NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUNANGAN PALSU - Chapter 29

...Happy Reading Guys!...

______

Arkan mematung di tempatnya, seperti seseorang yang baru saja dipaksa berdiri di tengah kenyataan yang tidak siap ia lihat.

Matanya tertuju pada Sophia.

Wanita itu berdiri tidak jauh dari Jack, dengan wajah yang masih sama seperti yang ia kenal, tetapi terasa ... berbeda. Ada sesuatu yang tidak lagi sama seperti ingatannya dulu. Seolah waktu yang ia abaikan diam-diam sudah menulis ulang jarak di antara mereka.

Pikirannya kembali ke malam ketika ia pergi.

Ketika ia memilih Sintia.

Ketika semua keputusan itu terasa benar pada saat itu, meski sekarang justru tampak seperti kesalahan yang terus membesar tanpa bisa ia hentikan.

Ia ingat janji itu.

Janji untuk kembali setelah memastikan kondisi Sintia.

Namun, kenyataannya, ia tidak pernah benar-benar kembali dengan cara yang seharusnya.

Sekarang, Sophia ada di sini.

Di rumah Damian.

Seolah mengatakan kalau ancaman yang ia berikan bukan sekadar omong kosong belaka. Arkan mengembuskan napas berat, ia mencoba meyakinkan diri sendiri. Kalau Sophia hanya marah. Ia tentu berharap wanita itu masih mau membuka pintu maafnya.

Sebelum Arkan sempat melangkah, seseorang bergerak dari belakang.

Damian.

Lelaki itu berjalan santai, tidak tergesa, lalu tanpa ragu merangkul pinggang Sophia. Arkan mengepalkan tangan mencoba mati-matian untuk menahan diri.

Damian menarik Sophia ke depan, membawanya berdiri tepat di hadapannya.

Di titik itu, sesuatu di dalam diri Arkan seperti menegang tanpa bisa ia jelaskan. Ia ingin menyeret manusia licik itu dari samping wanitanya.

Arkan mengulurkan tangan ke arah Sophia, seperti seseorang yang takut jika satu langkah salah akan menghancurkan semuanya.

"Sophia," suara itu keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan. "Akhirnya kau benar-benar bertunangan dengannya. Waktu itu ...."

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan napas yang sedikit tertahan.

"Sintia harus masuk rumah sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya."

Sophia tidak langsung menjawab.

Wanita itu justru menoleh sekilas ke arah Damian.

Hanya sesaat.

Namun, cukup untuk membuat sesuatu di dalam dada Arkan terasa jatuh tanpa suara. Bukan karena ia tidak mendengar jawaban. Tapi karena ia sadar, Sophia tidak lagi hanya mencari jawabannya padanya.

Arkan menahan napas.

Tangannya masih terulur.

Akhirnya Sophia menerima uluran itu.

Sentuhan mereka terjadi sebentar, lalu dilepaskan lagi seolah tidak ingin meninggalkan jejak.

"Kalau yang kau maksud karena tidak bisa hadir di pertunanganku, kau tidak perlu minta maaf," suara Sophia terdengar datar. "Aku sudah terbiasa tidak dianggap. Lagipula, walaupun kau tidak datang, masih banyak orang yang mewakilimu."

Kalimat itu terdengar tenang, tapi justru karena itu, Arkan merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia jangkau lagi di dalam diri Sophia.

"Apa kau berencana tinggal di sini?" tanya Arkan akhirnya, mencoba mencari kepastian yang tersisa.

Sophia menghela napas pelan.

"Aku hanya mengikuti perkataan Damian." Matanya sedikit bergeser. "Di luar masih banyak paparazi."

"Kau belum menikah."

"Rumahku luas, dia bisa memilih kamar yang dia inginkan. Aku hanya akan berkunjung saat makan. Apa ada masalah?"

Damian yang sejak tadi diam, akhirnya bergerak. Ia menarik tangan Sophia dengan lembut, tetapi cukup untuk menunjukkan batas yang tidak bisa dilewati.

"Arkan, aku tahu kau sudah bercerai dengan istrimu. Tapi kurasa Sophia sudah memahami sesuatu yang tidak kau pahami."

Tatapan Damian beralih pada Sophia sesaat.

"Air yang sudah mengalir ke hilir tidak akan kembali ke hulu. Bagaimana menurutmu, Sophia?"

Sophia terperangah, sedangkan Arkan terdiam.

Bukan karena tidak mengerti maksudnya.

Tapi karena ia sedang menahan sesuatu yang naik perlahan di dalam dirinya.

Matanya kemudian bergeser ke Sophia.

Wanita itu tetap diam.

Tidak membantah.

Tidak menjelaskan.

Seolah semua kata yang seharusnya menjadi miliknya, kini sudah dipinjam orang lain.

"Kalau bukan karena mereka berdua, aku tidak akan berpisah denganmu." Arkan melihat Sophia dengan kilatan marah di matanya. Ia melihat Damian, "Kau, aku lebih mengenal Sophia daripada dirimu. Aku harap suatu hari nanti obsesimu bisa menguburmu hidup-hidup."

Ruangan itu langsung terasa membeku.

Sophia tampak bingung, seperti baru menyadari bahwa dirinya sedang berada di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia pahami.

Damian justru tersenyum tipis.

Senyum yang tidak memberi ruang.

"Baiklah, kenapa tidak kau jelaskan semuanya padanya?"

Matanya bergerak ke arah Sophia.

"Apa dia sanggup menjalani hidup dengan beban yang kau sembunyikan darinya?"

Arkan terdiam.

Lama.

Lalu, tanpa kata lain ....

Ia berbalik.

Kemudian pergi.

Arkan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin jelas pula percakapan beberapa saat yang lalu kembali terngiang di kepalanya.

Seolah semuanya baru saja terjadi.

Seolah suara Sintia masih terdengar di telinganya.

Seolah ia masih berdiri di ruangan Damian, menyaksikan semua rahasia yang selama ini disembunyikan darinya terbongkar satu per satu.

Saat Damian mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada Julian, Arkan nyaris kehilangan kendali.

Selama ini, ia memang merasa ada sesuatu yang janggal. Terlalu banyak bagian yang tidak pernah bisa dijelaskan dengan masuk akal. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa orang yang terlibat langsung dalam kematian kakaknya adalah Sintia.

Wanita yang selama ini selalu berada di dekatnya.

Wanita yang selama ini ia percayai.

Wanita yang berkali-kali mengaku melakukan segalanya demi dirinya.

Rasa marah langsung memenuhi dadanya.

Bahkan, untuk sesaat ia ingin menyeret Sintia ke kantor polisi saat itu juga.

Namun, ketika wanita itu akhirnya menjelaskan alasannya, Arkan justru semakin tidak tahu harus melampiaskan kemarahannya kepada siapa.

Karena di balik semua kebohongan dan kekacauan itu, Sintia mengaku melakukan semuanya demi melindunginya.

Demi memastikan dirinya tidak ikut terseret saat semua dosa Julian terbongkar.

Demi memastikan perusahaan keluarga mereka tidak langsung hancur.

Alasan itu tidak membuat Arkan memaafkannya. Tetapi, cukup untuk membuat umpatan yang sudah berada di ujung lidahnya tertahan begitu saja.

Dengan tubuh gemetar, Sintia berlutut di hadapannya.

"Demi bayiku ..." Air matanya jatuh tanpa henti. "Demi perjuanganku mengembalikan nama baik perusahaan ...."

Ia menundukkan kepalanya semakin dalam.

"Tolong jangan jebloskan aku ke penjara."

Arkan menatapnya tanpa ekspresi.

Entah kenapa, dibanding kematian Julian, ada satu hal lain yang justru lebih mengganggu pikirannya saat itu. Sesuatu yang selama ini terus mengganjal, sesuatu yang membuat semua keputusan yang ia ambil terasa seperti lelucon.

"Anak siapa yang ada di kandunganmu?"

Pertanyaan itu langsung membuat tubuh Sintia membeku.

Arkan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.

"Kenapa kau mengaku hamil anak Julian?"

Tangisan Sintia semakin keras. Wanita itu buru-buru menggeleng.

"Aku hanya..."

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Aku hanya takut."

Arkan tetap diam.

Sedangkan Sintia terus menangis.

"Aku takut kau akan meninggalkanku."

"Aku takut kau tidak akan peduli lagi padaku."

Napasnya tersengal.

"Aku sudah membunuh seseorang demi menolongmu."

"Aku hanya takut kau tidak akan menerimaku."

"Aku takut kau marah kalau mengetahui semuanya."

Tangannya semakin gemetar.

"Aku sungguh tidak berniat membunuh Julian." Suara Sintia semakin kecil. "Julian ingin membunuhku, aku hanya membela diri."

Arkan memejamkan mata sesaat. Namun, bukannya mereda, emosinya justru semakin kacau. Karena apa pun alasannya, semua kebohongan itu tetap telah mengubah hidupnya.

"Kenapa kau tidak menjelaskan?" Suara Arkan akhirnya meninggi. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, kemarahannya benar-benar terlihat. "Aku tak perlu melakukan pernikahan konyol ini!"

Tangannya terangkat menunjuk Sintia.

Tatapannya dipenuhi kekecewaan.

"Kalau bukan karena kau..."

Kalimat itu terputus. Namun, keduanya tahu apa maksudnya. Kalau bukan karena Sintia ...

Ia sudah menikah dengan Sophia.

Tanpa perlu terlibat dengan Damian.

Tanpa perlu terjebak dalam pertunangan palsu.

Tanpa perlu kehilangan wanita yang sebenarnya ingin ia pilih sejak awal.

Mendengar itu, tangisan Sintia semakin keras.

"Jadi anak siapa dalam kandunganmu?"

Pertanyaan itu kembali keluar.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

Jauh lebih menekan.

Sintia langsung menundukkan kepala.

"Karena tahu aku tidak hamil... jadi..."

Kalimatnya menggantung. Seolah ia sendiri malu mengatakannya. Namun, Arkan tidak berniat membantunya.

Ia menunggu.

"Itu karena aku mabuk di klub malam." Suara Sintia hampir tidak terdengar. "Aku frustasi. Aku frustasi karena melihatmu hanya memedulikan Sophia, selama empat tahun kau hanya memedulikannya! Aku hanya bisa pura-pura tidak tahu. Aku hanya bisa jadi orang bodoh."

Ia mengangkat wajahnya.

Wajah yang sudah dipenuhi air mata.

"Padahal aku yang berkorban."

"Aku yang selalu ada."

"Aku yang melakukan semuanya." Tangannya mengepal erat. "Sedangkan dia tidak melakukan apa pun. Arkan, apa kau tidak pernah memikirkan itu?"

Ruangan mendadak sunyi, lalu Arkan tertawa. Tawa yang terdengar begitu hambar. Begitu lelah. Seolah seluruh energinya habis hanya untuk mendengar semua pengakuan itu.

"Anak sembarang orang?"

Ia menggeleng pelan.

Tatapannya kini benar-benar dingin.

Tidak ada lagi rasa iba.

Tidak ada lagi keinginan untuk memahami.

"Sintia." Suara Arkan terdengar datar. "Aku akan melupakan soal Julian."

Kalimat itu membuat Sintia langsung mengangkat kepala. Namun, harapan yang muncul di matanya hanya bertahan sesaat.

Arkan melanjutkan, "Soal anak ini aku tak bisa bertoleransi." Tatapannya tidak berubah. "Aku menceraikanmu sekarang."

Tubuh Sintia langsung kehilangan tenaga, wanita itu terduduk lemas di lantai. Namun, Arkan sudah tidak lagi memedulikannya.

Ia memejamkan mata.

Mencoba meredakan kepalanya yang terasa berdenyut, dan saat membuka mata kembali, pandangannya jatuh pada Damian. Lelaki itu duduk dengan santai di kursinya.

Kaki tersilang.

Secangkir kopi berada di tangannya.

Seolah semua yang baru saja terjadi hanyalah tontonan biasa.

Tidak ada keterkejutan.

Tidak ada simpati.

Tidak ada komentar.

Hanya ketenangan yang membuat Arkan semakin kesal.

Merasa diperhatikan, Damian mengangkat alis.

"Kenapa menatapku?"

Arkan menatapnya beberapa saat.

Kemudian menjawab, "Karena kau tahu aku mencintai Sophia."

Untuk pertama kalinya, ia mengatakannya secara langsung. Tanpa berusaha menyembunyikan apa pun lagi.

"Aku berhenti menjadi asistenmu." Tatapannya lurus ke arah Damian. "Masalah perusahaan akan aku urus sendiri, kalian berdua tidak perlu ikut campur."

Damian hanya mengangguk pelan, tidak terlihat terkejut sedikit pun. Seolah ia sudah menduga keputusan itu sejak awal.

"Senang bekerja sama denganmu." Suaranya tetap tenang seperti biasa. "Lain kali kita akan bertemu sebagai rekan bisnis."

Senyuman tipis muncul di wajahnya.

"Atau mungkin sebagai pesaing."

Namun, Arkan sama sekali tidak menanggapinya. Ia sudah terlalu lelah untuk memperpanjang percakapan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik.

Lalu berjalan keluar dari ruangan lebih dulu.

Meninggalkan Sintia yang masih menangis di lantai.

B e r s a m b u n g .....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤

1
falea sezi
anak siapa yg dikandungnya sintia
falea sezi
🤣🤣🤣kapok ketipu jalang makan itu rasa. kasian😒
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!