"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reflek arman
Suasana dapur yang tadinya produktif seketika berubah menjadi tegang. Wisnu baru saja melangkah keluar menuju warung terdekat untuk memastikan cadangan gas, meninggalkan Kanaya yang sedang sibuk memotong sayuran dengan kecepatan yang cukup tinggi agar sarapan segera matang.
"Aww!"
Kanaya meringis tajam. Irisan pisau yang sedikit miring mengenai kulit jari manisnya, menciptakan luka sayatan yang cukup dalam hingga darah segar langsung merembes keluar dengan cepat.
Tanpa pikir panjang, seolah gerak refleks yang sudah tertanam di memori ototnya selama bertahun-tahun, Arman yang berada tepat di sebelah Kanaya langsung menyambar jemari tangan perempuan itu. Sebelum Kanaya sempat menarik diri, Arman sudah membawa jari manis yang terluka itu ke mulutnya, mengisap darah yang mengalir dengan lembut namun sigap, persis seperti yang sering ia lakukan saat Kanaya tidak sengaja terluka di masa lalu.
Kanaya terpaku. Matanya membulat, menatap Arman yang kini sedang menunduk, memusatkan seluruh perhatian pada jarinya dengan ekspresi yang sangat khawatir—bukan ekspresi penuh penyesalan, melainkan ekspresi protektif yang dulu selalu ia berikan.
Lisa, yang melihat kejadian itu dari depan kompor, langsung tersentak kaget. "Ya ampun, Nay! Kenapa bisa kena?" Lisa tidak membuang waktu, ia segera berlari terbirit-birit menuju kamar mereka untuk mengambil kotak P3K yang berisi tisu dan antiseptik.
Keheningan seketika menyelimuti dapur. Kanaya bisa merasakan napas hangat Arman di permukaan kulit jarinya. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti di dapur sederhana tengah sawah itu. Arman melepaskan isapannya perlahan, matanya menatap mata Kanaya dengan intensitas yang membuat pertahanan diri Kanaya nyaris runtuh.
"Hati-hati," bisik Arman serak. Suara itu begitu dekat, begitu nyata, dan begitu menyakitkan bagi Kanaya karena mengingatkannya pada betapa ia pernah sangat dicintai oleh laki-laki di hadapannya ini.
Kanaya segera menarik tangannya, meski jantungnya berdegup kencang karena guncangan emosi yang tak terduga. Ia memalingkan wajah, menahan gejolak di dadanya agar tidak tumpah di depan Lisa yang kini kembali berlari terengah-engah ke dapur dengan kapas, tisu, dan obat merah di tangannya.
"Sini, Nay, sini biar aku obatin," ucap Lisa panik sambil menarik pelan tangan Kanaya menuju kursi kayu terdekat.
Dengan telaten, Lisa mulai membersihkan sisa darah di sekitar luka menggunakan tisu, lalu meneteskan obat antiseptik di atas luka sayatan jari manis Kanaya. Cairan obat itu memberikan sensasi perih yang menyengat, membuat Kanaya sedikit meringis dan memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa perih fisik itu setidaknya membantu Kanaya mengalihkan perhatian dari rasa campur aduk di dadanya akibat tindakan refleks Arman barusan.
"Untung lukanya nggak terlalu dalam, tapi lumayan panjang nih. Makanya kalau motong sayur jangan melamun, Ibu Guru," omel Lisa pelan, mencoba mencairkan suasana tegang di dapur sembari menempelkan plester luka dengan rapi di jari manis Kanaya.
"Makasih ya, Lis. Maaf malah jadi ngerepotin," sahut Kanaya pelan, suaranya agak bergetar. Ia sengaja mengarahkan pandangannya penuh pada Lisa, sama sekali tidak berani menoleh ke arah Arman yang kini berdiri mematung beberapa langkah di belakang mereka.
Arman menatap tangannya yang tadi sempat menggenggam jemari Kanaya. Ada rasa bersalah yang semakin pekat mengalir di nadinya. Ia tahu tindakannya tadi mungkin lancang dan melewati batas, mengingat status mereka yang sudah bukan apa-apa lagi. Namun melihat Kanaya terluka membuat akal sehatnya lumpuh seketika; ia hanya ingin memastikan wanita itu baik-baik saja.
"Selesai! Nah, sekarang kamu duduk diam aja di sini, biar sisa sayurnya aku yang lanjutin potong," kata Lisa tegas setelah memastikan plester terpasang sempurna.
Tepat saat Lisa berdiri untuk kembali ke meja konter dapur, langkah kaki Wisnu terdengar dari arah teras luar, menandakan sang ketua kelompok telah kembali dengan membawa tabung gas cadangan.