Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9 Nama dalam Bayangan
Malam itu, Hana tidak langsung melangkah pulang ke rumahnya.
Ia masih berdiri mematung di depan meja obat sambil memandangi pintu kamar mandi yang kini telah tertutup rapat. Kata-kata yang baru saja didengarnya dari balik celah pintu terus terngiang-ngiang, berputar tanpa henti di dalam kepalanya.
Shadow Crown
Nama itu terdengar sangat asing dan dingin di telinganya. Namun, cara Kael mengucapkan kombinasi kata tersebut membuat Hana sangat yakin bahwa nama itu memiliki ikatan yang amat kuat dengan masa lalu sang pria misterius.
Ketika Kael akhirnya melangkah keluar dari kamar mandi, guratan wajah tegasnya terlihat sedikit pucat di bawah temaram lampu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Hana, memecah keheningan.
"Hanya sedikit pusing," jawab Kael sambil mengangguk pelan.
"Kau mengingat sesuatu lagi?" tanya Hana, langsung mengejar dengan rasa penasaran yang tak bisa ditahan.
Pertanyaan spontan itu membuat Kael terdiam beberapa saat. Sambil menatap lantai, ia akhirnya mengangguk pasrah.
"Sedikit," aku Kael lirih.
"Apa yang kau ingat?" tanya Hana lagi, tatapan matanya langsung berubah serius dan terkunci rapat pada pasiennya.
"Ada sebuah lambang di dalam kepalaku, lambang yang persis sama dengan tato mahkota di punggungku," jelas Kael perlahan.
"Lalu?" tanya Hana tanpa berniat menyela.
"Aku mendengar nama Shadow Crown," lanjut Kael dengan tatapan kosong, seolah memorinya sedang berputar mundur. "Dan seseorang di dalam kegelapan itu berkata... bahwa Shadow Crown tidak pernah mengenal kata gagal."
Keheningan yang mencekam seketika memenuhi ruangan Poskesdes. Namun setelah kalimat terakhir itu terucap, tidak ada lagi potongan informasi yang bisa Kael ceritakan kepada Hana. Ingatannya kembali buntu, menyisakan pecahan-pecahan kecil yang belum sanggup membentuk sebuah gambaran utuh.
Tanpa disadari oleh Kael sendiri, malam itu ia baru saja membuka sebuah kotak pandora membocorkan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia paling mematikan bagi nama organisasi yang baru saja ia sebutkan.
✨✨✨✨
Keesokan paginya, kehidupan di Desa Sekar kembali berjalan dengan ritme yang biasa dan tenang.
Kael yang kondisi fisiknya semakin pulih total mulai lebih sering keluar dan membantu aktivitas warga desa. Hari itu, ia memutuskan untuk bergabung bersama Pak Deden yang sedang sibuk memperbaiki gudang penyimpanan ikan di tepi pantai.
Sebagian atap bangunan kayu itu hancur berantakan akibat hantaman angin laut beberapa hari lalu. Beberapa pemuda desa setempat juga tampak ikut mengulurkan tenaga.
"Pegang bambu sebelah sana!"
"Tarik talinya lebih kencang!"
"Sedikit geser ke kiri!"
Suasana di sekitar gudang terasa sangat ramai, dipenuhi oleh tawa dan candaan khas masyarakat pesisir. Kael ikut mandi keringat bekerja bersama mereka. Meski baru beberapa hari mengenal pria asing ini, para pemuda desa mulai menganggap Kael sebagai bagian dari lingkaran pertemanan mereka.
Namun, sebuah insiden yang terjadi dalam sekejap mata kembali menarik perhatian semua orang di sana. Salah satu bambu penyangga yang sudah lapuk tiba-tiba patah dengan suara retakan yang keras. Akibatnya, balok kayu besar yang berada di bagian atas atap langsung meluncur turun tanpa kendali.
"Tiar! Minggir! Awas di atasmu!" teriak salah seorang pemuda dengan histeris.
Seorang pemuda bernama Tiar yang berada tepat di bawahnya terlambat menyadari bahaya. Tubuhnya mendadak kaku karena terkejut, sementara balok kayu seberat puluhan kilogram itu jatuh tepat menuju ke arah kepalanya.
Namun, sebelum siapa pun sempat melangkah untuk menolong
BRAK!
Kael sudah lebih dulu melompat dengan kecepatan yang luar biasa. Kedua tangannya bergerak secepat kilat, menangkap dan menahan hantaman balok kayu besar yang jatuh itu tepat di udara.
Debu-debu kayu seketika beterbangan di sekitar mereka. Semua orang yang ada di sana mendadak terdiam, membeku di posisinya masing-masing. Balok seberat itu seharusnya mustahil bisa ditahan oleh satu orang dengan posisi menengadah seperti itu. Namun, Kael berhasil melakukannya, bahkan tanpa menunjukkan guratan ekspresi kesulitan di wajah tampannya.
"Astaga..." gumam salah satu warga dengan mata membelalak tak percaya.
Kael sendiri sebenarnya tampak kebingungan dengan apa yang baru saja ia lakukan. Otot tubuhnya seolah bergerak otomatis sebelum otaknya sempat berpikir.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kael, menurunkan balok kayu itu perlahan lalu menatap Tiar.
"T-terima kasih, Kael," ucap Tiar tulus dengan suara yang bergetar.
Pemuda itu hanya bisa mengangguk kaku, masih terlalu syok untuk menyusun kalimat panjang setelah nyaris kehilangan nyawanya.
Dari kejauhan, Hana yang kebetulan baru saja selesai mengunjungi rumah salah satu pasien warga menyaksikan seluruh kejadian luar biasa itu dari awal hingga akhir. Tatapan matanya semakin mendalam, dan kecurigaan di dalam hatinya kini tumbuh semakin kuat serta tak terbantahkan.
✨✨✨✨
Sore pun tiba. Semburat jingga mulai melukis langit saat matahari bergerak turun mendekati garis laut. Angin sore berembus sejuk.
Di bawah ketenangan senja itu, Rani datang mengunjungi Poskesdes dengan membawa sebuah buku gambar baru yang masih bersih. Begitu matanya menangkap sosok Kael yang sedang duduk beristirahat di teras, gadis kecil itu langsung berlari kecil dan mengambil tempat duduk tepat di sampingnya. Dengan gerakan lincah, ia membuka lembaran kertas barunya.
Di halaman pertama, ternyata sudah ada gambar Kael yang sedang bergaya menangkap balok kayu besar di udara. Meski hanya berupa coretan pensil sederhana khas anak-anak, gambar itu terlihat sangat jelas menyampaikan momen dramatis tadi siang.
Kael tidak bisa menahan tawa kecilnya yang renyah.
"Berita di desa ini rupanya cepat sekali menyebar sampai ke telingamu, ya?"
Rani terkikik tanpa suara, menunjukkan kebahagiaan dari dunia sunyinya. Jemari mungilnya kemudian bergerak cepat menuliskan sesuatu di bawah gambar tersebut, lalu menyodorkannya ke depan wajah Kael.
Kael kuat sekali.
"Padahal aku sendiri tidak tahu kenapa tubuhku bisa sekuat ini," sahut Kael sambil tersenyum tipis, meratapi ingatannya yang masih terkunci rapat.
Rani menatap mata Kael selama beberapa saat, seolah bisa merasakan kebingungan yang berkecamuk di dalam hati pria itu. Ia membalik halaman dan menuliskan sebuah kalimat baru dengan tegas.
Tidak apa-apa.
Kael membaca tulisan itu, lalu pandangannya terpaku pada baris kalimat berikutnya yang ditulis oleh Rani.
Yang penting Kael orang baik.
Untuk beberapa saat, Kael hanya terdiam membisu di tempat duduknya. Kalimat sederhana dan polos dari seorang anak kecil itu entah mengapa terasa jauh lebih menenangkan serta menyejukkan jiwanya, melampaui semua jawaban masa lalu yang selama ini ia cari dengan rasa frustrasi.
Malam kini jatuh sepenuhnya, menyelimuti pesisir dalam kegelapan yang pekat. Angin laut bertiup lebih kencang dan dingin, membawa suara deburan ombak malam yang memecah kesunyian pantai di bawah taburan bintang.
Setelah semua warga desa pulang ke rumah masing-masing dan suasana Poskesdes kembali sepi, Kael memilih duduk sendirian di kursi teras. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang luas. Tanpa sadar, telapak tangannya bergerak menyentuh bagian punggung sebelah kiri, tempat di mana tato misterius itu terukir permanen.
Kini ia tahu satu hal yang pasti. Nama Shadow Crown bukanlah sekadar halusinasi atau mimpi buruk di kepalanya. Nama itu nyata, dan memiliki ikatan darah dengan dirinya. Namun, semakin banyak potongan ingatan yang mulai terbuka, semakin banyak pula pertanyaan baru yang muncul dan menyiksa batinnya.
Apakah di masa lalu ia adalah seorang orang baik seperti yang diucapkan Rani? Ataukah ia justru adalah sosok monster yang sangat berbahaya dan kejam?
Kael mengembus napas panjang ke arah kegelapan malam. Untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di desa ini, rasa takut mulai merayap di hatinya takut jika ia akhirnya menemukan jawaban asli tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Sementara itu dari balik kaca jendela Poskesdes yang gelap, Hana diam-diam terus memperhatikan sosok tegap Kael yang duduk menyendiri di bawah siraman cahaya bulan. Dokter muda itu memang belum tahu siapa sebenarnya pria asing yang ia rawat tersebut. Namun, naluri mendalamnya sebagai seorang wanita mengatakan satu hal yang pasti.
Pria yang sedang menatap laut lepas itu menyimpan sebuah rahasia besar—sebuah masa lalu yang jauh lebih gelap dan mengerikan daripada apa yang bisa dibayangkan oleh seluruh warga Desa Sekar.
Bersambung...