NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari-Hari Baru

Sera tinggal.

Tidak ada diskusi besar tentang itu—tidak ada perencanaan, tidak ada percakapan formal tentang "berapa lama" atau "apa rencananya." Dia hanya tinggal, hari demi hari, dan tidak ada yang mempermasalahkannya.

Nadia menyiapkan kamar tamu—kamar kecil di ujung lorong, dengan jendela yang menghadap ke halaman dan pohon mangga. Sera menghabiskan pagi-pagi pertamanya duduk di tepi jendela itu, menatap pohon itu, seperti tidak bisa berhenti memastikan bahwa pemandangan itu masih ada setiap kali dia membuka matanya.

"Kamu nggak bisa tidur?" tanya Nadia suatu pagi, menemukan Sera sudah duduk di dapur sejak subuh, dengan secangkir teh yang sudah dingin di tangannya.

"Di taman itu," kata Sera, "nggak ada tidur. Atau mungkin ada, tapi rasanya sama seperti bangun—nggak ada bedanya. Jadi sekarang aku nggak tahu gimana caranya." Dia menatap cangkir tehnya. "Aku rebahan, menutup mata, tapi otak aku nggak mati."

Nadia duduk di seberangnya, menyeduh teh baru—membuang yang sudah dingin, menggantinya dengan yang panas tanpa bertanya. Gestur kecil yang sederhana, tapi yang membuat Sera menatap cangkir baru itu terlalu lama.

"Pertama-tama," kata Nadia, "kamu nggak harus bisa tidur dengan benar sekarang. Tubuh kamu butuh waktu untuk ingat caranya. Kedua—" Nadia meletakkan tangannya di atas meja, bukan menyentuh Sera, hanya ada di sana, "—kalau malam-malam kamu nggak bisa tidur dan butuh teman ngobrol, ketuk pintu kamarku."

Sera menatap Nadia. "Kamu nggak keberatan?"

"Aku sudah menikah dengan Arka lebih dari empat puluh tahun," kata Nadia, sedikit tersenyum. "Aku sudah sangat terbiasa dengan hal-hal yang tidak biasa."

Minggu-minggu pertama Sera di rumah itu seperti proses seseorang yang belajar berjalan lagi setelah sangat lama tidak berjalan—pelan, ragu, dengan banyak momen jatuh yang tidak spektakuler tapi terasa besar bagi yang mengalaminya.

Sera tidak tahu apa yang dia suka makan—terlalu lama di taman abu-abu di mana makanan tidak ada, tidak relevan. Jadi Nadia dan Arka, dengan sabar, memasak berbagai hal dan membiarkan Sera mencoba satu per satu, membangun kembali preferensi yang mungkin pernah ada tapi sudah lama terlupakan.

Ternyata Sera suka sayur bening. Suka kopi pahit tanpa gula—konsisten dengan yang dia pesan di kafe Kopi Senja, puluhan tahun lalu, di dunia yang sudah tidak ada. Suka duduk di luar saat hujan, tidak di bawahnya, tapi cukup dekat untuk mendengar suaranya dan merasakan uap airnya.

"Itu dari dulu," katanya suatu hari, saat Arka menemukannya duduk di teras saat hujan gerimis turun. "Aku selalu suka hujan. Dari sebelum semuanya—dari sebelum perjalanan pertama."

"Ada yang tidak berubah," kata Arka, duduk di sampingnya.

"Ada yang tidak berubah," Sera mengulang, seperti mengonfirmasi sesuatu yang penting.

Damar kecil adalah orang pertama yang benar-benar "menerima" Sera tanpa pertanyaan atau penyesuaian—dengan cara yang hanya bisa dilakukan anak-anak, yang belum belajar untuk merasa bahwa seseorang yang tidak bisa dijelaskan keberadaannya adalah sesuatu yang harus dicurigai.

Bagi Damar kecil, Sera hanyalah "Tante Sera yang tinggal di kamar ujung, yang suka duduk di jendela, dan yang mau diajak bermain kartu tapi curang terus."

"Tante Sera curang!" protes Damar kecil suatu sore, melempar kartu-kartunya ke meja dengan dramatis, membuat Sera tertawa—tawa yang semakin sering keluar, semakin ringan, semakin mirip dengan tawa orang yang tidak sedang menanggung beban.

"Aku tidak curang," kata Sera, dengan nada yang terlalu serius untuk orang yang sedang bermain kartu dengan anak tujuh tahun. "Aku hanya bermain dengan lebih baik."

"Itu definisi curang!"

Kirana, yang menyaksikan dari sofa sambil membaca buku, tertawa tanpa mengangkat matanya. "Damar, kamu kalah terus sama Tante Sera. Mungkin sudah saatnya terima kenyataan."

"Tidak!"

Arka, dari dapur, mendengar semua itu dan tersenyum—tersenyum ke arah tidak ada, hanya untuk dirinya sendiri, karena ada sesuatu yang terasa pas tentang suara rumah yang penuh dengan tawa dan argumen kecil yang tidak penting.

Suatu malam, Sera mengetuk pintu kamar Arka dan Nadia.

Nadia membuka pintu—sudah setengah mengantuk, rambutnya berantakan, tapi tidak terlihat terganggu.

"Nggak bisa tidur?" tanya Nadia.

"Bisa tidur," kata Sera, "tapi aku mimpi. Dan aku—" dia berhenti, sedikit canggung, seperti tidak terbiasa meminta sesuatu. "Aku nggak mau sendirian setelah mimpi itu."

Nadia membuka pintu lebih lebar. "Masuk. Arka tidurnya nyenyak, dia nggak akan ganggu."

Mereka duduk di kursi kecil di sudut kamar—Nadia dengan selimut yang dia bawa dari kasur, Sera dengan lutut dipeluk ke dada—dan berbicara dengan suara pelan agar tidak membangunkan Arka yang tidur dengan napas teratur di kasur.

"Mimpi tentang apa?" tanya Nadia.

"Tentang taman itu," kata Sera. "Tentang waktu di sana. Tapi anehnya—dalam mimpi, aku tidak sendiri. Ada seseorang di bangku lain, tapi aku tidak bisa lihat wajahnya."

"Mungkin itu Arka," kata Nadia. "Yang datang mencarimu."

Sera menggeleng pelan. "Bukan Arka. Sosoknya lebih kecil. Lebih muda." Dia diam sejenak. "Aku rasa... aku rasa itu aku sendiri. Versi aku yang lebih muda, yang belum pernah melakukan perjalanan apa pun, yang masih punya semuanya."

"Dan kamu ingin bicara dengannya?"

"Aku ingin memberitahunya sesuatu," kata Sera. "Tapi aku tidak tahu apa. Dalam mimpi, setiap kali aku mencoba mendekati, dia menghilang."

Nadia menatap Sera lama, lalu berkata dengan nada yang lembut tapi langsung—nada yang Arka kenal sebagai nada Nadia saat dia mengatakan sesuatu yang penting. "Mungkin kamu tidak perlu memberitahu apa-apa. Mungkin kamu cukup duduk di sampingnya. Seperti yang Arka lakukan untukmu—datang, duduk, tidak harus mengubah apa pun."

Sera menatap Nadia. "Kamu—kamu sangat mirip dengan suamimu, tahu tidak?"

Nadia tertawa kecil. "Atau dia yang mirip aku. Kami sudah terlalu lama bersama untuk bisa membedakannya."

Sebulan setelah Sera tinggal, Arka mengajaknya berjalan-jalan—ke pasar buku bekas di pusat kota. Tempat yang sama di mana, bertahun-tahun lalu, Arka pernah melihat "Sera versi baru" yang tidak mengenalnya.

Mereka berjalan di antara lapak-lapak, masing-masing memilah buku dengan cara mereka sendiri—Sera lebih metodis, memeriksa setiap buku dari kiri ke kanan; Arka lebih impulsif, tertarik ke buku apa pun yang judulnya menarik perhatiannya.

"Ini," kata Sera tiba-tiba, mengangkat sebuah buku tipis—buku puisi lama, sampulnya sudah kusam, harganya ditulis dengan pensil di halaman pertama.

"Apa itu?" tanya Arka.

"Buku puisi yang pernah aku punya, dulu," kata Sera. "Di dunia yang pertama. Buku ini yang aku baca berkali-kali sebelum semuanya dimulai." Dia membalik-balik halamannya dengan hati-hati. "Aku tidak tahu mungkin masih ada di sini—penerbitnya sudah lama tidak aktif."

"Beli," kata Arka sederhana.

Sera menatapnya. "Ini hanya buku."

"Tidak ada yang 'hanya' tentang sesuatu yang dulu pernah penting bagimu," kata Arka.

Sera menatap buku itu lagi, lalu—dengan gerakan yang masih sedikit ragu, masih sedikit tidak terbiasa dengan konsep "mengambil sesuatu untuk dirinya sendiri tanpa ada yang harus ditukar"—dia berjalan ke penjual dan membayarnya.

Di perjalanan pulang, Sera memegang buku itu di tangannya—memegang bukan dengan cara orang memegang buku, tapi dengan cara orang memegang sesuatu yang rapuh, sesuatu yang hampir hilang dan entah bagaimana ditemukan lagi.

"Arka," katanya, saat mereka berjalan di trotoar yang sama yang dulu Arka tapaki setelah bertemu Sera muda, puluhan tahun lalu, "terima kasih."

"Untuk buku itu?"

"Untuk semuanya," kata Sera. "Untuk tidak membiarkan aku sendirian di sana."

Arka menatap ke depan, ke jalanan yang ramai, ke kota yang terus bergerak—dan tersenyum, dengan cara seseorang yang telah melakukan perjalanan sangat panjang dan akhirnya menemukan bahwa tujuan sebenarnya bukan tempat yang dia kira.

"Sama-sama," katanya.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!