Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Riuh rendah suara tepuk tangan di ruang rapat pleno perlahan menyusut seiring dengan keluarnya para anggota dewan komisaris. Pak Baskoro dan Pak Tirto sempat menepuk bahu Arkan dengan bangga sebelum melangkah keluar, meninggalkan ruangan besar itu yang kini hanya menyisakan aku, Arkan, Hadi, dan tentu saja... si sepupu pembawa masalah, Dimas.
Dimas menggebrak meja kayu jati di depannya dengan sangat keras. Napasnya memburu, matanya menatap nyalang ke arah Arkan yang sedang merapikan lengan jasnya dengan gerakan luar biasa tenang.
"Ini belum berakhir, Arkan! Kamu mungkin menang hari ini dengan membawa wanita kampung ini sebagai tamengmu. Tapi ingat, posisi CEO itu panas! Sekali kamu membuat kesalahan kecil, aku sendiri yang akan memastikan kamu jatuh terguling dari lantai lima puluh ini!" ancam Dimas, suaranya bergetar karena menahan amarah yang sudah meledak-ledak.
Arkan menghentikan gerakannya. Dia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah sepupunya itu dengan sorot mata elang yang dingin, sedingin es di kutub utara. Tidak ada senyum miring, tidak ada nada mengejek. Hanya ada wibawa absolut seorang penguasa sejati.
"Silakan dicoba, Dimas. Pintunya selalu terbuka lebar untukmu," balas Arkan dengan suara bariton yang teramat sangat pelan, namun efek dominasinya membuat bulu kudukku meremang. "Tapi ingat satu hal. Mulai detik ini, saya adalah CEO Mahardika Group. Kalau kamu berani mengganggu calon istri saya lagi, baik itu lewat mulut kotormu atau lewat detektif bayaranmu yang amatiran itu, saya tidak akan segan-segan membekukan seluruh aset sahammu dan mendepakmu ke anak perusahaan kita di pedalaman tambang. Paham?"
Dimas menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya pucat pasi menyadari bahwa Arkan tidak sedang menggertak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, sepupu licik itu langsung membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah kaki yang diseret, mirip seperti tokoh antagonis yang baru saja kalah telak di episode terakhir sinetron.
Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat, sisa-sisa ketegangan di udara langsung menguap. Dan di saat yang bersamaan, seluruh kekuatan di kedua kakiku ikut menguap tanpa sisa.
"Aduh, Ya Tuhan..." keluhku pasrah, langsung menjatuhkan tubuhku kembali ke atas kursi rapat yang empuk.
Arkan yang tadinya sedang memancarkan aura dewa kematian, seketika menoleh dengan panik. Aura dinginnya lenyap tak berbekas, berganti dengan raut wajah khawatir yang sangat kentara. Dia buru-buru berjongkok di sebelah kursiku.
"Naura? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali. Ada yang sakit? Maag kamu kambuh karena sarapan buburnya kurang banyak?" tanya Arkan beruntun, kedua tangannya langsung memegang bahuku dengan protektif.
Aku menggeleng lemah sambil meringis menahan sakit. "Bukan maag, Arkan. Kakiku! Kakiku rasanya mau patah! Berdiri selama tiga puluh menit memakai sepatu hak sembilan sentimeter ditambah rok songket yang sempitnya melebihi lilitan ular sanca ini beneran menyiksa tulang keringku!"
Mendengar jawabanku, wajah panik Arkan langsung berubah menjadi datar kembali. Dia mengembuskan napas panjang, lalu menyentil keningku pelan.
"Saya kira kamu terkena serangan jantung gara-gara bentakan Dimas. Ternyata cuma masalah sepatu," omel Arkan, berusaha mengembalikan gengsinya yang sempat rontok karena kepergok terlalu khawatir.
Namun, bukannya berdiri dan menyuruhku berjalan sendiri, pria dengan setelan jas seharga puluhan juta rupiah itu malah tetap berjongkok di atas karpet ruang rapat. Tanpa aba-aba, tangan besarnya langsung meraih pergelangan kaki kananku, mengangkatnya sedikit, lalu melepaskan sepatu hak tinggi itu dari kakiku dengan gerakan yang sangat hati-hati.
"Eh? Arkan! Kamu ngapain?!" pekikku kaget, refleks ingin menarik kakiku mundur, tapi genggaman tangannya terlalu kokoh.
"Diam, Naura. Jangan banyak bergerak atau tulang pergelangan kakimu bisa bergeser," perintah Arkan dengan nada ketus, tapi sentuhan jari-jarinya saat memijat pelan telapak kakiku yang pegal beneran terasa sangat lembut dan nyaman. Dia melakukan hal yang sama pada kaki kiriku, lalu menaruh sepasang sepatu hak tinggi penyiksa itu di lantai.
Hadi yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan sambil memeluk dokumen pengesahan, tiba-tiba memutar tubuhnya menghadap tembok. Asisten pribadi itu pura-pura sibuk menghitung jumlah motif garis pada *wallpaper* ruangan, menolak menjadi penonton dari adegan romantis luar biasa antara bos besar dan calon istrinya.
"Nah, sekarang kamu tidak perlu tersiksa lagi. Ayo bangun," kata Arkan setelah berdiri tegap.
"Terus aku jalan ke ruangan barumu pakai apa? Nyeker begini? Arkan, ini kantor pusat! Masak istri CEO barunya jalan tanpa sepatu, nanti dikira gembel yang nyasar ke lantai atas," keluhku sambil menatap telapak kakiku yang hanya dibalut *stocking* tipis.
Arkan memutar bola matanya malas. Dia melangkah maju, membelakangiku, lalu merendahkan sedikit bahu lebarnya.
"Naik ke punggung saya. Saya gendong kamu sampai ke ruang kerja CEO di sayap kanan. Koridor lantai ini sudah dikosongkan oleh Hadi, tidak akan ada karyawan yang melihat kita," tawar Arkan dengan wajah lempeng, padahal ujung telinganya sudah memerah samar karena gengsi.
Aku melongo menatap punggung tegapnya. Bos dingin, arogan, super perfeksionis ini menawarkan punggungnya untuk menggendongku? Di hari pertama dia resmi menjadi pemimpin tertinggi perusahaan?!
"A-aku beneran boleh naik nih? Jas kamu mahal lho, nanti kusut," ujarku ragu-ragu.
"Naura Mahardika, naik sekarang atau saya benar-benar akan membungkusmu pakai karpet ruangan ini lalu menyeretmu seperti paket ekspedisi," ancamnya tidak sabar.
Mendengar ancaman konyol itu, aku tidak membuang waktu lagi. Dengan senyum lebar yang tak bisa kutahan, aku langsung melingkarkan kedua lenganku di lehernya, sementara Arkan menahan paha belakangku dan mengangkat tubuhku dengan sangat mudah seolah berat badanku seringan kapas.
"Hadi, bawakan sepatu istri saya. Kita pindah ke ruangan saya sekarang," titah Arkan sebelum melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah tegap, menggendongku di punggungnya.
Hadi hanya bisa menelan ludah, memungut sepatu hak tinggiku dengan ekspresi pasrah seorang bawahan yang sudah terlalu lelah melihat kelakuan bosnya yang menolak sadar.
Sepanjang lorong menuju ruang kerja CEO, aku menyandarkan daguku di bahu Arkan. Aroma kayu cendana bercampur *mint* dari tubuhnya menguar lembut, menenangkan sisa-sisa ketegangan di kepalaku.
"Arkan... soal cium kening di depan para komisaris tadi pagi..." gumamku pelan, memecah keheningan. "Itu kan tidak ada di dalam kesepakatan tertulis kita. Kamu sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan ya?"
Langkah Arkan tidak melambat sedikit pun, tapi aku bisa merasakan otot di bahunya sedikit menegang.
"Itu namanya totalitas profesionalisme, Naura," jawab Arkan dengan nada super gengsi andalannya. "Kita sedang diawasi. Kalau saya hanya menjabat tanganmu setelah pelantikan, mereka pasti akan kembali curiga. Kamu seharusnya berterima kasih karena saya masih menahan diri untuk tidak mencium bibirmu di depan umum demi menjaga kewarasan jantungmu."
"Dih! Percaya diri sekali! Memangnya kamu berani?" tantangku dengan suara pelan, sengaja mengejeknya.
Arkan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ganda ruang kerjanya. Dia menolehkan kepalanya sedikit ke samping, membuat wajah kami kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Mata elangnya menatap mataku dengan intensitas yang seketika membuat nafasku tercekat.
"Jangan pernah menantang kendali diri seorang pria, Naura. Terutama pria yang kebetulan akan terikat status hukum bersamamu," bisiknya dengan suara serak yang mematikan, diakhiri dengan sebuah senyum miring yang sukses membuat jantungku berdisko tanpa ampun.
Skakmat. Manajer iklan cerewet ini akhirnya kicep seketika!
Pukul delapan malam, di apartemen mewah Arkan.
Setelah hari yang panjang dan penuh drama korporat, aku akhirnya bisa bernapas lega. Aku sudah membersihkan sisa riasan, mandi air hangat, dan kembali mengenakan piyama andalanku. Sekarang, misiku hanya satu: mengemasi barang-barangku dari kamar utama Arkan untuk dipindahkan kembali ke kamar tamu.
Sesuai kesepakatan kami, aku hanya menumpang tidur di kamarnya selama masa inspeksi dewan komisaris berlangsung. Dan karena inspeksi itu sudah berakhir dengan kemenangan telak, aku berhak kembali ke wilayah teritorialku sendiri.
Aku sedang sibuk memeluk setumpuk baju dan guling stroberiku saat pintu kamar utama terbuka. Arkan melangkah masuk, masih mengenakan celana bahan hitam dan kemeja putih yang dua kancing teratasnya sudah dilepas, memancarkan pesona pria santai yang memabukkan.
Langkahnya seketika terhenti begitu melihatku sedang berdiri bersiap untuk keluar kamar. Alis tebalnya berkerut dalam.
"Kamu mau ke mana dengan tumpukan kain rombeng itu?" tanya Arkan dengan nada tidak suka, matanya menatap tajam ke arah daster batikku.
"Pindah ke kamar tamu lah! Inspeksinya kan sudah selesai, Mas CEO. Berkat akting kelas Oscar kita berdua, posisimu sekarang sudah aman. Jadi, saatnya kita kembali ke pengaturan awal," jawabku ceria sambil melangkah maju melewatinya.
Namun, sebelum aku bisa menyentuh gagang pintu, lengan kokoh Arkan langsung terentang, memblokir jalan keluarku. Pria itu menyandarkan tubuh tingginya di ambang pintu, menatapku dengan wajah serius yang terlihat seperti sedang mencari alasan logis dari sebuah rumus matematika rumit.
Gengsi tingkat dewa Arkan Mahendra mulai bekerja kembali. Dia jelas tidak mau aku pindah dari kamarnya, tapi mulutnya terlalu angkuh untuk memintaku tinggal dengan kalimat romantis.
"Kamu tidak bisa pindah ke kamar tamu malam ini, Naura," kata Arkan dengan suara berat.
Aku mengernyit heran. "Kenapa tidak bisa? Kasurnya hilang dicuri maling?"
"Bukan." Arkan merogoh ponsel dari saku celananya, lalu tanpa ragu menelepon seseorang. Ponsel itu di- *loudspeaker* agar aku bisa mendengar.
"Halo, Pak Arkan? Ada yang bisa saya bantu malam-malam begini?" Suara Hadi yang terdengar kelelahan menyapa dari seberang sambungan.
"Hadi, saya hanya mau memastikan laporanku tadi sore soal kondisi apartemen. Kamar tamu saya saat ini sedang tidak bisa dipakai karena ada serangan koloni rayap ganas di bagian lantai kayunya, kan? Dan kamu baru akan memanggil petugas pembasmi hama besok pagi, benar?"
Arkan mengucapkan kebohongan luar biasa konyol itu dengan wajah paling datar sedunia, sama sekali tidak berkedip menatapku.
Di seberang sana, terdengar suara Hadi tersedak minumannya sendiri. "Uhuk! R-rayap? Di lantai empat puluh lima, Pak? Apartemen Bapak kan lantainya pakai marmer import semua... uhuk! Maksud saya, ah, b-benar, Pak Arkan! Betul sekali! Koloni rayapnya sangat ganas, sepertinya rayap mutan dari Eropa. Sangat berbahaya kalau Ibu Naura tidur di sana malam ini! Harus dihindari, Pak!"
Hadi, sang asisten pribadi terbaik abad ini, beneran pantas mendapatkan kenaikan gaji tiga ratus persen atas kemampuannya berimprovisasi menutupi akal bulus bosnya!
Arkan mematikan sambungan telepon dengan puas. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu menatapku dengan tatapan seolah-olah dia baru saja menyelamatkan nyawaku dari ancaman monster.
"Kamu dengar sendiri, kan? Kamar tamunya sedang dilanda krisis hama," ujar Arkan tenang. "Sebagai suami yang bertanggung jawab atas keselamatanmu, saya tidak bisa membiarkanmu tidur bersama rayap Eropa. Jadi, demi keamanan logistik, kamu terpaksa harus terus tidur di kamar utama ini bersama saya sampai waktu yang belum ditentukan."
Aku hanya bisa menatapnya dengan raut wajah tak percaya. Alasan macam apa itu?! Rayap Eropa di lantai empat puluh lima apartemen berlantai marmer?! Ini beneran kebohongan paling tidak masuk akal yang pernah diciptakan oleh seorang manusia ber-IQ tinggi!
Namun, melihat raut wajah Arkan yang berusaha keras menutupi rasa cemasnya kalau aku benar-benar pergi dari kamar ini, hatiku mendadak meleleh. Gengsi suamiku ini memang besarnya menyamai gedung pencakar langit, tapi di balik itu semua, tindakannya berteriak keras bahwa dia sudah sangat nyaman dan tidak ingin jauh-jauh dariku.
Aku menghela napas panjang, menahan senyum geli yang hampir merekah di bibirku. Aku menurunkan kembali tumpukan bajuku ke atas kasur hitamnya, lalu menepuk-nepuk Si Pipi kesayanganku.
"Baiklah kalau begitu, Mas CEO," jawabku sambil melompat naik ke atas kasur sutranya yang super empuk. "Karena aku tidak mau digigit rayap mutan Eropa, aku akan mengalah dan menumpang di kasurmu yang luar biasa besar ini. Tapi ingat aturan mainnya! Batas guling stroberi ini tidak boleh dilewati, atau aku akan melaporkanmu ke serikat pekerja atas tuduhan pelecehan di luar jam kantor!"
Arkan tersenyum lega, sebuah senyum simpul yang sangat tampan dan begitu menawan. "Kesepakatan diterima, Manajer Naura. Selama kamu berada dalam jarak pandang saya, saya pastikan tidak akan ada satu rayap pun yang berani menyentuhmu malam ini."
Malam itu, di tengah heningnya lampu apartemen yang mulai diredupkan, kami berbaring di atas satu ranjang yang sama. Masih terpisah oleh benteng guling stroberi, dan masih terhalang oleh tebalnya dinding gengsi masing-masing. Tapi saat aku setengah terlelap ke alam mimpi, aku bisa merasakan sebuah tangan besar yang hangat diam-diam menyusup dari bawah guling, menggenggam lembut ujung kain piyama anak ayamku, seolah ingin memastikan bahwa aku benar-benar ada di sana dan tidak akan pergi ke mana-mana.