NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Satu Meja dengan Sang Ketos

Kantin siang itu sangat riuh, tetapi meja di tengah tetap terasa memiliki garis pembatas tak kasat mata. Vyan dan Agil sedang terlibat diskusi serius mengenai evaluasi kegiatan Kartini dan persiapan ujian mendatang. Yasmin, yang duduk di samping Vyan, hanya bisa terdiam sambil menyuap makanannya perlahan. Ia merasa asing; istilah-istilah akademik dan organisasi yang keluar dari mulut dua senior berprestasi itu sama sekali tidak bisa ia pahami secara utuh.

​Di tengah kebosanannya, mata Yasmin tiba-tiba menangkap sosok yang sangat ia kenali di sudut kantin. Dean dan Reka baru saja membawa nampan makanan mereka, tampak celingukan mencari tempat duduk sambil berusaha melipir menjauh dari keramaian—terutama menjauh dari meja Vyan.

​"Dean! Reka! Sini!" teriak Yasmin sambil melambaikan tangan penuh semangat.

​Dean membeku. Reka pun tampak ragu, wajahnya seketika pucat teringat peringatan Dhini dan Tegar tentang betapa "berbahayanya" sosok Vyan jika sedang tidak ingin diganggu. Mereka melihat sekeliling, berharap ada meja kosong lain. Namun, kantin sedang penuh sesak. Hanya ada beberapa kursi kosong di area luar yang terpapar panas matahari.

​"Duduk di sini saja. Masih luas," sahut Vyan. Suaranya tidak keras, namun nada perintahnya membuat langkah Dean dan Reka otomatis mendekat.

​Agil yang sangat peka segera berdiri dan pindah posisi ke samping Vyan. "Sini, biar kalian bisa berhadapan," ucap Agil sambil menepuk kursi kosong di depan Vyan dan Yasmin dengan senyum penuh arti.

​Dengan terpaksa, Dean dan Reka duduk. Suasana seketika menjadi kaku. Hanya Yasmin yang tampak antusias.

​"Kok kalian bisa istirahat bareng, kan nggak sekelas?" tanya Yasmin, matanya bergantian menatap Dean dan Reka.

​Dean nyaris tersedak air minumnya. Sebelum ia sempat mengelak, Vyan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai, matanya menatap tajam ke arah Dean.

​"Kita juga nggak sekelas, Yas, tapi kita makan bareng. Itu artinya mereka pacaran." Vyan menjawab pertanyaan Yasmin dengan tenang.

​Yasmin membeliak, menatap Reka dan Dean dengan mulut terbuka. "Hah? Pacaran? Benarkah?"

​"Iya, sama seperti kita," tambah Vyan. Dengan gerakan yang sangat sengaja, ia meraih tangan Yasmin di atas meja dan menggenggamnya erat. Matanya tidak lepas dari Dean, seolah sedang memamerkan medali kemenangan. "Benar kan, Dean? Reka?"

​Reka tertunduk, wajahnya bersemu merah antara malu dan takut pada aura Vyan. "I-iya, Yas," jawab Reka lirih, mengakui status mereka yang selama ini ingin Dean sembunyikan.

​Agil hanya asyik mengunyah, sesekali melirik Dean yang tampak seperti gunung berapi yang siap meledak namun tertahan oleh dinding es bernama Vyan.

Hanya Yasmin yang tampak sangat antusias. "Wah, aku senang sekali! Teman baikku ternyata jadian sama Dean," ucap Yasmin dengan mata berbinar tulus.

Ucapan lugas itu jelas menusuk hati Dean. Yasmin sesenang itu waktu tahu dirinya punya kekasih. Sedangkan Vyan memperhatikan mereka, lalu berkata, "Baguslah. Jadi, Reka teman baikmu. Apa dia memperlakukanmu dengan baik selama ini, Cantik?" tanya Vyan dengan nada serak yang terdengar kasual.

​"Tentu saja! Reka baik banget sekarang," sahut Yasmin cepat tanpa berpikir panjang.

​Suasana meja itu mendadak drop. Detik itu juga, insting tajam Vyan langsung menangkap satu kata yang janggal. Genggaman tangannya pada Yasmin sedikit mengetat.

​"Sekarang?" Vyan menaikkan sebelah alisnya, mengulang kata itu dengan nada menyelidik. "Kalau dulu... gimana?"

​Yasmin seketika tersentak. Ia membekap mulutnya sendiri, menyadari bahwa ia baru saja keceplosan. Di depannya, wajah Reka mendadak pucat pasi. Tubuh gadis itu mulai gemetar hebat karena ketakutan setengah mati; ia tahu betul jika Vyan sampai membongkar masa lalunya yang pernah ikut merundung Yasmin, habislah reputasinya di sekolah ini. Dean pun terkejut, matanya melebar menatap Yasmin dengan cemas.

​"Du-dulu... Reka... Reka... ba-baik juga kok, Kak!" jawab Yasmin gelagapan. Suaranya terbata-bata, mencoba menyelamatkan situasi.

​Vyan tidak melepaskan pandangannya. Perlahan, ia melepaskan pautan jemari mereka, lalu memajukan tubuhnya. Tangan Vyan bergerak naik, dengan lembut namun tegas menarik dagu Yasmin, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam sepasang matanya. Tatapan Vyan tetap hangat. Dia tidak pernah dia memperlihatkan tatapan predatornya pada Yasmin.

​Adegan intim yang mendominasi itu terjadi tepat di depan mata Dean. Dada Dean bergemuruh hebat; ada rasa cemburu yang membakar, sekaligus rasa khawatir yang memuncak jika kejahatan Reka di masa lalu terbongkar dan menyeret hubungan mereka.

​"Coba jawab lagi, Cantik. Sejak kapan Reka jadi teman baikmu?" bisik Vyan. Suaranya lembut, penuh perhatian tapi terlalu telak.

​Yasmin semakin gelagapan. Matanya bergerak resah. Ia tidak bisa berbohong di depan Vyan, tapi sifat tulusnya membuat ia tidak tega menjelek-jelekkan Reka yang sekarang sudah berubah menjadi temannya.

​Melihat Yasmin yang mati kutu, Vyan hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sangat tenang. Ia melepaskan dagu Yasmin, lalu menyandarkan tubuhnya kembali.

​"Oh, aku nggak harus tanya kamu," ucap Vyan santai.

​Detik berikutnya, pandangan mata Vyan yang setajam elang langsung beralih dan mengunci Reka. Tatapan itu begitu mengintimidasi, seolah-olah Vyan bisa melihat semua dosa yang pernah Reka lakukan.

​Prang!

​Reka yang sudah gemetar tidak mampu lagi menahan beban mentalnya. Sendok di tangannya terjatuh, membentur mangkuk dan meja dengan nyaring. Dengan wajah yang sudah pias seperti mayat, Reka langsung berdiri tersentak.

​"A-aku... aku mau ke toilet sebentar!" pamit Reka dengan suara mencicit. Tanpa menunggu respons siapa pun, ia berbalik dan berlari cepat meninggalkan kantin, melarikan diri dari tatapan Vyan yang mencekik.

​Kini, tinggalah Dean yang duduk terpaku dengan kikuk di mejanya. Agil yang sejak tadi menonton sambil menikmati makanannya hanya tersenyum miring, tahu betul bahwa setelah kelincinya kabur, sang predator kini telah menemukan sasaran baru.

​Vyan mengalihkan pandangannya dari koridor, lalu menatap Dean yang kini duduk sendirian di seberangnya. Senyum miring kembali terukir di bibir Ketua OSIS itu.

​"Kalau dia bisa jadi pacar wakil ketua OSIS kita, pasti dia orang baik. Iya kan, Dean?" tanya Vyan retoris, menjatuhkan kalimat telak yang mengunci Dean dalam posisi paling tersudut.

Dean menelan ludah, berusaha mati-matian menjaga agar ekspresi wajahnya tidak membongkar ketakutan yang menjalar di dalam dirinya. Di bawah tatapan mengintimidasi dari Vyan, Dean memaksa suaranya terdengar se-normal mungkin saat menjawab.

​"Waktu SMP kami pernah sekelas, Kak," ucap Dean, mencoba membangun tameng dari masa lalu. "Dan dari dulu, Reka itu anak yang baik."

​Vyan menaikkan sebelah alisnya, tidak sedikit pun merasa puas dengan jawaban itu. Senyum tipisnya justru terlihat semakin berbahaya. "Itu kan waktu SMP. Setelah SMA... bagaimana?"

​Pertanyaan beruntun itu terasa seperti jerat yang perlahan mencekik leher Dean. Namun, sebagai Wakil Ketua OSIS, Dean mencoba mengendalikan kegugupannya dan mencari celah untuk mengelak.

​"Kalau soal setelah SMA, saya kurang tahu pastinya, Kak," jawab Dean, berusaha terdengar objektif tapi tetap melindungi Reka. "Tapi yang pasti dia anak baik. Karena dulu dia baik, dan sekarang... Yasmin sendiri yang bilang kalau Reka itu baik."

​Vyan tidak langsung menyahut. Ia hanya menyeringai mendengar jawaban defensif yang keluar dari mulut Dean—sebuah seringai dingin yang memperlihatkan bahwa ia sama sekali tidak mempercayai omong kosong tersebut. Vyan memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja, mengunci pandangan Dean.

​"Anggap saja kamu benar..." ucap Vyan, nadanya mengalun santai namun penuh dengan penekanan. Ia menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan keheningan kantin menambah ketegangan di meja mereka. "...atau matamu yang buta. Kalau nggak, aku pasti mengira ada sesuatu yang sedang kalian sembunyikan."

​Skakmat.

​Kali itu, Dean benar-benar tidak bisa menjawab lagi. Lidahnya kelu. Kalimat terakhir Vyan bukan lagi sekadar sindiran, melainkan sebuah peringatan terbuka bahwa sandiwara mereka telah terbaca. Dean hanya bisa terdiam dengan dada yang bergemuruh, menyadari bahwa posisi mereka kini sepenuhnya berada di ujung tanduk di hadapan sang Ketua OSIS.

...----------------...

Bagaimana kalau di sekolah kalian (dulu-buat yang alumni) ketosnya kayak Vyan? 😄

1
Three Flowers
Dean bantunya secara terselubung dan mengorbankan dirinya sendiri yach
Three Flowers
aduh ada-ada saja, Ray. Semoga kesialanmu yang bertubi-tubi diganti dengan keberuntungan di kemudian hari
Three Flowers
wkwkwk ayahnya muncul
Three Flowers
baik sama siapa saja? oh tidak! ada seleksi nya ya, Mang😅
Cimol krispy
Masih bertanya-tanya kenapa Rizal menikah lagi, kenapa vyan dan ibunya yang keluar dari rumah, dan kenapa Ray dan ibunya nggak keliatan kayak pelakor🤭
SaturdayNight🌠
stop membadud bro
SaturdayNight🌠
tak dapat diperbaiki mungkin lebih pas
SaturdayNight🌠
jadi ceritanya si vyan demen Zia cuma Zia ngehindar🤭
SaturdayNight🌠
lemes juga ya mulutnya si Agil
SaturdayNight🌠
katanya udah punya cowok di cirebon
SaturdayNight🌠
bantuin buat mengacau
SaturdayNight🌠
tiap hari ada cewek yang dipanggil buat ngsep🥵
Filan: namanya juga otak mereka m3svm, jadinya komentar sesuai kapasitas otak mereka.
total 1 replies
SaturdayNight🌠
lumayan bodo🤭
SaturdayNight🌠
sekarang dia juga harus menanggung beban ekspektasi
SaturdayNight🌠
kelemahan terbesar vyan adalah kehadiran Zia, semoga Zia dititkung ama Zaki🤭
SaturdayNight🌠
malah berbaur dengan wibu
SaturdayNight🌠
anzay cvokan🥵🥵🥵🥵🥵
Filan: Gosip emang suka nambah-nambah. 😌
total 1 replies
SaturdayNight🌠
seringkali orang menjadi sesuatu yang dia benci tanpa dia sadari🤭 biarin aja, pas udah nyadar juga nyesel sendiri, itu juga kalo tau diri
SaturdayNight🌠
ibunya sama sekali gak punya kendali ama anaknya sendiri, malah dikendaliin
SaturdayNight🌠
lagian dia cuma amlat😎 untuk apa memikirkan perasaan amlat🥵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!