NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur di luar

“Kamu pengen beli apa, Kia?” tanya Aryan pada Zaskia yang sedari tadi sibuk memandangi jalanan di balik jendela mobil, seperti sedang mencari sesuatu.

“Kucing. Kia pengen kucing, Kak. Kita cari tokonya ya?” Zaskia menoleh menatap suaminya dengan wajah memelas.

“Kucing? Buat apa?”

“Buat diajakin ghibah!”

Aryan langsung menoleh cepat. “Kakak serius, Dek.”

“Ya lagian nanyanya aneh banget,” sungut Zaskia. “Tadi Kia lihat di sosmed ada kucing imut banget, lucu, gemesin! Terus Kia pikir kayaknya seru kalau di rumah ada kucing. Jadi kalau kakak pulangnya lama, Kia punya temen dan gak kesepian. Belakangan ini kan kakak sibuk terus.”

Aryan menghela napas pelan. Ada benarnya juga ucapan Zaskia. Tapi masalahnya, Aryan alergi bulu kucing. Dekat sedikit saja dengan hewan berbulu itu, hidungnya langsung bersin-bersin.

“Kenapa sih kamu harus punya pikiran kayak gitu?” tanyanya jahil.

Tatapan Zaskia langsung berubah tajam. Aryan buru-buru nyengir.

“Hehe... bercanda.”

“Boleh kan, Kak?”

“Gimana ya? Kamu kan tau kakak alergi bulu kucing.”

“Gampang itu, Kak. Kakak gak usah deket-deket. Pakai masker juga bisa. Mau ya?”

“Kakak beliin bonekanya aja gimana? Boneka kucing?”

“Kak, Kia pengennya kucing!”

“Tapi—”

“Tapi apa sih, Kak? Kia pengen banget melihara kucing. Ayo dong, please...” rengek Zaskia sambil mengguncang-guncang lengan Aryan.

“Boleh kakak istikharah dulu?”

“Astaghfirullah, Kak! Cuma pelihara kucing loh ini, bukan melihara harimau! Tau ah bete, gak usah ngomong sama Kia!”

Zaskia langsung melipat tangan di dada. Bibirnya mencebik kesal, hidungnya kembang-kempis. Bahkan matanya mulai berkaca-kaca.

Aryan langsung panik. “Yaudah iya. Kamu diizinin pelihara kucing. Tapi kalau kakak lagi di rumah kamu gak boleh pegang kucing.”

Zaskia tetap diam.

“Yaudah iya gak ada syarat,” ralat Aryan cepat. “Udah dong jangan ngambek.”

Ia menjawil pipi Zaskia pelan sambil mencoba menarik senyum istrinya.

“Kia mau beli dua.”

Aryan langsung menarik napas panjang.

Untung saja ia sangat sayang pada istrinya. Kalau tidak, mungkin kesabarannya sudah habis sejak tadi.

“Kenapa tarik napas? Kakak gak suka? Mau marah?” curiga Zaskia.

“Enggak kok. Kakak cuma lagi ngalirin oksigen ke seluruh tubuh supaya tenang menghadapi bidadari cantik nan solehah ini.”

Aryan mengecup punggung tangan Zaskia manis.

Dan benar saja, perempuan itu langsung luluh. Kesalnya perlahan menguap begitu saja. Ia bahkan kembali merangkul mesra lengan Aryan.

“Makasih ya, Kak.”

Aryan hanya mengangguk sambil kembali fokus menyetir.

Sebelum menuju toko hewan, Aryan mengajak Zaskia makan siang lebih dulu. Awalnya Zaskia menolak karena terlalu semangat ingin membeli kucing, tapi akhirnya menyerah setelah Aryan mengingatkan kondisi bayi dalam kandungannya.

Lima belas menit kemudian mereka kembali menyusuri jalanan kota sambil mencari pet shop.

“Kak, itu!” tunjuk Zaskia antusias.

Aryan segera meminggirkan mobil dan masuk ke halaman toko hewan yang dimaksud.

Begitu mobil berhenti, Zaskia langsung turun bahkan sebelum mesin mobil dimatikan.

Aryan geleng-geleng kepala sebelum akhirnya ikut turun menyusul istrinya.

Namun baru beberapa detik kemudian, Zaskia malah keluar lagi dengan wajah murung.

“Kok cepet? Kenapa?”

“Kucing yang Kia cari gak ada.”

“Kamu udah nanya?”

“Belum. Tapi Kia udah lihat.”

“Oh...” Aryan mengangguk pasrah. “Terus sekarang?”

“Kita cari toko lain dong! Ayo Kak!”

Dan dimulailah perjalanan panjang mereka.

Satu toko. Dua toko. Lima toko. Sebelas toko.

Semua hasilnya nihil.

Aryan bahkan mulai penasaran sebenarnya kucing macam apa yang dicari istrinya itu. Dari kucing ras mahal sampai kucing lokal lucu semuanya ditolak Zaskia mentah-mentah.

Sampai akhirnya di toko hewan ke dua belas, Aryan menyerah.

“Kia, ini udah toko ke-12 loh. Sebenernya kamu nyari kucing apa sih?”

“Sebentar ya...” Zaskia membuka galeri ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto.

“Nih.”

Aryan menyipitkan mata memperhatikan foto itu.

“Yaudah ayo. Kakak tanyain.”

Mereka masuk bersama. Aryan menghampiri salah satu pegawai toko.

“Ada yang bisa saya bantu, Mas?”

“Saya mau cari kucing ini.” Aryan menunjukkan foto di ponsel Zaskia. “Ada gak?”

Pegawai itu memperhatikan cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil.

“Maaf mas, kita gak jual kucing liar.”

“Kucing liar?”

“Iya mas. Itu namanya black-footed cat. Memang lucu, kecil, imut... tapi aslinya predator buas.”

Zaskia langsung melongo.

“Kucing itu adanya di Afrika, mas,” lanjut pegawai toko. “Susah dijinakkan dan gak bisa dipelihara sembarangan. Makannya juga daging.”

“Oh...” Aryan langsung mengangguk paham.

“Kalau mbaknya mau pelihara sih boleh aja. Tapi mungkin nanti masnya disedekahin buat makan dia.”

Aryan langsung memicing tajam.

Pegawai itu buru-buru mengangkat tangan. “Hehe bercanda mas.”

Aryan menghela napas lega dalam hati. Setidaknya ia tidak jadi serumah dengan hewan berbulu yang membuat alerginya kambuh.

“Yaah...” Zaskia langsung manyun. “Berarti gak bisa dipelihara?”

“Enggak bisa, sayang,” jawab Aryan lembut. “Yuk pulang aja.”

Bibir Zaskia langsung gemetar. Matanya berkaca-kaca. “Terus Kia pelihara apa dong...”

“Mas saya gak ikut campur ya,” sela pegawai toko cepat-cepat.

Aryan buru-buru membawa istrinya keluar sebelum tangisnya pecah di dalam toko.

Begitu masuk mobil, benar saja, Zaskia mulai menangis sesenggukan seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.

Aryan langsung panik. “Kakak juga bisa jadi kucing,” ucapnya sambil bergelendot di lengan Zaskia. “Miaw.”

Zaskia malah menangis makin keras.

“Kalau marmut boleh gak?”

Aryan langsung menegakkan badan. “Yang kayak tikus itu?”

“Iya.”

“Enggak! Kali ini kakak nolak dengan tegas!”

“Kaaak...”

Aryan menghela napas panjang lalu menarik Zaskia ke pelukannya sambil menepuk-nepuk punggung perempuan itu.

“Sabar ya sayang. Kakak tau ini berat buat kamu...” gumamnya dramatis. “Tapi lebih berat lagi buat kakak.”

Zaskia makin manyun.

“Gapapa. Nanti kakak bakal jadi kucing yang merangkap jadi marmut.”

Bukannya tenang, Zaskia malah tambah tantrum.

“Huuaa! Kakak mah bercanda mulu!” sesalnya sambil memukul dada Aryan pelan.

Aryan langsung terkekeh sambil memeluk istrinya lebih erat. “Iya iya maaf. Jangan nangis lagi nanti anak kita ikut drama juga.”

***

Malam harinya, usai kejadian dramatis sore tadi, Zaskia tampak sengaja menghindari Aryan. Selain masih kesal karena kucing yang ia inginkan ternyata tidak ada dan tidak bisa dipelihara, perempuan itu juga masih merajuk lantaran Aryan sama sekali tidak mengizinkannya memelihara marmut—hewan gempal bermulut mungil yang menurut Zaskia sangat lucu.

“Mau sampai kapan ngambeknya?” tanya Aryan sambil memperhatikan istrinya yang sedang mengerjakan tugas kuliah.

Zaskia duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, sedangkan Aryan duduk di kursi meja kerjanya. Bukan tanpa alasan. Ia memang dilarang duduk di sofa yang sama dengan Zaskia.

Perempuan itu diam, matanya menatap layar laptop seolah sangat fokus. Padahal sebenarnya hanya pura-pura sibuk.

“Kia.”

Tak ada jawaban.

“Udah dong, sayang. Kakak itu—”

“Enggak usah dibahas lagi! Bikin makin bad mood aja!” potong Zaskia ketus. Ia bahkan tau ke mana arah pembicaraan Aryan.

Aryan menghela napas pelan. Rasanya ia harus mencari cara baru untuk merayu istrinya.

“Kakak bantuin tugas kamu ya?” Aryan bangkit dan mencoba mendekat.

“Jangan kesini!” Zaskia langsung menunjuk sofa. “Area sofa ini adalah wilayah kekuasaan Kia dan kakak dilarang masuk!”

Langkah Aryan sontak berhenti. Ia mengusap belakang kepalanya canggung lalu mundur perlahan kembali ke tempat semula.

“Kita beli es krim aja yuk? Katanya di sekitar apartemen ada kedai baru buka.”

“Enggak!”

“Ada rasa matcha loh. Sama rasa baru, durian. Yakin gak mau? Biasanya kalau urusan matcha kamu paling semangat.”

“Ih, dibilang enggak ya enggak! Bisa gak jangan ngajak Kia ngobrol terus? Kia jadi gak fokus tau!”

Aryan kembali menghela napas. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya.

Minta maaf sudah. Dari sore tadi malah. Menawari bantuan sudah. Merayu pakai makanan favorit juga sudah. Tapi kenapa istrinya masih ngambek begini?

“Apa gue peluk aja ya dari belakang?” gumamnya pelan. “Enggak, enggak... nanti makin tantrum.”

“Atau gue tarik terus cium bibirnya? Jangan juga. Bisa digampar gue. Gila aja ngajak singa lagi marah ciuman.”

Aryan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menatap Zaskia yang masih terlihat ketus. Ia benar-benar tidak tahan kalau harus berjauhan seperti ini. Biasanya mereka selalu lengket, bermanja-manja, atau sekadar duduk berdekatan.

“Kia.”

“Gak.”

“Belum juga kakak ngomong apa.”

“Diam deh. Kia lagi konsentrasi. Mending kakak sana kerja kek, tidur kek!”

“Ada sih yang mau kakak kerjain... tapi yang mau dikerjain lagi ngambek.”

Zaskia memutar bola matanya malas lalu kembali mengetik tanpa memedulikan Aryan.

“Kia sayang.”

Diam.

“Kia istriku.”

Masih diam.

“Kia bidadariku.”

Tetap tidak ada reaksi. Biasanya perempuan itu akan senyum tapi kali ini tidak. Aryan mulai panik.

“Kia, kamu sayang kakak gak?”

“Apa sih tiba-tiba banget!”

“Ayo jawab.”

“Gak liat Kia lagi ngerjain tugas?!”

“Tinggal jawab doang, sayang. Gak sampai semenit juga.”

Alih-alih menjawab, Zaskia tiba-tiba bangkit sambil membawa laptopnya lalu berjalan cepat menuju kamar.

“Loh, mau ke mana?”

“Kakak berisik! Malam ini kakak tidur di luar!”

Setelah mengatakan itu, Zaskia masuk ke kamar dan buru-buru menutup pintu.

Aryan langsung bangkit hendak menahan, tapi terlambat.

Klik.

Pintu terkunci.

“Kia?” Aryan menarik gagang pintu beberapa kali. “Kok dikunci? Buka pintunya, sayang.”

Tak ada jawaban.

“Serius kamu nyuruh kakak tidur di luar cuma gara-gara marmut doang?”

Hening.

“Kia, Zaskia... sayangku, istriku, sumber kehidupan anak-anakku. Buka pintunya ya, cantik. Please. Kakak kedinginan kalau tidur di luar.”

Tetap tidak ada sahutan.

Aryan menghela napas panjang entah untuk yang keberapa kali malam ini. Ia lalu bersandar di pintu kamar sambil mendongak menatap plafon.

Pusing.

Harus pakai cara apa lagi membujuk perempuan hamil itu?

Tiba-tiba matanya berbinar.

Seperti ada lampu kecil menyala di atas kepalanya.

Aryan segera berjalan mengambil ponselnya di meja lalu duduk kembali di sofa. Jemarinya cepat mencari satu nama di kontak.

Om Azzam.

Kenapa harus om-nya?

Karena hanya kepada Om Azzam ia bisa curhat soal urusan bujuk-membujuk istri tanpa merasa malu. Kalau ke mertuanya, Aryan pasti sungkan. Kalau ke abinya? Sudah pasti bukan dibantu malah digoda habis-habisan dan kemungkinan besar berakhir diceramahi.

Panggilan mulai tersambung.

Namun beberapa detik berlalu, tak ada jawaban.

Aryan melirik jam dinding.

Baru setengah sembilan malam.

Aryan tak menyerah. Ia kembali menghubungi Azzam karena memang hanya om-nya itu yang bisa diandalkan. Kalau curhat ke Arshaf, tentu kembarannya itu belum punya pengalaman menghadapi istri hamil. Ke Kafa? Ya jelas tidak mungkin. Bagaimanapun juga Kafa adalah mantan istrinya.

Namun lagi-lagi panggilannya tidak mendapat jawaban. Sudah tiga kali dan yang terdengar hanya suara operator.

“Oke, sekali lagi kalau enggak diangkat juga, ya udah gue pasrah,” gumam Aryan pelan.

Seperti sebelumnya, Aryan kembali menekan tombol panggil. Kali ini ia menunggu dengan penuh harap sambil menatap pintu kamar Zaskia yang masih tertutup rapat.

Pada detik-detik terakhir, panggilan itu akhirnya tersambung.

“Halo, Om. Assalamu’alaikum.”

Azzam tak langsung menjawab. Yang terdengar justru hembusan napas berat dan sedikit terengah.

Seketika pikiran Aryan melayang ke mana-mana.

Jangan-jangan tadi Om Azzam sama Tante Aira lagi—

“Wa’alaikumsalam, Yan. Tumben nelepon jam segini. Ada apa?” suara Azzam akhirnya terdengar stabil meski masih sedikit serak.

Ucapan itu langsung memutuskan bayangan liar di kepala Aryan.

“Aryan ganggu ya, Om?”

“Enggak, udah selesai kok.”

Aryan menelan ludah.

Selesai melakukan apa? Pikirannya kembali kotor.

“Om habis nge-gym. Jangan salah sangka,” ucap Azzam seolah bisa membaca isi kepala keponakannya.

“Oh enggak. Siapa juga yang salah sangka,” kilah Aryan cepat. “Lagi bareng Tante ya, Om?”

“Iya. Dia partner gym Om.” Terdengar kekehan kecil dari seberang sana.

Aryan ikut nyengir. “Hm… Om bisa pindah tempat dulu enggak? Jangan ada siapa-siapa selain Om. Aryan mau curhat.”

Terdengar gelak tawa Azzam.

“Sudah Om duga.”

Dari seberang telepon, Aryan mendengar suara pintu dibuka sebelum akhirnya suasana jadi lebih sunyi.

“Nah, sekarang aman. Kenapa? Lagi ribut sama Kia?” tanya Azzam setelah berada di ruangan lain.

“Iya, Om. Kia kayaknya lagi ngidam.”

“Ngidam apa?”

“Melihara marmut.”

Azzam langsung tergelak. “Terus dia ngambek gara-gara kamu gak ijinin?”

Aryan menghela napas panjang. “Iya, Om. Mana Aryan disuruh tidur di luar.”

“Perempuan hamil emang unik, Yan. Tapi Kia masih mending dibanding Tante kamu.” Nada bicara Azzam terdengar penuh nostalgia. “Dulu Tante Aira pernah ngidam pengen pelihara harimau.”

“Hah? Serius?”

“Wallahi serius.”

Aryan sampai duduk tegak. “Terus gimana, Om?”

“Ya enggak Om izinin lah. Mana ada pengen manja-manja sama harimau gede.” Azzam tertawa kecil. “Katanya cuma mau peluk-peluk. Om bilang, ‘Yang ada Om yang dipeluk terakhir kali di dunia ini.’”

Aryan ikut terkekeh.

“Habis itu Tante ngambek juga?”

“Cuekin Om hampir seharian.”

“Terus Om ngapain?”

“Om ajak ngamar.”

Aryan langsung terbatuk kecil. “Semudah itu?”

Azzam kembali tertawa. “Ya enggak langsung begitu juga, Yan. Awalnya Om minta maaf dulu, kasih pengertian pelan-pelan. Namanya perempuan hamil kan emosinya sensitif. Habis itu baru dirayu.”

“Dirayu gimana?”

“Ya pake cinta lah.” Suara Azzam terdengar santai. “Tatap matanya, ucapin yang manis-manis. Perempuan itu makhluk perasa. Hatinya gampang luluh kalau diperlakukan lembut.”

Aryan mengangguk-angguk meski lawan bicaranya tidak bisa melihat.

“Tapi Om pernah dikunciin di luar kamar enggak?”

“Enggak sih.”

“Lah Aryan dikunciin, Om!” Aryan meringis frustrasi.

“Hm…” Azzam terdengar berpikir. “Pura-pura pingsan coba.”

“Gimana mau pura-pura pingsan kalau Kia-nya enggak mau keluar kamar? Masa Aryan harus tiduran di lantai sampai subuh?”

“Berat banget jadi kamu, Yan.”

“Iya, Om.”

“Dobrak pintu aja.”

“Ya Allah, Om! Yang ada malah makin tantrum nanti!”

Azzam tertawa puas mendengar kepanikan Aryan. “Ya udah, jangan panik dulu. Om punya ide.”

“Apa?”

“Sekarang kamu pura-pura tidur di sofa sambil meringkuk kayak orang kedinginan.”

Aryan mengernyit, tapi tetap mengikuti saran itu. Ia segera berbaring di sofa sambil memeluk bantal.

“Udah, Om. Terus?”

“Ya tunggu Kia buka pintu.”

Aryan langsung memejamkan mata frustasi. “Astaghfirullahaladzim, Om!”

“Ya cuma itu caranya. Masa Om harus nelepon Kia terus bilang kamu pingsan? Nanti malah makin aneh.”

Aryan mengembuskan napas berat. Ia tau ucapan Azzam benar. Kalau tiba-tiba om-nya menelepon Zaskia dan bilang dirinya pingsan, pasti istrinya langsung curiga.

“Sabar ya, Yan,” ujar Azzam sambil tertawa kecil. “Om cuma bisa bantu doa.”

“Makasih, Om. Jadi beneran gak ada saran lain nih?”

“Om udah berusaha maksimal. Selebihnya… tawakal, Aryan.”

Aryan meringis. Bisa-bisanya Azzam masih sempat bercanda di tengah situasi genting begini.

Tak lama setelah itu, panggilan pun berakhir.

Aryan meletakkan ponselnya di dada lalu menatap plafon apartemen dengan tatapan kosong. Ia masih mempertahankan posisinya di sofa kecil itu.

Padahal malam ini ia punya tugas kuliah dan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun mood-nya benar-benar hilang gara-gara Zaskia yang masih memusuhinya hanya karena perkara marmut.

1
anakkeren
kocsk bgt merrka brtiga🤭
Syti Sarah
ya Allah kia 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
🤣🤣🤣🤣🤣 nggak kebayang kalo video nya sampai viral
syora
pasti lahir bulan jadi cucu kesayangan nih apa lagi kalau pr,cucu dan cicit pertama lagi
Syti Sarah
fix,dara ini mah bar bar bnget kturunan Oma sama TENTE Zura nya bnget 😂😂

pusing gak tuh abi nya 😅
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh kafa masih sd
Ayu Oktaviana
ya alloh anknya azzam bar2nya gak ketulungan.. keturunan omanya kayaknya😁😁😁😁 apakah dimasa akan dtang jodohnya kafa adl andara kak... msih teka teki ini
Fegajon: masih SD kak, masih jauh😭
total 1 replies
Siti Java
yah Allah anak y azam bar2 parah 🤭🤭🤭🤭nurun siap ni😍
Syti Sarah
ras trkuat di bumi mau di lawan ,aplgi Skrang lgi hamil.yg sbar ya yan 🤣🤣🤣
Syti Sarah
eeh bukan lh kli thor.jdoh nya arshaf itu nanti santri nya sendiri yg slalu bikin dia naik drah 😂😂😂
Syti Sarah
semoga Aryan scpatnya smbuh 😭😭😭
Anak manis
aryan😭
syora
ya allah/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Judulnya kondisi arshaf/aryan
Fegajon: udah aku ganti, huhu maap lagi ngantuk banget siang ini😭
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya ada yang menabur bawang deh
Syti Sarah
😭😭😭😭
Syti Sarah
ya Allah Arya KIA 🥺🥺
just a grandma
ya allah🥺
Syti Sarah
semoga Aryan cpat sadar dan smbuh .sumpah nyesek bnget 😭😭😭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kok ada aksi tembakan sih. bisa panjang nih urusannya
Nifatul Masruro Hikari Masaru: kasian andre cuma berapa episode tuh🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!