NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lorong terlarang

Lampu merah memenuhi Lorong Barat.

Suasana yang tadi sunyi berubah mencekam hanya dalam hitungan detik. Alarm keamanan berbunyi nyaring dari langit-langit, memantul di dinding logam panjang lorong itu.

Peringatan keamanan.

Area terbatas akan dikunci.

Alya membeku.

“Apa yang terjadi?” tanyanya panik.

Reno langsung berjalan cepat ke arahnya.

“Kita harus keluar sekarang.”

“Tapi kenapa—”

“Tidak ada waktu.”

Nada suara Reno kali ini berbeda.

Tidak dingin.

Tidak datar.

Melainkan benar-benar serius.

Suara langkah mekanis terdengar semakin dekat dari ujung lorong gelap.

Dum. Dum. Dum.

Alya menoleh dan melihat bayangan besar bergerak perlahan di balik cahaya merah.

Jantungnya langsung berdegup keras.

“Itu apa…?”

“Drone penjaga.”

“Apa?”

“Kalau mereka menemukan siswa di area ini setelah jam pembatasan, sistem keamanan akan aktif otomatis.”

Alya langsung panik.

“Kenapa tempat seperti ini ada di sekolah?!”

“Zenith bukan sekolah biasa.”

Reno meraih pergelangan tangan Alya sebelum gadis itu sempat bereaksi.

“Ayo.”

Mereka berlari menyusuri lorong panjang.

Suara alarm terus menggema.

Lampu merah berkedip cepat membuat suasana terasa semakin menakutkan.

Alya hampir kesulitan mengikuti langkah Reno yang bergerak sangat cepat.

“Pelan sedikit!” keluhnya sambil terengah.

Reno melirik sebentar.

“Kalau tertangkap, kamu akan diinterogasi.”

“Apa?!”

“Dan percayalah, kamu tidak ingin itu terjadi.”

Ucapan itu membuat Alya semakin takut.

Tiba-tiba suara logam berat terdengar dari belakang.

Brak!

Alya refleks menoleh.

Sebuah robot penjaga tinggi hampir dua meter muncul dari balik tikungan lorong. Matanya menyala merah terang, sementara tubuh metaliknya dipenuhi simbol keamanan Zenith.

“Penyusup terdeteksi,” suara mekanisnya terdengar dingin.

Alya langsung pucat.

“Itu mengejar kita?!”

“Tentu saja.”

“Kenapa kamu terdengar santai?!”

Reno tidak menjawab.

Ia justru menarik Alya masuk ke lorong kecil di samping.

Mereka berhenti di balik pintu otomatis yang setengah terbuka.

Suara langkah robot penjaga semakin dekat.

Dum. Dum. Dum.

Alya menahan napas.

Reno berdiri sangat dekat di depannya sambil memperhatikan celah pintu.

Ekspresinya tetap tenang.

Sementara Alya merasa jantungnya hampir meloncat keluar.

Robot itu akhirnya lewat di depan lorong kecil mereka.

Sorot merah dari matanya menyapu area sekitar.

“Pemindaian selesai.”

Beberapa detik terasa sangat lama.

Alya bahkan takut bernapas terlalu keras.

Lalu akhirnya suara langkah robot mulai menjauh.

Reno mengembuskan napas pelan.

“Aman.”

Alya langsung bersandar ke dinding.

“Aku hampir mati…”

“Kamu terlalu dramatis.”

Alya melotot kesal.

“Robot raksasa mengejarku dan kamu bilang aku dramatis?!”

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibir Reno sedikit terangkat.

Sangat tipis.

Namun Alya melihatnya.

Dan anehnya, ekspresi dingin pemuda itu terlihat jauh lebih manusiawi saat tersenyum kecil seperti itu.

“Kita harus pergi sebelum patroli kedua datang,” kata Reno.

Namun kali ini Alya tidak langsung bergerak.

Ia menatap Reno serius.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

Reno diam.

“Kamu tahu ayahku, kan?”

Suasana kembali hening.

Lampu merah masih berkedip pelan di luar lorong kecil tempat mereka bersembunyi.

Reno memalingkan wajah sesaat sebelum akhirnya bicara.

“Ayahmu dulu bekerja di Zenith.”

Mata Alya langsung membesar.

“Apa?”

“Dia salah satu peneliti di sini.”

“Itu tidak mungkin…”

Alya mundur sedikit.

Ibunya tidak pernah mengatakan hal itu.

Yang ia tahu, ayahnya hanya bekerja di pusat kota sebelum meninggal karena kecelakaan.

“Kenapa aku baru tahu sekarang?”

“Karena ada banyak hal yang disembunyikan darimu.”

Ucapan Reno membuat dada Alya terasa sesak.

“Apa maksudmu?”

Namun Reno belum sempat menjawab ketika alarm mendadak berhenti.

Lampu merah perlahan kembali putih.

Area kembali normal.

Reno langsung berdiri tegak.

“Kita harus keluar sebelum kamera aktif lagi.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Kamu akan mendapat masalah kalau tetap di sini.”

“Aku tidak peduli!”

Nada suara Alya sedikit meninggi.

Reno menatapnya beberapa detik.

Tatapannya tidak lagi sedingin biasanya.

Melainkan penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Kamu seharusnya tidak mencari tahu tentang masa lalu ayahmu.”

“Kenapa?”

“Karena itu berbahaya.”

Alya menggigit bibir.

“Semua orang terus mengatakan itu.”

“Karena itu benar.”

“Aku berhak tahu!”

Suasana mendadak tegang.

Reno tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya.

Lalu tiba-tiba gelang digital Alya berbunyi.

Panggilan masuk.

Nama pengirim: Ibu.

Ekspresi Alya langsung berubah.

“Ibu…”

Ia cepat menerima panggilan hologram kecil itu.

Wajah ibunya muncul di udara dengan senyum hangat.

“Alya! Akhirnya kamu mengangkat.”

Alya langsung merasa lega melihat wajah itu.

“Halo, Bu.”

“Kamu baik-baik saja?”

“Iya.”

Ibunya memperhatikan wajah Alya beberapa detik.

“Kamu terlihat lelah.”

“Aku cuma banyak kegiatan hari ini.”

“Bagaimana akademinya?”

Alya terdiam sesaat.

Ia ingin mengatakan semuanya.

Tentang tes yang gagal.

Tentang pesan misterius.

Tentang ayahnya.

Namun Reno masih berdiri di dekatnya.

Dan entah kenapa, Alya merasa belum siap membicarakan semuanya.

“Tempatnya besar sekali,” jawab Alya akhirnya.

Ibunya tersenyum lega.

“Ibu tahu kamu pasti bisa.”

Suara Dito tiba-tiba terdengar dari belakang hologram.

“Kak Alya! Jangan lupa jadi orang kaya!”

Alya tertawa kecil.

“Dasar.”

Untuk beberapa menit, mereka berbicara santai seperti biasa.

Dan perlahan rasa sesak di dada Alya mulai berkurang.

Namun ketika panggilan hampir selesai, ibunya tiba-tiba berkata pelan:

“Alya…”

“Ya?”

“Kalau sesuatu terasa aneh di tempat itu…”

Ibunya terlihat ragu.

“… jangan terlalu jauh mencari jawabannya.”

Jantung Alya langsung berhenti sesaat.

“Kok Ibu bilang begitu?”

Namun wajah ibunya berubah gugup.

“Tidak apa-apa. Ibu cuma khawatir.”

Panggilan akhirnya berakhir.

Hologram menghilang.

Dan Alya berdiri diam dengan pikiran kacau.

Bahkan ibunya mengatakan hal yang hampir sama seperti Reno.

Seolah semua orang tahu sesuatu kecuali dirinya.

“Alya.”

Suara Reno membuatnya kembali sadar.

“Kita harus pergi.”

Kali ini Alya tidak membantah.

Mereka berjalan keluar dari lorong kecil menuju jalur utama akademi.

Suasana kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa.

Beberapa siswa berjalan santai di kejauhan.

Lampu taman bercahaya indah.

Sulit dipercaya bahwa beberapa menit lalu Alya dikejar robot penjaga.

Saat mereka hampir mencapai area pusat, Alya kembali bicara.

“Kenapa kamu membantuku?”

Reno meliriknya sebentar.

“Kalau aku tidak membantumu, kamu pasti sudah ditangkap.”

“Itu bukan jawaban.”

Reno diam beberapa saat.

Lalu akhirnya berkata pelan:

“Karena aku pernah berjanji pada seseorang.”

“Ayahku?”

Reno tidak menjawab.

Namun diamnya sudah cukup memberi jawaban.

Mata Alya membesar perlahan.

“Kamu benar-benar mengenalnya…”

Reno berhenti berjalan.

Untuk sesaat, ekspresi dinginnya retak sedikit.

“Ayahmu bukan orang biasa, Alya.”

Angin malam berhembus pelan di antara gedung-gedung Zenith.

Lampu biru memantul di wajah mereka.

“Dan cepat atau lambat,” lanjut Reno lirih, “orang-orang di tempat ini akan menyadari siapa dirimu sebenarnya.”

Perasaan dingin langsung menjalar di tubuh Alya.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia mulai merasa bahwa masuk ke Akademi Zenith mungkin bukan kebetulan sama sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!