Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 Alasan untuk Bertahan
Hari-hari setelah kebakaran menjadi mimpi buruk bagi Dariela Atlanna Zavira Raespati.
Tubuhnya memang perlahan sembuh. Luka bakar di tangan dan punggungnya mulai mengering setelah perawatan panjang yang dilakukan Tante Mita. Namun luka yang paling parah justru berada di dalam dirinya.
Ela berubah menjadi seseorang yang sangat takut terhadap orang baru.
Awalnya Raka dan Mita mengira itu hanya trauma sementara akibat kebakaran. Namun mereka sadar semuanya jauh lebih serius saat suatu hari Mita mengajak Ela kontrol ke rumah sakit besar di Jakarta.
Ruang tunggu rumah sakit saat itu sangat ramai.
Orang-orang berlalu lalang.
Suara tangisan anak kecil bercampur dengan suara perawat yang memanggil pasien membuat kepala Ela terasa penuh.
Awalnya gadis itu masih terlihat tenang. Namun saat seseorang tidak sengaja menyentuh bahunya, tubuh Ela langsung menegang.
Napasnya mulai memburu.
Tangannya gemetar hebat.
“Ela?” panggil Mita panik.
Namun Ela seperti tidak mendengar apa pun. Gadis itu langsung memeluk dirinya sendiri sambil menangis ketakutan.
“Jangan…” bisiknya lirih.
Tubuhnya terus gemetar sampai akhirnya sesak napas menyerangnya.
Hari itu Mita akhirnya sadar kalau kondisi mental Ela sangat buruk.
Panic attack.
Dan sejak saat itu hidup Ela semakin sulit.
Ia tidak bisa berada di tempat ramai terlalu lama.
Tidak nyaman bertemu orang asing.
Bahkan suara keras sedikit saja bisa membuatnya gemetar ketakutan.
Ditambah lagi kondisi kehamilannya yang semakin besar membuat mental Ela semakin rapuh.
Ya.
Saat itu Ela sedang hamil enam bulan.
Kehamilan yang awalnya sangat ia benci.
Karena setiap melihat perutnya membesar, Ela selalu teringat malam mengerikan saat hidupnya dihancurkan oleh seseorang yang bahkan tidak pernah meminta maaf padanya.
Beberapa kali Ela menangis diam-diam sambil memegang perutnya sendiri.
Ia takut.
Takut menjadi ibu.
Takut anaknya nanti membencinya.
Takut anak itu lahir dan mengalami hidup seperti dirinya.
Namun semuanya mulai berubah saat suatu hari Mita mengajaknya menjadi relawan kecil di sebuah panti asuhan.
Hari itu hujan turun cukup deras.
Ela duduk diam di taman kecil belakang panti sambil memegang payung dan menatap kosong air hujan yang jatuh perlahan.
Perutnya yang sudah membesar tertutup cardigan longgar milik Mita.
Sampai tiba-tiba seseorang menarik ujung bajunya pelan.
Ela menoleh.
Seorang anak laki-laki kecil berdiri di depannya.
Usianya sekitar dua tahun.
Bajunya sedikit kebesaran, rambutnya berantakan, dan pipinya belepotan cokelat. Namun matanya sangat cerah.
Anak kecil itu hanya diam sambil menggenggam boneka lusuh di tangannya.
Ela sedikit bingung.
“Kamu siapa?” tanyanya pelan.
Namun anak kecil itu malah tersenyum lebar lalu mengangkat kedua tangannya meminta digendong.
Ela langsung panik kecil.
“A-aku nggak bisa…”
Biasanya Ela akan menjauh kalau ada orang asing mendekatinya.
Namun anehnya… kali ini tidak.
Anak kecil itu malah memeluk kaki Ela erat sambil tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… Ela tidak merasa takut disentuh seseorang.
“Namanya Dylan,” ujar salah satu pengurus panti yang baru datang.
“Dia anak baru.”
“Orang tuanya meninggal kecelakaan.”
“Dan keluarganya nggak ada yang mau nerima dia.”
Ela langsung menatap Dylan diam-diam.
Sebatang kara.
Kalimat itu terasa sangat familiar baginya.
Sejak hari itu Dylan selalu mencari Ela setiap kali wanita itu datang ke panti.
Bahkan anak kecil itu lebih sering tidur di pangkuan Ela dibanding bersama pengurus lain.
Dan tanpa Ela sadari… Dylan perlahan menjadi alasan dirinya kembali bertahan hidup.
Anak kecil itu membuat rumah kosong di hatinya terasa hangat lagi.
Sampai suatu malam Ela berkata pada Raka dan Mita dengan suara pelan,
“Aku mau pergi dari Indonesia.”
Raka langsung terdiam.
“Maksud kamu?”
“Aku mau hidup baru.”
Ela mengusap rambut Dylan kecil yang tertidur di pangkuannya malam itu.
“Aku capek takut terus…” bisiknya lirih.
“Aku mau sembuh.”
Dan alasan lain yang tidak pernah Ela ucapkan adalah…
Ia takut keluarganya menemukan dirinya suatu hari nanti.
Karena jauh di dalam hati kecilnya, Dariela masih belum siap menghadapi semua luka dari masa lalu.
Maka dengan bantuan Raka dan Mita, Ela memulai hidup baru di Korea Selatan.
Negara asing yang tidak mengenal Dariela Atlanna Zavira Raespati.
Di sana ia menjalani operasi untuk menghilangkan bekas luka bakarnya secara bertahap.
Belajar bahasa baru.
Bekerja kecil-kecilan.
Dan membesarkan Dylan seperti anaknya sendiri sambil menunggu kelahiran Sabine.
Untuk pertama kalinya…
Ela mencoba hidup bukan sebagai anak pembawa sial.
Melainkan sebagai Ana.
Seseorang yang perlahan belajar bahwa dirinya juga pantas bahagia.