[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Eksklusi
Jalan setapak menuju tempat parkir motornya melewati deretan ruko kosong yang sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni.
Suasana di sana benar-benar mati.
Tidak ada suara jangkrik, tidak ada suara kendaraan dari jalan raya. Hanya ada suara langkah sepatu boots Bima yang beradu dengan semen.
Krak.
Bima berhenti. Ia mendengar suara kayu yang patah di belakangnya.
Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya ada bayangan tiang listrik yang meliuk-liuk tertiup angin.
"Siapa di sana?!" teriak Bima. Suaranya bergema di antara dinding ruko, terdengar lebih kecil dari yang ia harapkan.
Ia melanjutkan langkahnya, tapi kali ini lebih cepat. Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.
Sebagai seorang pembully, ia terbiasa memberikan rasa takut, bukan menerimanya.
Namun malam ini, ia merasa seperti ada
sesuatu yang sedang memburunya dari balik kegelapan.
Tiba-tiba, dari kegelapan di celah antara dua ruko, sebuah sosok melesat keluar.
SYUT!
Bima secara refleks menghindar ke samping. Sebuah benda tumpul menghantam bahunya, tidak telak, tapi cukup membuat tubuhnya oleng.
"Anjing! Siapa kau?!" Bima berteriak sambil memasang posisi kuda-kuda. Ia adalah atlet karate sekolah, kemampuannya bertarung jauh di atas Kenzo.
Sosok itu muncul dari kegelapan. Seorang pria dengan hoodie hitam dan masker yang menutupi wajahnya. Di tangannya, ia memegang sebatang besi yang tampak dingin dan mematikan.
"Kau pelakunya, ya? Yang menghancurkan Kenzo?" Bima menyeringai meski matanya menyiratkan kewaspadaan. "Kau salah memilih lawan, Brengsek!"
Bima menerjang maju. Ia melayangkan tendangan putar yang sangat cepat ke arah kepala sosok itu. Namun, sosok itu merunduk dengan gerakan yang sangat efisien, seolah sudah memprediksi serangan tersebut.
Bima tidak berhenti. Ia melepaskan rentetan pukulan kombinasi. Salah satu tinjunya berhasil mengenai rahang sosok itu.
BUGH!
Sosok bertudung itu terhuyung mundur, namun ia tidak jatuh. Ia justru kembali berdiri tegak dengan sangat tenang.
Ketenangan itu justru membuat Bima merinding. Tidak ada erangan kesakitan, tidak ada umpatan. Hanya keheningan yang horor.
"Mati kau!" Bima menarik pisau lipat dari saku belakangnya. Ia sudah gelap mata.
Ia menusukkan pisaunya ke arah perut sosok itu, tapi sosok tersebut menangkap pergelangan tangan Bima dengan cengkeraman sekuat catut besi.
"A-apa?!" Bima terkejut. Kekuatan pria ini tidak masuk akal.
PRAKKK!
Tanpa aba-aba, sosok itu menghantamkan lututnya ke arah lengan Bima yang memegang pisau. Suara tulang lengan yang patah terdengar sangat renyah di tengah malam yang sepi.
"ARRRRGGGHHHH!" Bima menjerit kesakitan. Pisau lipatnya terjatuh ke aspal.
Belum sempat Bima memulihkan diri, tongkat besi di tangan sosok itu berayun dengan kecepatan tinggi.
BUM!
Hantaman itu mengenai tempurung lutut kanan Bima. Bima jatuh berlutut, wajahnya memucat, keringat dingin membanjiri tubuhnya.
Ia mencoba merangkak mundur, namun sosok itu menginjak punggungnya dengan kasar, menekannya ke aspal, persis seperti yang sering Bima lakukan kepala korbannya.
"T-tolong... ampuni aku..." rintih Bima. Keberaniannya menguap habis. "Aku punya uang... ambil semua!"
Sosok itu membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Bima dengan suara yang datar dan dingin. "Uang tidak bisa menyambung tulang yang sudah hancur, Bima."
DUNG! DUNG! DUNG!
Hantaman bertubi-tubi mendarat di kaki dan tangan Bima. Sosok itu bekerja dengan sangat presisi, seolah sedang melakukan operasi pembedahan menggunakan besi.
Ia menghancurkan setiap sendi utama di tubuh Bima, memastikan bahwa pemuda itu tidak akan pernah bisa menendang atau memukul orang lain lagi seumur hidupnya.
Setelah memastikan Bima pingsan karena syok dan rasa sakit yang luar biasa, sosok itu berdiri tegak. Ia membersihkan sedikit debu di jaketnya.
DING!
[Eksekusi Berhasil!]
[Target: Bima level 1(Tangan Kanan Penjahat)]
[Hadiah: Rp 50.000.000]
[Total Saldo Saat Ini: Rp 100.000.000 (Setelah pengeluaran sebelumnya)]
Luis, sosok di balik masker itu menatap layar sistemnya sejenak. "Dua down. Sisa tiga lagi."
Selama satu pekan berikutnya, sekolah berubah menjadi tempat yang penuh teror. Satu per satu, anggota geng Kenzo ditemukan dalam kondisi yang mengerikan.
Agus, sang pengintai geng, ditemukan di tempat parkir bawah tanah dengan kedua tangan hancur.
Dika, yang sering membantu menyebarkan fitnah, ditemukan di gang belakang rumahnya dengan rahang yang patah permanen.
Reno, yang paling brutal setelah Bima, ditemukan di toilet sekolah yang sepi dengan kondisi kedua kakinya lumpuh total.
Polisi dibuat bingung. Tidak ada jejak sidik jari, tidak ada rekaman CCTV yang tersisa, semuanya telah dihapus oleh sistem Luis. Para siswa mulai berbisik-bisik tentang "Hantu Keadilan" yang sedang membersihkan sekolah.
Setiap kali eksekusi berhasil, saldo di sistem Luis terus bertambah. 50 juta, 50 juta, dan 50 juta lagi.
Luis tetap menjalankan perannya sebagai siswa pendiam. Ia sering terlihat duduk di perpustakaan, membaca buku hukum dengan tenang, sementara di luar sana, sisa-sisa anggota geng Kenzo hidup dalam ketakutan yang luar biasa.
Mereka tidak berani keluar rumah, bahkan tidak berani bicara pada siapa pun.
Kini, semua anggota geng sudah mendapatkan hukuman mereka. Saldo Luis kini menumpuk hingga ratusan juta rupiah.
"Sekarang tinggal satu yang tersisa," gumam Luis saat ia berjalan pulang sekolah, menatap sebuah rumah mewah berpagar emas di kejauhan. "Keluarga Kenzo. Orang-orang yang merasa uang mereka bisa menutupi semua dosa anak mereka."
Luis meraba saku celananya, merasakan layar sistem yang bergetar seolah ikut haus akan eksekusi berikutnya. Permainan kecil di sekolah sudah selesai. Sekarang, saatnya masuk ke dunia orang dewasa yang sesungguhnya.