Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Drama menemani istri lahiran
Dokter yang sedang bertugas sampai harus menegurnya dengan nada bercampur serius, "Tuan Davian, mohon tenang sedikit ya, jangan terlalu heboh sampai Ibu Grey jadi teralihkan. Cukup dukung dengan suara lembut saja."
Davian langsung menutup mulutnya dengan tangan, lalu berbisik-bisik di telinga Grey, "Maaf Sayang… aku terlalu semangat… ayo Sayang… pelan-pelan… kamu hebat sekali… kamu wanita terkuat yang pernah aku kenal. Nanti kalau sudah selesai, kamu boleh pukul aku, marahi aku, atau apapun… tapi sekarang selesaikan dulu ya, Nak-nak Ayah mau ketemu Ibu mereka."
Proses melahirkan kembar tiga secara normal memang memakan waktu lebih lama dan lebih menguras tenaga. Bayi pertama berjuang keluar dengan susah payah. Grey sudah kehabisan napas, lehernya sampai merah karena menahan tenaga, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit yang luar biasa. Davian melihat itu, hatinya terasa seperti tercabik-cabik. Ia tidak peduli lagi pada wibawa atau apapun, ia hanya ingin rasa sakit itu berhenti.
"Dok… tolong… apa tidak bisa dibantu tarik saja? Apa perlu aku panggil tim khusus? Atau… atau aku masuk bantu dorong dari luar saja ya?" tanyanya panik lagi, tangannya hampir menyentuh perut Grey tapi ditahan perawat.
"Tuan Davian, tolong pegang tangannya saja, jangan ikut campur teknis ya," jawab dokter sambil fokus memandu.
Dan akhirnya… terdengar tangisan keras yang memecah ketegangan ruangan.
"Anak pertama, laki-laki! Sehat dan kuat!" seru dokter.
Davian langsung menjerit kegirangan,
"ALHAMDULILLAH! KELUAR! HEBAT IBU KALIAN! HEBAT SEKALI!" ucap sang dokter dengan haru .
Davian langsung mencium kening Grey berulang kali, matanya sudah berkaca-kaca dan berair. "Kamu hebat sekali, Sayang… kamu hebat sekali… aku bangga banget."
Tapi perjuangan belum selesai. Masih ada dua lagi. Grey terkulai lemas sebentar, napasnya terengah-engah berat sekali. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Davian segera mengusap keringat di wajah istrinya dengan tisu lembut, mengelap bibirnya, dan terus membisikkan kata-kata penyemangat.
"Masih ada dua lagi ya, Sayang… tahan sedikit lagi ya… sudah ada satu selamat, berarti sisanya pasti aman juga. Kamu kuat kan? Kamu istriku Davian Arganta, pasti kuat. Ingat ya, kalau kamu selesai ini, kamu boleh minta apa saja. Dunia pun aku belikan buat kamu kalau mau."
"Berat sekali… Davian… rasanya mau pingsan…" keluh Grey lemah, matanya terpejam lelah.
"Jangan tidur dulu, Sayang… jangan… nanti anak-anakmu ngambek kalau Ibu tidur duluan. Ayo bangun sedikit lagi, kita selesaikan bareng-bareng. Aku di sini… tanganku kamu genggam sekuatnya… kalau sakit gigit saja tanganku, biar rasa sakitnya pindah ke aku," Davian menaruh lengannya di dekat bibir Grey, benar-benar siap digigit kapan saja.
Bayi kedua lebih cepat keluarnya, tapi posisinya agak sulit. Grey harus mengerahkan sisa tenaga terakhirnya. Rasa sakit itu luar biasa, Grey sampai menahan napas begitu lama, wajahnya memerah hebat, kakinya gemetar menahan posisi. Davian yang melihat itu, rasanya ingin sekali berteriak pada dunia untuk berhenti sejenak agar istrinya tidak perlu merasakan ini semua. Ia ikut menangis diam-diam, air matanya jatuh membasahi pipinya, rasa haru dan khawatir bercampur jadi satu.
"Itu dia… keluarkan… ayo Sayang… ayo… demi kita… demi anak-anak…" suaranya parau dan bergetar.
Dan lagi-lagi tangisan keras menggema. Bayi kedua, perempuan.
"Masih ada satu lagi… satu lagi, Sayang… hampir selesai… hampir selesai…" Davian terus mengulang-ulang kalimat itu seperti mantra, mengusap wajah dan rambut istrinya yang sudah basah kuyup total. Ia terlihat sangat berantakan, baju kemejanya kusut, kancingnya ada yang lepas, rambutnya berantakan, dan wajahnya penuh keringat serta air mata. Sangat jauh berbeda dari penampilan rapi dan dinginnya yang biasa.
Bayi ketiga adalah yang paling sulit, karena posisinya agak berputar. Grey sudah sangat kehabisan tenaga, hampir tak sanggup lagi mengerahkan kekuatan. Ia menggeleng lemah, air matanya menetes. "Aku nggak sanggup… Davian… sakit sekali… aku nggak kuat lagi…"
Kalimat itu membuat hati Davian hancur berkeping-keping. Ia menundukkan wajahnya sangat dekat ke wajah istrinya, menatap mata Grey lekat-lekat dengan sorot mata yang penuh cinta dan permohonan.
"Dengar aku, Grey… lihat aku… kamu harus kuat. Kamu wanita paling hebat yang aku kenal. Kamu sudah bawa mereka bertiga sampai sini, kamu sudah berjuang selama sembilan bulan. Sedikit lagi saja… demi aku… demi anak-anak kita… aku mohon… bertahan sedikit lagi. Aku ada di sini, aku nggak akan pergi kemana-mana. Aku pegang tanganmu, aku ada di sampingmu. Kalau kamu lelah, bersandar saja padaku. Kita selesaikan ini bareng-bareng. Aku janji, setelah ini, aku akan jadi suami paling penurut sedunia. Apa saja yang kamu mau, aku turuti. Tolong… berjuang lagi sedikit saja, Sayangku…"
Nada bicaranya begitu tulus, begitu menyentuh hati, bercampur antara rasa takut kehilangan dan rasa cinta yang tak terhingga. Mendengar itu, seolah ada tenaga baru yang mengalir ke tubuh Grey. Ia membuka matanya lagi, menatap suaminya, lalu mengangguk pelan. Ia mengumpulkan sisa tenaga terakhir yang ada di tubuhnya, mengatupkan gigi, dan bersiap untuk dorongan terakhir.
Davian menggenggam tangannya seerat mungkin, ikut menghitung bersama dokter, ikut mengerahkan tenaga lewat dukungan suaranya yang kini parau dan serak habis.
"Satu… dua… TARIK NAPAS… DORONG… ITU DIA… ITU DIA…!"
Suasana ruangan itu hening sejenak, penuh ketegangan yang hampir meledak, sebelum akhirnya terdengar tangisan paling keras dan panjang dari bayi ketiga—laki-laki yang sehat dan berat.
"SELAMAT! Semuanya selamat! Tiga bayi sehat, ibu juga aman!" seru dokter dengan napas lega, diiringi suara tangisan ketiga bayi yang saling bersahutan, menciptakan simfoni paling indah di telinga Davian.
Grey langsung terkulai lemas ke bantal, matanya tertutup rapat karena kelelahan yang luar biasa, tapi ada senyum damai dan bahagia yang terukir jelas di bibirnya.
Davian langsung jatuh berlutut di lantai di samping tempat tidur, tangannya masih menggenggam tangan Grey yang lemas. Ia menangis tersedu-sedu, bahunya naik turun menahan emosi yang meluap-luap. Rasa lega, rasa haru, rasa bangga, dan rasa syukur bercampur jadi satu. Sang Penguasa yang tak pernah meneteskan air mata meski dihadapkan pada bahaya maut sekalipun, kini menangis seperti anak kecil karena kebahagiaan terbesar dalam hidupnya baru saja terjadi.
Ia mengusap pipi Grey dengan jemarinya yang gemetar, mencium punggung tangan istrinya berkali-kali.
"Terima kasih… terima kasih banyak, Sayang… Kamu hebat sekali… kamu wanita paling hebat di dunia…" bisiknya di sela isak tangisnya. "Maafkan aku… maafkan aku kalau bikin kamu sakit begini… aku janji, aku akan bahagiakan kamu dan mereka bertiga seumur hidupku. Aku akan lindungi kalian dari segalanya. Tidak ada yang boleh menyakiti kalian sedikit pun… tidak ada."
Setelah ketiga bayi dibersihkan dan dibungkus kain lembut, mereka didekatkan ke sisi Grey satu per satu. Davian bangkit berdiri dengan kaki yang masih gemetar karena kelegaan luar biasa, lalu duduk di tepi kasur, membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya. Ia menatap tiga mungil makhluk itu dengan pandangan tak percaya.
Badan mereka kecil, merah-merah, tapi suara tangis mereka begitu lantang dan penuh semangat. Davian mengusap kepala bayi pertama dengan ujung jarinya yang bergetar pelan.
"Kalian bertiga… tahu nggak sih? Ibu kalian ini hebat sekali. Dia berjuang mati-matian buat kalian. Kalian lihat itu kan? Mukanya lelah, tangannya sakit karena kalian genggam sampai biru… itu semua demi kalian. Jadi kalian harus ingat ya… Ibu kalian itu ratu paling hebat. Kalau nanti besar, Ayah suruh kalian hormati dan sayangi Ibu kalian melebihi apapun. Kalau sampai ada yang nakal bikin Ibu menangis… siap-siap saja rasakan hukuman dari Ayah, paham? Ayah ini ditakuti banyak orang lho… tapi sama Ibu, Ayah tunduk banget. Kalian harus belajar sama Ayah," celoteh Davian kembali, suaranya kembali ceria meski hidungnya masih merah karena habis menangis.
Grey yang mulai sadar kembali dan tersenyum lemah mendengar itu, menyandarkan kepalanya lebih nyaman di dada suaminya. Ia menatap wajah Davian yang berantakan, baju kusut, mata bengkak karena menangis, tapi matanya bersinar bahagia melebihi apapun.
"Dasar… ayah yang heboh…" ucap Grey pelan sambil tertawa kecil. "Tadi saja hampir pingsan duluan karena panik, eh sekarang sudah mulai ngomong lagi sama anak-anak."
Davian tertawa renyah, lalu mencium kening Grey dengan penuh rasa hormat dan cinta yang mendalam. "Apa boleh buat? Siapa yang nggak heboh punya istri hebat sepertimu dan tiga anak ganteng-cantik seperti ini? Aku kan Davian Arganta
ta… kalau mau punya sesuatu, harus yang paling hebat, paling banyak, dan paling istimewa. Dan kamu… dan mereka… adalah milikku yang paling berharga, jauh lebih mahal dari seluruh kekuasaanku dan hartaku."
Di ruangan itu, di tengah sisa-sisa ketegangan dan kelelahan, ada kebahagiaan yang begitu lengkap. Sang Mafia, Penguasa Bayangan yang mengatur segalanya dari balik layar, kini tunduk sepenuhnya di bawah kekuasaan wanita yang baru saja melahirkan ketiga anaknya. Dan bagi Davian, momen itulah kemenangan terbesar dalam hidupnya—jauh lebih berarti daripada kemenangan bisnis atau kekuasaan apapun di dunia ini.
Bersambung...