menolak, lantaran ingin menjaga imej dia didepan tamu undangan. Saya terpaksa merelakan apa yang dia lakukan. Berbeda dengan kamu yang memang sengaja bermesraan dengan lelaki itu untuk menyakitkan hati saya," balas Adam dengan mata berkaca.

Tapi apakah aku percaya begitu saja? Tidak sama sekali. Dia sama seperti yang di katakan John, lelaki sok alim!

"Itu hanya alasan Lo! Lo atau pun Ana yang mulai itu gak penting! Lo tetap bermesraan dan menyentuh wanita lain depan gue! Lo brengsek!" bantakku semakin menjadi-jadi. Air mata kubiarkan mengalir. Marah yang kembali datang seakan memberiku tenaga baru untuk meronta lagi agar bisa terlepas dari pelukannya. "Lepas! Lepasin gue! Gue benci Lo? Gue benci Lo, Adam!"

"Kamu mau saya bagaimana, Winda? Coba kamu katakan!"

Suara Adam tiba-tiba keras membuat aku terdiam. Perlahan aku pandang wajahnya.

"Kamu tidak suka melihat saya dengan perempuan lain, tapi kamu yang menegaskan saya agar merahasiakan pernikahan kita. Disini saya benar-benar buntu, saya terjepit di tengah-tengah. Saya tidak tahu harus bagaimana. Sekarang katakan, apa yang harus saya lakukan?" tambahnya. Suaranya sayu dan mata yang tadinya berkaca kini mengeluarkan air.

Kedua tangan yang memeluk tubuhku di lepaskan, berpindah menangkup kedua pipiku. Kedua ibu jarinya menyeka air mataku yang masih mengalir. Dan entah bagaimana seluruh raga ini lemah. Kemarahan tadi benar-benar telah menguras tenagaku.

"Saya hanya sayang kamu. Saya minta maaf kalau kamu tersinggung dengan perbuatan saya tadi. Saya janji setelah ini tidak akan lakukan lagi. Tapi tolong jangan lakukan lagi hal tadi, hati saya sakit," ucapnya dengan air mata semakin mengalir.

Aku tepiskan tangannya lalu berbalik badan membelakanginya. "Selama ini semua orang yang mengucapkan sayang padaku hanya meninggalkan luka. Semua membuatku sedih," bidasku dengan suara pelan. Hati ini benar-benar sakit. Sakit.

Dulu, Iksan. Lelaki yang kuanggap cinta pertamaku, tapi dia pergi meninggalkan dunia ini dan aku dalam kesedihan. Mama dana papa meskipun masih ada, namun selama ini selalu mengasingkanku ke tempat lain. Kemudian Adri, lelaki yang selama ini menjadi tempatmu menagih kasih sayang, juga menghilang tanpa meninggalkan sepatah kata.

Semua meninggalkan aku. Semua hanya membuatku sedih. Adam pun begitu, apa yang kulihat tadi sudah jadi bukti.

Adam meraih tanganku yang menutupi wajah menahan Isak tangis, lalu tubuhku kembali di peluknya.

Kali ini aku tidak meronta untuk di lepaskan. Aku merelakan tubuhku di peluknya. Di tarik kepalaku agar bersandar di bahunya, lalu rambutku di usapnya lembut.

"Saya minta maaf. Saya janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Saya akan bahagiakan kamu, Winda. Berikan saya satu kesempatan untuk menunaikan semua itu," ucapnya lalu mencium keningku.

Aku mendongak, memandang wajahnya.

"Adam. Jujur padaku. Kamu menyukai Ana kan?" tanyaku. Sejak melihat kemesraan dia dengan Ana di pesta tadi pertanyaan itu terus saja menarindi kepalaku.

"Itu tidak benar. Saya hanya sayang dan cinta kamu seorang saja, Winda. Tak ada yang kedua, ketiga, dan takkan ada cinta lainnya," jawabnya sambil tersenyum padaku.

Ini kali pertama dia menyatakan perasaan cintanya padaku. Tapi entah kenapa hatiku masih bimbang. Apakah dia serius? Apa hanya ingin menyenangkan hatiku saja?

"Bohong! Gak mungkin kamu sayang sama orang sepertimu!" bantahku. Aku pernah dengar nasehat, orang baik akan berjodoh dengan orang baik dan begitu sebaliknya. Walau aku sendiri tidak tahu jenis wanita sepertiku ini di katakan baik atau jahat, tapi yang pasti, aku tahu, katagori aku dan Adam tidak mungkin sama.

"Saya serius, Winda. Saya sudah jatuh cinta waktu pertama kali melihat kamu," jawab Adam mantap. Kemudian satu tangannya menyelipkan rambut kebelakang telingaku.

Entah kenapa, aku merasa ada maksud tersirat dari kata-katanya barusan. Tapi apa?

"Winda, maafkan saya ya? Tolong berikan saya satu kesempatan lagu untuk membahagiakan kamu. Please?"

Aku memandang matanya yang redup penuh pengharapan dan ada rasa lega menyelimuti hatiku secara tiba-tiba. Aku sendiri heran dengan diriku sendiri yang tadi marah-marah, tapi dalam sekejap saja marah itu sirna di ganti dengan perasaan bahagia. Mungkin itulah kelemahanku.

Persetan dengan semua aturan yang kubuat sendiri. Adam sudah minta maaf, malah dia juga sudah meluahkan perasaan sayangnya padaku. Aku tidak peduli seandainya kata-katanya tadi hanya kebohongan yang di tujukan untuk membujukku. Aku hanya mau perhatiannya hanya padaku, sayangnya hanya padaku, cintanya hanya padaku dan Adam telah berjanji akan menunaikan itu. Jadi apa salahnya aku memberikan dia kesempatan?

Untuk kesekian kalinya, egoku tunduk dihadapan dia.

Kemudian, kaki kujinjitkan mengecup bibirnya dua kali. Tapi tidak ada respon. Aku coba sekali lagi, masih tidak di respon. Lalu aku mendurkan wajah sedikit untuk memandang wajahnya, dia menutup mata rapat dan rahangnya di katup.

Nyebelin gak sih?

"Adam?" Pangilanku berhasil membuka matanya. Lalu kepalanya aku tekuk sedikit agar lebih mudah ku raih bibirnya dan aku kecup sudut bibirnya dengan mata terbuka memandang matanya.

Tapi responnya masih sama. Diam seperti patung.

Perlahan aku turunkankan tanganku yang menekuk kepalanya. Kecewa.

"Kamu gak nafsu ya sama aku? Atau kamu jijik?" tanyaku dengan suara bergetar. Mataku kembali mengeluarkan air.

"Winda, kamu bicara apa?" Dia terlihat panik.

"Kenapa kamu gak membalas ciumanku?" tanyaku.

Adam memandang mataku lama, lalu terdengar helaan nafas beratnya.

"Saya takut, tidak bisa mengontrol diri seperti kemarin. Saya tidak mau kamu marah dan setelah itu membenci saya."

Pipiku merah, serasa di tampar-tampar. Kemarin aku yang melarangnya, sekarang malah aku yang menagih sentuhannya.

Tapi aku juga butuh pelepasan. Aku butuh dia memuaskanku.

"Kalau aku bilang, lupakan semua itu untuk malam ini gimana? Kan kamu tadi juga  bilang, kalau aku butuh perhatian, harus minta pada kamu, bukan lelaki lain." Aku coba memberi penawaran baru, meski aku tahu ini akan semakin menjatuhkan egoku.

Dia masih diam seperti sedang berpikir keras. Lalu aku dekatkan dadaku kebadannya dan kepalanya aku tekuk lagi.

Bibir kami bersentuhan lagi. Bibirnya kuurut lembut memancing reaksinya agar merespon. Tapi semua itu seperti kembali ketitik awal, aku seperti berhadapan dengan Adam yang sok alim.

Dia masih belum merespon.

Perlahan kulepaskan bibirku dari bibirnya, tanganku yang berada di belakang kepalanya juga kulepaskan. Sejenak kepejam mata dan menghirup nafas dalam-dalam, coba menenangkan diri dari emosi.

"Winda. Maaf, saya tidak bisa. Kamu masih belum bisa terima saya." Adam akhirnya bersuara.

Kubuka mataku memandang dengan dengan senyum palsu.

"Oke. Aku ngerti kok. Lagi pun aku capek, ngantuk juga. Aku mau keatas dulu," balasku, lalu melangkah pergi meninggalkannya.

Adam masih diam dan tak menghalangiku.

Jujur, di sudut hati yang paling dalam, aku kecewa. Apalagi setelah 10 menit berada di dalam kamar, dia belum juga menyusulku.

***

Bangun-bangun, udah pukul setengah sembil pagi. Adam masih tidak membangunkanku Subuh. Kenapa dengan dia? Sebegitunya mengelak dariku sampai Subuh pun gak di bangunin.

Hufh!

Nggak nggak! Harusnya aku yang bertanya pada diri sendiri. Kenapa aku seakan ingin sekali Subuh berjamaah dengannya?

Why, Winda? Why?

Aku gelengkan kepala menghindari pertanyaan diri sendiri. Lalu bergegas, bersiap pergi ke kampus.

Seperti biasa, hari itu aku telat lagi masuk kelas. Suara gelak tawa rekan sekelas sudah terdengar saat aku masih berada di pintu.

Aku berjalan masuk ke kelas dengan santai dan mengambil tempat duduk di tempat biasa, sebelah Ana. Tapi pagi ini wajahnya lain, agak di tekuk.

"Aku tu, kesal tau! Semalam dia happy aja. Aku suap dia mau, aku peluk dia gak nolak, aku ajak dansa dia juga ikut. Habis itu, tiba-tiba dia pulang gitu aja. Dan setelah itu, kamu tau apa yang terjadi?" Seperti biasa, Ana bercerita tanpa perlu aku tanya.

"Dengan berat hati, aku lepas dia sampai ke mobilnya. So, aku juga gak nyia-nyia-in kesempatan, saat dia lengah aku cium pipinya yang mulus itu. Awalnya dia kaget dan gak marah juga. Tapi setelah itu, dia melihat sekeling dan berbisik padaku. Kamu tau apa yang dia bisikkan?" Ana melanjutkan. Wajahnya sedikit merah, tak tahu karna marah atau pun malu.

"Dia bilang gini. Ana, jangan seperti ini lagi dengan saya. Saya hormati kamu dan saya harap kamu juga bisa menghormati saya." Ana bicara menirukan suara lelaki. "Kesal gak sih?!" Ana menggeram, merengek seperti orang akan menangis.

"Kamu mau dengar pendapatku gak?" tanyaku.

Ana memandangku dengan mata menyipit.

"Kalau kamu mau memikat hati cowok seperti Adam itu, kamu gak bisa memakai cara nightclab seperti semalam. Adam bukan orang seperti itu." Saranku membuat wajah Ana berubah seketika. Aku tidak tahu dia tersinggung atau tidak dengan pendapatku itu.

Jujur, aku sendiri bingung. Kenapa Adam bisa menyukaiku, sedangkan caraku bersosial lebih kurang sama dengan Ana. Mungkin aku lebih parah.

Perhatianku tertuju pada Adam yang berada di depan. Sedang Ana masih terdiam dengan kata-kataku.

"Oke. Selamat pagi semua! Hari saya ingin tahu apakah kalian semua memahami konsep nested if (rumus if). Saya ingin kalian semua mempersiapkan pernyataan nested if dalam 5 menit. Yang beruntung akan dipilih untuk membagikan pada kita semua." Adam mulai menerangkan bab baru yang akan kami pelajari hari ini.

Aku bukan seorang yang genius, tapi aku cepat memahami. Cuma kelemahanku, aku cepat juga lupa.

Ana cepat-cepat mengeluarkan bukunya dan menulis apa yang di sampaikan Adam.

Semangat 45.

"Jadi, siapa yang bisa menerangkan?" tanya Adam setelah lima menit berselang.

Ana disebelahku lansung tunjuk tangan.

Adam tersenyum dan mempersilahkan Ana menuliskan tentang 'rumus if' di papan tulis.

Spidol di berikan pada Ana dan Ana menatap Adam dengan penuh keyakinan sebelum mulai menulis.

If (Pak Adam sudah punya kekasih)

If (Ada istri)

If (Ada teman wanita)

PUTUSKAN SEMUA!

Karna hanya saya yang berhak untuk pak Adam.

(Catatan author! If, Yanga saya maksud disini dalam terjemahan bahasa Inggris artinya 'jika')

"Huuuu!" Riuh suara kelas meneriaki Ana. Tapi Ana dengan santainya tersenyum pada Adam, kemudian menjeling Alya seolah mengatakan 'apa Lo?' pada Alya yang terlihat geram dengan caranya menarik perhatian Adam.

Ana kembali ketempat duduk tanpa ada rasa malu sama sekali dengan kegilaan yang baru saja dia lakukan.

Di depan, Adam hanya tersenyum kecil. Kemudian menerangkan konsep nested if  yang dimaksudnya dan mengaitkan dengan pernyataan yang di tulis Ana.

Sedikitpun Adam tidak terpengaruh dengan penggunaan namanya seolah bukan dia Adam yang di maksud. Selesai menerangkan, Adam kembali memandang Ana.

"Juliana, sepertinya Anda lupa menulis satu kalimat lagi," ucap Adam lalu menyambung kata-kata yang di tulis Ana tadi.

If (Ada teman lelaki) REBUT TEMAN LELAKINYA

Adam tersenyum ketika mahasiswanya bersorak riuh dan tertawa dengan penambahan kalimat itu. Kemudian, dengan santainya Adam menerangkan lagi penjabaran selanjutnya.

Sekilas aku menoleh kesamping, melihat wajah Ana yang merah menahan malu.

Sebelum menutup kuliah, Adam mengingatkan pada pertemuan berikutnya akan ada kuiz, dia meminta kami mempelajari lagi bab yang baru di terangkannya.

Aku melanjutkan mata kuliah selanjutnya hingga selesai. Setelahnya, aku ajak Ana ke mall, tapi kali ini Ana menolak. Dia beralasan ingin menemui Adam, meminta bimbingan untuk kuiz Jum'at depan. Dia bilang akan menjalankan rencana awal, yaitu mendekati Adam dengan cara memanfaatkan waktu luang Adam.

Sesampainya di tempat parkir, dari jauh aku melihat sebuah kertas kecil menempel di kaca mobil. Semakin aku mendekat, semakin jelas tulisan di kertas itu.

Aku memperhatikanmu.

Tulisan itu memang singkat, tapi cukup membuat hatiku berdebar hebat.

Aku memperhatikanmu. Apa maksudnya?

Pandanganku liar melihat sekeliling. Banyak mahasiswa lain menuju kendaraan mereka masing-masing, tapi tak satupun dari mereka yang kucurigai. Kebanyakan dari mereka aku juga tidak kenal.

Berpikir positif dan tak ingin ambil pusing dengan masalah sepele ini, aku buang kertas itu lalu mulai menyetir keluar dari kampus.

Namun, dugaanku menyepelekan memo yang menempel di kaca mobilku itu salah, karna keesokan harinya, kertas dengan tulisan yang sama lagi-lagi kutemukan di kaca mobil.

Aku mulai cemas. Hatiku mulai was-was.

Ini bukan candaan lagi.

Kepalaku tiba-tiba berdenyut. Jantung berdenyut lebih cepat, nafasku juga terasa sesak. Segera aku masuk ke dalam mobil dan menyetir menuju rumah papa dan mama. Karna aku merasa hanya di sana tempat yang aman untukku menenangkan diri.

Tapi sayang, saat aku tiba disana, kedua orang tuaku tidak ada di rumah. Bik Inem juga tidak sadar dengan kedatanganku.

Segera kudaki tangga, lalu berbaring di kamar kamaju. Jujur, aku memang rindu tidur di kamar ini meski baru beberapa hari saja tinggal di rumah Adam.

Lebih kurang jam 2 pagi, aku tersentak. Sungguh, aku kaget saat menyadari ada sosok lain berbaring di sebelahku.

Sejak kapan Adam ada di kamar ini?

Kuabaikan Adam yang masih tidur, lalu aku turun kebawah untuk makan. Perutku begitu lapar karna sejak pulang dari kampus siang tadi aku belum ada makan.

Sedang memanaskan lauk di microwave, kembali aku di kagetkan dengan suara yang tiba-tiba menegurku.

"Kamu panaskan apa? Saya mau sedikit. Lapar juga."

Kupandang Adam sambil mengusap dada. Lama-lama aku bisa jantungan jika setiap saat dia muncul tiba-tiba seperti ini.

Kemudian aku sendokan sepiring nasi untuknya dan meletakkan di meja. Dia sudah menuang dua gelas air hangat untuk kami berdua.

"Wah, kari daging. Kelihatannya enak," ujar Adam setelah kuletakkan semangkok lauk di atas meja.

Aku duduk di sebelahnya dan kami mulai makan.

"Emang kamu belum makan?" tanyaku setelah suapan pertama.

"Belum. Saya kesini karna kamu tidak pulang kerumah. Mama yang bilang kamu ada disini. Mama pikir kita sedang ribut, makanya kamu kesini." Adam tertawa kecil sembil mengaduk makanan dalam piringnya.

"Kan emang benar, kita lagi ribut. Perang dingin."

Adam yang akan menyuap berhenti dan memandangku. "Apa itu alasanmu pulang kesini tanpa memberi tahu saya?" tanya Adam intonasinya seperti tersinggung dengan jawaban asalku barusan.

Kutelan nasi yang baru kusuap sebelum menjawab tanyanya itu. "Nggak. Saya bukan kabur dari rumah," jawabku tanpa memandangnya yang masih kaku di sebelahku.

"Tapi kamu pulang kesini tanpa memberitahukan saya. Saya khawatir, tau tidak! Sampai jam 10 malam saya tunggu kamu di rumah, tapi kamu tidak pulang juga. Tadinya saya ingin kesini untuk memeriksa mobilmu ada atau tidak, tapi mama lebih dulu memberitahukan saya kalau kamu ada di sini."

"Kamu kenapa sih? Aku kan gak pergi kemana-mana. Cuma kesimi aja. Gak usah lah lebay gitu." Hilang selera makanku mendengar omelan Adam. Tangan kucuci, lalu kutinggalkan dia sendiri dan pergi kekamar.

Tidak lama kemudian Adam menyusul.

"Winda, saya bukan apa. Saya cuma khawatir karna kamu tidak pulang. Apa susahnya kamu kirim pesan pada saya kalau mau tidur di sini. Jadi saya tidak khawatir."

Aku kira dia akan berhenti mengomel, tapi dugaanku meleset. Baru masuk kamar dia lansung mengomeliku lagi.

"Aku gak ada rencana mau tidur disini. Tapi aku ketiduran, paham! Ini aja baru bangun karna lapar."

Adam terdiam mendengar suarku yang semakin naik.

"Lagi pula, aku gak punya nomor kamu. Gimana mau ngasih tau?" Aku menambahkan lagi. "Dan satu lagi, aku juga gak mau ganggu kamu yang mungkin lagi sibuk. Sibuk mentutorkan Juliana!" Sebenarnya aku tidak berniat melibatkan Ana dalam masalah ini, tapi entah kenapa nama itu terbesit saja keluar.

Sorry Ana.

Adam menarik nafas dalam-dalam. Ponselku diatas nakas diambil dan layarnya di sentuh-sentuh, lalu di letakkan lagi.

Eh, sejak kapan dia tahu sandi ponselku?

"Saya sudah simpan nomor saya di kontak ponselmu. Setelah ini, tidak ada alasan ini lagi," katanya lembut sambil mendekatiku.

Tapi topik Ana tidak di senggol sedikitpun.

Tanganku di raihnya, namun aku tarik lagi. "Aturan nomor satu, jangan menyentuh saat sedang berdebat," ucapku mengingatkan aturan yang kubuat beberapa hari lalu. Meski aturan yang kedua sudah di langgarnya, aturan kedua aku tidak mau di langgar lagi.

"Mau berdebat apa lagi? Sambung besok saja ya? Saya ngantuk. Ayo tidur." Tanganku djambil dan di tariknya keranjang. "Pokonya malam ini saya tidak peduli, saya mau tidur sambil memeluk kamu," tambahnya dan berbaring miring ke kanan memelukku dari belakang.

"Dia tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu." Adam berbisik tiba-tiba sambil mengeratkan pelukan. Kemudian kepalaku di kecup dan tidak lama dia tertidur.

***

Paginya kami Subuh bersama. Selesai sholat, saat akan bersamalan dengannya, dia malah mengecup dahiku agak lama. Baru aku sadar betapa rindu hati ini dengan sentuhan ikhlasnya ini. Tidak ada rencana, tidak ada niat tersembunyi. Semata-mata wahyu kasih sayang seorang suami pada istrinya setelah bersujud.

***

Hari Rabu kelasku mulai jam 8 pagi. Sepanjang pagi itu, kepalaku pusing. Kadang ada juga rasa mual. Samakin matahari naik, semakin berdenyut kepalaku.

Siang tadi, Ana mengajakku makan siang di luar kampus, tapi aku menolak. Sekarang perutku mulai keroncongan, apalagi pagi tidak sempat sarapan.

Aku duduk di gazebo taman kampus sendiri sambil memejamkan mata. Biasanya saat jam kuliah kosong, aku memang sering mengambil kesempatan untuk tidur sebentar di gazebo ini.

Tiba-tiba mataku terbuka ketika mendengar suara orang sedang mengobr tidak jauh dari gazebo ini. Pandanga lansung tertancap pada sosok Adam yang sedang berjalan di sebelah dosen muda. Adam juga melihat kearahku dan wajahnya berubah panik seketika.

Mungkin takut aku cemburu.

Tak kupedulikan mereka. Kepala kusandarkan di tiang gazebo dan kembali memejamkan mata. Suara mereka semakin hilang, tapi perasaan semakin tidak nyaman.

"Adam gak peduli padaku." Kata itu terbesit di hati.

"Eh, bukannya kamu sendiri yang menyuruhnya bersikap professional saat berada di kampus? Kamu yang menyuruhnya agar merahasiakan pernikahan kalian." Sudut hati yang lain membalas kata yang terbesit.

Suasana semakin hening. Hawa sang mentari makin membakar. Air mata menetes pelan bersama sakit di kepala yang makin menusuk.

Kuseka pipi. Mata masih kupejam, coba untuk tidur sebentar sebelum kelas di mulai pukul 3 nanti.

Baru saja melayang, aku di kagetkan dengan telapak tangan yang tiba-tiba menyentuh kening. Mata kembali kubuka.

"Winda, kamu demam. Saya antar berobat ya?"

Bagai mimpi, Adam sudah berada di depanku dan tanpa memberi aba-aba dia menggendongku.

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!