Devourer kembali dengan KARYA BARU setelah beberapa tahun!
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Di Sekte Pedang Giok, Qin Xiang hanyalah debu yang diinjak-injak, seorang murid magang tanpa masa depan yang hidup dalam jerat kehinaan dan penindasan.
Namun, saat segel ingatannya pecah, semua musuhnya akan dijatuhkan. Ia adalah Sang Kaisar Agung yang pernah mendikte hukum alam dan memimpin jutaan pasukan di atas langit.
Karena pengkhianatan berdarah murid kepercayaannya, ia telah kehilangan segalanya dan kini kembali bangkit untuk menagih setiap nyawa yang mengkhianatinya. Berbekal Qi Emas yang sanggup melumat baja dan pengetahuan yang melampaui nalar dunia fana, ia akan menyapu bersih setiap halangan di jalannya dan mendobrak langit untuk sekali lagi menguasainya.
GENRE: AKSI, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, HAREM.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32: Memainkan Trik di Depan Kaisar?
Matahari tepat berada di puncak langit, memayungi Sekte Pedang Giok dengan cahaya yang terik namun terasa dingin bagi mereka yang berada di bawah bayang-bayang ketegangan. Di dalam kamar asrama yang sunyi, Qin Xiang baru saja meletakkan cangkir tehnya ketika sebuah ketukan keras di pintu memecah keheningan. Sebuah gulungan perkamen dengan segel lilin hitam berlogo Aula Disiplin diserahkan oleh seorang diaken dengan ekspresi kaku.
Surat panggilan.
"Akhirnya mereka menggerakkan bidaknya," gumam Qin Xiang lirih. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tipis yang nyaris tak terlihat—sebuah seringai yang memancarkan kepercayaan diri seorang penguasa yang telah melihat akhir dari permainan catur sebelum langkah pertama dimulai.
Di sampingnya, Qu Long tampak meringis saat mencoba bangkit. Hampir seluruh tubuhnya terbungkus perban putih yang masih menyisakan noda kemerahan samar. "Kakak Qin... apakah kita benar-benar harus ke sana? Aula Disiplin bukan tempat untuk mencari keadilan bagi orang-orang seperti kita. Mereka hanya akan mendengarkan suara yang paling keras."
"Tenanglah, Qu Long," ujar Qin Xiang sembari merapikan jubah putihnya yang tanpa noda. "Ayo kita pergi untuk melihat drama apa yang sudah mereka siapkan di panggung megah itu. Terkadang, untuk menghancurkan sebuah benteng, kau hanya perlu membiarkan musuhmu membuka gerbangnya sendiri."
Qu Long hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan langkah yang berat dan sesekali mendesis menahan nyeri di tulang rusuknya, ia mengekor di belakang Qin Xiang yang berjalan dengan punggung tegak dan dagu terangkat.
...
Aula Disiplin adalah bangunan batu hitam yang menjulang angker di jantung sekte. Atmosfer di dalamnya terasa menindas, diperberat oleh aroma dupa cendana yang tajam dan pendar formasi pelindung yang berdenyut di dinding-dindingnya. Saat mereka masuk, pelataran aula sudah disesaki oleh ratusan murid. Kabar tentang perkelahian berdarah yang melibatkan sang "Jenius Plat Emas" baru telah menyebar bak api di padang rumput kering.
Di ujung ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan tatapan mata setajam sembilu. Tetua Tie, pemimpin Aula Disiplin yang terkenal tidak kenal ampun. Di hadapannya, berdiri lima murid perundung dengan kondisi yang sangat memprihatinkan; wajah yang membiru, dan satu orang bahkan harus ditopang oleh rekan-rekannya.
Pandangan semua orang tertuju pada Qin Xiang dan Qu Long. Tatapan selidik, iri, dan benci bercampur menjadi satu.
"Qin Xiang," suara Tetua Tie menggema di langit-langit aula, berat dan penuh otoritas. "Aku memanggilmu ke sini untuk menuntut pertanggungjawaban. Kau dituduh dengan sengaja melukai saudara se-sekte dengan cara yang brutal. Apa pembelaanmu sebelum hukum sekte menghancurkan martabatmu?"
Sebelum Qin Xiang sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Qu Long yang sudah tidak tahan melihat ketidakadilan ini maju satu langkah dengan wajah memerah. "Tetua! Ini fitnah! Lihatlah aku! Bukankah mereka yang menyergap dan memukuliku di hutan bambu semalam?!"
"Diam, sampah!"
Sebuah suara lantang yang penuh penghinaan memotong teriakan Qu Long. Dari balik pilar aula, Ji Yang berjalan masuk dengan langkah yang disengaja agar jubah sutra birunya berkibar elegan. Auranya sebagai kultivator ranah Inti Formasi dilepaskan secara halus, menekan atmosfer di sekitarnya.
"Tetua Tie, murid hadir di sini untuk bersaksi," ujar Ji Yang sembari menangkupkan tangan dengan gestur yang terlihat sopan namun palsu. "Qin Xiang ini, sejak menerima Plat Jenius, telah kehilangan akal sehatnya. Ia menjadi sombong dan menganggap semua murid luar adalah pijakan kakinya. Kebrutalan yang ia lakukan semalam adalah bukti nyata bahwa ia adalah ancaman bagi kedamaian sekte."
Tanpa bukti konkret, namun dengan statusnya sebagai putra dari Tetua Agung Ji Jie, setiap patah kata Ji Yang memiliki bobot yang mampu menggeser opini publik. Murid-murid di sekitar mulai berbisik sinis, menatap Qin Xiang seolah-olah ia adalah monster yang haus darah.
Qin Xiang hanya berdiri diam. Ia tidak membalas provokasi itu dengan amarah. Matanya yang sedalam sumur tua hanya menatap Ji Yang dengan ketenangan yang membekukan. "Aku memang memukul mereka," sahut Qin Xiang pendek, suaranya tenang namun merambat ke setiap sudut ruangan. "Namun, seorang pria sejati tidak akan membiarkan saudaranya diinjak-injak oleh sekumpulan anjing liar."
"Hahaha! Mencari alasan di balik topeng pahlawan?" Ji Yang tertawa meremehkan. "Tidakkah kau juga terkenal karena memeras poin dari Junior Xiao Jing? Sifat aslimu sudah busuk sejak awal!"
Ji Yang menoleh ke arah para perundung, memberikan isyarat mata yang tajam. "Bukankah begitu, para saudara junior?"
"Benar, Senior Ji!" salah satu perundung berseru dengan nada yang dibuat sedih. "Kami hanya ingin menasihatinya agar tidak sombong, tapi dia justru menyeret kami ke wilayah barat dan memukuli kami karena kami menolak memberikan poin kami! Kami hanya mengikuti ajaran Senior Ji untuk tidak tunduk pada penindasan!"
Gema bisikan di aula semakin keras. Tetua Tie mengetukkan jarinya ke meja batu, menciptakan bunyi dentuman yang menuntut keheningan. "Qin Xiang, apakah kau memiliki pembelaan lain? Jika tidak, aku terpaksa menjatuhkan hukuman pengasingan di Gua Es selama tiga bulan."
Qin Xiang menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat akan kekecewaan yang dibuat-buat. "Tetua, murid tidak akan menyangkal soal poin Xiao Jing. Tapi..." ia menjeda kalimatnya, tatapannya beralih perlahan menuju Ji Yang, mengunci pupil mata pemuda itu dengan tekanan mental yang tak terlihat. "...ada sesuatu yang jauh lebih mendesak daripada sekadar perkelahian murid rendahan."
Qin Xiang merogoh lengan jubahnya yang lebar. Dengan gerakan yang lambat dan dramatis, ia mengeluarkan sepotong logam berbentuk bulan sabit berwarna merah gelap yang memancarkan aura haus darah.
"Lencana Kelompok Assassin Bulan Sabit Merah?!" Tetua Tie tersentak berdiri dari kursinya. Sebagai penegak disiplin, ia tahu betul reputasi organisasi bawah tanah itu—mereka adalah tikus-tikus pembunuh yang biasanya dikontrak untuk menghabisi para jenius.
"Semalam, dalam perjalanan kembali dari Kota Giok, tiga pembunuh bayaran mencoba mengambil nyawa murid," ungkap Qin Xiang dengan nada datar, seolah ia hanya menceritakan kejadian memetik bunga. Ia meletakkan lencana itu di meja Tetua Tie. Namun, gerakannya tidak berhenti di sana.
"Dan yang lebih menarik adalah ini." Qin Xiang mengeluarkan sebuah slip giok putih dengan ukiran seekor elang emas yang sedang mengepakkan sayapnya. "Benda ini terselip di kantong salah satu pembunuh yang berhasil murid habisi."
Deg.
Jantung Ji Yang seolah berhenti berdetak. Seluruh aliran darah di wajahnya tersedot habis, menyisakan rupa yang pucat pasi serupa mayat. Slip giok itu adalah pusaka pribadi milik ayahnya, Tetua Agung Ji Jie. Benda itu membawa segel energi unik keluarga Ji yang tidak mungkin dipalsukan.
Ji Yang membatin dalam kepanikan yang luar biasa, Bagaimana mungkin?! Aku pikir para pembunuh itu belum bergerak karena badai energi yang semalam terjadi di Kota Giok! Tapi rupanya mereka semua telah dikalahkan oleh seorang Qi Fondasi rendahan?!
Semalam, karena ia tidak memiliki cukup emas tunai untuk membayar jasa Bulan Sabit Merah secara instan, Ji Yang menggunakan slip giok ayahnya sebagai jaminan. Ia sangat yakin Qin Xiang akan tewas dan rahasia itu akan terkubur selamanya di hutan. Namun kini, benda itu justru berada di tangan targetnya, bersinar di bawah lampu Aula Disiplin sebagai surat kematian bagi reputasinya.
Suasana aula yang tadinya bising mendadak senyap mencekam. Tetua Tie mengambil slip giok tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya menyipit, memindai segel elang yang berdenyut dengan energi yang sangat ia kenali.
"Ji Yang..." suara Tetua Tie kini bukan lagi sekadar otoritas, melainkan ancaman kematian yang dingin. "Bisa kau jelaskan padaku, mengapa pusaka pribadi milik ayahmu ditemukan di tangan seorang pembunuh bayaran yang mencoba membantai murid jenius dari sekte kita sendiri?"
Ji Yang membuka mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa sekeras batu. Ia melihat ke arah Qin Xiang, mencari gurat kemarahan atau dendam, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata hitam yang tenang—mata seorang kaisar yang sedang menonton seekor serangga yang perlahan mati terjerat jaringnya sendiri.
Qin Xiang hanya berdiri di sana, menyesap udara aula yang sarat akan ketakutan musuhnya. Baginya, ini barulah permulaan dari sebuah pembersihan besar-besaran.
Bersambung!