Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Dunia Fana – Teras Gubuk Keluarga Shi.
Kelima Penjaga Teratai duduk berjejer di atas bangku kayu panjang dengan punggung tegak lurus sempurna, seolah-olah mereka sedang menghadapi sidang pengadilan dari Kaisar Langit. Wajah mereka bersih dari lumpur setelah mencuci muka di sumur, namun keringat dingin terus mengucur deras di dahi mereka.
Di seberang meja bambu, Shi Hao duduk santai di kursi goyangnya, tersenyum ramah.
Di samping Shi Hao, Gu Qing Yi sedang menuangkan teh hangat ke dalam lima cangkir batu. Senyum di wajah Qing Yi begitu lembut dan keibuan, namun di mata kelima elit Soul Transformation itu, setiap tetes teh yang dituangkan terasa seperti cairan racun pencabut nyawa.
"Silakan diminum, Tuan-tuan Seniman," kata Qing Yi manis. (Dan tutup mulut kalian rapat-rapat,) tambah suara telepati Qing Yi yang sedingin es di tengkorak mereka.
"T-Terima kasih banyak, Nyonya yang... luar biasa baik hati," jawab Lu Bai (sang pemimpin unit), tangannya gemetar hebat saat mengangkat cangkir batu itu.
Hong Hua, Hei Gen, Shui Di, dan Jin Yu menunduk dalam-dalam, pura-pura meniup teh mereka.
"Kata istriku, kalian adalah seniman keliling dari kota," sapa Shi Hao, memecah kecanggungan. "Kebetulan sekali. Kami di desa jarang mendengar hiburan dari luar. Bisakah kalian membawakan sebuah lagu atau dongeng untuk kami? Istriku pasti sangat senang."
Lu Bai tersedak tehnya. Dia seorang pembunuh bayaran yang membantai sekte dalam diam, mana tahu cara mendongeng?! Namun, tatapan mata Qing Yi yang setajam pedang dari samping Shi Hao memaksanya berpikir secepat kilat.
"T-Tentu saja, Tuan!" Lu Bai buru-buru mengeluarkan kecapinya yang sedikit retak akibat ledakan tadi. "Kami... kami adalah pencerita kisah-kisah epik! Hari ini, aku akan menceritakan... ehm... dongeng tentang para Dewa di Langit!"
Shi Hao menepuk tangannya pelan. "Oh! Kisah pendekar terbang? Aku suka itu. Silakan dimulai."
Lu Bai memetik kecapinya dengan kaku. Nadanya sumbang, tapi dia memaksakan suaranya agar terdengar dramatis.
"Di dunia yang sangat jauh di atas awan, hiduplah para kultivator yang mengejar keabadian," Lu Bai mulai bercerita, keringat menetes ke matanya. Dia memutuskan untuk menyebutkan tingkatan kultivasi Alam Atas, berharap Qing Yi menganggap itu sebagai sanjungan.
"Mereka memulai dari menyerap udara alam, menembus tahap Pemurnian Qi (Qi Condensation). Lalu, mereka membangun dasar keabadian di tahap Pembentukan Pondasi (Foundation Establishment)."
Shi Hao mengangguk-angguk sambil mengunyah kacang. "Membangun pondasi yang kuat itu penting. Sama seperti membangun rumah gubuk ini."
Lu Bai melanjutkan, memetik senar dengan sedikit lebih percaya diri. "Setelah itu, Qi di dalam perut mereka memadat menjadi Inti Emas (Golden Core). Lalu, dari inti itu, lahirlah sebuah jiwa kecil pelindung yang disebut Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul)."
Hong Hua dan yang lainnya ikut mengangguk tegang, menatap Shi Hao untuk melihat apakah "pria fana" ini takjub. Tapi Shi Hao hanya tersenyum biasa.
"Bagi manusia fana, mencapai tahap itu sudah seperti dewa," Lu Bai meninggikan suaranya. "Tapi bagi para penguasa sejati, itu barulah awal! Jiwa mereka kemudian akan menembus batas fana menuju Transformasi Dewa (Soul Transformation)!"
(Ini adalah tingkatan kami saat ini,) batin kelima Penjaga Teratai dengan sedikit rasa bangga yang miris, mengingat mereka baru saja terpental ke lumpur oleh lemparan kapak.
"Lalu," Lu Bai melanjutkan dengan nada penuh kekaguman mistis, "mereka harus melepaskan keduniawian, menyatu dengan ruang dan waktu dalam Penyatuan Kehampaan (Void Amalgamation). Setelah mereka memahami kekosongan, langit akan menurunkan petir ujian hidup dan mati yang disebut Kesengsaraan Besar (Great Vehicle)!"
Shi Hao berhenti mengunyah kacangnya. Kepalanya agak dimiringkan, seolah kata "Kehampaan" dan "Kesengsaraan" memicu sesuatu yang gatal di sudut ingatannya.
"Jika mereka selamat," suara Lu Bai mencapai klimaks, "mereka akan naik tahta sebagai Dewa Sejati (True God)! Menguasai ribuan dunia! Namun, di atas dewa, masih ada raja dari para dewa... Raja Dewa (God King)!"
Lu Bai melirik sekilas ke arah Qing Yi. Raja Dewa adalah tingkatan Qing Yi. Entitas yang bisa membelah planet fana ini hanya dengan satu hembusan napas.
"Dan... dan yang paling agung dari semuanya..." suara Lu Bai tanpa sadar bergetar dipenuhi penghormatan absolut. "...Puncak dari segala puncak. Satu-satunya penguasa yang memegang hukum penciptaan dan kehancuran... Kaisar Dewa (God Emperor)!"
Lu Bai menghentikan petikan kecapinya. Sebuah penutup yang epik.
Kelima elit itu menatap Shi Hao, menanti reaksi pria buta tersebut. Mereka mengira Shi Hao akan ternganga, takjub, atau bahkan tertawa menganggap itu hanya bualan tak masuk akal.
Namun, reaksi Shi Hao sungguh di luar dugaan mereka.
Shi Hao menghela napas panjang. Wajahnya tidak menunjukkan ketakjuban, melainkan sebuah melankolia yang sangat kuno.
"Kaisar Dewa..." gumam Shi Hao pelan.
Dia meraba cangkir batunya, lalu tersenyum pedih.
"Ceritamu sangat bagus, Tuan Seniman. Tapi, menurutku... jalan keabadian yang kau ceritakan itu terlalu sepi."
Lu Bai tertegun. "S-Sepi?"
"Ya," Shi Hao mengangguk. "Mulai dari Pemurnian Qi hingga menjadi Kaisar Dewa... orang itu harus terus mendaki. Meninggalkan keluarga, melupakan cinta, memotong ikatan fana, bertarung demi sumber daya, dan melihat teman-temannya mati termakan usia sementara dia terus hidup."
Shi Hao menggenggam tangan Qing Yi yang sedari tadi diam mematung.
"Jika menjadi Kaisar Dewa berarti kau harus duduk sendirian di atas takhta tertinggi di alam semesta, dengan tangan berlumuran darah, dan tidak ada lagi yang berani memanggil namamu yang sebenarnya..."
Shi Hao tersenyum lebar ke arah istrinya.
"...Maka aku lebih suka menjadi manusia fana yang cacat dan buta, asalkan aku bisa memakan masakan istriku setiap hari. Puncak dunia tidak ada artinya tanpa tempat untuk pulang."
BOOOOOOM!
Bukan ledakan fisik, melainkan ledakan mental di dalam kepala kelima Penjaga Teratai.
Kata-kata sederhana Shi Hao, yang diucapkan dengan tulus tanpa setetes Qi pun, menghantam langsung ke dalam Inti Dao (Dao Heart) mereka.
Selama ratusan tahun, kelima elit ini terus membunuh untuk mencapai Transformasi Dewa. Mereka dihantui oleh ketakutan akan kematian dan rasa haus akan kekuatan. Tapi kalimat Shi Hao baru saja menghancurkan obsesi itu, menunjukkan sebuah "Jalan Kemanusiaan" yang melampaui "Jalan Keabadian".
Mata Lu Bai membelalak. Udara di sekitarnya beriak.
KRETAK!
Botol leher kultivasi Lu Bai yang sudah macet selama lima puluh tahun di tahap akhir Soul Transformation, tiba-tiba pecah!
Tidak hanya Lu Bai. Hong Hua, Hei Gen, Shui Di, dan Jin Yu juga tiba-tiba merasakan aliran pemahaman surgawi mencuci jiwa mereka. Teh bunga persik di cangkir batu yang mereka minum ternyata mengandung setetes sisa Qi Kekacauan Primordial energi dari Kaisar Dewa itu sendiri!
Wajah kelima elit itu memerah. Mereka buru-buru menekan fluktuasi energi agar tidak menghancurkan rumah gubuk itu.
Mereka berlima menatap Shi Hao dengan horor dan kekaguman yang kuat.
Pria ini... siapa dia?! batin Lu Bai berteriak histeris. Bahkan seorang Raja Dewa tidak bisa mematahkan rintangan kultivasi orang lain hanya dengan beberapa kalimat santai! Kebijaksanaan pria buta ini... ini adalah kebijaksanaan dari seseorang yang pernah berdiri di puncak dan menatap ke bawah!
Lu Bai menoleh ke arah Qing Yi. Di mata Nyonya mereka itu, Lu Bai melihat rasa bangga yang tak terbatas, namun juga kesedihan yang mendalam.
Saat itulah, kelima Penjaga Teratai ini menyadari kebenarannya.
Pria yang duduk di depan mereka bukanlah manusia fana biasa yang beruntung mendapatkan Nyonya mereka.
Pria buta ini adalah... Kaisar Asura.
Pahlawan yang dikabarkan tewas meledakkan dirinya sendiri untuk menyelamatkan Alam Atas seratus tahun lalu! Nyonya Qing Yi telah menemukannya, dan sekarang sedang melindunginya dari kerasnya dunia!
Tanpa dikomando, Lu Bai dan keempat bawahannya meletakkan cangkir mereka, berdiri, dan membungkuk hormat hingga dahi mereka hampir menyentuh meja. Bukan sekadar akting seniman keliling, tapi sebuah penghormatan paling tulus dari dasar jiwa mereka.
"P-Pelajaran yang sangat berharga, Tuan," kata Lu Bai dengan suara bergetar menahan tangis pencerahan. "Kisah kami dangkal. Kebijaksanaan Tuan seluas samudra."
"Eh?" Shi Hao kebingungan, menggaruk kepalanya. "Kalian ini aneh sekali. Aku kan cuma bilang masakan istriku enak, kenapa kalian sampai membungkuk begitu?"
Qing Yi tersenyum tipis, matanya memberikan kilatan peringatan terakhir pada bawahannya: Kalian sudah mendapat berkah dari suamiku. Sekarang, pergi.
"Terima kasih atas ceritanya, Tuan-tuan Seniman," kata Qing Yi dengan anggun. "Sepertinya hari sudah mulai gelap. Tuan-tuan pasti harus melanjutkan perjalanan ke desa sebelah."
Lu Bai dengan cepat memahami isyarat itu.
"B-Benar! Kami harus pergi! T-Terima kasih atas tehnya, Tuan dan Nyonya yang mulia! Kami mohon pamit!"
Kelima elit itu mundur dengan teratur, berjalan keluar pagar bambu dengan langkah cepat. Begitu mereka tiba di hutan yang jauh dari pandangan gubuk, ketegangan yang mereka tahan akhirnya meledak.
Mereka berlima berlutut di tanah, terengah-engah mengatur napas, merasakan kultivasi mereka yang baru saja naik setengah tingkat.
"Kaisar Dewa... itu benar-benar Kaisar Dewa Shi Hao..." bisik Hei Gen dengan wajah pucat. "Pantas saja Nyonya sangat protektif."
"Pesan Jenderal Lei Shan belum tersampaikan," kata Hong Hua mengingatkan. "Tentang invasi Pasukan Nether."
Lu Bai berdiri, menatap kembali ke arah pedesaan yang damai di kejauhan. Matanya kini dipenuhi tekad yang baru.
"Kita tidak akan merusak kedamaian Beliau," kata Lu Bai tegas, mencabut pedang pendek dari balik bajunya. "Nyonya dan Kaisar ingin hidup sebagai manusia fana. Maka, sebagai bawahan yang telah menerima pencerahan dari Kaisar, tugas kita adalah memastikan tidak ada satu pun anjing Nether yang mengganggu tidur siangnya!"
"Shui Di, Jin Yu! Pasang formasi pertahanan tak kasat mata di sekeliling desa ini!" perintah Lu Bai. "Kita akan menjadi anjing penjaga desa fana ini sampai titik darah penghabisan!"
Sementara itu, di langit malam di atas mereka... awan ungu mulai berkumpul. Bayangan-bayangan bersayap kelelawar mulai merobek lapisan dimensi.