Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusup ke Dalam Sangkar
Malam itu, hujan kembali mengguyur kota Jakarta dengan intensitas yang lebih lebat dari malam sebelumnya. Guntur sesekali menggelegar, membelah langit malam yang pekat dan memantulkan kilatan cahaya di dinding kaca *penthouse* Menteng. Di dalam apartemen, ketegangan terasa begitu nyata walau ruangan itu senyap.
Konferensi pers Adrian pagi tadi telah memicu gempa tektonik di dunia bisnis dan hukum Indonesia. Berita tentang kekejaman Rendy Baskoro mendominasi seluruh stasiun televisi dan media sosial. Surat perintah penangkapan dari Mabes Polri telah resmi diterbitkan, membuat Rendy kini berstatus sebagai buronan nomor satu yang paling dicari.
Di ruang tengah, Adrian berdiri menatap layar laptopnya yang menampilkan laporan pergerakan saham Dirgantara Group yang perlahan mulai stabil dan merangkak naik setelah kebenaran terungkap. Di sampingnya, Rendra baru saja selesai menerima telepon dari tim keamanan mereka di luar gedung.
"Bagaimana situasi di bawah, Rendra?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
"Dua tim keamanan tambahan sudah menempati pos mereka di lobi utama dan akses parkir bawah tanah, Adrian. Setiap tamu yang masuk diperiksa dengan pemindai biometrik ketat. Sesuai perintahmu, tidak ada satu pun orang luar yang diizinkan naik ke lantai ini," lapor Rendra, mengantongi ponselnya. Ia kemudian melirik ke arah lorong kamar tidur. "Bagaimana dengan Kirana?"
Adrian menghela napas berat, menutup laptopnya perlahan. "Dr. Elena baru saja pulang satu jam lalu setelah memberinya obat penenang dosis ringan. Kirana sempat histeris saat tidak sengaja melihat potongan berita di televisi lobi lewat ponsel salah satu staf dapur. Dia sangat takut Rendy akan datang ke sini."
Adrian bangkit dari kursi, berjalan menuju jendela kaca besar dan menatap rintik hujan yang menghantam kaca. "Rendy sedang tersudut seperti binatang buas yang terluka, Rendra. Dan binatang yang tersudut adalah yang paling berbahaya. Dia tidak akan menggunakan akal sehat lagi."
"Kamu benar. Kita harus tetap waspada sampai polisi berhasil meringkus bajingan itu," sahut Rendra tegas. "Aku akan turun ke bawah untuk memeriksa pos penjagaan lobi sekali lagi sebelum tengah malam."
Adrian mengangguk. Setelah Rendra melangkah keluar dan pintu lift pribadi tertutup, apartemen itu kembali ke keheningan yang mencekam. Adrian melangkah pelan menuju kamar Kirana. Ia membuka pintu kayu ek itu sedikit, mengintip ke dalam.
Di bawah temaramnya lampu tidur, Kirana tampak sedang bergelung di balik selimut tebal. Wajahnya yang pucat terlihat sedikit lebih tenang karena efek obat, namun alisnya sesekali bertaut, menandakan bahwa tidurnya pun tidak luput dari mimpi buruk yang terus mengejarnya. Adrian menatap mantan istrinya itu dengan pandangan penuh pelindung. *Aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu lagi, Kirana. Tidak akan pernah,* janjinya dalam hati sebelum kembali menutup pintu kamar dengan sangat rapat.
---
Sementara itu, di dalam sebuah mobil van panel hitam yang terparkir di sudut remang-remang jalanan sekitar dua ratus meter dari gedung apartemen Menteng, atmosfer terasa sangat dingin dan mencekam. Di dalam kabin belakang yang minim cahaya, empat orang pria berbadan tegap dengan pakaian taktis hitam dan penutup wajah sedang memeriksa senjata api jenis pistol berperedam suara di tangan mereka.
Di kursi penumpang depan, Satria—sekretaris kepercayaan Rendy—sedang menatap sebuah tablet yang menampilkan cetak biru (*blueprint*) jalur utilitas dan kabel bawah tanah gedung apartemen yang ditempati Adrian. Di samping van, sebuah sepeda motor sport hitam berhenti, dan seorang pria dengan seragam teknisi perusahaan listrik negara (PLN) turun sambil membawa sebuah kotak peralatan besar. Pria itu adalah orang dalam yang telah disuap oleh jaringan Rendy dengan uang ratusan juta rupiah.
Ponsel Satria bergetar. Nama 'Rendy Baskoro' muncul di layar. Satria segera mengangkatnya dengan takzim.
"Bagaimana pergerakannya, Satria?" suara Rendy terdengar dari seberang telepon, sangat pelan, datar, namun dipenuhi oleh intensitas kegilaan yang menuntut kepatuhan mutlak.
"Orang dalam kita sudah siap memotong jalur kabel serat optik utama dan generator cadangan khusus untuk lantai *penthouse*, Pak Rendy," jawab Satria dengan nada berbisik. "Begitu listrik dan sistem biometrik di lantai atas mati, tim bayaran kita akan masuk melalui jalur tangga darurat yang pintunya sudah diganjal oleh informan kita di dalam tim kebersihan gedung. Semuanya akan selesai dalam waktu kurang dari sepuluh menit."
"Bagus," desis Rendy, terdengar suara kekehan kecil yang mengerikan di ujung telepon. "Bawa Kirana kepadaku dalam keadaan utuh. Dan ingat... jika Adrian Dirgantara mencoba menjadi pahlawan, pastikan malam ini menjadi malam terakhir dia bernapas di dunia ini. Hancurkan jantungnya, seperti dia menghancurkan hidupku."
"Dimengerti, Pak." Satria memutus panggilan. Ia menoleh ke belakang, menatap pemimpin tim bayaran berbaju taktis hitam itu. "Bergerak sekarang. Jangan tinggalkan jejak apa pun."
Teknisi gadungan itu melangkah mendekati panel gardu listrik bawah tanah yang berada di luar pagar gedung apartemen. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia membuka paksa kotak panel bervoltase tinggi tersebut, mencari kabel transmisi utama yang menyuplai daya ke sistem keamanan digital lantai teratas. Ia mengeluarkan sebuah tang pemotong besar, menjepit kabel tebal itu, dan...
*CRACK! SPARK!*
Percikan api biru besar mencuat di dalam gardu, disusul oleh suara letupan keras yang teredam oleh suara gemuruh guntur di langit.
Dalam sekejap, seluruh lampu indikator luar dan sistem kamera pengawas (CCTV) yang mengarah ke koridor tangga darurat gedung apartemen Menteng mendadak mati total. Sistem keamanan biometrik di pintu lift pribadi lantai teratas berbunyi klik panjang, menandakan sistem beralih ke mode manual yang tidak lagi terkunci secara otomatis.
---
Di dalam *penthouse*, Adrian yang sedang berada di dapur untuk mengambil segelas air mendadak terhenti saat melihat seluruh lampu di dalam ruangan padam seketika. Hanya menyisakan kegelapan pekat yang diiluminasi oleh kilatan petir dari luar jendela kaca.
Adrian mengernyitkan dahi. Sebuah gedung apartemen super-eksklusif seperti ini seharusnya memiliki generator cadangan (*UPS*) yang akan menyala otomatis dalam waktu kurang dari tiga detik jika terjadi pemadaman dari pusat. Namun, lima detik berlalu, dan ruangan tetap gelap gulita. Hanya sistem alarm darurat internal yang berkedip merah redup di sudut langit-langit tanpa mengeluarkan suara sirine.
Insting bisnis dan kewaspadaan Adrian langsung berteriak kencang. *Ini bukan pemadaman biasa. Ini serangan.*
Adrian langsung merogoh saku celananya, mengambil ponselnya untuk menghubungi Rendra yang berada di bawah. Namun, saat ia melihat layar ponsel, sinyalnya kembali menunjukkan tanda silang merah. *Signal jammer* berkekuatan tinggi kembali aktif di sekitar unitnya.
"Sial!" umpat Adrian.
Tanpa membuang waktu, Adrian berlari cepat menembus kegelapan menuju kamar tidur Kirana. Ia harus mengamankan wanita itu terlebih dahulu sebelum memeriksa apa yang terjadi di luar.
Tepat saat ia mendorong pintu kamar Kirana, wanita itu sudah terbangun karena terkejut oleh perubahan atmosfer ruangan yang mendadak gelap. Kirana duduk di atas ranjang dengan tubuh yang mulai bergetar, memeluk selimutnya erat-erat di dalam kegelapan yang remang.
"Mas... Mas Adrian? Apa yang terjadi? Kenapa lampunya mati?" tanya Kirana dengan nada suara yang dipenuhi kepanikan yang teramat sangat.
Adrian mendekat dengan cepat, duduk di tepi ranjang dan langsung meraih kedua bahu Kirana untuk menenangkannya. "Kirana, dengarkan aku baik-baik. Tetap tenang dan jangan bersuara. Seseorang telah memotong jalur listrik kita. Aku ingin kamu turun dari ranjang dan bersembunyi di dalam lemari pakaian rahasia di balik dinding kamar mandi sekarang juga. Jangan keluar sampai aku yang memanggil namamu. Mengerti?"
Kirana membelalakkan matanya di dalam kegelapan. Ketakutan yang selama ini ia khawatirkan akhirnya menjadi kenyataan. "Rendy... Rendy datang, Mas? Dia ke sini?!" tangis Kirana pecah dalam bisikan histeris.
"Dia tidak akan bisa menyentuhmu selama aku masih berdiri di sini, Kirana. Sekarang, bergerak cepat!" perintah Adrian dengan nada tegas namun lembut, menuntun tubuh Kirana turun dari ranjang.
Kirana dengan tubuh yang lemas dan bergetar hebat melangkah cepat menuju kamar mandi, menyembunyikan dirinya di dalam kompartemen tersembunyi yang berada di balik cermin besar kamar mandi. Setelah memastikan pintu tersembunyi itu tertutup rapat dan menyamar sempurna dengan dinding, Adrian kembali ke ruang tengah.
Adrian melangkah mendekati sebuah laci meja kerja rahasianya. Ia menekan tombol mekanis di bawah laci, menyingkap sebuah kompartemen ganda yang berisi sebuah kotak hitam. Dari dalam kotak itu, Adrian mengeluarkan sebuah pistol semi-otomatis jenis *Glock 19* hitam yang sah dan memiliki izin resmi kepemilikan senjata api untuk perlindungan diri eksekutif. Ia memeriksa magasinnya dengan cekatan—peluru penuh. Ia mengokang senjata itu dengan satu gerakan mantap. *Klik-klak.*
Suara pintu kaca penghubung tangga darurat di ujung lorong luar apartemen terdengar berderit halus secara manual. Suara langkah kaki yang sangat teratur dan teredam oleh karpet tebal mulai terdengar mendekat ke arah pintu utama unit *penthouse*.
Adrian berdiri di balik pilar beton ruang tamu, memegang pistolnya dengan kedua tangan di depan dada. Matanya tajam menembus kegelapan, mengunci pandangannya pada pintu utama kayu ek yang mulai bergerak terbuka secara perlahan dari luar karena sistem kunci elektroniknya telah mati sepenuhnya.
Sesosok bayangan hitam dengan penutup wajah dan pistol berperedam di tangan kanannya melangkah masuk dengan sangat perlahan ke dalam ruang tamu yang remang-remang.
Adrian menahan napasnya, menunggu momen yang tepat saat siluet penyusup itu berada tepat di tengah area terbuka yang terkena pantulan cahaya kilat dari jendela luar.
*BLARRR!*
Bersamaan dengan suara guntur yang menggelegar keras di langit Jakarta, Adrian keluar dari balik pilar dan langsung menarik pelatuk senjatanya tanpa ragu.
---
Bersambung ke Episode 10