Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Usaha Hendra Tidak Sia-Sia 2
Kemarahan Bramasta rupanya belum mereda. Meskipun Zarlin sudah menegaskan bahwa dirinya memegang kendali penuh atas Aricia International.
"Kamu meminta Ayah untuk diam, Zarlin?!" suara Bramasta meninggi, menggelegar di ruang itu, hingga membuat Samuel dan Hendra yang masih berdiri di sudut ruangan spontan memejamkan mata ketakutan.
"Bagaimana bisa Ayah tenang setelah tahu anakku sendiri diperlakukan seperti binatang oleh manusia tidak berakal itu?!"
Zarlin tetap berdiri tegak, wajahnya tenang tanpa panik, kontras dengan sang ayah yang wajahnya sudah memerah padam.
"Ayah, dengarkan aku dulu—"
"Tidak bisa!" potong Bramasta keras. Dia menunjuk ke arah dokumen perceraian dan visum di atas meja.
"Kemarin siang... Ayah dan Ibumu sengaja pergi ke rumah Theo tanpa memberi tahumu. Kami berniat mengantarkan buah segar untuknya dan Ratna karena mengira kalian baik-baik saja. Tapi apa yang kami temukan di sana? Rumah itu kosong! Yang ada hanya seorang asisten rumah tangga baru bernama Bik Sumi!"
Amelia kembali terisak di atas sofa, mengingat kejadian kemarin.
"Iya, Nak... Ayah dan Ibu bahkan terkejut karena tiba-tiba saja di rumah itu sudah ada ART baru, sementara kamu tidak ada di sana. Dan yang paling membuat hati Ibu perih..." Amelia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, dadanya terlalu sesak.
Bramasta yang melanjutkan dengan nada ketus dan penuh kebencian, "Saat mobil Ayah baru saja keluar dari kompleks perumahan itu, Ayah melihat dengan mata kepala Ayah sendiri! Theo sedang menjemput perempuan sialan bernama Bianca itu di sebuah apartemen mewah! Mereka bermesraan di depan umum, tersenyum tanpa dosa, sementara kau diusir dan menderita sendirian?!"
Bramasta mengepalkan tinjunya. "Ayah tidak bisa tinggal diam, Zarlin! Hari ini juga, Ayah akan mendatangi Paulus! Ayah akan menyeretnya dan memperlihatkan kelakuan bejat anaknya! Biar Paulus tahu diri kalau seluruh perusahaan Falcon Corp itu ada di bawah kendali keluarga Rahesa!"
Bramasta sudah hendak berjalan menuju pintu luar, siap mengerahkan seluruh pengawalnya untuk melabrak keluarga Falcon.
"Ayah tidak peduli jika Paulus adalah teman terdekat ayah sewaktu kuliah sampai sekarang. Apa gunanya dia punya anak kalau tidak bisa dia didik dengan baik?!" ujar Bramasta masih dengan kemarahan.
Melihat sang ayah yang sudah berjalan menuju pintu, Zarlin menghadang langkah sang ayah tepat di depan pintu.
"Ayah, aku mohon, tahan diri Ayah!" ujar Zarlin.
"Jika Ayah menemui Pak Paulus sekarang, Theo akan langsung tahu kalau semua terbongkar. Dia akan menjadi waspada, dan dia akan menggunakan dana lima belas miliar dari Avalanka Group untuk melarikan diri atau mengamankan asetnya!"
Bramasta menatap tajam putrinya.
"Lalu kita harus membiarkannya tertawa di atas penderitaanmu?!"
"Ayah bahkan bisa membunu*h Theo bersama selingkuhannya itu sekarang juga!" teriak Bramasta
Deg! Deg! Deg! Semuanya terdiam.
"Tidak, Ayah. Jangan lakukan itu, turunkan ego ayah. Aku mohon..." Zarlin memegang tangan ayahnya supaya tidak pergi.
"Biarkan dia merasa senang untuk beberapa hari ini dan berpikir bahwa kebohongannya sukses besar. Karena semakin sombong, maka akan semakin hancur pula dia, ayah." lanjut Zarlin menahan ayahnya mati-matian.
Melihat sorot mata putrinya yang begitu dingin dan penuh perhitungan, Bramasta menghentikan niatnya.
Amarahnya masih ada, namun logika bisnisnya mulai berjalan kembali. Dia tahu, taktik Zarlin jauh lebih mematikan daripada sekadar labrakan fisik.
"Bramasta, tidak apa-apa. Dengarkan Zarlin kali ini..." ujar Amelia
Bramasta menghela nafas panjang dan kembali duduk disofa. Kemarahannya hari ini begitu menegangkan. Bahkan Hendra saja belum pernah melihat atasannya semengerikan ini.
...****************...
Di sisi lain, Tristan turun dari mobilnya dan langsung berjalan menuju ruangan kerja Zarlin. Sore itu, Tristan sengaja datang karena ingin membahas kelanjutan bisnis sekaligus berniat memberikan bantuan lebih untuk pergerakan Zarlin.
Begitu pintu ruangan terbuka, Tristan tidak mendapati sosok Zarlin di sana. Yang ada hanyalah Christiana yang sedang merapikan beberapa berkas di atas meja kerja.
"Nona Zarlin mana?" tanya Tristan sambil mengerutkan keningnya heran.
Christiana menoleh dan langsung membungkuk hormat.
"Maaf, Tuan Tristan. Nona Zarlin sudah pulang sore-sore tadi. Beliau disuruh dan dipanggil mendadak oleh Tuan Besar Bramasta Rahesa untuk segera kembali ke rumah."
Tristan menaikkan sebelah alisnya.
"Dipanggil mendadak? Ada masalah penting?"
Christiana sempat terdiam, wajahnya tampak ragu dan diliputi kecemasan yang mendalam.
Tristan yang menyadari perubahan ekspresi sekertaris itu langsung menyipitkan matanya tajam.
"Christiana, ada apa sebenarnya? Jangan ada yang kamu sembunyikan dari saya."
"Tidak ada tuan." ujar Christiana gugup
"Kamu berbohong." ucap Tristan
"Saya bisa merasakan ada yang kamu sembunyikan. Apa ini tentang Zarlin? Ayahnya atau ibunya? Saya juga perlu tahu, Christiana. Katakan saja apa yang terjadi?"
Di bawah tatapan intimidasi dari Tristan, Christiana akhirnya mengembuskan napas pasrah. Dengan terpaksa, dia harus jujur sepenuhnya mengenai situasi yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya... Tuan Bramasta sudah mengetahui semuanya, Tuan Tristan," ujar Christiana dengan suara bergetar pelan.
"Nona Zarlin... sebenarnya sudah resmi bercerai dari Theo sejak dua minggu yang lalu karena banyak hal"
Deg! Deg! Deg!
Tristan seketika terdiam di tempatnya berdiri. Ia benar-benar syok mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Christiana.
"Cerai? Dua minggu lalu?!" tanya Tristan tidak percaya.
"Benar, Tuan. Dan semua dokumen perizinan, kerja sama, serta aliran dana yang selama ini Nona Zarlin izin dan urus mati-matian kemarin, itu semua bukan untuk kesibukan biasa. Beliau mengurus semuanya murni untuk menyelesaikan proses perceraian hukumnya, sekaligus mematangkan taktik jebakan besar demi meratakan Falcon Corp tanpa sisa," ungkap Christiana sejujurnya.
Tristan melongo diam di tengah ruangan kerja yang sunyi itu. Ia berusaha mencerna semua informasi yang luar biasa gila ini.
Selama dua bulan ini, dia mengira Zarlin hanyalah wanita karier yang sedang fokus mandiri. Ternyata wanita itu sedang bertaruh nyawa di dalam pikirannya sendiri.
Terukir di sudut bibirnya sebuah senyuman yang sarat akan rasa takjub dan rasa hormat yang amat tinggi untuk Zarlin.
"Gila... Zarlin... kamu benar-benar perempuan yang sangat tangguh," gumam Tristan dengan suara rendah yang bergetar kagum.
Di kepala Tristan, rasa hormatnya melonjak drastis. Bagaimana bisa seorang wanita yang baru saja dikhianati, diusir, dan ditinggalkan tanpa membawa sepeser pun harta, bisa berdiri begitu tegak sendirian?
Zarlin tidak menangis, tidak mengemis bantuan pada ayahnya yang seorang konglomerat, melainkan berjalan naik sendirian, dan menyusun skenario pembalasan yang begitu rapi hingga membuat musuhnya masuk ke dalam perangkap tanpa sadar.
Tristan mengepalkan tangannya di saku celana, matanya berkilat penuh antisipasi.
"Theo kau benar-benar pria paling bodoh yang pernah ku temui. Kau membuang berlian demi sebuah batu kerikil murah" batin Tristan
selamat datang kemiskinan.
kamu terlalu mandiri 🥴